Matahari Jingga

Matahari Jingga
Bab.53 Pelangi Di musim Kemarau


__ADS_3

Krisna memarkir motornya, lalu mencuci tangan di kran air yang terletak di sudut halaman.Lampu teras sudah menyala, ia duduk di bangku rotan di teras yang cukup terang terkena sinar lampu.


" Ia seperti dewi, cantik , elegan dan baik ....." gumamnya sambil tersenyum.


" Siapa yang seperti dewi...? " suara Ibunya yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah membuatnya kaget.


" Yaelah..Ibu..! , bikin kaget.."


Orang tua itu tertawa.


" Makanya kalau magrib-magrib jangan ngelamun, udah sana mandi.."


Krisna bangkit, sambil bernyanyi-nyanyi kecil dia masuk ke dalam rumah.


" Girang amat hari ini, ketemu dewi di mana? "


Ibu yang mengikuti dari belakang, bertanya dengan heran.


" Ada deh Bu ..." Krisna menjawab sekenanya, lalu menghilang di balik pintu kamarnya.


" Ada apa Bu ? " Intan adik Krisna yang baru datang, heran melihat ibunya berdiri tegak di depan pintu kamar kakaknya.


" Sssst...Abangmu ini tiba-tiba aneh, pulang-pulang katanya ketemu dewi, terus nyanyi-nyanyi"


" Hah...? Abang nyanyi, masak sih Bu , ajaib banget, seperti pelangi di musim kemarau"


" Ibu juga heran, coba kamu tanyakan ke Abangmu darimana datangnya pelangi di musim kemarau itu"


Intan mengangguk, lalu mengetuk pintu kamar Krisna.Tidak ada jawaban, Intan membuka pintu perlahan-lahan, lalu masuk.


Dilihatnya Krisna sedang berbaring telentang, matanya menatap langit-langit.Bibirnya menyunggingkan senyum.


" Bang...."


Intan mendekat, Krisna tidak menjawab.


" Bang..."


Panggilnya lebih keras.Krisna tersentak kaget.

__ADS_1


" Ya ampun, Intan..bikin kaget..."


" Abang juga sih, ngelamun aja..."


Intan duduk di sisi tempat tidur.


" Eh..Bang, tumben-tumbenan ngelamun, kata Ibu habis ketemu seorang dewi?"


Krisna tertawa, ia mengacak-acak rambut adiknya.


" Anak kecil mau tahu aja, sudah sana ah, Abang mau makan dulu" Krisna bangkit dan turun dari tempat tidur.


" Ia memang seorang dewi, cantik tapi di atas sana....susah dijangkau" Krisna bergumam. Lalu ia berbalik menghadap Intan.


" Menurutmu, apa yang diinginkan seorang dewi agar mau menerima orang biasa seperti aku? "


Intan ingin tertawa, lucu banget tingkah Abangnya kali ini, seperti ABG yang sedang mengenal cinta monyet,tapi saat dilihatnya muka Krisna sangat serius, ia tidak tega.Ia hanya terdiam, seperti sedang berpikir.


" Kalau aku sih, ga ada istilah susah dijangkau .Kayak gini yah..aku seorang dokter lalu ada yang suka sama aku misalnya hanya lulusan SMA yang kerja serabutan, asal dia baik, mau kerja keras kenapa enggak? " Krisna terhenyak, dipandangnya adiknya dengan gusar.


" Loh..aku yang ga setuju, lebih baik kamu cari yang sama-sama dokter...."


" Nah..itu Bang, mungkin Ayahnya si dewi itu akan berpendapat sama dengan Abang"


Kini Intan benar-benar tidak bisa menahan ketawanya.


" Ha...ha... makanya Bang, jangan mikirin kerjaan mulu"


" Intan...palah ketawa" Krisna kesal.


" Ampun Bang... Serius nih, siapapun dewi yang Abang maksud ia pasti sangat beruntung mendapatkan Abang, baik , ganteng, pekerja keras, pokoknya idaman banget deh.Cuma itu...." Intan tidak melanjutkan kata-katanya.HP di tangannya berbunyi, ia tersenyum dan beranjak ke luar kamar.


" Aku terima telepon dulu..."


Krisna penasaran.


" Cuma apa...? " Ia mengikuti adiknya.


Intan tidak menjawab, ia sedang bicara di telepon.Krisna menunggu beberapa saat .Intan menjauhkan HP nya dan berbisik.

__ADS_1


" Potong rambut yang rapi..."


" Huh...."


Krisna menjewer telinga adiknya, merasa kesal dipermainkan.Intan menahan tawa, menutup mulutnya dengan tangannya, lalu melanjutkan bicara di telepon.


Krisna berjalan menuju meja makan.Dia heran banyak sekali makanan di meja.


" Banyak banget makanannya Bu " ujarnya pada Ibu yang sedang meletakkan sop buntut semangkuk besar.


"Temannya Intan mau datang, dia mau kenalan sama kita" Ibu tersenyum.


" Anak mana? "


" Ibu ga tahu...."


Mendadak Krisna ingat kata-kata Intan barusan, jangan-jangan temannya ini benar-benar seorang yang kerjanya serabutan.


" Krisna..Intan kan sudah dewasa, jangan dilarang...." Ibu seperti bisa membaca kekhawatirannya " Ibu cuma berharap, janganlah dia melangkahi kamu, makanya cepat cari jodoh"


Krisna diam, dia meneruskan makannya tanpa berkata apa-apa lagi.


Sejak Ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, dialah yang mengambil alih tanggung jawab keluarganya, termasuk membiayai kuliah Intan di Fakultas Kedokteran di sebuah Universitas swasta.Tentu saja butuh biaya yang tidak sedikit, apalagi Ayahnya tidak banyak meninggalkan warisan, hanya usaha kontraktor kecil-kecilan.Krisna tidak punya waktu untuk menjalin hubungan serius dengan seorang gadis, dia fokus bekerja dan mengembangkan usaha kontraktor peninggalan Ayahnya.


Sampai saatnya Intan lulus dan bekerja di sebuah klinik, Krisna baru sadar umurnya sudah lebih dari cukup untuk berumah tangga.


Suara Intan berseru riang menyambut seseorang di pintu depan membuyarkan lamunannya.


" Ibu..., Abang, kenalkan ini Rey..."


Rupanya Intan langsung membawa tamunya ke meja makan.


Krisna berdiri mengulurkan tangannya, sekilas dia menatap tamunya.Seorang pemuda dengan tubuh agak kurus, berkulit bersih dan kelihatan terpelajar, semoga saja punya pekerjaan tetap, bukan serabutan.


" Ayo..ayo, silakan langsung makan dulu.." Dengan ramah Ibu menyilakan tamunya bergabung di meja makan.


" Maaf ini Bu, Bang, datang-datang langsung makan..." Rey berkata dengan sopan.


Mereka ngobrol dengan akrab, tepatnya Ibu, Intan dan Rey.Krisna hanya jadi pendengar setia.Ternyata dia seorang dokter juga sama seperti adiknya, dan praktek di sebuah puskesmas.Krisna lega, kekhawatirannya tidak terbukti, dalam hati dia merasa bangga pada adiknya.Ia tidak pernah kelihatan bawa teman laki-laki ke rumah, sekalinya dibawa yang benar-benar serius mau melamar.

__ADS_1


.


.


__ADS_2