Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 36 - Pesta Mewah


__ADS_3

Becca dapat melihat Jack sudah keluar dari toko sepatu. Ia mengerjap beberapa kali akibat merasa terpaku dengan apa yang dilihatnya. Setelah Jack semakin mendekat barulah Becca tersadar, bahwa dirinya seolah merasa terhipnotis.


'Apa-apaan itu!' batin Becca yang berusaha menyadarkan diri. Dia segera menggeleng tegas untuk membantah apa yang sedang dirasakannya sekarang.


Trak!


Jack membuka pintu, dan masuk ke mobil. Tanpa sepatah kata pun, ia langsung menjalankan mobilnya.


"Saat sudah di pesta nanti, pokoknya kau harus mengikuti arahanku," ujar Jack, memecah kesunyian yang sempat terjadi beberapa saat.


"Memangnya ini mengenai apa Jack? bolehkah aku tahu? bukankah aku pantas mengetahui rencanamu?" Becca menatap Jack dengan sudut matanya.


"Aku tidak bisa memberitahumu. Maaf..." balas Jack pelan, masih terus fokus dengan alat kemudinya.


"Tapi, kenapa? apa kau agen FBI yang sedang bertugas? atau mafia? bolehkah aku menebak dan jawab saja YA?" Becca melayangkan tumpukan pertanyaan. Dia mengucapkan tebakan asal-asalan yang menurutnya sesuai.


Jack tersenyum dan membalas, "Aku bukan salah satu dari itu."


"Lalu apa?" Becca dibuat semakin penasaran. "Aku sudah membantumu sekarang Jack, setidaknya berilah aku sedikit penjelasan," tambahnya terus mendesak.


"It's complicated... (Ini rumit...)" jawab Jack ambigu. Membuat Becca semakin tidak mengerti.


Becca mendengus kasar dan berkata, "Jadi, sekarang kau akan membawaku untuk ikut ke pesta. Dan aku tidak diberitahu mengenai apapun?"


"Itu karena tugas kau hanya menemaniku. Ikuti ucapanku, maka semuanya akan baik-baik saja." Jack masih tetap pada pendiriannya. Tidak memberitahu sedikit pun mengenai rencananya.


Beberapa saat kemudian, sampailah mereka memasuki lokasi tujuan. Terlihat sebuah bangunan nan megah dengan halaman yang begitu luas. Hingga membuat Becca langsung dibuat berdecak kagum.


"Jadi ini pesta orang kaya? kenapa kau tidak bilang dari awal!" tukas Becca sembari memperhatikan bangunan rumah yang tampak memiliki banyak lantai. Becca mulai tertarik, dan melupakan segala rasa penasarannya terhadap pekerjaan Jack.

__ADS_1


"Apa kau sekarang bersemangat?" Jack tersenyum saat menyaksikan tingkah Becca. Tampak seperti anak kecil yang baru saja menemukan tempat bermain.


"Sedikit, mereka pasti punya banyak wine berkualitas," sahut Becca dengan senyuman jahatnya.


"Tentu saja." Jack menghentikan mobilnya lalu melanjutkan, "tetapi jika kau mabuk, kali ini aku tidak akan menolongmu. Jadi cobalah sebisa mungkin untuk menahan diri!"


Becca tidak merespon sama sekali ucapan Jack. Dia terlalu asyik menikmati pemandangan yang ada di hadapan matanya.


Ilustrasi rumah pesta yang didatangi Jack dan Becca :



Jack memarkirkan mobil di antara kendaraan lainnya. Selanjutnya dia bergegas keluar dari mobil. Sebelum itu, Becca mencengkeram erat lengannya dan berucap, "Kau harus membantuku berjalan, karena sepatu ini benar-benar membuatku kesulitan!"


"Baiklah!" sahut Jack malas. Dia segera melangkah keluar dan membukakan pintu untuk Becca.


'Ternyata Jack bukan tipe lelaki sulit yang kukira selama ini,' gumam Becca dalam hati senang. Sebab untuk yang pertama kalinya Jack mau menuruti keinginannya. Sekarang tangan Becca melingkar erat ke lengan seorang Jack. Mereka berjalan berdampingan seperti pasangan kekasih.


"Itu karena aku berpegangan padamu!" tukas Becca seraya melangkah dengan pelan agar tidak terjatuh. Dia sebenarnya berusaha sebisa mungkin tampil anggun.


Becca mendadak menghentikan gerakan kakinya. Keningnya mengernyit bingung, karena menyaksikan beberapa tamu lain yang terkesan aneh. Dia bisa melihat ada lelaki berpenampilan sangar dan memiliki banyak tato ditubuhnya.


"Apa tamu di pesta ini kebanyakan adalah gangster? katakan saja yang sebenarnya Jack. Kau akan melakukan apa di sini?" tanya Becca dengan nada pelan.


"Sudah kubilang aku tidak bisa mengatakannya. Lebih baik kita segera masuk ke dalam!" ujar Jack sembari melangkah lebih dahulu, agar Becca dapat otomatis mengikutinya. Keduanya sekarang berada di depan pintu masuk.


Tampak dua orang lelaki berbadan besar sedang berjaga. Perbedaan di antara keduanya ada di bagian kepala, yang mana salah satunya tidak mempunyai rambut. Mereka menanyakan identitas Jack dan Becca. Kemudian menyuruh untuk memperlihatkan undangan resmi terhadap pesta yang tengah berlangsung.


Jack mengambil kartu undangan yang tersemat di balik jas hitamnya. Lalu menyerahkannya kepada salah satu lelaki berbadan besar. Sedangkan lelaki yang satunya mengarahkan alat pendeteksi senjata ke tubuh Becca. Membuat mata Becca sontak terbelalak tidak senang.

__ADS_1


"Hei!" protes Becca saat sang lelaki berbadan besar itu mengarahkan alat pendeteksi hampir menyentuh buah dadanya.


"Maaf nona, kami harus melakukan ini demi keselamatan," sahut lelaki berbadan besar tak peduli dengan wajah datarnya.


Becca sekarang hanya menunjukkan ekspresi cemberut. Sambil terus menatap tajam kepada lelaki yang sudah memindahkan alat pendeteksinya untuk memeriksa tubuh Jack.


"Oke, sekarang kalian harus menyerahkan ponsel jika kebetulan membawa!" titah si lelaki berbadan besar berkepala pelontos.


"Apa?!" Becca kembali membulatkan mata.


"Serahkan saja Becca, mereka akan mengembalikannya lagi jika kita pulang nanti," saran Jack dengan nada berbisik.


"Awas saja kalau tidak dikembalikan, aku punya data yang sangat berharga di ponselku!" ungkap Becca kesal. Tetapi tangannya perlahan menyerahkan ponsel kepada lelaki berkepala botak di depannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Jack.


Setelah terbukti tidak membawa barang berbahaya, Jack dan Becca pun dipersilahkan masuk. Keduanya kembali bergandengan tangan, karena alasan Becca yang masih belum terbiasa dengan sepatu high heels-nya.


Suara musik klasik terdengar mengalun lembut. Memberikan suasana menjadi tambah mewah dan elegan. Warna keemasan dan putih mendominasi tema pesta. Para undangan pun terlihat memiliki gaya orang elit pada umumnya. Jelas mereka semua adalah orang-orang yang sering mendapatkan layanan VIP.


Di atas meja melimpah berbagai macam makanan yang jarang ditemukan orang biasa. Ada kaviar, steak berkualitas serta makanan penutup berbahan karamel. Minuman fermentasi anggur, atau lebih sering disebut wine hadir dalam varian tahun yang berbeda. Semakin lama proses fermentasinya, maka akan semakin tinggi kualitas wine tersebut.


Becca merasa menciut. Sekali lagi dia menilik penampilan dirinya sendiri dari kaki hingga kepala. Hanya high heels pembelian Jack yang berhasil memberikan sedikit kepercayaan diri kepadanya. Namun penampakan jejeran botol wine yang terpampang di atas meja, mengharuskannya menenggak saliva satu kali.


Jack tampak mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia berusaha mencari keberadaan Mike. Namun matanya sama sekali tidak menangkap kehadiran rekannya tersebut.


"Jack!" suara bariton seorang pria memanggil. Membuat Jack dan Becca reflek menoleh ke sumber suara. Pria itu orang asing bagi Becca. Terdapat uban di sebagian rambutnya. Badannya tinggi semampai dan terbilang bugar. Dia sekarang berjalan mendekati Jack.


"Hai Tuan Aaron," Jack saling bersalaman dengan pria yang ternyata bernama Aaron tersebut.


"Aku senang kau bisa menepati janjimu," balas Aaron yang menjeda ucapannya sejenak. Sorot matanya mengarah pada Becca. "Kekasihmu?" tanya-nya seraya menunjuk ke arah Becca.

__ADS_1


"Ya!" sahut Jack percaya diri, hingga membuat jantung Becca mendadak berdebar hebat. Entah karena kaget atau terbawa suasana.


__ADS_2