
Becca dan Ben tidak melihat siapapun. Meskipun atensi mereka difokuskan dengan seksama, suasana tetaplah terlihat sepi. Persis seperti keadaan pertama kali mereka tiba di danau. Tempat itu hanya ramai dengan suara burung dan serangga yang saling bersahutan.
"Lebih baik kita pulang sekarang!" ujar Becca yang melangkahkan kaki lebih dahulu.
"Mungkin itu hanya pemburu atau orang yang berlatih menembak!" Ben mencoba berpikir positif.
"Kau benar! mungkin saja begitu." Becca menyetujui pendapat Ben. Keduanya melanjutkan perjalanan untuk keluar dari area hutan. Sekarang mereka berjalan berdampingan menyusuri pinggiran jalan beraspal.
Becca sedari tadi cengengesan sendiri karena menyaksikan penampilan Ben. Bagaimana tidak? sahabat lelakinya tersebut benar-benar tampak lucu dengan kaos yang kekecilan di badannya.
"Lepaskan saja bajuku! kau terlihat benar-benar buruk. Nanti semua penggemarmu di kota ini malah berpaling darimu!" saran Becca sembari menilik ke baju yang sedang dikenakan Ben.
"Bukankah kau bilang tadi tidak mau melihat putingku dipajang?!" timpal Ben dengan wajah cemberutnya.
"Oh my god! kenapa kau malah membicarakan itu." Becca memutar bola mata malas.
Tiba-tiba dari kejauhan terdapat mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Dedaunan kering yang telah dilalui kendaraan beroda empat tersebut berhamburan begitu saja. Orang yang mengendarai mobilnya terkesan sedang terburu-buru. Entah mengejar hal yang mendesak atau lari dari sesuatu.
Wush!
Mobil itu berhasil mengejutkan Becca dan Ben. Becca kembali kehilangan keseimbangannya, dan hampir terjatuh. Namun untung saja Ben langsung dengan sigap memegangi lengannya. Hingga badan Becca tidak menyentuh jalanan beraspal.
Kebetulan Becca reflek menoleh ke dalam mobil untuk melihat siapa pengemudinya. Dia dapat menyaksikan seorang lelaki dengan perawakan jangkung dan terasa tidak asing baginya.
"Jack?" kening Becca mengernyit.
"Kau yakin?" tanya Ben memastikan. Atensi keduanya tertuju kepada mobil yang baru saja melingus melewati mereka.
"Sepertinya begitu. Aku juga sangat yakin kalau itu mobil cadillac miliknya!"
__ADS_1
"Dia memang aneh. Dan yang paling membuatku bertanya-tanya adalah, dia tinggal sendirian di rumah Charlie yang lumayan besar itu." Ben mengungkapkan.
"Iya, itulah yang membuatku mencurigainya dari awal. Bahkan aku masih belum mengetahui pekerjaan Jack yang sebenarnya!" sahut Becca.
"Tapi kau semalam baru saja minum wine bersamanya!" timpal Ben.
Becca sontak menatap kesal ke arah Ben dan berkata, "Niatku ke sana hanya ingin menyelidiki, tetapi malah buntung sendiri."
"Memang memusingkan kalau kita terlalu memikirkannya. Sudahlah, lebih baik kau jangan dekat-dekat lagi dengannya!" saran Ben tegas.
"Itulah yang aku inginkan. Tapi letak kamarku persis berhadapan dengan rumahnya. Bagaimana aku tidak curiga dengannya, jika aku selalu berhasil memergoki Jack berbuat hal yang aneh." Becca mendengus kasar.
"Yang paling penting sekarang, tidak ada sesuatu hal buruk terjadi di lingkungan Ini," ucap Ben penuh harap. Becca yang mendengar hanya memanggut-manggutkan kepalanya.
Setelah kepulangan Ben, Becca sendiri lagi menikmati waktunya di rumah. Jujur saja, kegiatan yang kosong membuat gadis tersebut dilanda perasaan bosan. Meskipun begitu dia berusaha menghibur dirinya dengan menjelajahi internet melalui laptopnya. Dia sekarang duduk santai di atas kasurnya.
"Huaaah..." Becca menguap dan merenggangkan badannya sejenak. Ia berdiri menghadap ke arah jendela. Matanya terpejam untuk sesaat. Dan ketika dirinya membuka matanya kembali, penglihatan Becca langsung tertuju ke arah rumah Jack. Dia kebetulan menyaksikan Jack tengah berbicara dengan dua orang lelaki kekar dan berpakaian serba hitam.
Becca yang melihat reflek membelalakkan mata. Selanjutnya ia pun segera menyembunyikan diri dengan menundukkan badan. Gadis itu sekarang berada di bawah jendelanya sendiri.
Jantung Becca kembali berdetak kencang akibat mulai diserang rasa takut. Namun ia tetap berpikiran positif, karena Jack dan kedua lelaki misterius tersebut tidak berhasil memergokinya.
'Ben benar, mulai sekarang sepertinya aku harus menjauhi Jack. Baik atau pun jahat, sekarang aku tidak mau peduli lagi dengan urusan Jack!' Batin Becca meyakinkan dirinya sendiri.
...***...
Waktu berlalu, sekarang sudah hampir seminggu Becca telah menetap di Louisiana, atau tepatnya di daerah blok yang bernama Eden Street. Dia juga menjauhkan diri dari Jack, semenjak insiden minum wine tiga hari yang lalu. Becca bahkan tidak pernah membuka tirai jendelanya lagi. Jika ia menginginkan udara segar, gadis itu lebih memilih duduk tenang di jendela yang berada di atap. Letaknya sendiri menghadap ke arah jalanan beraspal.
David sudah berhasil mendapatkan ijin cuti dari atasannya. Dia sekarang bergegas pulang karena ingin memberikan kabar baik tersebut untuk kedua anaknya.
__ADS_1
Setibanya di rumah, David menemui Becca terlebih dahulu. Awalnya dia tidak menemukan keberadaan anak sulungnya itu di kamar. Setelah menelusuri bagian rumah, akhirnya David menemukan Becca tengah duduk di dekat jendela yang berada di atap.
"Becca, kenapa kau di sini?" tanya David seraya menggerakkan kakinya untuk menghampiri Becca.
"Hanya mencari udara segar." Becca menjawab dengan nada datar. David perlahan memposisikan dirinya duduk berhadapan dengan Becca. Dia menatap raut wajah putrinya yang terlihat sangat serius menatap layar laptop. Dengan kacamata anti radiasinya, Becca tampak seperti orang jenius yang ahli dalam bidang IT. Tetapi memang itulah keahliannya.
Sekarang Becca sedang mengumpulkan uang tabungannya melalui bitcoin. Dia memang kelihatan seperti pengangguran. Namun Becca sangat pintar mendapatkan uang melalui keahlian IT-nya.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" ujar Becca kepada David yang sedari tadi hanya terdiam menatap ke arahnya.
"Aku... sudah mendapatkan cuti selama dua hari. Aku ingin mengajakmu dan Jonas liburan ke suatu tempat," tutur David sambil mengukir senyuman tipis di wajahnya.
Becca yang mendengar lantas mendongakkan kepala. Dia segera melepaskan kacamata yang terpaut di antara kedua telinganya. Gadis tersebut memiringkan kepala dengan kernyitan kening keheranan.
"Apa kau bercanda sekarang?" tanya Becca memastikan.
"Apa wajahku terlihat seperti lelucon?" David merubah ekspresinya menjadi serius.
"Hanya saja... kau tidak seperti dirimu yang biasanya," balas Becca.
"Aku ingin membuat hubungan kita sedikit membaik. Aku mau menjadi ayah yang..." David tak kuasa menyelesaikan kalimatnya karena ia merasa terlalu malu. Seorang lelaki paruh baya sepertinya memang tidak ahli menunjukkan kasih sayang. Terutama kepada anaknya sendiri.
Becca hanya membisu. Dia memang sengaja memfokuskan semua perhatiannya kepada David. Sebab dirinya pun menginginkan kepedulian sang ayah terhadap keadaannya sekarang.
"Oke, pokoknya bersiap-siaplah! kita akan berangkat besok pagi!" ucap David sembari bangkit untuk berdiri. Dia sepertinya mengabaikan kalimat yang tadi hendak di ucapkannya.
"Baiklah." Becca kembali bersuara datar. Dan ketika David hampir menuruni tangga, Becca pun kembali memanggilnya.
"David!" panggilan putrinya sontak membuat David menoleh.
__ADS_1
"Aku harap kali ini kau tidak akan mengecewakanku lagi!" sambung Becca, yang langsung direspon oleh David dengan anggukan kepala beserta senyuman.