Matahari Jingga

Matahari Jingga
Bab 9 Naik Jabatan


__ADS_3

Hujan lebat dari pagi.Udara yang biasanya panas dan pengap, jadi lebih sejuk.Rika sedang bersiap berangkat ke kantor.Biasanya Ia jalan kaki, tapi karena hujan Ia berencana naik taxi online.Baru saja Ia membuka HP untuk memanggil taxi via aplikasi, sebuah mobil berhenti di dekat pintu pagar.Ia tahu , itu mobil Pak Tanu, Rika berlari kecil ke arah mobil dan langsung membuka pintu,


" Terimakasih banyak ya pak", ucapnya tersenyum.


" Kalau hujan begini biasanya taxi online juga susah Rik, makanya aku mampir menjemputmu" , Pak Tanu berkata kalem " Eh, Susi mana ?" Dia baru menyadari kalau Susi tidak ikut naik mobil.


" Susi cuti pak, Ayahnya sakit di kampung"


" Oh..." , Pak Tanu menatap Rika sekilas " Rika, nanti pulang kerja jalan yuk"


Rika terdiam, Ia tampak berfikir.Walaupun sudah sekian lama akrab dengan pak Tanu tapi masih merasa tidak enak jika harus pergi berdua.Kalau mau menolak ajakannya juga lebih tidak enak.Pak Tanu sangat baik.


" Ga sampai malam kok, kita makan saja di Mall" bujuk pak Tanu.Akhirnya Rika mengangguk.Pak Tanu tampak sangat senang dan lega.


Mereka tiba di kantor, Pak Tanu berhenti di depan lobi dan menyuruh Rika turun.Dia sendiri kembali menjalankan mobilnya ke tempat parkir.


Sampai di ruang kerjanya Rika mulai aktivitasnya seperti biasa.Mengecek laporan, menyiapkan berkas dan menerima telepon.


" Rika.." di tengah kesibukannya Bu Mela memanggil.


" Ya Bu ..?" Rika menghentikan pekerjaannya.


" Duduk sini..." Bu Mela mununjuk kursi di hadapannya.Waduh, serius amat, ada apa ini?, perasaan aku ga berbuat salah, batin Rika.tapi Ia memilih diam dan mengangguk patuh.


" Ada yang mau Ibu sampaikan" Bu Mela menghela nafas, raut mukanya berubah sedih.Rika semakin penasaran, ditatapnya atasannya itu, Ia tidak berani menebak apa yang akan dikatakan Bu Mela.Beberapa saat berlalu, Bu Mela masih diam, sepertinya sedang berusaha untuk mengumpulkan kekuatan sebelum melanjutkan ucapannya.


" Suami Ibu akan ditugaskan ke luar negeri, dia dipromosikan untuk mengelola kantor cabang perusahaannya di sana.....Saya...saya akan mendampinginya." Rika tertegun.Apa ? Bu Mela mau ke luar negeri?!! Berarti Ia...


" Iya , saya mau resign" ujar Bu Mela cepat .


Rika sedih, sangat sedih.Selama ini Bu Mela yang membimbing dan mengarahkannya.Lalu kalau Ia tidak ada lagi bagaimana nasibnya?.


" Lalu siapa yang akan menggantikan Ibu?" Airmata Rika sudah menetes pelan di pipinya.

__ADS_1


" Saya sudah bicara dengan Tuan, siapa yang akan menggantikan saya.Beliau setuju kamu yang akan naik menggantikan saya"


Rika terlonjak kaget, hampir saja Ia terjatuh dari kursinya.Matanya menatap Bu Mela dengan tidak percaya.


" Iya , kamu Rika..." tenang Bu Mela menjawab " Saya tahu kemampuanmu.Kamu jujur, teliti , disiplin dan cerdas.Apalagi dengan umurmu yang masih muda, saya yakin kamu bahkan akan lebih baik dari saya nantinya"


Rika masih terpaku di tempatnya.Benarkah apa yang didengarnya? Perasaannya campur aduk tidak karuan.Antara sedih mau ditinggalkan Bu Mela, gugup dengan jabatan baru yang akan diterimanya, dan rasa takut tidak bisa bekerja dengan baik sesuai harapan Bu Mela.Ia baru menyadari akhir-akhir ini Bu Mela banyak memberikan tugas- tugas penting kepadanya.Rupanya sedikit demi sedikit Ia mendidik Rika untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar.


****


Sore hari sepulang kerja, Pak Tanu menunggu di resepsionis.Cukup lama Ia menunggu, hingga akhirnya Rika keluar dari pintu lift.


" Maaf pak, lama menunggu ya?"


" Ga juga, kamu sibuk ya Rik?"


" Ga sih, cuma ada beberapa yang harus diselesaikan tadi" jawab Rika.Ia tidak ingin membahas pembicaraannya dengan Bu Mela tadi siang.


Rika mengangguk. Pak Tanu memang sangat perhatian.Bisa saja mereka berdua jalan ke parkiran toh tidak jauh, tapi pak Tanu tahu Rika pasti capai, makanya Ia memilih menjemput Rika di lobi.


Mall yang dimaksud ternyata tidak jauh, tidak sampai setengah jam mobil yang mereka tumpangi sampai di tujuan.Mallnya besar, tapi agak sepi, karena memang hari kerja.Biasanya kalau weekend pengunjungnya ramai.


Pak Tanu mengajak ke restoran steak langganannya.Rika menurut saja berjalan santai disampingnya.Bagus juga aku jalan-jalan, biar ga kepikiran tentang rencana promosi jabatan yang membuat gugup, pikirarnya.


" Di sini enak steaknya Rik" pak Tanu berujar dan memesan beberapa menu, " Kamu mau pesan apa?"


" Samain aja pak" jawab Rika pendek.


Mereka makan dengan lahap setelah pesanan datang.Rika memang lapar , tadi Ia tidak sempat makan siang.Perasaan yang kacau balau membuatnya malas keluar.


" Kamu lapar apa doyan? " Pak Tanu menoleh ke arah piring Rika yang sudah kosong.Rika tertawa.


" Lapar dan doyan" jawabnya enteng sambil tertawa.Mereka tertawa bersama.

__ADS_1


Pengunjung restoran itu juga sepi, sehingga mereka betah duduk di situ selesai makan.Hanya 3 meja yang terisi.Selebihnya kosong .Meja terdekat dengan mereka , seorang bapak bapak , lalu di sebelahnya lagi agak sering ke kanan ada dua orang gadis , dan meja berikutnya di ujung tampak seorang perempuan dan laki-laki.Sepertinya mereka sepasang suami istri karena terlihat sangat mesra.Perempuannya tampak sedang menyuapkan makanan ke laki - laki yang bersamanya.Rika seperti pernah melihat perempuan itu, tapi di mana?.


Ah..itu kan...yang dipanggil Bu Mela dengan panggilan Non Cristy, calon istri Direktur.!!!


Takut salah lihat, Rika berbisik ke pak Tanu.


" Pak ...lihat meja yang di ujung, bukannya itu Non Cristy?" Pak Tanu mengikuti arah pandangan Rika.Kemudian dia mengangguk.


" Iya itu Non Cristy, saudaranya Nyonya"


Pak Tanu mengenal Non Cristy sebatas sebagai saudara Nyonya, dia tidak tahu bahwa Ia adalah calon istri Direktur.Memang yang tahu hal ini hanya Bu Mela dan Rika.Direktur masih merahasiakan hubungannya.Mungkin nanti kalau sudah resmi bertunangan baru diumumkan ke semua karyawan.


" Udah yuk pak .."


Rika mengajak Pak Tanu keluar dari restoran itu.Ia tidak ingin Non Ctristy mengenali mereka sebagai karyawannya Direktur.


Mereka berjalan - jalan sebentar mengelilingi Mall.


Ketika melewati toko perhiasan, pak Tanu menghentikan langkahnya.Dia menggandeng tangan Rika memasuki toko itu.Rika takjub.Banyak sekali perhiasan di pajang di etalase, ada cincin bermata berlian, ada juga yang bermata batu mulia ataupun mutiara.Ada juga gelang, kalung, peniti emas.Pak Tanu menyuruh pramuniaga untuk mengambil sebuah cincin mutiara, kemudian menyerahkan kepada Rika.


" Cobalah...."


Rika mengangguk dan mencoba.Ukurannya cocok di jari manisnya.


" Mbak saya ambil ini" ujar pak Tanu pada pramuniaga, lalu Ia berjalan menuju kasir.Rika cepat bergerak, sebelum Pak Tanu mengeluarkan Credit card-nya untuk membayar , Ia lebih dulu sudah mengeluarkan uang di dompet dan menyerahkan ke kasir.


Pak Tanu menatapnya protes, tapi Ia tidak mau ribut di kasir, akhirnya Ia memilih untuk mengalah , Rika yang membayar cincin yang dibelinya.


Di mobil dalam perjalanan pulang pak Tanu diam saja, sepertinya sangat marah.Tidak pernah dia bersikap begitu.Rika jadi tidak enak.


" Maaf ya pak, saya tahu pak Tanu marah, tapi saya belum bisa menerima pemberian pak Tanu..." Rika berkata lembut mencoba menenangkan.Pak Tanu masih terdiam, aduh bagaimana ini kalau dia benar-benar marah.Bagaimanapun dia pernah membimbing nya waktu training dulu.Banyak ilmu yang diajarkan terutama untuk anak yang baru lulus sepertinya.Ah sudalah , yang penting aku sudah minta maaf, batin Rika.


Sampai di kamar Rika langsung mandi dan tidur, hari ini Ia benar - benar lelah, baik fisik maupun mental.Banyak kejadian mengejutkan terjadi secara bersamaan dalam sehari.Rika tak ingin memikirkan, lebih baik tidur dan besok pagi bisa bangun dengan segar dan pikiran jernih.

__ADS_1


__ADS_2