
Rika, Calista dan Tuan pergi ke kampung .Tuan akan melamar Rika di depan ibunya.Mereka naik pesawat pribadi milik Tuan.
Calista senang bukan main.Sudah lama sejak ibunya sakit ia tidak ke luar kota.
" Hore..Hore.. Hore..naik pesawat ..." ia menaiki tangga pesawat dengan semangat.
" Hati-hati sayang." Rika mengingatkan dan menuntun tangan kecilnya.Gadis kecil itu tampak sudah terbiasa naik pesawat, ia langsung menuju kabin dan duduk.Tangannya yang mungil memasang sabuk pengaman dengan cekatan.Rika membantu menarik dan mengencangkan talinya.
" Pintar...." Rika tersenyum dan memuji.
Pesawat segera lepas landas.Udara cerah langit terlihat biru, sesekali terlihat gumpalan awan putih, membuat guncangan -guncangan kecil ketika pesawat melintasinya.
" Lihat Tante, itu awannya kayak ikan paus ya." tangan kecil Calista menunjuk ke luar.
" Mana...? "
" Itu., tuh ekornya, tuh kepalanya"
" Oh iya, bagus ya"
Tak lama terasa pesawat mulai mengurangi ketinggian.
" Kok baru naik langsung mau turun lagi" Calista tampak heran.Rika dan Tuan tertawa,
" Ia sayang kampung Tante kan dekat.Setengah jam naik pesawat sudah sampai"
Calista mengangguk mengerti.
Dari bandara mereka dijemput mobil staf Narendra Grup yang ada di Kantor Cabang terdekat dengan kampung Rika.
" Selamat datang Tuan,mbak Rika, dan Nona kecil" Sopir turun memberi hormat.Kemudian dengan sigap menaikkan barang bawaan mereka ke bagasi.Mobil meninggalkan bandara.Setengah jam kemudian mulai memasuki daerah pedesaan dengan jalanan yang semakin menanjak.
" Kampungmu enak sekali ya Rik, seperti Puncak.Pantas kamu suka sekali kalau diajak ke Puncak inget kampung rupanya" Tuan berkata sambil mengelus pundak Rika.Rika tertawa.
" Ya Tuan.Kalau malam juga dingin di sini" jawabnya.
" Kampung apa ini namanya? "
" Jambu , Tuan.."
__ADS_1
" Oh pantas banyak sekali pohon jambu aku lihat....Ha..Ha.." Tuan tertawa .
" Kampung Tante bagus ya, banyak pohon.Calista suka" Calista berujar.
" Kamu suka sayang? " tanya Rika,Calista mengangguk.
" Nanti Tante ajak ke sawah ya, ada pohon padi"
" Pohon padi, pohon apa? " Calista bertanya, Rika tertawa, ia menyadari Calista lahir di kota besar, mana ia tahu pohon padi.
" Setiap hari Calista kan makan nasi.Bibi yang masak nasi kan? Bibi masak beras menjadi nasi.Nah berasnya itu berasal dari pohon padi" Rika menjelaskan panjang lebar.Calista tampak mengerti.
" Panjang amat sih njelasinnya" Tuan menyela dan tertawa.Calista dan Rika ikut tertawa.
***
Mobil memasuki pelataran rumah Rika.Ibu menyambut di depan pintu.
Rumah Rika sudah selesai direnovasi.Rumah yang dulunya kecil dan sederhana, berubah menjadi lebih besar dan bagus.Temboknya terlihat kokoh dan dicat warna hijau lembut.Pintunya besar berukir ,jendela kaca besar ditutup hordeng warna senada dengan tembok.
Halamannya juga luas.Ada batu-batu kecil membentuk jalan setapak.Di kanan kirinya tampak tanaman hias berwarna warni berjejer rapi.
Tuan menunduk hormat dan menyalami Ibu.Calista ikut-ikutan menyalami dan mencium tangan orang tua itu.
" Aduh cantiknya..siapa namamu sayang ?"
" Calista Nek..."
Ibu menyilakan semua tamunya masuk.Ruang tamunya sekarang luas dan bersih.Ada satu set kursi tamu besar dari kayu jati.
Tuan duduk , sedangkan Calista berlari ke halaman ditemani Sari, pembantu Ibu.
Rika mengambil dan menyimpan barang-barang Tuan di kamar tamu dan membawa barang-barang Calista dan dirinya ke kamarnya.
Ibu membuatkan minuman untuk Tuan.Lalu duduk di hadapan tamunya.Selesai menyimpan barang bawaan Rika ikut duduk.
Setelah berbasa-basi sejenak Tuan mengemukakan maksud kedatangannya.
" Bu, kedatangan saya ke sini untuk melamar Rika menjadi istri saya" Tuan berkata.Ibu terlihat tidak terkejut, karena Rika sudah memberitahunya terlebih dulu.
__ADS_1
" Tuan ,saya mengucapkan terima kasih, anak saya yang dari kampung diangkat derajatnya jadi istri Tuan.Sebagai orang tua saya hanya bisa merestui dan mendoakan" ibu menjawab denganm mata berkaca -kaca karena terharu.
" Terimakasih Bu,"
Lalu mereka membicarakan tanggal pernikahan.Berdasarkan adat harus dihitung dulu secara seksama kapan hari dan tanggal yang baik untuk menikah.Ibu harus berdiskusi dengan para sesepuh kampung.Ia lalu memanggil beberapa sesepuh tersebut untuk datang ke rumahnya.
Tak berapa lama datang tiga orang , satu perempuan dan dua laki-laki, semuanya sudah berumur di atas 60 tahun.Ibu mengenalkan mereka kepada Tuan.Salah seorang menanyakan hari dan tanggal kelahiran Rika, lalu hari dan tanggal kelahiran Tuan.Seorang lainnya membuat coretan-coretan di kertas.
"Tuan Narendra dari Jakarta berarti arah barat, Lahir...." Mereka sejenak berdiskusi.Tak lama kemudian salah seorang berkata,
" Ada dua pilihan tanggal, yaitu 20 Agustus dan 18 Mei.."
Tuan manggut- manggut, meskipun dia tidak mengerti kenapa harus ada hitungan seperti itu, tetapi dia harus menghormati adat istiadat di kampung calon istrinya.Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.
Tanggal 20 Agustus berarti 3 bulan lagi, itu terlalu lama menurutnya.Tanggal 18 Mei berarti minggu depan, agak mepet waktunya.Tapi ia memang tidak mau berlama-lama.Akhirnya dia memutuskan pernikahan akan diadakan tanggal 18 Mei, minggu depan.
" Minggu depan Tuan?" Rika protes.
" Iya Rika, .." jawab Tuan mantap.Rika hanya bisa diam menurut.
Akhirnya disepakati tanggal pernikahan, Ibu dan Tuan mengucapkan terima kasih kepada tiga orang tamunya.Lalu mereka pulang,
" Boleh saya minta sesuatu Tuan...? "Ragu - ragu Rika bertanya setelah tamunya pergi.
" Katakan..." jawab Tuan.
" Aku mau pernikahan diadakan di kampung"
Ibu menatap Rika, ia takut Tuan akan marah mendengar permintaan anaknya itu.Sejenak Tuan berpikir, waktu tinggal beberapa hari lagi dan Rika meminta untuk menikah di kampung.Bagaimana mempersiapkan semuanya? Tuan tidak ingin mengecewakan calon istrinya, toh wajar kalau ia ingin menikah di kampung halamannya, dekat dengan orang tua dan sanak saudara.
" Baiklah , kita menikah di sini" akhirnya Tuan menjawab.Ia mengambil HP nya dan menghubungi seseorang.
" Hamdi., minggu depan aku menikah di kampung Rika, atur semuanya" Rupanya Tuan menghubungi pak Hamdi, Kepada Kantor Cabang Narendra Grup yang terdekat dengan kampung Rika.
Yang ditelepon kelihatannya terkejut, beberapa saat terdiam.Cukup mustahil memang, tetapi siapa yang berani bilang 'tidak ' pada Bos besar seperti Tuan.
" Baik Tuan." Pak Hamdi menjawab, memang hanya kata itu yang ingin didengar oleh Tuannya.
Rika menghela nafas.Ia bisa membayangkan kehebohan dan kesibukan seperti apa yang terjadi di kantor cabang.Apalagi fasilitas di kantor cabang tidak selengkap di kantor pusat Jakarta.Maafkan aku merepotkan kalian, katanya dalam hati.
__ADS_1
Antara senang , bahagia dan sekaligus tak percaya, acara pernikahannya akan diadakan secepat itu di kampung halamannya.Terimakasih Tuan, calon suamiku.