Matahari Jingga

Matahari Jingga
Bab 15 Pulang Kampung


__ADS_3

Eksport ke Rusia yang ditangani mati- matian oleh Rika dan teamnya , sudah selesai dan semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Pembayarannya juga sudah cair.Tuan memberikan bonus yang cukup besar kepada Rika.Awalnya ia menolak, tapi Tuan memaksa karena perusahaan untung besar dari eksport tersebut.


Weekend Rika pulang kampung, ia ingin memberikan uang bonusnya kepada ibunya.


Kali ini ia memilih naik pesawat agar lebih cepat sampai dan ia punya banyak waktu untuk bertemu dengan ibunya.Setengah jam perjalanan menggunakan pesawat , lalu disambung dengan taxi .Jam 8 pagi Rika sudah sampai di rumahnya.


Seoerti biasa ibunya menyambut dengan sangat girang.


" Tumben pagi sekali kamu sudah nyampai Nduk" Ibu bertanya agak heran.


" Iya Bu, Rika naik pesawat" ujar Rika sambil memeluk Ibu.


" Wah, hebat anak gadis Ibu, naik pesawat.Sudah banyak uang ya? " Ibu bertanya dengan maksud bercanda.


" Ia Bu, Rika lagi banyak uang" yang ditanya palah menjawab serius.


" Kamu bisa aja " Ibu mencubit lengan anak gadisnya.Mereka berdua tertawa bersama lalu masuk ke dalam rumah.Lagi- lagi Ibu memeluk Rika dengan erat, ia sangat menyayangi anak tunggalnya.Rika tersenyum .


" Kamu cantik sekali sekarang Nduk..." Ibu memandangi anak satu-satunya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


" Ha..ha ...anak siapa dong? "Rika menjawab sambil menyenderkan kepalanya di dada Ibu


Mereka melepas rindu, duduk di ruang tamu.Rika mengedarkan pandangannya.


Rupanya ibu sudah membeli beberapa perkakas, dari uang yang dikirimkan setiap bulan.Ada seperangkat sofa, almari dan TV baru.Meskipun TV nya tidak terlalu besar tapi sudah bisa dinyalakan dengan remote.


" Wah... keren, TV baru, sofa baru.." serunya.


" Iya kan kamu yang kirimi uang..."


" Bu...Bu.." Rika menepuk-nepuk tangan ibu.


" Aku benar-benar punya uang banyak loh.." lanjunya, lalu diambilnya buku tabungan dan ditunjukkan ke Ibu. Ibu takjub,


" Banyak sekali, gajimu sebesar itu? " ibu bertanya seakan tak percaya.


" Bukan Bu, ini bonus .Jarang - jarang juga dapat bonus kayak gini"

__ADS_1


" Kamu hebat Nduk, ibu bangga sama kamu"


" Uang ini aku mau kasih ke ibu"


" Jangan, ibu sudah tua ga butuh apa-apa.Uang yang kamu kirim selama ini udah cukup.Kamu simpan saja buat kebutuhan kamu nanti kalau sudah berumah tangga"


Rika berusaha membujuk agar ibu mau menerima uang pemberiannya, tapi tetap tidak mau.Akhirnya Rika menyerah, ia pergi ke kamar untuk istirahat.Kamar yang sederhana tapi bersih, ibu rajin membersihkan walaupun tidak ditempati.


Sebenarnya Rika ingin membawa ibu tinggal di kota bersamanya, tapi ibu tidak mau.Orang tua itu lebih nyaman tinggal di kampung halamannya.Rika sering tidak tenang memikirkan ibu yang tinggal sendiri di kampung.


Sambil berbaring menatap langit-langit kamarnya Rika berpikir apa yang harus dilakukan untuk lebih membahagiakan ibu.Diajak ke kota ga mau, dikasih uang banyak ga mau.Lalu ia mendapat ide.


Ia keluar kamarnya menuju rumah Dimas.Anak itu sekarang sudah menikah dan sudah punya rumah yang ditinggali bersama istrinya.


" Rika...." Dimas kaget melihatnya.Rika tersenyum,


" Hai Dim...istrimu mana? aku mau kenalan.."


Dimas ke dalam memanggil istrinya,seorang perempuan muda dengan wajah manis.


" Mbak Rika, kapan datang...? " dengan ramah ia menyalami Rika.


" Banyak sekali, terima kasih mbak..." istri Dimas membuka paper bag itu, isinya baju untuknya dan untuk Dimas.Ada juga kue-kue.


" Dimas aku mau minta tolong.." sejenak kemudian Rika berkata " tolong carikan orang, mungkin yang sebaya istrimu ini untuk menemani ibuku, aku akan membayarnya tiap bulan"


Dimas dan istrinya terdiam, mencoba berpikir kira-kira siapa orangnya yang tepat.


" Kamu tenang aja, nanti aku carikan..." jawab Dimas sesaat kemudian.Rika merasa tenang, nanti ibu akan ada yang menemani.


" Satu lagi aku mau merenovasi rumah.Tolong kamu urus semuanya." Lalu Rika menunjukkan gambar sebuah rumah besar dari HP nya.


" Kira - kira seperti ini ya Dim"


" Wah, mahal itu biayanya.Bisa ratusan juta" Dimas memperhatikan gambar rumah itu dan berujar.Ia ragu kalau Rika punya uang sebanyak itu.


" Ga apa -apa.Nanti uangnya aku transfer ke kamu " Dimas sedikit kaget, besar sekali gaji Rika di Jakarta rupanya, uang sejumlah itu kan tidak sedikit.

__ADS_1


" Banyak uang kamu Rik" Dimas berdecak kagum.Rika hanya tersenyum.


" Rumahku sangat sederhana , kamu tahu itu kan.Kebetulan aku lagi ada rezeki, aku ingin merenovasi biar Ibu senang" Rika berujar,


ia benar - benar hanya ingin membahagiakan ibunya.


" Baiklah, nanti aku hitung dulu biayanya dan cari tukang yang mengerjakan"


" Siplah, aku balik ke Jakarta besok sore.Kamu bisa kasih kabar paginya? ".Rika bertanya, yang ditanya diam sejenak, tampak sedang berpikir .


" Baiklah, aku punya famili pemborong kecil-kecilan di kampung sebelah.Aku akan hubungi dia dulu" akhirnya Dimas menjawab.Rika tampak senang,


" Terimakasih kasih banyak Dim ".


Lalu ia pamit.Rika ke luar dari rumah Dimas dan berjalan pulang ke rumahnya.


Di tengah jalan ia bertemu dengan beberapa orang teman masa kecilnya,


" Rika...? Ini Rika...? Cantik banget sekarang, wah sudah jadi orang kaya ya di kota" Dewi , teman SD nya yang dulu sering mengejeknya ,menyapanya ramah.Ia terlihat lebih tua .


" Hai ..Dewi...ya beginilah " jawab Rika kalem.


" Eh..bilang- bilang ya kalau ada lowongan, aku mau.Sekarang apa-apa mahal, suamiku cuma kerja di pabrik, anak tiga"


" Iya nanti saya bilang kalau ada..., yuk.." Rika melambaikan tangan dan berlalu.Orang seperti Dewi ini ga di kampung ga di kota sama saja, baik kalau ada maunya .Dulu waktu kecil ia sangat sombong karena orang tuanya paling kaya di kampung.Sawah dan ladangnya luas.Lulus SMA Dewi tidak melanjutkan kuliah, ia langsung menikah.


" Buat apa kuliah, mahal - mahal nanti baliknya ke dapur juga.." katanya waktu itu.


****


Pagi harinya Rika bangun dengan badan yang segar.Pulas sekali tidurnya semalam.Terdengar suara ibu sedang memasak di dapur. Tercium bau asap dari tungku kayu bakar .Suara gemericik api membakar kayu berpadu dengan dentingan sendok sayur ibu yang sedang mengaduk masakan.


Rika bangkit dan berjalan menuju jendela,dibukanya jendela lebar-lebar.Dari balik pohon pisang di belakang rumahnya matahari baru saja terbit.Warna jingga yang sempurna.Bentuknya seperti lingkaran , persis seperti sebuah semangka besar yang dibelah dua.


Suasana ini yang dirindukan oleh Rika , seakan memanggilnya setiap saat, di sela -sela kesibukannya,di tengah-tengah segala fasilitas yang serba modern.Apalagi yang ia cari sekarang ?


.

__ADS_1


"


.


__ADS_2