
Berjalan mengelilingi proyek didampingi Krisna,melihat bangunan rumah yang setengah jadi, lalu ngobrol mengenai detil-detil proyek menjadi kegiatan yang berbeda sore itu.Walaupun awalnya ia sebel dengan Krisna yang sering mencuri-curi pandang, tapi lama-lama ia justru salut pada pemuda itu.Dia sangat serius dan menguasai pekerjaannya.Tipe lapangan dan pekerja keras.
Hampir petang Cristy baru beranjak dari lokasi proyek.Krisna yang selalu bersikap sopan dan hormat membuatnya tidak risih ketika ia kembali duduk di boncengan sepeda motor dan memeluk pinggangnya, menyusuri jalan berlubang, tanjakan dan turunan untuk kembali ke mobil.
" Gimana perjalanannya ? " tanya Pak Gunawan ketika mereka sedang duduk di meja makan menikmati makan malam.
Cristy tertawa.
" Ga nyangka bisa nyampe sana..."
" Kan Papa udah bilang"
Cristy menuang jus buah dari teko kaca, lalu meminumnya seteguk.
" Semua unitnya udah sold out Pa"
" Bagus itu, hebat.Awalnya Papa agak ragu , karena lokasinya agak jauh dari pusat kota"
" Apalagi subkontraktor yang mengerjakannya juga baru kali ini kerja sama, ternyata dia sangat profesional.Semua time line dikerjakan tepat waktu"
Cristy mengangguk-angguk.
" Nanti kamu pikirkan untuk membuka tahap duanya"
" Maksud Papa? Bukannya lahannya udah habis"
" Ya...kita cari di sekitar lokasi itu"
Pak Gunawan menjawab enteng, seperti sedang bicara untuk membangun satu atau dua unit rumah baru.
" Papa yakin kamu bisa " sambung pak Gunawan mantap ketika Cristy menatapnya dengan sendu.Sulit dibayangkan memulai suatu proyek baru di lingkungan seperti di lokasi proyek itu.Mencari lahan, ratusan atau bahkan ribuan hektar,perijinan yang pasti sulit karena terkait AMDAL, belum sulitnya medan.
" Nanti biar Krisna yang bantu, ternyata dia asli orang daerah situ.Biar dia yang urusin lahan dan perijinan.Papa rasa dia bisa diandalkan"
Ujar pak Gunawan panjang lebar, seakan bisa menebak kekhawatiran Cristy.
" Kita selesaikan yang ini dulu Pa"
" Baiklah, tapi ga ada salahnya kamu masukkan dalam rencana kerja untuk tahun depan"
" Papa...? tahun depan kan tinggal sebulan lagi" Cristy protes.Pak Gunawan hanya tertawa, ia bangkit dan menepuk pundak putrinya.
" Itulah bisnis sayang, ga pernah bisa menunggu" katanya santai dan berlalu meninggalkan meja makan.
Cristy tercenung.Tanpa disadarinya secara perlahan ia mulai menikmati perannya sebagai seorang pebisnis yang ulet, bergerak cepat dan tahu membaca peluang berkat didikan ayahnya.
__ADS_1
****
Pernikahan Susi digelar dengan mewah.
Pesta yang diadakan di hotel itu dihadiri oleh banyak tamu undangan.Orang tuanya pengusaha sukses di Palembang, relasinya banyak, sehingga tamu yang hadir terus mengalir seakan tiada henti.
Susi tampak sangat bahagia bersanding di pelaminan dengan pak Tanu.
" Selamat ya, Susi dan pak Tanu" Rika memeluk Susi, sahabatnya itu tidak kuasa menahan air matanya, karena terharu.
" Terimakasih Rika..., terimakasih Tuan.." Tuan yang berdiri di belakang istrinya, tersenyum hangat dan mengulurkan tangan menyalami kedua mempelai.
" Selamat ya, Susi dan Tanu..."
Lalu mereka menikmati jamuan yang disediakan khusus di sebuah ruangan.
" Mau kue itu ma...."
Calista menunjuk kue yang disediakan dalam wadah berbentuk bunga yang cantik.
Rika mengambil sepotong lalu disodorkan kepada anaknya yang langsung makan dengan lahap lalu matanya mengerjab.
" Enak... banget, aku mau bikin ini di rumah"
Serentak Rika dan suaminya tertawa.
" Calista kira-kira ini bahannya apa aja, bisa lembut begini kayaknya putih telurnya dipisahin dengan kuningnya, lalu baru di mix , nanti kita coba ya Ma..." Calista makan kue sambil terus berpikir, mengira-ngira bahan dan cara memasak kue lezat itu.
" Anak papa hebat..." Tuan tertawa geli melihat tingkah Calista.
Sore hari mereka kembali ke hotel .Calista dan Calandra bermain - main di play ground ditemani Surti dan Tini.Rika bergegas masuk kamar ,ia ingin menemani anak-anaknya bermain, tapi pingin mandi dan ganti baju dulu, badannya terasa lengket, setelah hampir seharian menghadiri pernikahan Susi, dari akad nikah sampai resepsi.
Ia baru saja selesai membersihkan make up dan membuka pintu kamar mandi ketika suaminya masuk kamar dan tersenyum-senyum.
Rika paham maksudnya.
" Aku mau menemani anak-anak main mas,ini mau mandi dulu, nanti malam saja ya"
" Aku iri melihat Tanu dan Susi...."
Kedua tangannya meraih tubuh Rika dan menggendongnya masuk kamar mandi.
" Ih mas ah, masak ngiri sama kebahagiaan mereka" Rika cemberut dalam gendongan suaminya.
" Bukan, maksudku, kita ga boleh kalah sama mereka, harus lebih heboh kali ini..." Ujar Tuan sambil terus tersenyum, dibukanya pintu kamar mandi dengan ujung kakinya.Rika pasrah, ia menurut ketika suaminya membuka pakaiannya satu persatu.
__ADS_1
Seperti biasa, mereka baru keluar dari kamar mandi setelah kamar menjadi gelap.
" Anak-anak belum makan malam mas..." Rika berkata sambil mengeringkan rambut.
" Aku tadi udah nyuruh Surti pesan makanan ke kamar anak-anak " jawab suaminya tenang.
" Kapan..? "
" Ya tadilah waktu aku mau masuk kamar"
" Persiapan sepertinya matang..." Rika tersenyum menyindir suaminya, yang disindir tertawa terbahak-bahak.
" Apa yang akan kamu katakan kalau aku juga sudah pesan makan untuk kita di roof top malam ini...?"
Tuan mendekati istrinya dengan mimik lucu, lalu memeluknya dari belakang.
" Aduh, panas...." Dia tersentak ketika hawa panas dari alat pengering rambut mengenai mukanya.
" Maaf mas, lagian orang lagi ngeringin rambut..."
Tuan terpaksa menjauhkan dirinya dari Rika.
" Kamu luar biasa, kayak pengantin baru" Tuan terkekeh dan menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.
" Lihat lutut suamimu sampai gemetaran..."
Rika pura-pura cemberut.
" Apaan sih, ya udah istirahat aja.Ini palah makan malam di roof top, di kamar aja makannya"
" Eh...jangan gitu, justru jadi seger lagi kalau udah makan di roof top"
Rika hanya menggeleng-gelengkan kepala.Ia menoleh hendak mengatakan sesuatu, tapi urung karena dilihatnya suaminya bangun dan langsung berdiri.Berjalan ke arah lemari dan mengambil baju, siap-siap untuk makan di luar.
Jam delapan mereka ke luar kamar, menengok ke kamar anak-anaknya dulu.Ternyata mereka berdua sudah tidur pulas , mungkin capai seharian ikut kedua orangtuanya menghadiri pesta pernikahan.
Rika menggandeng tangan suaminya, berjalan menyusuri lorong hotel menuju lift ke lantai paling atas.
Sungai Musi dan jembatan Ampera tampak sangat indah dilihat dari atas hotel.Lampu-lampu berkelap-kelip seperti jutaan kunang-kunang yang terbang dengan riang di malam hari.Angin malam yang sejuk, dan suasana tenang menjadikan hidangan yang disajikan semakin terasa lezat.
Tuan mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi istrinya dengan lembut.
" Sayang, aku sangat mencintaimu dan tak akan pernah menghianatimu.Jangan pernah bosan mendengar aku terlalu sering mengatakan hal ini padamu"
Rika tersenyum dan memegang tangan suaminya yang masih mengusap-usap pipinya.
__ADS_1
Suamiku, aku tidak akan pernah bosan, aku selalu senang mendengarnya, kamu memang sudah mengatakannya lebih dari seribu kali, aku tetap menunggu kamu mengatakan lagi sampai sejuta kali.