
Hidup faktanya adalah sebuah misteri.Kemarin, hari ini dan besok seperti potongan-potongan puzzle yang barangkali jika dirangkai hanya Sang Pemberi Hidup yang tahu makna dan bentuk akhir dari potongan puzzle itu.
Cristy, menyandarkan punggungnya, memandang ke luar jendela pesawat.Awan putih bergerak perlahan, seperti kapas putih yang berserakan dalam bingkai besar langit yang berwarna biru jernih.Kadang menimbulkan goncangan kecil jika berbenturan dengan badan pesawat.
Ia masih ingat bagaimana dulu ia bertunangan dengan Tuan Narendra, karena sikapnya akhirnya Tuan memutuskan hubungan.Setelah beberapa lama, keadaan justru berbalik, dirinyalah yang mendamba laki-laki yang sudah beristri itu.Tanpa diduga ternyata ia mengidap kanker yang mematikan.Awalnya dunianya seakan runtuh ketika mendengar diagnosis dokter mengenai penyakitnya itu.Tapi justru tanpa diduga , penyakit ini yang menyatukan dirinya dengan laki-laki pujaannya.
Ia bahagia sekaligus pasrah jika hidupnya harus segera berakhir karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya.Namun tiba-tiba entah darimana ada keajaiban.
" Ada seorang Profesor di Singapura yang sedang melakukan penelitian penyakit leukimia.Dia berhasil menyembuhkan kanker mematikan itu tanpa harus melakukan donor sumsum tulang belakang"
Ia ingat Papanya pada suatu malam duduk di samping tempat tidurnya dan berkata dengan sangat antusias.
" Kenalan Papa , Dokter Richie adalah Kepala Rumah sakit tempat Profesor itu bekerja.Sudah ada beberapa pasien yang sembuh di tangan Profesor itu.Memang proses penyembuhan cukup lama, sekitar enam bulan sampai satu tahun di rumah sakit"
__ADS_1
Lalu tanpa menunggu waktu Ia segera bersiap untuk berangkat ke Singapura menjalani pengobatan itu.
Ajaib memang ia dinyatakan sembuh setelah dirawat selama setahun di rumah sakit.Selama itu pula Papa dan suaminya rutin menjenguk dan memberikan motivasi.
Terdengar suara pengumuman di kabin bahwa pesawat sesaat lagi akan segera mendarat.
Cristy tersenyum, ia menarik tombol kursinya untuk menegakkan sandaran, lalu melipat lengan bajunya sampai ke batas siku.Ia tidak ingin bertambah gerah ketika ke luar pesawat, ia tahu udara Jakarta sangat panas di luar sana.
" Cristy...." suara yang belakangan ini sangat akrab di telinga , menyapa di pintu ke luar.
" Selamat datang kembali" Ah, senyum itu.Terasa sangat sejuk dan menenangkan.
Pak Yadi, sopirnya mengambil alih troli yang didorongnya.
__ADS_1
" Terimakasih mas....."
Ia menggandeng erat tangan suaminya, seperti seorang anak kecil yang baru saja bertemu dengan orang tuanya yang sudah lama pergi meninggalkannya.
****
Rika termenung di teras setelah mengantar kepergian suaminya.Berbagai perasaan berkecamuk membuat dadanya seakan penuh.
Pernikahannya memasuki babak baru kedua.Setelah setahun yang lalu, tiba-tiba saja di luar kehendaknya dan juga suaminya, mendadak ia harus berbagi suami.Waktu itu ia lebih banyak merasa iba kepada madunya, rasa kemanusiaan mengalahkan kecemburuannya.Tetapi hari ini, pernikahan kedua kali suaminya akan kembali memasuki babak baru lagi, Cristy dinyatakan sembuh setelah dirawat cukup lama di Singapura dan baru saja suaminya pergi untuk menjemput di bandara.
" Seharusnya aku juga ikut senang........"
Rika membuang nafas kuat-kuat.Bayangan Cristy yang memeluk erat suaminya di bandara, lalu kecupan hangat di kening seperti yang selalu dilakukan suaminya kepadanya ketika pulang kerja seperti membuat sayatan halus di rongga dadanya dan menimbulkan rasa nyeri.Ia memejamkan matanya, berusaha mengusir bayangan yang mengusiknya.
__ADS_1
Apakah ia menyesali dulu yang mendorong suaminya melakukan poligami di saat keluarganya tentram dan bahagia semata-mata demi alasan kemanusiaan?Apakah ia bodoh seperti yang pernah dikatakan oleh Susi, sahabatnya?
Setahun sudah ia merelakan suaminya bersama wanita lain, tetapi perasaannya lebih banyak diliputi oleh rasa iba.Sekarang kondisinya berbeda, Cristy sudah sembuh dan ia akan menjadi istri seutuhnya.Dari sisi manapun ia kalah jauh dibandingkan dengan madunya itu.