Matahari Jingga

Matahari Jingga
Bab.24 Bulan Madu gagal


__ADS_3

Sore hari, Rika kembali duduk di teras menikmati matahari yang akan tenggelam.Langit berwarna sangat indah kuning, jingga , keemasan dan merah berbaur membentuk garis - garis horisontal.Matahari yang meredup berwarna jingga perlahan turun dan menghilang di balik garis - garis horisontal itu.Sesaat kemudian perpaduan warna itu berubah jadi abu-abu dan hanya menyisakan semburat jingga dan merah.Deburan ombak semakin kencang seakan mengucapkan selamat tidur kepada matahari yang telah menemaninya seharian.


Rika menyelonjorkan kakinya di kursi.Diteguknya lemon tea hangat yang dibuatkan Yati.Perutnya terasa lebih nyaman.Belakangan ini rasa pusing dan mualnya sudah berkurang, tapi kadang-kadang masih muncul, terutama pagi dan malam hari.


Calista datang menghampiri bersama Surti.


" Mama.., masih sakit ya ma? " tanyanya penuh perhatian.Rika menggeleng.


" Ga sayang, sini" Rika menarik tangan putrinya agar ia duduk disampingnya.


" Adiknya lagi ngapain ? " Rika bertanya lucu sambil mengusap perut mamanya yang masih rata.


" Lagi tidur Kakak " Suara Rika dikecilkan meniru suara anak kecil.Calista tertawa.Rika memeluk dan merebahkan Calista di pangkuannya.


" Papa ke mana ma?"


" Ke kantor sayang "


" Kok lama? "


" Bentar lagi juga pulang"


" Oh...." bibirnya dimonyongkan membentuk huruf O, Rika mencubitnya gemas.


Terdengar suara mobil berhenti di halaman.


" Tuh kan, Papa pulang " ujar Rika.Lalu Ia mengajak putrinya ke depan untuk menyambut Papanya.


" Papa...." Calista berlari memeluk Papanya.Tuan menggendong dan mengangkat putrinya ke atas, Calista tertawa kegirangan.Lalu Tuan berpaling kepada istrinya dan mencium keningnya


" Halo sayang..."


Mereka masuk ke dalam.Rika mengantarkan putrinya ke kamarnya, lalu ia masuk ke kamar menyiapkan baju untuk suaminya yang sedang mandi.Tuan memanggilnya untuk masuk ke kamar mandi.Rika menurut, ia melihat Tuan berendam di bathtub.


" Buka bajumu " Rika membuka bajunya satu persatu.


" Sini.." Tuan melambaikan tangannya agar istrinya masuk ke bathtub bersamanya.Rika terlihat ragu-ragu, walaupun mereka suami istri, tapi ia malu kalau harus mandi dan berendam bersama.Tuan bangkit dan mengangkat tubuhnya, memasukkannya ke dalam bathtub.Tuan mencium tubuh polosnya, dan dia melepaskan hasratnya dengan sangat perlahan dan hati-hati.


****


Selesai mandi yang berlangsung sangat lama menurut ukuran normal orang yang hanya mandi, mereka menuju ruang makan.

__ADS_1


Calista sudah makan disuapi Surti tadi sore, sehingga hanya mereka yang makan berdua.


Hidangan beranekaragam terhidang di meja makan.Tuan sengaja memanjakan istrinya agar ia makan enak dengan menyuruh Chefnya masak banyak menu makanan.


" Banyak sekali mas makanannya" kata Rika.


" Biar kamu banyak makan sayang"


" Enak - enak semua lagi.Pulang dari sini nanti aku gendut"


" Ga apa-apa gendut, kamu tetap cantik"


" Halah.,gombal" Rika pura-pura cemberut.


" Lagipula kamu kan sedang hamil" Tuan mengingatkan.Rika makan dengan lahap.Masakan yang dimasak chef profesional memang lain, katanya dalam hati.


" Kamu suka sekali makan seafood" suaminya memperhatikannya saat ia sibuk berkutat dengan lobster .di kedua tangannya.Rika hanya mengangguk , tangannya belepotan dengan bumbu dan daging lobster.Tuan tersenyum, dia senang melihat istrinya menyukai menu makanannya.


Dia tahu istrinya tidak pernah makan banyak, kecuali untuk makanan yang ia sukai.Lobster mutiara yang dimasak para Chefnya ternyata disukai oleh istrinya.Siapa juga sih yang bisa menolak daging lobster yang lezat itu?


Rika meminum segelas air dan berujar.


Suaminya tertawa mendengar kepolosan istrinya , lalu berkata,


" Kalau kamu mau, suruh chef masak tiap hari untukmu"


" Jangan mas, takutnya bosan kalau tiap hari"


Rika bisa membayangkan makan lobster tiap hari , bisa mual perutnya.


" Ya sudah terserah kamu saja, yang penting harus banyak makan" ujar Tuan lembut.Dia terus memandangi istrinya, yang dipandang jadi jengah, pipinya memerah.


" Apaan sih mas " katanya malu - malu.


Tuan tertawa lagi.


" Semakin hari kamu semakin cantik, makanya kalau siang lebih baik aku pergi ke kantor agar kamu ga saya ganggu terus, takutnya kamu kecapekan, bahaya untuk calon anak kita di rahimmu"


" Oh, jadi itu alasannya mas ke kantor siang tadi" Rika tersenyum geli mendengar pengakuan suaminya.Baru paham ia sekarang kenapa suaminya seharian pergi ke kantor.


" Apa sebaiknya kita pulang ke Jakarta saja ya?" tanya Tuan hati-hati takut istrinya kecewa, secepat itu harus mengakhiri bulan madunya.

__ADS_1


" Ga apa-apa mas, toh kita bisa bulan madu lagi nanti setelah anak kita lahir" jawab Rika enteng.Ia sebenarnya suka dengan suasana di vila ini, apalagi dengan sunset dan sunrisenya.Tapi berlama-lama di sini sementara suaminya kalau siang kerja kan bukan bulan madu namanya, pikirnya.


" Benar kamu ga apa-apa? " tanya Tuan lagi.


Rika menggelengkan kepalanya.


****


Besok paginya mereka pulang ke Jakarta.Rika tidak muntah lagi di pesawat karena ia sudah minum obat anti mual yang diberikan dokter.


Ia bisa menikmati perjalanan pulangnya kali ini.Bercanda dan tertawa bersama Calista dan suaminya, sehingga perjalanan satu setengah jam tidak terasa lama.


Pesawat mendarat dengan mulus tanpa goncangan.Rika lega, tadinya sempat khawatir goncangan pada saat pesawat yang sedang mendarat akan membahayakan janinnya.Beberapa bulan ke depan sampai ia melahirkan ia tidak akan naik pesawat.Bagaimanapun ini adalah kehamilan pertamanya.Dokter sudah menasehati agar ia selalu berhati-hati.


Mobil dijemput oleh pak Makmur.Dia membuka pintu mobil dan mempersilahkan para majikannya masuk.Kemudian dengan cekatan orang tua itu memasukkan barang-barang ke bagasi dibantu Surti.


" Hawanya beda sekali ya mas , langsung terasa panas " ujar Rika mengelap keringatnya dengan tisu.Suaminya mengangguk.


" Iya sayang Jakarta sudah terlalu padat, lain dengan Bali"


" Nanti kita ke sana lagi ya kalau anak kita sudah lahir"


" Iya Sayang"


Suaminya mengusap bahu Rika.Ia merasa bersalah harus mengakhiri bulan madu sebelum waktunya dan mengajak pulang ke Jakarta.


" Kalau kamu sudah ga mabuk, nanti kita menginap lagi di vila Puncak ya" katanya mencoba menghibur istrinya.Rika mengangguk penuh semangat..


Ia berharap mual dan pusingnya segera hilang dan bisa melakukan aktivitas seperti biasa.Ingin sekali ia pergi ke Puncak, tempat favoritnya sekaligus tempat kenangan indahnya


bersama Tuan.


" Aku sangat suka menginap di Puncak " katanya.Tuan tersenyum dan berkata,


" Tempat itu memang sangat indah, terutama kenangannya.Ya kan? "


" Iya mas " Pipi Rika memerah.Ia ingat sekali bagaimana Tuan memberikan ciuman pertamanya di villa itu.Ditemani temaram lampu teras, di malam yang dingin dan berkabut.Lalu diingatnya Tuan melamarnya tanpa basa-basi dan ia menerima lamarannya itu.


" Malam yang dingin dan berkabut" Tuan berkata dengan nada lucu, seakan sedang membaca puisi.Rika memukul lengan suaminya dengan gemas.Tuan tertawa terbahak-bahak.


" Sssstt...Calista lagi tidur" Rika mengingatkan sambil menunjuk putrinya yang tertidur di pangkuan Surti di bangku depan.

__ADS_1


__ADS_2