Matahari Jingga

Matahari Jingga
Bab . 29 Ke Luar Negeri


__ADS_3

Pagi harinya Cristy terbangun dari tidurnya dengan mata bengkak.Dengan langkah gontai ia menuju kamar mandi.Diisinya bathtub dengan air sampai penuh.Lalu ia masuk dan berendam tanpa membuka baju.Ditenggelamkannya badan dan mukanya.Ia tidak ingin hidup lagi.Dunia buatnya sudah gelap dan hancur.Lama ia membenamkan wajahnya, sedikit demi sedikit air masuk ke dalam hidung , mulut dan saluran pernapasannya.Ia terbatuk .Entah malaikat apa yang melindunginya, tiba-tiba ia bangkit dan duduk.Dibukanya pakaiannya dan ia menyalakan shower untuk mandi.Air hangat yang nyaman dari shower membasahi kepalanya dan pelan- pelan mulai menjernihkan pikirannya.Berkali - kali ia menarik nafas untuk menata emosinya.


Sehabis mandi dan mengeringkan rambutnya ia menelpon petugas hotel agar membawakan sarapan ke kamarnya.


****


Cristy berjalan dengan tenang memasuki halaman rumah itu.Diketuknya pintu dengan perlahan.Beberapa kali ketukan pintu belum juga dibuka.Ia menunggu dengan tenang dan membuang jauh-jauh pikirannya yang bertanya-tanya sedang apa pasangan pengantin baru itu di dalam.


Akhirnya terdengar suara langkah kaki dari balik pintu.Seseorang terdengar memutar anak kunci, dan....


" Cristy... ? !!!! " Wajahnya langsung memucat seperti melihat hantu begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintu.Cristy tersenyum kecut, ia berusaha tetap tenang.Sudah cukup yang dialaminya tadi pagi di kamar mandi.


" Robert, boleh aku masuk ? !" tanyanya setenang mungkin.


" Siapa Sayang ? " terdengar suara perempuan dari dalam rumah.Karena yang ditanya tidak menjawab perempuan itu keluar untuk melihat tamunya.Rambutnya yang panjang masih basah, bibir merahnya bengkak bekas di......Cristy tidak kuat lagi, ia berlari menuju mobil dan menyuruh sopir yang mengantarnya untuk segera meninggalkan rumah itu.


Cristy tidak mau menangis lagi.Sudah cukup.Ia hanya menyandarkan kepalanya yang terasa berat.


" Ke mana Non ? " tanya Sopir.


" Bandara pak "


Cristy ingin segera pulang ke Jakarta.Lebih baik ia kembali berkumpul bersama keluarga dan teman-temannya di Jakarta.Daripada kelamaan berada di Bali, sendirian dengan kesedihan dan kepedihan hatinya, bisa-bisa ia benar-benar akan bunuh diri.


Pesawat mendarat di Bandara Soekarno Hatta Jakarta.Semua penumpang sudah turun.Cristy masih termangu- mangu di tempat duduknya.Seorang pramugari datang menghampiri.

__ADS_1


" Ada yang bisa saya bantu Bu ? tanyanya.Cristy menggeleng dan segera bangkit dari kursinya.


Berjalan menuruni tangga pesawat , pikiran Cristy masih tak menentu.Pikiran sehatnya mengatakan bahwa ia harus melupakan Robert, tapi perasaannya masih sangat berat untuk melakukan itu.Apalagi Robert mengakhiri hubungannya dengan cara yang sangat menyakitkan, tragis.


Tanpa sadar langkah kakinya menuju penerbangan luar negeri.Ia ingin pergi jauh, agar ia tidak bisa mendengar ada yang menyebut nama Robert lagi, baik itu teman-temannya ataupun keluarganya.


Yup, lebih baik ia ke Frankfurt.Ada tantenya yang tinggal di sana.Kota yang terletak di pinggir sungai Main yang indah di Jerman , ia akan menenangkan dirinya di sana.


Selamat tinggal Jakarta, selamat tinggal Robert .


****


Siang hari waktu setempat , Cristy tiba di bandara Frankfurt.Ia memilih naik kereta bawah tanah agar lebih cepat sampai ke rumah tantenya.Di Jakarta tidak pernah sekalipun ia naik angkutan umum.Tapi di sini, Cristy harus membiasakan dirinya agar ia bisa menghemat pengeluaran selama tinggal di negeri orang.Ia membeli tiket di box tiket yang tersedia.Ada beberapa orang yang tampak berdiri sedang mengantri, Cristy ikut berdiri dalam barisan antrean.Ia bukan siapa-siapa di sini.Kesadaran itu terasa agak menyakitkan.


Cristy tiba di rumah tantenya.Rumahnya kecil tapi sangat asri.Dari balkon rumah ia bisa melihat sungai Main.Kapal wisata sibuk hilir mudik membawa pelancong yang ingin keliling kota Frankfurt melalui sungai.Di sepanjang pinggirnya tampak taman - taman yang asri dan bangku- bangku tempat orang bersantai menikmati indahnya sungai Main.


****


" Lebih baik kerja saja di sini.Frankfurt ini kan pusat keuangan dan perbankan internasional.Kamu kan lulusan perbankan, mungkin akan mudah dapat kerja di sini" ujar Tante Sofi, tantenya pada saat makan. Cristy sudah bercerita panjang lebar mengenai alasannya ia datang ke kota ini.Cristy terdiam , mungkin benar kata Tante, lebih baik kerja.Daripada waktunya habis hanya untuk jalan - jalan tanpa tujuan.Dengan bekerja ia akan sibuk dan tidak akan memikirkan kenangan masa lalunya.


" Boleh juga sih..." jawab Cristy.


" Kalau kamu mau besok datang saja ke Bank punya relasi Om" Om Andre, suami Tante Sofi.


Cristy tampak berpikir sebentar, lalu berkata,

__ADS_1


" Saya mungkin akan istirahat dulu satu dua hari ini, minggu depan saja saya mulai cari kerja"


jawab Cristy.Ia masih agak ragu menentukan pilihan antara menetap di Frankfurt atau balik ke Jakarta.Di kota ini tentu saja ia harus mandiri dan bekerja keras, kalau di Jakarta semua fasilitas dan kemewahan sudah disediakan oleh orang tuanya.


Mampukah ia menjalani kehidupan barunya di tempat asing ini ?.


" Kamu sudah dewasa Cristy, saatnya kamu mandiri" ucap Tante Sofi seakan tahu apa yang sedang dipikirkan keponakannya itu.


Satu sisi ia kasihan akan nasib keponakannya, habis gagal menikah dengan konglomerat , lalu pacarnya menghianatinya dengan cara yang tragis.Tapi ini mungkin bentuk pendewasaan buat Cristy yang terbiasa manja dan hidup mewah.


Tante Sofi adalah adik kandung Papanya Cristy.Dulu waktu masih gadis ia tinggal bersama kakaknya.Jadi ia tahu persis bagaimana Cristy dibesarkan dalam keluarganya.Hidup bagai princess dari kecil hingga dewasa, mungkin sulit baginya untuk mandiri dan bekerja di negeri orang.


" Ya Tante..." jawab Cristy pelan, nyaris tidak kedengaran.Tante Cristy memang orangnya keras, maklum ia sudah cukup lama tinggal di luar negeri.Jauh dari orang tua dan sanak saudara, ditambah lagi budaya masyarakat sekitar tempat tinggalnya di Frankfurt sangat berbeda dengan di tanah air.Keadaanlah yang membuat ia seperti itu.Tapi Cristy tahu tantenya itu sangat menyayangi dirinya.Dari kecil Cristy sangat dekat dengan Tante Sofi.


Akhirnya Cristy memutuskan untuk menetap dan bekerja di kota ini.Benar kata Tante Sofi, ia harus belajar mandiri.Umurnya sudah lebih dari 27 tahun, usia yang sudah matang untuk belajar hidup mandiri .Menghidupi dirinya dari usahanya sendiri, tanpa mengandalkan orang tuanya.


Pagi - pagi ia diantar Om Andre bertemu relasinya di sebuah Bank .Ada keraguan dalam hatinya, mampukah ia bekerja? Walaupun ia lulusan Master dari Universitas Bisnis terkemuka di Jakarta namun ia belum pernah bekerja.


" Nona Cristy, bisa bahasa Jerman ? " tanya Pak Ray , relasi Om Andre yang menerima mereka di sebuah ruangan.Cristy mengangguk.


" Bisa.." jawabnya.


Pak Ray sejenak memeriksa beberapa berkas yang dibawa Cristy.Lalu mengangguk dan berkata.


" Baiklah ..Nona, besok bisa mulai bekerja"

__ADS_1


Om Andre dan Cristy mengucapkan terima kasih dan menjabat erat tangan Pak Ray, lalu mereka pamit.


__ADS_2