
Jack menyusul Ben dari belakang. Dia langsung membanting pintu, kemudian menenangkan nafasnya yang tersengal-sengal. Kedua tangannya segera disatukan, dan digosok beberapakali. Hal yang sama juga dilakukan Ben, dia terlihat lebih dahulu mengambil kayu bakar. Ben menggunakan kantong sampah yang tersedia sebagai wadah.
"Kita harus cepat!" Jack berujar sambil membantu Ben memasukkan kayu bakar ke dalam wadah.
"Aku tahu!" sahut Ben dengan dahi yang mengerut dalam.
Tidak sempat tiga menit, Jack dan Ben telah berhasil membuat kantong penuh akan kayu bakar. Selanjutnya mereka bergegas untuk kembali lagi ke rumah Becca.
Kali ini Ben berjalan lebih dahulu, sambil menyeret kantong besar berisi kayu bakar. Sejujurnya dia sangat kesulitan, tetapi Ben rela memaksakan diri hanya demi seorang Becca. Setidaknya usahanya mampu membuat gadis itu berdecak kagum kepadanya.
Jack mencoba menyusul Ben. Kemudian membantunya membawa kantong berisi kayu bakar. Semuanya dia lakukan, agar dapat mempersingkat waktu.
Di tengah lebatnya salju, Jack dan berusaha sekuat tenaga. Karena bekerjasama, keduanya mampu kembali ke rumah dalam keadaan baik-baik saja. Setidaknya begitulah yang terlihat ketika mereka telah memasuki rumah.
Becca seketika menyambut kedatangan Jack dan Ben dengan memberikan selimut tebal. Gadis tersebut menyarankan untuk beristirahat dan menghangatkan badan. Sementara dirinya akan bertugas menyalakan perapian.
"Aku mau ke toilet!" ungkap Ben seraya bergegas berlalu pergi.
"Ada apa ini? kenapa kalian terlihat sangat berantakan?!"
"Jack! kau baik-baik saja?"
Jonas dan Anna baru saja muncul. Keduanya sama sekali tidak tahu menahu mengenai kesulitan yang baru saja terjadi.
"Pas sekali kalian datang. Cepat, bantu aku menyalakan api!" Becca menatap ke arah Jonas. Kemudian menuntun sang adik pergi menuju ke perapian. "Oh Anna, sebaiknya kau buatkan sesuatu yang hangat!" ucap Becca lagi. Nada suaranya agak tinggi, karena dia terus menggerakkan kaki untuk berjalan.
"Cepat sana! aku sangat kedinginan, dan perlu minuman hangat secepat mungkin!" titah Jack sembari mendudukkan diri ke atas sofa. Lalu menutupi seluruh badannya dengan selimut. Bola matanya sekarang di arahkan kepada Becca yang masih sibuk menyalakan api bersama Jonas.
__ADS_1
Anna telah selesai membuatkan minuman hangat. Dia memilih teh sebagai bahan untuk diseduh.
Sama halnya dengan Becca. Dia dan Jonas juga sudah berhasil menyalakan perapian. Kemudian ikut duduk berkumpul di sofa. Menyaksikan tayangan televisi yang sedang memutar film bertema remaja.
Kebetulan Becca duduk di sebelah Jack. Film yang ada di televisi nampaknya membuatnya tertarik. Raut wajahnya menunjukkan kalau dirinya sangat menikmati cerita di dalam film. Gadis tersebut bahkan tidak sadar, kalau Jack sedang melirik ke arahnya.
"Ternyata kau suka film seperti itu," celetuk Jack, yang reflek membuat Becca menoleh.
"Memangnya kenapa? kau mau mencatatnya kalau ini adalah bagian dari film favoritku?" balas Becca, mengangkat kedua alisnya dan sedikit memajukan bibir bawahnya. Mencoba menyindir perasaan Jack terhadapnya. Sebab Becca yakin kalau lelaki itu mempunyai perasaan spesial untuknya. Lebih sekedar dari hubungan antar tetangga.
Jack hanya tersenyum tipis. Dia sudah mengangakan mulutnya karena hendak menjawab respon Becca. Akan tetapi Jonas mendadak berdiri dan membuat keributan tak terduga.
"Oh my god, aku hampir lupa. Anna!" Jonas mendadak menepuk jidatnya sendiri. Kemudian berlari menuju kamarnya. Anna terlihat mengikuti dari belakang. Kedua remaja itu seakan sedang mengurus sesuatu hal yang penting. Jack dan Becca mengabaikannya. Mereka kemungkinan sudah malas beranjak dari sofa.
"Kau tidak jadi pulang?" Becca bertanya tanpa menatap lawan bicaranya. Dia asyik memandangi Zac Efron yang sedang berakting di televisi.
Becca perlahan menengok, dan membalas tatapan Jack. "Kau tahu Jack?" dia menggeser sedikit posisinya menjadi lebih dekat dengan Jack. "Matamu tidak bisa berbohong." Becca terkekeh, hingga menampakkan deretan gigi depannya yang rapih. Setelahnya gadis itu kembali fokus melihat ke televisi. Adegan persahabatan di dalam film, membuat Becca tiba-tiba memikirkan Tara dan Ben. Pikirannya melayang mengingat kembali kenangannya. Hingga dia akhirnya tersadar kalau Ben sedari tadi tidak terlihat batang hidungnya. Becca lantas beranjak pergi untuk mencari Ben.
"Kau mau kemana?" tanya Jack penasaran.
"Mencari Ben, sejak tadi dia belum keluar dari toilet kan?"
"Mungkin dia merasa lebih hangat di sana." Jack berucap asal. Setidaknya hal itu menunjukkan kalau dirinya sedang berpikir positif.
Becca hanya menggeleng, kemudian bergegas memeriksa keadaan Ben. Dia segera menggedor pintu toilet dimana sahabat lelakinya itu sedang berada.
"Ben? apa kau baik-baik saja?" Becca menempelkan telinganya ke pintu. Mencoba mendengarkan sesuatu dari dalam.
__ADS_1
"Ya, tunggu sebentar..." sahut Ben dengan nada pelan.
Ceklek!
Ben membuka pintu. Penampakan wajahnya membuat mata Becca terbelalak. Bagaimana tidak? Ben tampak sangat pucat, badannya menggigil dan bergerak sangat kaku. Pertanda kalau lelaki itu sedang mengalami hipotermia.
"Ben! harusnya jika kau kedinginan jangan berdiam diri sendirian di kamar mandi!" geram Becca sembari merelakan selimutnya untuk diberikan kepada Ben. Keningnya terlihat mengukir garis-garis yang menandakan kalau dirinya sedang cemas.
Becca langsung membawa Ben ke dekat perapian. Dia juga tidak lupa mengambilkan pakaian baru, agar rasa hangat ditubuh Ben dapat menjalar lagi dengan sendirinya.
Ben sekarang duduk di depan perapian. Dia menoleh ke belakang sejenak, untuk melihat Becca yang ternyata juga memberikan pakaian baru kepada Jack. Lelaki tersebut dapat menyaksikan tatapan yang dipancarkan Becca dan Jack. Pupil besar berwarna kecokelatan dari keduanya menunjukkan adanya rasa saling suka.
"Becca, bisakah kau mengambilkan air hangat untukku?" Ben sengaja bersuara, agar Becca segera pergi menjauh dari Jack. Dia bukan tipe lelaki yang mudah menyerah dengan mudah.
Jack lagi-lagi tersenyum tipis. Dia sebenarnya merasa kagum terhadap kegigihan Ben yang terkesan berlebihan. Alhasil Jack bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri Ben. Kemudian memposisikan diri duduk di samping Ben.
"Seharusnya aku sedari tadi duduk di sini..." ujar Jack sambil mengarahkan kedua telapak tangan ke perapian. "Keadaanmu terlihat buruk Ben," komentar Jack yang terfokus pada kulit pucat Ben.
Ben menghela nafas, lalu mencelingak-celingukan kepala untuk memastikan Becca belum kembali. Merasa aman, dia segera berkata, "Jack, aku ingin bertanya dengan serius!"
"Pas sekali, aku juga ingin berbicara serius kepadamu." Jack membalas dengan tenang.
Belum sempat saling bicara, Becca tiba-tiba datang membawa dua mug berisi cokelat panas. Dia menyerahkan salah satunya kepada Ben.
Jack yang merasa percaya diri akan mendapatkan cokelat panas, mengulurkan kedua tangannya ke arah Becca.
"Punyamu ada di meja makan. Tanganku hanya ada dua, jadi hanya bisa membawa semampuku saja. Lagi pula kau tidak sedang sakit, Jack!" jelas Becca, lalu menyesap cokelat panas dengan tenang. Momen tersebut tentu memunculkan rekahan senyuman diwajah Ben.
__ADS_1