
Rika duduk di kursi taman , si kecil Calandra duduk di pangkuannya.Suaminya duduk di sebelahnya memangku Calista.
" Papa...Papa..Calista sudah pintar bikin kue dong diajari sama Om Indra...." kata gadis kecil itu sambil memeluk leher papanya.
" Wah..bagus dong, Papa pingin cobain kue bikinan Calista"
" Nanti sore Calista bikinin ya, khusus buat Papa...."
Rika tertawa dan mencubit pipi putrinya.
" Kok khusus buat papa, mama ga ? "
" Buat mama juga, Calista bikin khusus , pokoknya paliiiiiiing enaaaak...."
Mereka tertawa bersama.Oh, akankah kebahagiaan ini masih akan lengkap seperti ini, jika saat itu tiba? Saat seharusnya mereka bersama berkumpul di taman tapi sang papa yang selalu memberikan ketenangan sedang bersama dengan orang lain di luar sana.Sanggupkah? tanpa disadari air mukanya berubah dan ia menggelengkan kepala.
" Kenapa Sayang ? " Tuan bertanya.
" Eh...ga mas, aku cuma berpikir kok Calista bisa punya hobi bikin kue ya, kenapa ga yang lain seperti anak-anak seusianya" Rika mengelak dan mengarang jawaban sekenanya.
" Kenapa sayang kamu hobi bikin kue..." ia menoleh ke arah Calista.
" Ya, senang aja.Nanti kan Calista pingin punya toko kue sendiri, buaanyakkk di mana-mana ada"
Mereka kembali tertawa, kecil - kecil sudah berpikir jadi pengusaha.Memang buah jatuh tak pernah jauh dari pohonnya.
" Pintar kamu sayang, mama bangga sama Calista.Nanti punya bakery yang cabangnya banyak, jadi pengusaha kayak papa"
Calista mengangguk-angguk senang.
Surti dan Tini dua orang baby sitter untuk kedua anaknya datang menghampiri.
" Maaf, Tuan.., Nyonya, waktunya Non Calista dan Den Calandra makan buah " Surti membungkuk hormat.
" Bawa sini saja...." ujar Rika.
" Baik Nyonya..."
Lalu keduanya berjalan cepat memasuki rumah dan beberapa saat kemudian kembali lagi dengan sepiring buah di tangan masing-masing.Rika mengambil buah dari tangan mereka, satu piring diserahkan kepada Calista dan sepiring lagi disuapkan pada Calandra yang masih anteng duduk di pangkuannya.
Setelah kedua piring buah itu habis dimakan anaknya, Tuan menarik tangannya , beranjak meninggalkan taman.
" Sayang, anak-anak anteng main di taman.Kita jalan yuk..."
" Ke mana mas ? "
" Kamu maunya ke mana ? "
__ADS_1
Rika masih berpikir, ke mana enaknya.Weekend begini sebenarnya ia lebih suka di rumah , berkumpul bersama suami dan anak-anaknya sudah cukup membuatnya bahagia.Tapi suaminya mengajak ke luar rumah.
" Gimana kalau kita ke villa di Puncak ? "
Suaminya menoleh dan tersenyum.
" Ide bagus..., tapi ini sudah siang,macet.Pak Ratno yang nyetir ya, biar aku tetap fit sampai villa bisa tempur" Tuan mencubit pipinya.Rika hanya bisa tersenyum tipis.Ia mempercepat langkahnya menuju kamar untuk siap-siap.Suaminya langsung memanggil Pak Ratno untuk menyiapkan mobil.
****
Mobil bergerak dengan kecepatan normal.Untung saja jalanan tidak terlalu macet dan kebetulan pas diberlakukan satu arah untuk kendaraan yang menuju Puncak.Karena meningkatnya volume kendaraan dari arah Jakarta menuju Puncak terutama pada saat liburan, maka untuk mengurangi kemacetan pihak berwajib menerapkan sistem buka tutup.Pada jam tertentu hanya kendaraan yang naik searah dari Jakarta menuju Puncak ataupun sebaliknya secara bergantian dari Puncak searah menuju Jakarta.
" Wah... beruntung nih pak Ratno, pas searah menuju Puncak " ujar Tuan senang.
" Iya Tuan..."
Rika menelpon Bibi untuk memasak masakan kesukaan suaminya.
" Halo...Bibi..., kita mau datang ya tolong siapkan masakan"
" Eh..iya..iya Nyonya, dengan senang hati....Tuan dan Nyonya sudah lama ga ke sini"
" Iya Bi....Tuan sibuk.., makasih ya Bi.."
Sekitar jam satu mobil yang mereka tumpangi memasuki halaman villa besar itu.Rika dan Tuan bergegas turun.Tuan langsung menarik tangannya menuju halaman belakang.
" Ya mas, aku siapin bajunya"
" Nanti makan siang di sini ya" Tuan menunjuk meja di pinggir kolam renang.
" Ya mas "
" Kamu ga berenang sayang ? "
" Mau mas, ini mau ganti baju"
Tuan menceburkan diri ke kolam.Rika berganti baju dan memberi tahu Bibi untuk menyiapkan makan siang di meja pinggir kolam.Lalu ia menyusul suaminya mencebur ke kolam .Airnya masih dingin walaupun sudah siang.
" Masih dingin ya ? " tanya suaminya melihat Rika buru-buru menepi.
" Iya..dingin..."
" Mesti nyebur lagi, dua putaran juga sudah ga berasa dingin"
Rika mengangguk dan melompat ke dalam air mengejar suaminya.Benar juga setelah beberapa saat tubuhnya tidak merasa kedinginan lagi.
" Ayo kita balapan..." tantang Rika.Tuan tertawa.
__ADS_1
" Pasti aku kalah...."
" Ha...ha..takut ya..."
" Siapa takut..." lalu mereka sama-sama melompat dan berenang bersama.Benar saja suaminya jauh ketinggalan di belakangnya.
" Ayo kejar...semangat...."
" Ha..ha..."
Bibi yang datang membawakan makan siang, tersenyum melihat kebahagiaan kedua majikannya.Ia teringat mendiang istri Tuan yang dulu kalau hanya datang berdua saja pasti akan berenang bersama seperti itu.Berenang sampai puas, makan siang bersama lalu masuk kamar sampai sore.
" Syukurlah Tuan sudah menemukan pengganti Nyonya .Semoga saja mereka bahagia selamanya".
Makan siang di pinggir kolam renang di halaman sebuah villa mewah yang sejuk, bersama orang yang dicintai, dengan menu kesukaan, hanya ada dua kata yang bisa menggambarkan, kebahagiaan sempurna.
Rika sudah mengisi piring kedua untuk suaminya.
" He..he...lupa diri nih ya, makannya"
Suaminya hanya tertawa dan meneruskan makan.
Rika mengambil semangkuk sop ikan dan memakan tanpa nasi.
" Mas...jadi kapan mau melamar Cristy...." Ia bertanya dengan sangat tenang, mencoba menekan perasaannya sendiri.
Sejenak Tuan , menghentikan makan, menaruh sendok dan garpu lalu menatapnya.
" Mungkin besok...."
Rika mengangguk.
" Baguslah mas, semoga niat baik kita ini akan berakhir dengan baik juga"
Tuan menangkap ada nada cemas dalam suaranya.
" Kamu keberatan...? "
Rika menggeleng cepat.Ia meraih tangan suaminya dan diciumnya dengan lembut.
" Aku kan yang mendorong , ga mungkin keberatan.Aku malah bersyukur akhirnya mas bersedia memenuhi permintaan Pak Gunawan"
Mereka meneruskan makan dengan diam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Rika senang suaminya bersedia melamar Cristy.Dikuburnya dalam-dalam perasaan cemburu , cemas dan khawatir.Ia harus terlihat tenang agar suaminya tidak berubah pikiran.Ia benar-benar berharap pengorbanan yang dilakukan tidak sia-sia dan akan berakhir dengan baik untuk keluarganya.Keluarga yang dibangun bersama suami yang dicintainya, selama bertahun-tahun.Hari-hari dilalui dengan kebahagiaan dan suka cita bersama seluruh anggota keluarga.Kehadiran orang lain , lebih tepatnya wanita lain dengan sebutan , istri kedua, sungguh di luar harapan dan skenarionya dalam membangun rumah tangga.
Bahkan mungkin semua wanita yang berperan sebagai seorang istri tidak akan pernah dan tidak akan mau adanya sosok ini.
__ADS_1
Apalagi Rika yang masih muda, masih memandang perkawinan adalah sesuatu yang sakral , penuh idealisme dan romantisme percintaan.