Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 29 - Pembicaraan Jack & Richy


__ADS_3

"Kau memang gila Becca. Jangan bilang kau berniat membujuk Jack lagi?" tebak Tara yang tahu pasti maksud Becca.


"Mungkin itulah satu-satunya cara. Yaitu membuktikan kalau aku dan Jack benar-benar berpacaran. Setidaknya hanya berpura-pura saat prom reuni nanti." Becca menjelaskan sembari sedikit menundukkan kepala.


"Ada benarnya juga. Jika kita membalasnya dengan kekerasan mungkin masalahnya akan tambah panjang." Tara berpendapat sambil mengangkat bahunya sekali.


"Itulah yang aku pikirkan!" Becca tersenyum senang. Setidaknya ada satu orang yang setuju dengan pemikirannya.


"Tapi, bagaimana dengan seterusnya? apa kau tidak takut kebohonganmu akan berbuntut panjang?" timpal Ben serius.


"Itu tidak akan terjadi Ben, jangan berlebihan!" balas Becca remeh. Dia menganggap rencananya bukanlah sesuatu yang besar, dan dapat di atasi dengan mudah.


"Benar, semuanya hanya sandiwara. Lagi pula Becca sama sekali tidak menyukai Jack!" ujung mata Tara menatap ke arah Ben. Berharap bisa mendapat respon dari sahabat lelakinya tersebut. Namun Ben hanya menunduk lesu, seolah merasa cemas dengan rencana Becca.


"Iyakan Ben?" Tara menepuk pelan pundak Ben. Dia mendesak Ben untuk segera bicara.


"Tidak, aku tidak setuju dengan rencanamu Becca!" ungkap Ben, yang sontak membuat Becca dan Tara dibuat begitu kaget.


"Kenapa?!" balas Becca tak percaya.


"Bukankah kau pernah bilang kalau Jack mungkin saja orang yang berbahaya? kenapa kau sekarang bersikeras mendekatinya?" Ben mengungkapkan segala keraguannya.


"Berbahaya? apa maksudnya?" Tara ikut masuk ke dalam pembicaraan.


"Ini hanya sementara Ben. Lagi pula setelah Jack menolongku untuk mencari Jonas, aku rasa dia dapat dipercaya." Becca menampik pernyataan Ben, dan tanpa sengaja mengabaikan pertanyaan Tara.


"Apapun alasannya, aku tetap tidak setuju!" Ben bersikeras. Dia bergegas mengambil jaketnya yang tergeletak di sofa. "Ayo Tara, kita pulang!" ajaknya yang sekarang bicara dengan Tara.


"Apa?" Becca terperangah tak percaya.


"Sudahlah Becca, aku akan mencoba bicara kepadanya, oke?" Tara memegangi lengan Becca. Selanjutnya ia pun segera keluar sebentar untuk menyusul Ben.


"Ayolah Ben!" ujar Tara dengan nada tinggi, berharap langkah kaki Ben akan berhenti. Namun usahanya sama sekali tidak berhasil. Tara lantas melajukan gerakan kakinya untuk bicara dengan Ben.

__ADS_1


"Aku tidak bisa melakukannya Tara. Kau tahu? foto Becca dan Jack bahkan sudah membuatku gelisah. Dan sekarang? dia mau melanjutkan kebohongannya lagi." Ben menundukkan kepala kecewa. "Lagi pula kenapa dia sangat mementingkan harga dirinya. Jika dia memang merasa menjadi gadis yang menyedihkan kenapa tidak akui saja?" tambahnya terbawa perasaan.


"Jadi kau menganggapku seperti itu?" Becca mendadak bersuara. Ternyata sedari tadi ia mendengar pembicaraan Ben dan Tara.


"Becca?!" mata Ben terbelalak kala menyaksikan kehadiran Becca. Dia menenggak saliva-nya sekali. Untung saja Ben sama sekali tidak berbicara mengenai perasaannya. Akan tetapi yang harus dihadapinya sekarang adalah kekecewaan dari Becca.


"Ben, aku rasa kau dalam masalah!" Tara mulai cemas.


"Kau salah paham, aku akan jelaskan kalau--"


"Oke..." Becca mencoba memahami. Dia sengaja menjeda ucapan Ben. Sebab semuanya sudah jelas baginya. "Aku benar-benar minta maaf, sebenarnya aku juga tidak memaksa kalian untuk terlibat," lanjutnya yang segera masuk ke dalam rumah dengan perasaan kecewa.


"Becca!" Tara mencoba memanggil Becca. Namun dia tidak mendapatkan jawaban. Pintu rumah bahkan sudah tertutup, pertanda Beca sudah memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan.


'Mungkinkah aku harus mengatakan yang sebenarnya saja? tapi aku juga sudah terlanjur berbohong pada Emily.' Becca bergumam dalam hati. Dia merasakan dilema. Sangat sulit untuk memilih yang mana menurutnya benar. Sehingga dirinya baru teringat mengenai dompet hitam milik Jack. Becca benar-benar lupa mengembalikan benda tersebut kepada pemiliknya.


"Aku lupa mengembalikannya karena terlalu sibuk berdebat dengan Jack," ujar Becca yang tengah berbicara kepada dirinya sendiri.


***


Malam berganti siang. Matahari bersinar cerah. Namun Becca masih asyik tertidur. Berbeda dengan Jack yang sudah rapi, entah hendak pergi kemana.


Tring!


Suara gemerincing lonceng berbunyi kala seseorang masuk ke dalam cafe. Tara segera mengalihkan atensinya kepada pelanggan yang baru masuk itu. Pupil matanya membesar tatkala menyaksikan Jack.


"Oh my god!" gumam Tara yang merasa tak percaya.


Jack terlihat duduk di salah satu meja yang kosong. Sepertinya dia berniat ingin sarapan sebelum pergi bekerja. Jack memesan secangkir kopi dan juga sandwich.


"Hai Jack, kau ingat denganku kan?" sapa Tara sembari meletakkan hidangan pesanan milik Jack.


"Kau?" Jack mengernyitkan kening. Dia mencoba mengingat wajah orang yang sekarang ada di hadapannya. "Oh, aku tahu. Kau temannya Becca kan?" tebaknya yakin.

__ADS_1


"Kau benar!" Tara tertawa kecil. "Oke, selamat menikmati sarapanmu. Aku harus kembali melayani pelanggan lain," sambungnya, kemudian bergegas pergi menuju meja kasir.


Seorang lelaki yang berhasil menarik perhatian Tara baru saja masuk ke cafe. Ternyata lelaki itu Richy. Dia tampak berjalan menuju meja kasir. Tepat dimana Tara berada.


"Richy? apa yang kau lakukan di sini? bukankah kau sudah pindah ke Grand Isle?" tanya Tara.


"Kakekku sedang sakit. Jadi aku berkunjung ke sini sebentar. Kebetulan juga minggu depan ada acara reuni. Apa kabarmu emm..." Richy tidak mengingat nama Tara. Dia meragu untuk mengucapkan nama yang tepat.


"Tara!" Tara yang mengerti segera menjawab.


"Benar, Tara. Maaf, aku tidak begitu ahli dalam hal mengingat nama orang." Richy memberikan penjelasan.


"Kau tidak perlu menjelaskan. Aku paham orang sepertiku memang sering dilupakan," balas Tara sambil tersenyum kecut.


Setelah memesan minuman, Richy mencoba mencari meja kosong. Atensinya langsung tertuju ke arah Jack yang sedang sibuk memegangi ponselnya. Tanpa basa basi, Richy pun berjalan menghampiri dan duduk di hadapan Jack.


"Hei, kau Jack kan?" sapa Richy seraya memposisikan diri duduk di hadapan Jack. Matanya melebar penuh semangat.


Sedangkan Jack hanya mengangguk dan menatap datar. Dia tidak tahu harus bagaimana merespon Richy dengan tepat. Apalagi Jack sudah tahu mengenai perihal masalah foto yang tersebar.


Richy tampak tersenyum tipis. Kemudian bercerita tentang Becca. Lelaki itu mengatakan kalau Becca adalah gadis yang baik. Sebenarnya dia merasa senang Becca sudah memiliki pacar. Richy mengatakan kalau alasannya menyebarkan foto Jack dan Becca, karena merasa terlalu bahagia.


Jack mendadak tertarik dengan segala penjelasan Richy. Dia diam dan terus mendengarkan. Bunyi lalu lalang alat transportasi di jalanan bagaikan angin lalu. Sedangkan suara denting peralatan makanan di sekelilingnya sama sekali tidak mengganggunya.


"Becca sangat menyedihkan. Terutama setelah dia kehilangan ibunya. Saat itu aku merasa tidak bersama dengan Becca yang sebenarnya. Kau mengerti maksudku bukan?" Richy melebarkan matanya dan meneruskan, "Becca seperti manusia yang melewati kehidupan tanpa jiwa ditubuhnya. Karakternya seakan mati."


Jack merasa tertohok. Karena, apa yang di alami Becca mengingatkan dirinya dengan masa lalu. Namun Jack berusaha membuang jauh-jauh ingatan yang menurutnya buruk itu. (Cerita masa lalu Jack, masih dirahasiakan author ya)


"Harusnya kau tetap di sisinya. Kenapa kau malah memutuskan hubungan dengannya?" timpal Jack dengan kening yang mengernyit.


"Aku bosan dan lelah dengan sikap Becca. Aku bukanlah lelaki yang penyabar. Aku harap kau lebih baik dariku," balas Richy. "Lagi pula sekarang aku sudah jatuh cinta dengan Donna, pacarku sekarang," lanjutnya, sambil tersenyum dan membayangkan wajah cantik kekasihnya.


Jack pun memutar bola mata malas, lalu menyeruput kopi panasnya. Perasaan pedulinya terhadap Becca kembali muncul. Jack seolah menganggap Becca adalah versi dirinya di masa lalu.

__ADS_1


__ADS_2