
Esok harinya Rika pergi ke rumah Tuan diantar pak Ratno.Ada berkas yang mesti ditandatangani.Ketika ia memasuki pintu gerbang, dilihatnya ada sebuah mobil yang parkir di halaman.
" Ada Tante Cristy.." Calista yang menyambutnya di depan pintu memberi tahu.Rika yang akan menuju ke ruang kerja Tuan membatalkan niatnya.Digendongnya Calista memasuki ruang tengah.Mereka mengobrol seru dan tertawa-tawa.Rika menggeliti perut Calista, Calista berteriak kegelian.Ia balas mau menggeliti Rika, yang mau dibalas lari menjauh.Gadis kecil itu mengejarnya.Mereka berlarian di ruang tengah yang luas dan lega.
Non Cristy tampak keluar dari ruang kerja Tuan.Sesaat ia memperhatikan keduanya.Alisnya terangkat ke atas.Entah apa yang ada dalam benaknya.Tapi ia diam saja, dan berlalu.
" Tante ketemu Tuan dulu ya"Rika mengambil berkasnya dan berjalan ke arah ruang kerja Tuan.
" Ikut..." dengan manja Calista merentangkan kedua tangannya minta digendong.Sambil menggendong Calista , Rika menuju ruangan Tuan
" Masuklah..." suara Tuan dari balik pintu.Ia sudah tahu Rika datang.Rika duduk di hadapannya sambil memangku Calista.
" Bagiamana perkembangan ekspor ke Rusia ?"
" Semuanya berjalan lancar Tuan, dari PT.Delta sudah mulai pengiriman barang ke pabrik kita"
" Bagus...."
Sejenak mereka berbincang urusan kantor lalu Tuan menandatangani beberapa berkas yang dibawa Rika.Dia kelihatannya lega, meskipun jarang ke kantor tapi Rika bekerja dengan baik mengurusi perusahaan.
" Papa...Calista mau jalan-jalan" Calista tiba-tiba menyela.
" Jalan - jalan ke mana? Kemarin kan udah jalan-jalan sama Tante Cristy" jawab Tuan sambil membubuhkan beberapa tanda tangan.
" Sama Tante Cristy ga enak.Malas..." Calista turun dari pangkuan Rika dan berlari keluar.Papanya menggeleng-gelengkan kepala.
" Kamu lihat kan Rik, bagaimana Calista" keluhnya.
Tuan makin bimbang dengan sikap putrinya yang tidak mau dekat dengan calon mamanya.Baginya nomor satu adalah putrinya,ia mau menikah lagi karena memikirkan agar putrinya mendapatkan kasih sayang seorang ibu.Ia rela menikah dengan Cristy walaupun hatinya kurang yakin.Ia sebenarnya juga kurang suka dengan sikap Cristy yang terlalu glamor. Cristy memang cantik tapi pertimbangan utamanya bukan itu.Ia tidak terlalu memikirkan kecantikan ataupun urusan cinta, apalagi di usianya yang sudah matang cinta tidak menjadi prioritas dalam memilih pasangan hidup.Ia juga menyesalkan sikap Cristy yang terkesan tidak mau menyayangi Calista dengan tulus.Cristy terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.
Kemarin ia sudah menegurnya.Cristy palah salah paham dan itu membuatnya marah.Barusan Cristy datang untuk meminta maaf.Tapi tetap saja Direktur bimbang.Untuk apa ia menikah kalau calon istrinya tidak bisa mengurus Calista dengan baik?.Sempat terlintas dalam pikirannya Calista anak yang sulit, tapi ternyata ia bisa dekat dan patuh pada Rika.Berarti Cristy yang tidak mau berusaha untuk menyayangi putrinya.Ia berharap pelan-pelan Calista akan bisa menerima Cristy sebagai mamanya, tapi sudah sekian lama hal itu tidak terjadi, apalagi melihat sikap Cristy sendiri seperti itu.Seharusnya lebih mudah buat Cristy untuk menyayangi Calista, karena Calista sudah lama mengenalnya sebagai saudara.
" Tuan...saya pamit ya" suara Rika menyadarkan lamunannya.Rika segera berlalu dari hadapannya.Tuan mengikuti Rika dari belakang.Ia mengantar sampai halaman.
" Kamu sama siapa ?" tanyanya
" Sama pak Ratno Tuan"
Rika pamit dan bergegas masuk ke mobil.Ia semakin heran, tumben-tumbenan Tuan mengantarnya.
Pak Ratno membuka kaca mobil dan mengangguk hormat kepada Direktur sebelum memutar mobilnya menuju pintu gerbang.
****
__ADS_1
" Rika , kenapa pak Tanu jarang ke sini lagi ya? " Susi bertanya ketika mereka berdua sedang rebahan di tempat tidur.
" Ga tau tuh, kamu kangen ya? "
" Bukan, kalau dia ada weekend begini kan kita bisa jalan"
" Ayo kalau mau jalan, naik taxi aja"
" Naik taxi kan ga bisa jauh.Kayak waktu itu loh ke puncak, enak, hawanya sejuk"
Rika terdiam.Sejak kejadian cincin waktu itu pak Tanu memang tidak pernah menemuinya lagi.Rika palah senang, artinya ia tidak harus memberinya harapan.
" Kamu ga mau beli mobil Rik?"
" Buat apa? ke kantor bisa jalan kaki, kalau urusan kerjaan ada pak Ratno"
" Iya juga ya..." Susi manggut-manggut.
" Ayo kalau mau jalan Sus" Rika bangkit dan merapikan rambutnya.Tiba-tiba Hpnya berdering, Tuan?
" Halo...Ya Tuan? "
" Baik Tuan...."
Rika meletakkan Hpnya , ia menoleh ke arah Susi.
" Ya sudah sana temani Calista kasihan"
Rika berlalu menuju ke kamarnya untuk ganti baju.Celana jeans , kemeja putih, ah ia bosan.Dibukanya lagi bajunya, lalu ganti pakai dress kembang-kembang selutut.Tas tangan kecil dan sepatu wedges warna senada.Ia keluar ke ruang tamu menunggu dijemput.Tak lama sebuah mobil memasuki halaman.Rika pikir Calista diantar sopir ternyata diantar Direktur.
" Tante...." Calista melongok kan kepalanya keluar jendela.Rika membuka pintu belakang.
" Tante di sini sama Calista " Gadis kecil itu merengek minta ditemani duduk .Terpaksa Rika menurutinya.Duduk di depan di samping Direktur sambil memangku Calista.
Sepanjang perjalanan Calista terus berbicara, Rika menimpalinya dengan sabar.Gadis kecil itu tampak girang dan semangat.Perjalanan cukup lama , Calista tertidur di pangkuan Rika.
Direktur menoleh ke arah Rika, tangan sebelah kirinya mengusap kepala putrinya yang bersandar di bahu Rika.
" Kita mau ke mana Tuan" Rika memberikan diri untuk bertanya.
" Ke Vila di Puncak.Sudah lama saya ga ke sana sejak istri saya meninggal"
" Kita ga menginap kan? " Rika agak gugup.
__ADS_1
" Ga, malam kita pulang " Direktur menjawab dengan tenang.
Sekitar jam 10 an mereka sampai.Mobil berhenti di sebuah villa yang sangat megah.Bangunannya tinggi , mungkin 3 lantai,.Villa itu dikelilingi pagar tinggi yang ditumbuhi dengan tanaman hijau yang menjalar, bunganya berwarna oranye dan ungu .
Seorang penjaga membuka pintu gerbang.Calista terbangun, ia membuka matanya .
" Hore..kita ke vila...." dia kegirangan dan segera melompat turun.
Beberapa orang menyambutnya,
" Non Calista..aduh bibi kangen.." Calista tertawa dan melompat-lompat.Rika turun dari mobil dengan agak canggung.Ia menyalami mereka satu persatu,
" Saya Rika, sekretarisnya Tuan..."
Calista cepat menarik tangannya dan mengajak berjalan ke samping rumah.Di sana ada taman bunga kecil .
" Tante lihat nih, ini Calista tanam dulu sama mama" Ia menunjukkan sebuah pohon anggrek bulan yang sedang berbunga.
" Ini juga....ini..juga.." dengan bangga ia memamerkan semua tanamannya.
" Wah...bagusnya, Tante suka sekali bunga anggrek ..."
Calista terus mengajaknya berkeliling .Villa ini sangat besar.Calista tampak sangat senang.
Tuan memperhatikan keduanya dari kejauhan.Cara berpakaian Rika kali ini mengingatkannya kepada mendiang istrinya.Dress kembang-kembang, sepatu sandal wedges dan rambut diikat tinggi.Apalagi saat Rika dan Calista berjalan beriringan.Dari arah belakang mirip sekali dengan istrinya, ia seperti melihat istrinya hidup lagi.Vila ini memang Vila kenangan.Hari-hari bahagia mereka terukir di vila itu.Setelah istrinya meninggal, Tuan tidak berani menginjakkan kakinya di tempat ini.Tapi entah mengapa tiba-tiba saja ia ingin mengajak Rika ke tempat ini.
Seorang pembantu menghampiri Rika,
" Non Rika, ayo makan dulu.." Rika menggandeng tangan Calista mengajaknya masuk dan langsung menuju meja makan.Hidangan yang disediakan tampak menggugah selera, ada sayur asem, sambal, tempe goreng, ikan bakar dan empal gepuk.
Rika menyendokkan nasi buat Calista,
" Sayang , makan sendiri bisa? " Calista mengangguk dan mengambil piring yang disodorkan Rika.
" Bentar ikannya Tante buang dulu durinya ya..." ujar Rika " Enak banget loh ikan bakarnya"
" Iya enak..." Calista mengangguk dan makan dengan lahap.Rika menyendok nasi untuk dirinya, dia ambil ikan bakar dan tempe goreng, serta semangkok sayur asem.
Direktur datang menghampiri,
" Pinter anak papa bisa makan sendiri..." pujinya dan duduk di samping putri kesayangannya.Ia sangat senang Calista mau makan sendiri.
" Nanti Calista mau nambah ah...." Rika tersenyum.Direktur tertawa.Ia ikut menyendok nasi dan makan.Mereka makan bersama.Rasa canggung Rika perlahan-lahan menghilang.Ia tak segan menimpali obrolan Direktur dengan putrinya.
__ADS_1
Habis makan Calista mengajaknya main ayunan, Rika menurut saja.Ia sangat senang melihat Calista kegirangan.
.