
Usia kehamilan Rika sudah menginjak tujuh bulan.Sesuai adat istiadat di kampungnya diadakan acara syukuran tujuh bulanan.Ibu datang ke Jakarta dengan seorang sesepuh yang akan memimpin jalannya upacara tujuh bulanan itu.
Acaranya diadakan di villa Puncak, semua karyawan kantor pusat diundang dalam acara tersebut.Tuan ingin berbagi kebahagiaan dengan para karyawannya.
Puluhan bus disewa untuk transportasi karyawan dari Jakarta ke Puncak.Ada juga yang datang menggunakan mobil pribadi.Sepanjang jalan menuju villa penuh dengan parkiran bus dan mobil pribadi.
Rika memakai baju hamil putih panjang dengan bordiran di lengan dan dada.Ia tampak sangat cantik dengan perut besarnya.Ditambah satu set kalung, gelang dan anting berlian yang ia kenakan mengundang decak kagum siapapun yang memandangnya.Cantik dan berkelas.
Sedangkan Tuan mengenakan batik warna coklat kombinasi gold .Calista juga tak kalah cantik dan lucu memakai gaun yang senada dengan mamanya.
Acara berlangsung khidmat, sesepuh dari kampung memimpin ritual adat yang intinya memohon kepada sang Khalik agar ibu dan bayi dalam kandungannya diberikan kesehatan dan dilancarkan dalam proses persalinan.Rika dan Tuan duduk berdampingan di kursi, sesepuh adat membawa telur ayam kampung dan bunga tujuh rupa, dalam sebuah wadah.Lalu ia meminta Tuan menuangkan ke tangan istrinya.Bunga dan telur dituangkan, bunga berserak di pangkuan Rika dan telurnya jatuh menggelinding ke lantai.Agak jauh menggelinding tetapi tidak pecah.Menurut kepercayaan jika tidak pecah maka jenis kelamin bayi di kandungan adalah laki-laki, jika pecah maka bayinya perempuan.
" Laki-laki..." gumam Tuan dan Rika serempak, lalu keduanya tersenyum bahagia.
Acara adat selesai dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan -makan.
Rika menghampiri dan memeluk Ibunya.
" Ibu...."
" Rika.."
" Ibu mau makan apa biar Rika yang ambil"
" Eh... sudah, kamu duduk saja , biar Ibu ambil sendiri.Makanannya enak semua Ibu jadi bingung" Ibu tertawa kecil.Ia ingat Rika waktu kecil dulu serba kekurangan.Jangankan makanan enak, ada nasi dan lauk seadanya saja sudah bersyukur.Sekarang anaknya itu serba kecukupan , mau makan apapun tersedia.
Semua karyawan dan tamu undangan lainnya ikut bergembira dan menikmati hidangan yang disediakan.
Rika mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, dia tidak melihat Susi, sahabatnya, kemana anak itu ? Rika ingin mengenalkan pada Ibunya.
Lalu ia minta Bibi, pembantunya untuk mencari Susi.Bibi mengangguk dan segera berlalu untuk menjalankan perintah Nyonyanya.
__ADS_1
Bibi berkeliling ke sekitar rumah, tapi Susi tidak terlihat.Lalu ia bertanya pada Mang Jaja,tukang kebun.
" Mang, lihat Mbak Susi ga? 'tanya Bibi.
" Susi..? Mang Jaja balas bertanya, tampaknya ia bingung siapa orang yang dimaksud Bibi.
" Itu loh Mang, Sekretaris Tuan" Bibi menjelaskan " Rambutnya sebahu, kulitnya putih "
Mang Jaja tampak berpikir sebentar.
" Oh di sana tadi Bi, sama Pak ....siapa itu yang pakai kaca mata, dulu juga pernah ke sini?"
Mang Jaja menunjuk ke arah taman di belakang vila.
Bibi mengangguk lalu menuju ke arah taman belakang.Vila itu sangat besar ,semua karyawan di kantor pusat yang jumlahnya ratusan bisa nyaman berada di situ, mencari tempat dan sudut kesukaannya masing-masing.
Bibi melihat Susi dan Pak Tanu duduk di bangku taman sedang mengobrol sambil makan.Mereka terlihat sangat akrab.
" Maaf Mbak Susi, dipanggil Nyonya"
Rika tersenyum melihat sahabatnya makin terlihat akrab dengan pak Tanu.
"Susi berduaan aja" bisiknya menggoda sahabatnya.
"Apaan sih.." Susi menjawab malu , ketahuan sedang berdua bersama pak Tanu.
"ga apa-apa juga kali" ujar Rika semakin senang bisa menggodanya" Eh.. ayo ketemu Ibu dulu, dari tadi kamu saya cariin"
Rika menggandeng tangan Susi menemui Ibu.Ia bercerita kepada Ibunya waktu pertama kali ke Jakarta dulu kost sekamar dengan Susi.
" Susi ini yang nolong Rika dulu untuk tinggal sekamar dengannya Bu" kata Rika.
__ADS_1
" Terimakasih ya Nak Susi, kamu baik sekali.Biasanya kan risih kalau tinggal sekamar berdua" Ibu berkata pada Susi dan memegang tangannya dengan erat.
" Rika terlalu berlebih-lebihan Bu, sekamar cuma sebentar" jawab Susi dengan sopan.
Lalu mereka mengobrol panjang lebar.Menceritakan kampung halamannya masing-masing.Susi berasal dari keluarga kaya di Sumatera Selatan.Dulu orang tuanya adalah transmigran dari Jawa.Berbeda dengan para transmigran lain yang rata - rata hanya mengandalkan hidup dengan bertani .Kedua orangtuanya membawa modal yang cukup sehingga di tempat tinggalnya yang baru bisa memulai usaha yang bergerak di bidang pertanian.Semakin lama usahanya semakin maju.
" Susi kerja di Jakarta untuk cari pengalaman Bu, biar bisa meneruskan usaha orang tuanya di kampung " Rika menerangkan kepada Ibu" Sekalian cari jodoh.." Rika kembali menggoda Susi, yang digoda tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali tersenyum malu.
" Betul Nak Susi, segeralah cari jodoh, pekerjaan sudah bagus" Lah...Ibu palah menimpali.Susi sangat kesal pada Rika, tapi ia hanya diam dan mengangguk hormat pada orang tua itu.
Lalu ia memilih untuk menjauh, pura-pura mengambil makanan.Rika menyembunyikan senyumnya dan membiarkan sahabatnya berlalu.
****
Hari ini saatnya kontrol kehamilan ke dokter.Rika pergi ke rumah sakit ditemani suaminya.Dokter kandungan memeriksa Rika dengan teliti.Sesaat ia tersenyum,
" Semuanya baik-baik.Berat badan Nyonya dan bayinya bertambah, usianya sudah 32 minggu.Ini jenis kelaminnya juga sudah kelihatan.Tuh...lihat, laki-laki " kata Dokter sambil menunjuk ke gambar USG di layar monitor.
" Laki -laki .." ujar Rika dan Tuan , lalu saling pandang dan tersenyum.
" Nah, Nyonya tetap jaga kesehatan, banyak makan buah dan sayur " Dokter menasehati.
" Baik Dokter " jawab Rika.
Lalu mereka mengucapkan terima kasih dan meninggalkan rumah sakit.Tuan menggandeng tangan istrinya dan membantunya berjalan.Rika memegang tangan suaminya dengan erat, perut buncitnya membuat ia harus hati-hati jangan sampai terpeleset.Sampai di mobil Pak Makmur sudah siap dan membuka pintu untuk Tuan dan Rika.
" Silakan Tuan" Dia membungkuk hormat.Tuan memegang badan Rika dan membantu naik mobil.Setelah Rika duduk dengan nyaman, Tuan baru memutari mobil dan masuk dari pintu sebelahnya lalu duduk di samping istrinya.
" Laki-laki anak kita sayang" ujar Tuan begitu mobil mulai melaju dengan tenang ke arah rumah.
" Iya mas, percaya ga percaya ya sama acara tujuh bulanan tempo hari, telurnya kan ga pecah" Rika tersenyum teringat acara syukuran tujuh bulanannya.Tiba - tiba ia seperti teringat sesuatu.
__ADS_1
" Mas..." ucapnya " Saya lihat Susi dan pak Tanu makin akrab, apakah mereka pacaran ya? "
Suaminya diam saja, mengangkat bahu.Ah, Rika baru sadar , suaminya mana perhatian sama hal-hal kayak gini.Sudahlah lebih baik nanti ia cari tahu sendiri.