Matahari Jingga

Matahari Jingga
Bab.51 Si Gondrong Keriting


__ADS_3

Tidak tahu kenapa hari itu mendadak semuanya serba salah.


Dimulai dari pagi - pagi Pak Yadi telepon tidak masuk kerja karena anaknya sedang sakit, otomatis ia harus nyetir sendiri ke kantor.Jalanan macet lagi, mobilnya bergerak merayap diantara ratusan kendaraan lainnya.Sebuah sepeda motor yang berjalan terlalu mepet di sebelah kanannya, menyenggol spion mobil dan duggg, posisi spion bergeser, untung tidak sampai patah.Sesampai kantor baru ia tahu ,body mobil sebelah kanan ternyata juga baret cukup panjang.Ia menyuruh Yana untuk menghubungi bengkel.


" Sudah saya telpon bengkel Bu, nanti mau diambil"


" Kapan selesainya?"


" Besok Bu"


" Ga bisa nanti sore?"


" Ga bisa Bu, tadi sudah saya tanyakan katanya nunggu catnya kering"


" Kita kan ada meeting ke luar nanti sore"


" Pakai mobil operasional kantor saja gimana Bu ? nanti Toni yang nyetir"


Cristy mengangguk tidak bersemangat.Mobil operasional kantor semuanya minibus, ia sebenarnya sering pusing kalau naik mobil itu.


" Oh ya Bu, nanti jam sebelas subkontraktor proyek di Bogor mau ketemu"


" Siapkan berkasnya"


" Sudah Bu, ini"


Yana meletakkan satu bendel berkas di meja lalu keluar ruangan.


Cristy mempelajari berkas dihadapannya, tapi pikirannya sulit diajak konsentrasi.Sudah dua malam Tuan tidak datang ke rumahnya, karena suaminya itu sedang ke Palembang menghadiri pernikahan karyawannya.Mereka pergi sekeluarga, hhhhhh....pasti Rika yang merengek untuk bisa pergi sekeluarga sekalian liburan.Bayangan Tuan yang sedang berme sraan dengan istri pertamanya di sebuah hotel berbintang di luar kota, dengan suasana yang berbeda, jauh dari hiruk pikuk pekerjaan dan kesibukan di Jakarta, benar-benar mengganggu pikirannya.Di kantornya di Jakarta saja Tuan dan Rika bisa ber cin ta di ruangannya, apalagi ini di luar kota.Tanpa sadar dibantingnya berkas di tangannya.Stop Cristy apa yang kamu lakukan ? Dia memang suami Rika, justru akulah orang ketiga yang hadir di tengah-tengah kebahagiaan mereka, keluhnya dalam hati.


Terdengar pintu diketuk, Yana masuk mengantarkan seorang tamu.


" Silakan Pak, maaf Bu ini pak Krisna subkontraktor yang tadi saya bilang"


Sejenak Cristy mengamati tamunya, seorang pemuda dengan perawakan sedang, umurnya kira-kira dua puluh tujuh atau dua puluh delapan tahun.Rambutnya gondrong keriting dikuncir ke belakang.Ih...


" Silakan duduk pak Krisna" Ia mencoba bersikap ramah.Laki-laki itu memandanginya agak lama, mengulurkan tangan lalu duduk.


Pertemuan berlangsung singkat, Cristy yang lagi galau memikirkan suaminya, ditambah mata Krisna yang terus mencuri-curi pandang ke arahnya membuatnya buru-buru mengakhiri pertemuan itu.


Sorenya ia membatalkan janjinya dengan client untuk meeting ke luar , pikirannya sudah tidak bisa diajak kerjasama, lebih baik pulang dan istirahat.

__ADS_1


Ia menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.Pikirannya selalu melayang kepada bayangan keluarga Tuan yang sedang bahagia liburan ke Palembang, seminggu lagi, aduh...


Cristy bangkit dan berjalan menuju kamar mandi ketika HP nya berdering.Mungkin dia itu yang menelpon, setengah berlari ia mengambil HP di atas meja, ternyata nomornya tidak dikenal, ia menghela nafas mengusir rasa kecewanya.


" Halo...."


" Halo Bu.." suaranya terdengar asing.


" Maaf mengganggu Bu, saya Krisna.."


" Krisna..? " rasanya ia belum pernah mendengar nama itu.


Terdengar tawa ringan di seberang.


" Maaf.."


Lalu telepon ditutup.Aneh, tumben ada orang nyasar di HP nya.Ia kembali meletakkan HP di meja, tapi sesaat kemudian ia melihat ada notifikasi pesan masuk.


" Maaf cuma mau mengingatkan besok peninjauan lokasi proyek jam dua.Krisna"


Oh ternyata si gondrong keriting itu.


" Benar mau ke sana? " Pak Gunawan bertanya dengan nada khawatir ketika keesokan harinya ia pamit mau meninjau proyek yang sedang dibangun di Bogor itu. " Lokasinya masih susah dijangkau , kamu kuat ? "


" Biar papa temenin ya ? "


" Ga usah pa, kan ada pak Yadi"


Komplek pemukiman elit yang sedang dibangun itu letaknya sekitar lima belas kilometer dari pusat kota.Lingkungan sekitar sangat sejuk dan asri, tapi karena akses menuju kawasan itu baru proses pengerjaan, makanya cukup sulit.


" Maaf Non, kayaknya kita mesti berhenti di sini, susah sekali jalanannya" Pak Yadi meminggirkan mobil di tanah yang agak lapang.


" Masih jauh ya pak?"


" Sekitar tiga kilo"


Tiga kilo ? mana jalanan menanjak begini, rasanya ia tidak mungkin kuat kalau harus jalan kaki.


Cristy keluar dari mobil, ia berfikir bagaimana caranya sampai ke lokasi.


" Apa ga ada ojek pak? " tanyanya penuh harap.

__ADS_1


" Biasanya ada Non, kita tunggu saja"


Cristy masih berdiri di samping mobilnya ,ketika sebuah sepeda motor berhenti.Pengendaranya turun dan membuka helm.


" Bu Cristy..."


Cristy menoleh, si gondrong keriting.


" Hai..."


" Ga bisa naik mobilnya? Ikut saya aja"


Krisna berkata dengan ramah.Sejenak Cristy terdiam, ia tampak ragu-ragu.Belum pernah ia naik kendaraan roda dua itu, apalagi dengan orang asing.Krisna berbalik menuju motornya dan mengambil helm.


" Aman kok, saya ga akan ngebut" Krisna mengulurkan helm yang dipegangnya, Cristy dengan terpaksa menerima.


" Pak Yadi tunggu sini ya"


Cristy menoleh ke arah sopirnya yang mengangguk sopan.


Untung saja ia memakai celana panjang sehingga bisa duduk di belakang Krisna dengan lebih mudah.Tidak bisa dibayangkan kalau ia memakai dres atau rok.


Jalanan yang bergelombang dan menanjak membuat Cristy was-was.


" Pelan-pelan..."


Krisna hanya tertawa.


" Jalan di atas semakin menanjak, Bu Cristy pegangan pinggang saya, nanti jatuh"


Cristy tidak menggubris, tangannya mencoba berpegang pada pinggiran jok, tapi ia semakin was-was takut jatuh ketika jalan di depan tanjakannya semakin curam.Mau tidak mau ia memeluk pinggang laki-laki asing itu.Ada rasa aneh menyelinap ke dalam dadanya.Baru kali ini ia berada sangat dekat, bahkan memeluk laki-laki asing.Aroma maskulinnya begitu kental, khas laki-laki pekerja lapangan.Sekitar dua kilo jalan terus menanjak untuk kemudian menurun.Cristy yang tidak siap,tubuhnya merosot dan menempel erat ke tubuh Krisna.Dadanya berdegup kencang, ia buru-buru menggeser tubuhnya menjauh.Tangannya kembali memegang pinggiran jok.


Sial, kenapa ia tidak mendengar nasehat papanya, seharusnya ia tidak nekat pergi ke sini.


Motor berbelok tajam ke kiri, Cristy kembali kaget, refleks ia memeluk pinggang Krisna lagi.


Ia ingin marah, tapi tidak keburu karena di depannya sudah menunggu beberapa orang yang menyambut kedatangannya.Ia buru-buru turun dan menghampiri mereka.


" Selamat siang Bu..."


" Siang bapak-bapak"

__ADS_1


Krisna membawanya berkeliling lokasi diikuti oleh beberapa orang proyek yang menjelaskan tentang progres pengerjaan hunian elit tersebut.


Cristy melupakan kemarahannya, ia takjub dengan proyek itu.Pantas saja, hunian yang masih dalam tahap pengerjaan itu sudah habis terjual, tiap unit rumahnya dibangun dengan desain paling modern dan lingkungan yang sangat asri.


__ADS_2