
Cristy terbangun , rasanya baru beberapa saat ia tidur,setelah pulang larut malam diantar Carl.Matanya mengerjap , silau terkena sinar matahari yang menerobos masuk dari sela-sela hordeng.
" Sudah siang rupanya..." Ia mencoba bangkit, tapi kepalanya terasa pusing .Lalu duduk lagi di pinggir tempat tidur, menarik nafas dalam-dalam, mengusir rasa pusing yang semakin menjadi.Dengan bertumpu pada kedua tangannya di sisi tempat tidur ia bangkit perlahan, mau mengambil air putih di atas meja.Susah payah gelas berisi air putih itu berhasil dijangkau , tapi tangannya terasa bergetar.
PRRRRAAAANNNNG....!!!
Gelas jatuh dan pandangannya gelap.
" Non Cristy....Non..!!!!"
Seorang pembantu yang sedang membersihkan lantai di depan kamarnya berteriak panik, saat menemukan majikannya terkulai tak berdaya di lantai.
Pak Gunawan yang sedang sarapan buru-buru menghampiri mendengar keributan di kamar putrinya.
"Cristy.....!!!!"
Sesaat ia memeriksa tubuh Cristy lalu menggendongnya dan setengah berlari membawanya ke bawah.
" Panggil Yadi Bi, siapkan mobil"
" Baik Tuan"
Suasana pagi yang hening berubah panik, semuanya berlarian ke arah pintu depan.Pak Yadi yang baru selesai membersihkan mobil terkejut ketika Bibi berteriak.
" Pak Yadi buruan, siapin mobil, Non Cristy pingsan mau ke rumah sakit"
Secepat kilat Pak Yadi menghidupkan mobil, lalu keluar lagi dan berlari membantu Pak Gunawan yang menggendong Cristy.
Karena masih pagi jalanan sepi sehingga tak berapa lama mereka sudah sampai di rumah sakit.
" Anak saya kenapa Dokter ?....." tanya Pak Gunawan penuh kekhawatiran kepada Dokter yang sedang memeriksa Cristy.
" Sepertinya harus dilakukan cek laboratorium pak untuk memastikan penyakitnya.Silakan Bapak duduk di ruang tunggu"
" Baik Dokter"
Pak Gunawan keluar ruangan dan berjalan gontai ke ruang tunggu.Cek laboratorium, apakah Cristy menderita penyakit serius ? Belakangan ini memang ia sering mengeluh pusing, tapi mau dibawa ke dokter selalu menolak.
__ADS_1
" Cristy cuma capai Pa, ini mau istirahat , nanti juga ilang sakitnya"
" Nanti kamu kenapa-kenapa loh?"
" Papa tenang aja...." Cristy mengusap lengan Papanya dan berlalu ke kamar.
Dan benar saja setelah bangun tidur, dilihatnya Cristy lebih segar dan tidak ada keluhan apa-apa lagi.
Pak Gunawan menghela nafas.Dia menatap pintu ruang IGD yang masih tertutup.Belum ada tanda-tanda Dokter akan memanggil.
Sejak istrinya meninggal karena serangan jantung beberapa tahun yang lalu, Cristy adalah satu-satunya yang dia punya.Sedih sekali rasanya melihatnya tergolek tak berdaya di ranjang IGD.Tadi malam ia masih segar bugar dan terlihat sangat cantik ketika pamit keluar bersama Carl.Tak menyangka pagi ini ia mendadak tak sadarkan diri hingga sekarang.
" Keluarga Nona Cristy..." seorang Dokter membuka pintu.Pak Gunawan buru-buru bangkit berdiri dan mengikuti Dokter memasuki ruangan.
" Ya Dokter..."
" Silakan duduk Pak..." Dokter menyuruhnya duduk.Dengan penuh rasa khawatir Pak Gunawan duduk di hadapan Dokter yang sedang memeriksa hasil laboratorium.
" Pak..." Dokter menatapnya sejenak, lalu menggeser kertas hasil laboratorium ke hadapannya.
" Nona Cristy menderita kanker darah stadium akhir...." ujar Dokter perlahan dengan suara prihatin.
Untuk sesaat ia hanya diam.
" Pasien akan kami pindah ke ICU..."
Pak Gunawan tak menjawab ia masih terdiam, kepalanya menyandar lunglai ke sandaran kursi.
" Anakku, Papa tak pernah menyangka kamu menderita kanker.Papa ga mau kehilangan kamu,sayang.Kamu satu-satunya yang Papa miliki......" Tak kuasa dicegah, air mata mengalir di kedua sudut matanya.Membuat kaca mata yang dikenakan menjadi buram.Dilepaskannya kaca mata , lalu diusap dengan ujung bajunya secara asal.
****
Setelah dirawat selama dua hari di ruang ICU, kondisi Cristy mulai membaik, lalu dipindahkan ke ruang perawatan.Selama tiga hari dia di ruang perawatan dan kondisinya semakin membaik, ia diperbolehkan pulang.Tetapi dengan diagnosis penyakit seperti itu, aktifitasnya sangat terbatas.Demikian juga makanan yang boleh dikonsumsi, ketat sesuai dengan menu yang direkomendasikan Dokter.
Cristy sangat terpukul.Hatinya hancur, tidak ada lagi harapan untuk masa depannya.Pikirannya selalu diliputi kecemasan .
Pagi hari berganti dengan siang, siang dengan sore dan malampun datang.Cristy tidak tahu apakah malam ini bisa tidur lalu terbangun dengan sehat ataukah akan pingsan lagi dan tidak pernah terbangun untuk selamanya.Malam haripun sering terbangun karena mimpi bertemu dengan Mamanya, Neneknya, Kakeknya dan beberapa orang saudaranya yang sudah meninggal.
__ADS_1
Tapi lama kelamaan ia sadar, ia harus berusaha menjalani sisa hari-harinya dengan baik.Entah seminggu,dua minggu, atau sebulan sisa hidupnya.Tidak ingin disia-siakan hanya untuk meratapi nasibnya.
Ia ingin kembali bekerja dan pergi ke kantor tapi Pak Gunawan melarangnya.Papanya menjaganya dengan sangat hati-hati.Memenuhi semua permintaan dan keinginannya kecuali untuk bekerja di kantor.
" Papa akan mengabulkan semua keinginan kamu Sayang tapi tidak untuk ke kantor"
" Papa...Cristy bosan di rumah"
" Kamu boleh pergi jalan-jalan ke mana saja, diantar Pak Yadi, kamu harus selalu senang dan bahagia, jangan dibebani dengan pekerjaan kantor"
" Baiklah Pa...." akhirnya Cristy mengalah.Papa memeluknya erat.
"Papa bangga sama kamu Sayang, kamu kuat"
" Harus kuat Pa... Cristy mau ke salon ya Pa" Pak Gunawan mengangguk dan melepaskan pelukannya.
Setelah Cristy berlalu , Pak Gunawan masih termangu di kursi.
" Apa yang bisa Papa lakukan untuk membuatmu selalu merasa bahagia ? "
Ia menghela nafas.Berat sekali cobaan hidupmu , anakku.Bahkan dalam urusan percintaan Cristy selalu kandas.Ia merasa sangat senang ketika putrinya itu bertunangan dengan Tuan Narendra beberapa tahun yang lalu.Tapi ternyata pertunangannya gagal di tengah jalan.Lalu kisah cinta tragisnya dengan Robert, laki-laki yang awalnya sangat dicintai Cristy.
Seandainya Cristy sudah menikah mungkin kesedihannya tidak sebesar ini.Dia sudah berkali-kali menanyakan kapan putri tunggalnya itu mengakhiri kesendiriannya, tapi Cristy selalu menghindar.Kemarin dia cukup senang ketika Cristy mengenalkan Carl.Awalnya dia memang tidak suka kalau Cristy berhubungan dengan laki-laki dari negeri asing.Tetapi saat dia berkenalan dengan Carl, dia tahu laki-laki itu adalah orang yang baik dan bertanggung jawab.
Harapan untuk melihat putrinya berhubungan serius dengan Carl pupus setelah melihat interaksi Cristy dengan Carl.Rupanya benar seperti yang dikatakan Cristy berkali-kali bahwa ia hanya berteman dengan Carl.
Pak Gunawan bangkit dan berjalan menuju kamar Cristy.
" Papa, ada apa? " Cristy yang bersiap mau pergi ke salon heran dengan kehadiran Papanya.Bukannya tadi habis ngobrol panjang lebar.
" Papa mau bicara..." Pak Gunawan duduk di sofa.Cristy menghampiri sambil menenteng tas tangan.
"Serius amat Pa...."
"Dengar Nak...Papa ingin kamu bahagia...."
" Iya Papa...Papa sudah sering mengatakan hal itu"
__ADS_1
" Maksud Papa....Papa ingin kamu menikah dengan siapapun yang kamu cintai.Saat kamu berbicara dengan Carl , Papa lihat dari sikapmu kamu mendambakan seseorang yang lain.Katakan sama Papa, siapa dia Sayang, Papa yang akan berjuang agar kamu bisa mendapatkan cintamu"
Cristy terdiam, menatap Papanya dengan tatapan yang hanya bisa diketahui artinya oleh Ayah dan anak itu.