Matahari Jingga

Matahari Jingga
Bab .31 Heidelberg


__ADS_3

Sabtu pagi, Cristy masih bermalas-malasan di tempat tidur.Udara yang dingin membuat ia ingin bergelung di selimut seharian. Ditariknya selimut menutupi seluruh badannya sampai kepala.Matanya kembali terpejam.


Sayup-sayup terdengar suara HP nya berdering.


Cristy meraihnya dengan malas.


" Hai..Cristy " terdengar sapaan khas dari Carl.


Cristy baru ingat.Ia sudah janji dengan Carl untuk pergi jalan-jalan ke Heidelberg.Kota kuno yang romantis, kata Carl.Awalnya Cristy menolak ajakan Carl untuk pergi ke kota itu.Tapi karena Carl mendesak terus akhirnya Cristy mau.Lagipula ia butuh liburan, pikirnya.Selama di Frankfurt dirinya hanya menghabiskan waktu untuk bekerja.


Cristy segera bangkit dan mandi.


****


Sepanjang perjalanan Carl bercerita mengenai Heidelberg.Kota bersejarah , kota yang indah, kota ilmu pengetahuan, kata Carl dengan bangga.


Setelah kira - kira satu jam perjalanan mobil mulai memasuki jalanan yang menanjak dan menikung.Pemandangan di kanan kirinya sangat indah.Benar apa yang dikatakan Carl, Heidelberg mirip seperti kota di negeri dongeng.


" Kita ke kastil Heidelberg dulu .Kastilnya berada di atas bukit" Carl menjelaskan.


" Bagus sekali ya pemandangannya" ujar Cristy dengan kagum.


Mereka sampai di tujuan. Suasana cukup ramai.Banyak turis yang datang.


" Kita harus jalan kaki ke atas , kuat kan? " ujar Carl dan memarkir mobilnya di sebuah lahan parkir yang disediakan.


Cristy mengangguk.Jalan ke atas yang berupa anak tangga memang lumayan tinggi.


" Rasa capaimu nanti akan terbayar begitu melihat keindahan kastil" Carl berujar memberikan semangat.Ia meraih tangan Cristy dan menuntunnya.


" Tinggi banget ya " ucap Cristy terengah-engah.


" Sedikit lagi sampai" kata Carl, tangannya terus memegang tangan Cristy.Cristy tidak menolak.Entah karena terbius oleh indahnya pemandangan atau karena memang ia sedang capai menaiki tangga yang seperti tak ada habisnya.


Akhirnya mereka tiba di kastil.Cristy menarik nafas lega.Kastil tua itu terdiri dari beberapa bangunan.Ada bangunan yang merupakan benteng pertahanan dan ada tempat tinggal.Udara di luar yang sejuk, memasuki kastil bertambah sejuk.Carl terus menerus bercerita mengenai sejarah kastil dan menunjukkan tempat-tempat yang menjadi bukti kebesaran dan kekuasaan pemerintahan Pangeran Elector Ruprecht III pada abad 13 Yaang membangun kastil tersebut.Cristy mendengarkan dengan serius dan terus menerus mengagumi setiap sudut kastil.

__ADS_1


Lelah berkeliling mereka istirahat di sebuah bangku di sudut halaman belakang kastil.Menikmati panorama perbukitan yang indah.


" Cristy..." Carl berkata pelan , matanya menatap Cristy dengan lembut" Aku menyukai kamu"


Cristy terkejut mendengar perkataan Carl . Ia terdiam.Belum siap mendengar kata-kata semacam itu.Luka lama di hatinya teramat dalam.


Carl menatapnya,tatapan yang penuh harap.


Perlahan Cristy menggeleng.


" Kita seperti ini saja Carl, sebagai sahabat" ujarnya perlahan.Ada nada kesedihan tersirat dalam ucapannya, dan Carl bisa menangkap itu.


" Baiklah, sahabatku..." Carl berkata sambil tersenyum.Carl menyadari mungkin Cristy pernah mengalami masa yang sangat sulit, dia tidak akan memaksa.Mungkin ia harus sabar dan menunggu waktu yang lebih tepat.


Lalu mereka kembali mengobrol.Carl senang karena Cristy mulai lebih cair.


" Carl, itu temboknya memang dibiarkan runtuh seperti itu? " tanya Cristy sambil menunjuk sebuah bangunan yang runtuh.


" Ya, itu adalah bukti sejarah.Bangunan benteng yang hancur akibat perang" jawab Carl.


Carl berdiri dan menarik tangannya.


" Ayo, banyak tempat bagus lainnya yang akan kutunjukkan padamu"


Mereka keluar dari areal kastil . Suasana di luar semakin ramai.Turis berdatangan semakin banyak.


Tiba-tiba Cristy melihat rombongan turis yang sepertinya berasal dari Asia.Rombongan terdiri dari beberapa perempuan dan laki-laki yang berpenampilan rapi.Rata- rata usianya sudah di atas 30 tahun.


" Mas Narendra ...? " Cristy berseru ketika mengenali salah seorang rombongan itu.


" Cristy...? " Orang yang disapanya mendekat dan mengulurkan tangannya.Mereka berjabatan tangan.


Cristy tersenyum lebar.Ia sangat senang bertemu dengan Tuan.Sudah lama ia tidak bertemu dengan orang Jakarta, pertemuannya dengan Tuan mengobati rasa rindunya dengan kota kelahirannya.


Tuan kelihatannya juga sangat senang bertemu Cristy.Cristy yang dilihatnya sekarang sangat berbeda . Sederhana, terpelajar dan tentu saja cantik.

__ADS_1


" Kamu lain sekali sekarang " ujar Tuan sambil terus memperhatikan Cristy.Cristy tersenyum malu.


" Oh ya mas, ini kenalin temanku Carl " kata Cristy buru-buru memperkenalkan Carl untuk menutupi rasa malunya.Carl dan Tuan berjabat tangan.


Mereka mengobrol sebentar lalu berpisah.Tuan bergabung lagi dengan rombongannya , sedangkan Cristy kembali mengikuti Carl.Melihat tempat - tempat lainnya yang menjadi tujuan favorit para pelancong.


****


Pertemuan singkat di Heidelberg, membawa kesan tersendiri bagi Cristy.Di matanya Tuan terlihat berbeda dengan yang dikenalnya dulu, Tuan terlihat sangat tampan, berwibawa dan matang.Kehidupan barunya di Frankfurt sudah mengubah cara pandangnya terhadap seorang laki-laki.


Cristy mencoba mengingat lagi kenangannya dulu bersama Tuan.Ada rasa sesal di hatinya, kenapa dulu ia tidak bisa mencintai laki -laki sempurna seperti Tuan.Dulu di matanya Tuan adalah tipe laki -laki dingin dan tidak romantis.Berbeda jauh dengan Robert yang sangat dicintainya waktu itu.


Cristy menghela nafas.Ia mencoba membuang jauh-jauh keinginan untuk menemui Tuan di hotelnya.Dia sudah memiliki keluarga yang bahagia, pikirnya.Salah sendiri dulu ia menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi Nyonya Narendra.


Sampai larut malam Cristy belum bisa tertidur. Entah mengapa pikirannya melayang kepada masa lalunya saat menjadi tunangan Tuan. Bayangan Tuan dengan senyumnya yang khas , gaya bicaranya yang halus dan tertata, sikapnya yang selalu melindungi, semuanya melintas dalam benaknya tanpa bisa dicegah.


Seandainya waktu bisa diputar kembali, keluhnya.


Pagi harinya Cristy duduk di bangku di pinggir sungai Main seperti biasa.Ia ingin membaca buku yang dibelinya beberapa hari yang lalu dan belum sempat dibaca.Baru beberapa halaman ia baca, Carl datang menghampiri.


" Hai..." Dia menyapa dan langsung duduk disampingnya.Cristy sudah merasa terbiasa dengan kehadiran Carl di sampingnya.Mereka lalu mengobrol sambil menikmati pemandangan sungai di pagi hari.


Sebuah kapal terlihat melintas di sungai.


" Apakah kamu tidak tertarik untuk naik kapal keliling Frankfurt?" tanya Carl.


" Aku kurang nyaman naik kapal.Perutku mual" jawab Cristy , menggeleng.


Carl meraih tangan Cristy dan mengusap dengan lembut, Cristy tidak menolak.


" Lain kali kamu harus mencobanya.Mungkin harus minum obat dulu sebelum naik kapal" sarannya.


" Boleh juga.." Cristy mengangguk.Ia memang merasa penasaran bisa naik kapal untuk keliling kota.Mungkin lebih mengasyikkan menikmati indahnya sungai dari dekat dan bisa mengelilingi dan melihat berbagai sudut pemandangan kota dari arah sungai.


.

__ADS_1


__ADS_2