
Calista sudah sembuh dari sakitnya,Rika kembali rutin menemaninya di sela-sela kesibukannya bekerja.Berangsur putri kecil itu kembali ceria dan tubuhnya semakin berisi.
Sabtu pagi , Calista dan Tuan menjemput Rika mengajak jalan -jalan.
Mereka akan pergi ke Vila di Puncak, kali ini menginap.Tak ada perasaan canggung lagi di hati Rika pergi bertiga dengan Tuan dan Calista.Ia berusaha menikmatinya.Senin sampai dengan Jumat ia sudah pontang-panting memeras otak kerja di kantor, ia butuh hiburan.
Sepanjang jalan Calista menyanyi, Rika bahagia melihat keceriaan gadis kecil itu.Apalagi Tuan, ia sangat bahagia bahkan sekali-sekali ia ikut bernyanyi bersama putrinya.
" Naik- naik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali" Calista menyanyi dengan semangat.
" Kiri kanan kulihat saja banyak pohon teh...." Tuan menimpali,
" Kok pohon teh...." Calista protes " Pohon Cemara papa...."
" Itu kiri kanan kita kan memang pohon teh..."jawab Tuan sambil tertawa.Calista memukul tangan papanya dengan gemas.Mereka tertawa bersama, semua kelihatan sangat menikmati perjalanan itu
Hingga tak terasa mereka sudah sampai vila.
Seperti biasa Calista langsung berlari berkeliling.Rika masuk ke kamar dulu untuk menyimpan barang-barangnya.Bibi menunjukkan kamar Rika.Sebuah kamar yang luas di lantai 2.Ada balkon yang menghadap ke arah samping rumah.Pemandangan dari situ sangat bagus.Jalanan yang berkelok- kelok dari bawah ke atas, terlihat di antara hijaunya daun - daun teh.Mobil dan kendaraan yang melintaspun tampak jelas, merayap naik ke atas.Dulu waktu kecil Rika pingin banget punya rumah di pinggir jalan raya, agar bisa melihat mobil lalu lalang.Rasanya akan menyenangkan melihat mobil satu persatu melintas sambil bertanya-tanya dalam hati ke arah mana tujuan mereka, siapa penumpangnya.Apakah sebuah keluarga yang bahagia atau hanya seorang pengemudi yang tidak punya siapa-siapa.Hmmm..Rika menghela nafas,bisa betah berjam-jam rasanya memandangi jalan raya itu.
Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut halaman rumah ,mencari - cari Calista.Dilihatnya Calista sedang main ayunan bersama Papanya.Ia melambaikan tangan dan tersenyum.
"Masih wajarkah yang aku lakukan ini?" tanya Rika pada dirinya sendiri.
Tuan adalah atasannya,pemilik grup perusahaan besar.Apa pandangan orang lain padanya melihat keakraban antara dirinya dan keluarga Tuan? Bisa -bisa ini menjadi fitnah. Apalagi orang yang tidak menyukainya seperti Non Cristy.Tapi ia sudah berjanji pada dirinya untuk berkorban demi Calista.Mengorbankan perasaannya terhadap omongan orang, ataupun caci maki dari Non Cristy.Ia bekerja di perusahaan Tuan, apa salahnya kalau ia membantu Tuan dengan sepenuh hati.Apalagi Tuan sudah sangat baik kepadanya.Gadis kampung yang bekerja belum genap 2 tahun sudah diangkat menjadi sekretaris dan mendapatkan kepercayaan yang luar biasa besar.
Rika turun dan menuju dapur untuk membantu Bibi memasak.Hari ini menunya sambal, lalap timun dan kemangi, ikan mas goreng dan pepes ayam.Sedap, Rika jadi merasa lapar melihat hidangan itu.Ia langsung menyendok nasi dan lauk pauknya lalu makan sendirian di meja dapur.
" Maaf Bi, saya lapar sekali, makan dulu" ujarnya pada Bibi.
__ADS_1
"Mangga Non, makan yang banyak ya..."Jawab Bibi tersenyum, ia senang Rika menyukai masakannya.
Selesai makan, Rika menyendokkan nasi untuk Calista dan dibawanya ke luar, menghampiri gadis keci itu yang masih asyik bermain ayunan.
" Calista makan dulu sayang.." Rika menyuapkan sesendok nasi ke mulut Calista. Calista menurut , mengunyah nasi yang disiapkan oleh Rika.Tak berapa lama sepiring nasi itupun habis.
" Pintar banget makannya ini putri cantik...." puji Rika.Tuan tersenyum,
" Papa mau makan juga ah..Jadi lapar ngeliat Calista makan " ujarnya dan berlalu masuk ke villa untuk makan.Tuan makan sendiri di meja.Ia bertanya pada Bibi apakah Rika sudah makan,
" Rika sudah makan Bi ?"
" Sudah Tuan, Non Rika makan di dapur,persis seperti mendiang Nyonya" jawab Bibi
Tuan terdiam,ia ingat istrinya kalau lagi di villa lebih suka makan di kursi yang ada di dapur .Lebih nikmat, katanya.
Semakin lama mengenal Rika, semakin banyak Tuan menemukan kemiripannya dengan mendiang istrinya.
Malam hari.Kabut turun semakin tebal.Calista sudah tidur sejak tadi .Mungkin capai seharian bermain dan berlarian di halaman villa.
Rika mengetatkan jaketnya, ia duduk di teras.Secangkir minuman bandrek hangat tersaji di meja.Bibi yang membuat.
Ia merasakan damai di sini, rasa damai seperti saat dirinya di kampung.Suasananya memang mirip.Kampungnya terletak di lereng gunung.Udaranya segar dan sejuk.Kalau malam juga sangat dingin.Tanpa memakai pendingin ruangan tidur sudah kedinginan.Harus pakai sarung atau selimut kalau tidak mau kedinginan.
Tuan datang menghampiri, dia bawa sepiring pisang rebus yang masih mengepul mengeluarkan asap.Diletakannya piring itu di hadapan Rika.
" Terimakasih Tuan, pas banget ini ada pisang dan bandrek.." ujar Rika dan mengambil sebuah pisang.Dikunyahnya perlahan, terasa manis dan legit.
" Manis .." gumamnya sambil mengambil sebuah lagi.Diambilnya cangkir berisi bandrek, diminumnya perlahan.Nikmatnya....
__ADS_1
Karena terlalu menikmati pisang dan bandrek, Rika tidak menyadari kalau Tuan memperhatikannya dari tadi.
" Kamu suka banget ya pisang rebus, sampai lupa ada orang di depanmu...." Tuan menyindir bercanda.Rika tertawa,
" Maaf Tuan, habis pisang ini enak sekali., di kota tidak ada yang seenak ini"
" Ini pisangnya matang di pohon Rik, jadi manis dan legit, lain yang ada di kota" ujar Tuan .
Mereka melanjutkan obrolannya.Ngobrol apa saja, dari makanan,Calista, dan lainnya.Seperti dua orang sahabat yang sangat akrab, bukan seperti Bos besar dengan sekretarisnya.
" Rika.." tiba-tiba Tuan memandangnya dengan serius.Kedua tangannya dilipat di meja,
" Aku sudah mempertimbangkan masak- masak.Kamu mungkin beranggapan aku minta terlalu banyak darimu..." Tuan sejenak menghentikan kata-katanya, lalu melanjutkan dengan suara lirih,
"Menikahlah denganku, jadilah mama Calista"
Suara Tuan yang lirih, buat Rika terdengar seperti dentuman meriam di medan perang.Rika tertegun.Ia menatap Tuannya seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Selama ini ia selalu berusaha bersikap baik pada Tuan karena ia adalah Bos yang punya perusahaan, yang memberikannya gaji.Tidak lebih dari itu.Malam ini Tuan tiba-tiba melamarnya, apakah Tuan sedang bercanda? Tuan orang yang sangat berwibawa dan terkesan angker.Bahkan dulu Rika sempat takut.Akhir -akhir ini memang Tuan bersikap sangat baik, tapi Rika menganggap kebaikan Tuan ini tidak lain karena ia baik pada Calista.
Tuan mengeluarkan kotak kecil dari saku kemejanya .Lalu mengeluarkan sebuah cincin bermata berlian.Diraihnya tangan Rika dan dipakaikan cincin itu di jari manisnya.Pas sekali.
" Ini cincin mendiang istriku, pakailah seumur hidupmu, seperti istriku memakainya"
" Tuan...." Rika tidak sanggup berkata-kata.Ia benar - benar tidak menyangka Tuan akan melamarnya.Ia menjalani hubungannya dengan Calista dan Tuan tanpa pamrih.Enteng dan tidak ada perasaan apapun.Apakah lamaran ini lebih baik buat dirinya? Pantaskah ia menerima lamaran Tuannya?
" Aku tahu kamu mungkin berat menerima lamaranku.Aku dan Calista sangat membutuhkan kamu.Bukan sebaliknya, dengan kepandaian kamu, kamu bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain dengan mudah.Apalagi dengan usiamu yang masih muda.Aku mohon terimalah lamaranku , Rika.." Tuan meraih tangan Rika, mencium jari manisnya dengan lembut,
" Aku yakin kamu akan bisa mengobati kesedihanku.Menumbuhkan kembali rasa cintaku yang telah mati" Tuan menunduk, tatapannya sayu.Setitik air bening mengalir dari sudut matanya.Cepat-cepat ia menghapus dengan lengan bajunya.Rika ikut sedih, ia bisa merasakan bagaimana Tuannya belum bisa melupakan kesedihan ditinggal istrinya.
Entah siapa yang memulai, tahu-tahu mereka berdua sudah berpelukan erat.Sinar lampu teras yang temaram, malam yang semakin dingin berselimut kabut, mungkin itu yang membuat keduanya larut terbawa suasana.Tuan semakin erat memeluk Rika.Matanya menatap gadis itu penuh kerinduan, perlahan dikecupnya bibir mungil yang ranum itu.Rika memejamkan matanya.Ini adalah ciuman pertama untuk dirinya.Rasa hangat mengalir dari ujung kepala hingga kakinya.
__ADS_1
.