Matahari Jingga

Matahari Jingga
Bab.44 Dua Sahabat


__ADS_3

Cristy berjalan dengan langkah ringan.Sangat ringan palah.Tidak ada rasa pusing yang dirasakan.Ia terus berjalan.Sedikit heran dengan sekelilingnya yang begitu sunyi, hanya terdengar desiran halus seperti suara angin.Tapi tidak ada pepohonan.Pemandangan di sekitar juga kosong, tidak ada satu bentukpun yang mengisi ruang kosong itu.Warna abu-abu muda mendominasi ruang kosong itu.


Ia terus saja melangkah.Sepertinya sudah berjam-jam ia berjalan.Tapi ruangan serba abu-abu itu seperti tidak berujung.


Anehnya lagi tidak ada rasa capai atau letih sedikitpun.


" Cristy....." dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara memanggil.Suara siapa itu?


" Cristy....." terdengar lagi suara memanggil namanya, kali ini semakin jelas.Seperti di atas kepalanya.Aduh...tiba-tiba rasa pusing kembali menyerang.Ia memicingkan mata.Ada seberkas sinar menyilaukan.Ia berkedip.


" Cristy...kamu sudah sadar ....? "


"Hsssss........" ia hanya sanggup mendesis.


" Dokter pasien sudah sadar"


Terdengar suara ribut dan beberapa langkah kaki mendekat.


Tuan sangat iba melihat kondisi istri barunya itu.Rasa kemanusiaan mengusir segala kecanggungan, diusap-usapnya rambutnya, diciumnya tangannya yang terkulai lemah.


" Cristy.."


Cristy kembali membuka mata, pandangannya yang kabur menangkap sosok seseorang yang menciumi tangannya.


" Mas.... maafkan aku....aku..."


" Ssttt..jangan banyak bicara dulu, sudah tidur lagi.Aku di sini menemani kamu"


Cristy menghela nafas, bibirnya menyunggingkan senyuman penuh kebahagiaan.Lalu matanya kembali terpejam.


Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit Cristy diperbolehkan pulang.Selama itu pula suaminya setia menemani.


****


" Jadi...kamu dimadu ? Tuan poligami ? " Susi berseru tertahan dan menutup mulut dengan kedua tangannya.


Rika mengangguk lemah.


" Kenapa kamu setuju saja Rika, seharusnya kamu menolak "


"Aku terdorong oleh rasa kemanusiaan" jawab Rika perlahan.


"Tapi ini masalah hati, tidak seharusnya kamu berkorban toh Cristy bukan siapa- siapanya kalian...." Susi menatap sahabatnya lekat-lekat.


Rika tak menjawab, diremasnya selembar kertas di depannya.Ia menghela nafas dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


Telepon di mejanya berbunyi.Susi cepat-cepat meraihnya.

__ADS_1


" Ruang Direktur..." Beberapa saat ia berbicara di telepon.


Mereka sedang mengobrol di ruang Direktur.Selama Tuan tidak ke kantor karena sedang menjaga Cristy di rumah sakit, Rika yang menggantikan posisi suaminya itu untuk sementara.


" Jadi apa kamu tidak cemburu ? " tanya Susi setelah ia menutup telepon.


" Tadi siapa...? " Rika tidak langsung menjawab palah menanyakan siapa yang barusan bicara di telepon.


" Oh itu dari divisi keuangan, mau minta tanda tangan, aku bilang nanti saja agak sore"


Rika mengangguk , kemudian berkata.


" Cemburu, cemburu banget.Tapi pas kebayang Pak Gunawan yang bersimpuh sambil menangis, rasa cemburuku hilang.Bahkan pas hadir di acara akad nikah, aku bisa kuat dan berusaha agar ga kelihatan sedih"


" Kamu datang pas akad nikah...." mata Susi terbelalak " wah...wah..gila..gila.."


" Aku harus datang, biar mas ga merasa bersalah"


" Kamu itu, terlalu baik apa bodoh sih....? "


Rika spontan mengangkat gagang telepon mau dilempar ke arah sahabatnya.


" Ampun...ampun.. Nyonya Narendra yang mulia...." Susi mengangkat kedua tangannya melindungi wajahnya sambil terkekeh.


" Udah...sana pesenin makanan, aku lapar"


" Terserah kamu aja"


" Ngomong- ngomong kamu sampai sore kan ? ga apa-apa anak-anak ditinggal seharian ? "


Rika menggeleng.


" Ga.. Calista sudah besar, udah mandiri.Si kecil karena cowok ya, jadi mandiri banget dia"


Susi mengambil HP dan memesan makanan via online.


Lalu berpaling lagi kepada Rika, masih penasaran ingin bertanya lebih jauh tentang pernikahan poligami itu.


" Sudah...ah....Ha aku tahu tuh, kamu sedang kuatir rupanya ya, kalau suatu saat Pak Tanu poligami" Rika mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Apa sih, nikah aja belum, mau mikirin poligami"


" Udah cepetan diresmiin, kalian udah sama-sama dewasa ga baik kelamaan pacaran"


Susi menunduk sedih.


" Pak Tanu masih mikir-mikir kalau harus berhenti kerja dan ikut aku ke Palembang.Papa kan pinginnya dia kerja di perusahaannya"

__ADS_1


" Susah juga ya.Untung dulu Ibu ga maksa aku dan mas pulang kampung dan membantunya mencangkul di sawah..."


Ha...ha... Mereka tertawa terbahak-bahak.Membayangkan Tuan Narendra yang terhormat memanggul cangkul di bahunya dan pergi ke sawah.


Susi masih tertawa ketika telepon kembali berdering , kali ini dari resepsionis yang memberi tahu makanan yang dipesan sudah datang.


Mereka makan sambil terus mengobrol.Rika sudah lama tidak ke kantor dan mengobrol dengan sahabatnya itu.


"Eh..Sus, ini serius.Kalau memang mau sama Pak Tanu, menurutku kamu harus siap untuk mengikuti kemauannya.Bukan terbalik.Dia kan keberatan pindah ke Palembang, ya kamu mesti nurutlah..."


" Kamu tahu kan orang tuaku itu gimana, dan aku belum siap patah hati...." Susi berkata dengan sedih.Ia menghentikan makannya dan minum seteguk air putih.Lalu ia meletakkan kembali gelas di meja dengan gerakan cepat sehingga gelas itu agak bergetar


" Maaf..." ia menyadari kekasarannya.


" Aku sebenarnya sedang kesal sama Papa.Masak dia kasih batas waktu kalau sampai bulan depan Pak Tanu belum memutuskan mau pindah ke Palembang atau ga , aku dipaksa pulang dan akan dijodohkan dengan orang sana"


" Waduh...." Rika terperanjat, tidak menyangka kisah cinta sahabatnya serumit itu.


" Pak Tanu tahu masalah ini? "


Susi menggeleng.


" Aku takut mau ngomong sama dia.Aku juga takut kalau melawan Papa untuk tetap bersama Pak Tanu di Jakarta.Bisa-bisa aku dicoret dari daftar ahli waris Papa"


" Ya, jangan dilawan keinginan orang tua.Nanti kualat"


" Nah, itu makanya aku bingung"


" Kalau gitu lebih baik kamu ngomong baik -baik sama pak Tanu.Kalau memang jodoh dia pasti mau diajak pindah ke Palembang.Kalau dia gengsi kerja di kantor mertua kan bisa tetap kerja di Narendra Grup cabang Palembang"


" Beneran dia boleh kerja di cabang Palembang ? " tanya Susi dengan mata berbinar.Rasanya ia mendapatkan jalan terbaik dari permasalahannya dengan kekasihnya.


" Boleh..nanti aku ngomong sama mas"


Rika mengangguk mantap.Ia menghabiskan nasi terakhir di piringnya.Minum air putih dan menyeka mulutnya dengan tisu.Pak Tanu termasuk karyawan lama yang loyal kepada perusahaan, tentu suaminya tidak keberatan jika minta pindah ke cabang.


" Kamu ngomong dulu sama Pak Tanu, dia mau ga pindah ke cabang.Orang yang biasa kerja di kantor pusat biasanya malas pindah ke cabang.Fasilitas kan beda, lingkungan juga beda"


" Siap Nyonya Besar.Nanti sore aku mau ngomong sama dia"


"Uh..." Rika pura-pura kesal.


" Lah..emang kamu kan Nyonya Besar" Susi terkekeh.


" Terimakasih ya, semoga saja pak Tanu mau pindah ke Palembang"


" Kalau memang dia cinta sama kamu, pasti dia mau"

__ADS_1


__ADS_2