Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 30 - Shopping


__ADS_3

Di sore hari, tepatnya jam 03.40, Becca berjalan menuju rumah Jack. Gadis itu berjalan sambil tertunduk lesu. Menatap pergerakan kakinya yang melangkah maju. Kedua tangannya sendiri dimasukkan ke dalam saku celana. Mungkin dia berpikir tidak akan pergi ke prom reuni.


Becca menekan bel beberapa kali. Tidak menunggu lama, Jack segera membukakan pintu untuknya.


Becca mengambil dompet yang tersimpan di saku celananya, dan berucap, "Aku hanya ingin mengembalikan ini. Aku menemukannya saat di super market. Maaf baru bisa mengembalikannya sekarang."


Jack terlihat biasa saja. Dia malah fokus dengan ekspresi sendu yang ditampakkan oleh Becca.


"Oh. Tidak apa-apa. Terima kasih." Jack merespon datar sambil mengambil dompet yang diberikan Becca.


"Kau kenapa tidak begitu panik saat kehilangan dompetmu?" tanya Becca penasaran.


"Tentu aku panik," balas Jack.


"Kau tidak punya sim ya? aku tidak menemukan kartu sim dalam dompetmu? sekarang terbukti kalau kau memang pengemudi yang buruk," komentar Becca. Kemudian beranjak pergi begitu saja.


"Becca!" panggil Jack, yang tentu langsung membuat Becca menoleh. "Aku berubah pikiran. Aku akan menemanimu ke prom reuni!"


Mendengar penuturan Jack, mata Becca seketika terbelalak. Mulutnya perlahan melengkung membentuk sebuah senyuman.


"Benarkah? kau yakin? kenapa tiba-tiba?" Becca melayangkan tumpukan pertanyaan.


"Itu tidak penting. Ya sudah, pulanglah!" Jack tersenyum miring, lalu menutup pintu secara perlahan. Sambil mendengus lega, ia melangkah memasuki kamarnya. Jack masuk ke dalam sebuah ruang yang dia khususkan sebagai tempat berganti baju. Di sana terdapat barang-barang mewah koleksinya. Termasuk dompet beserta identitasnya. Dia meletakkan dompet yang ditemukan Becca kembali ke tempatnya.


Sementara itu, Becca telah tiba di kamarnya. Dia tersenyum puas dengan kabar yang diberikan Jack untuknya. Saking bersemangatnya, Becca bergegas bersiap-siap untuk merapikan diri. Selanjutnya ia pun berangkat dengan mengendarai mobilnya.


Alunan musik terputar menemani Becca dalam perjalanan. Dia menggerakkan badannya sesekali karena mood-nya sudah sepenuhnya membaik. Mobilnya perlahan berhenti saat lampu merah menyala. Becca mulai menggerakkan badannya dengan menggila saat tempo lagu terdengar di chrous penuh semangat. Wajar saja lagu Rumour Has It milik Adele sangat sesuai dengan apa yang di alaminya sekarang. Tidak heran Becca menjadi terbawa suasana.


Becca seketika mematung ketika mengalihkan penglihatannya ke samping. Tepat ke arah mobil cadillac yang berhenti di sebelahnya. Matanya membola saat menyadari pemilik mobil tersebut menatap ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Jack. Dia mungkin satu-satunya orang yang memiliki mobil cadillac berwarna biru muda.


Becca pun berusaha menunjukkan ekspresi setenang mungkin. Dia memberikan senyuman singkat, lalu segera menginjak pedal gas ketika lampu hijau telah menyala.

__ADS_1


"Astaga, itu sangat memalukan!" gumam Becca dengan wajah yang agak memerah malu. "Ah tidak apa-apa, lagi pula itu hanya Jack," lanjutnya berusaha berpikir positif.


Becca sudah sampai di tempat tujuan. Dia tiba di sebuah mall populer di pusat kota Lousiana. Niatnya sekarang adalah mencari barang-barang keperluan yang akan membuat dirinya berubah. Atau lebih tepatnya merubah tampilannya menjadi lebih baik.


"Aku minta pendapat, model rambut apa yang akan membuatku lebih baik?" tanya Becca ketika sudah memposisikan dirinya duduk di kursi salon.


"Serahkan saja kepadaku. Aku akan melakukan yang terbaik!" sahut pemilik salon yang memiliki nama Clara tertera dibajunya.


"Okay." Becca tersenyum lebar. Pertanda dirinya membiarkan Clara mengutak-atik rambut brunette-nya.


Mesin pelurus rambut perlahan meluruskan ribuan helai mahkota di kepala Becca. Clara melakukan pekerjaannya dengan lihai. Setelah selesai meluruskan rambut Becca, dia memberikan sentuhan akhir dengan cara menyemprotkan cairan yang berguna sebagai vitamin.


Becca mendekatkan wajahnya ke cermin. Dia memainkan rambutnya yang sudah sepenuhnya rapi. Rekahan senyum tercipta dari wajahnya.


"Bagaimana? kau suka kan?" tanya Clara sambil menyilangkan tangan di dada.


"Ya, aku sangat puas!" jawab Becca.


"Becca?" suara yang tidak asing reflek membuat Becca menoleh. Jelas pemilik suara itu adalah Ben.


"Ben?" Becca tersenyum kecut. Jelas dia masih belum bisa melupakan perkataan Ben terhadapnya kemarin malam.


"Aku minta maaf mengenai perkataanku kemarin malam..." ucap Ben menatap Becca penuh harap.


"Tidak apa-apa Ben. Lagi pula perkataanmu memang ada benarnya." Becca menuturkan.


"Tentu tidak. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai gadis yang menyedihkan. Menurutku kau adalah gadis yang luar biasa, dan mungkin lebih dari itu!" Ben terus mengekori Becca yang sibuk melihat-lihat baju.


"Pffft!" Becca terkekeh mendengar pernyataan Ben yang terkesan berlebihan untuknya. "Jangan berlebihan!" ujarnya seraya melayangkan tinju ke perut Ben.


"Aku hanya berusaha menghiburmu." Ben tersenyum puas kala menyaksikan Becca sudah membaik.

__ADS_1


"Kau sedang apa di sini?" Becca mengernyitkan kening.


"Biasa. Turun ke lapangan untuk mencari berita."


"Oh, bagaimana? apa berjalan lancar?"


"Seperti biasa. Membosankan!" Ben mengangkat bahunya malas. "Kau? sepertinya ingin pergi ke suatu tempat?" tanya-nya menuntut jawaban.


"Aku hanya bersiap-siap untuk pergi ke acara prom reuni nanti."


"Benarkah? jadi kau tetap meneruskan kebohonganmu?" Ben melebarkan matanya.


"Iya, Jack setuju menemaniku. Apa kau percaya itu? ternyata sikapnya tidak seburuk yang aku kira selama ini," ungkap Becca seraya menarik salah satu gaun pilihannya.


"Benarkah..." lirih Ben kecewa. Perasaannya seketika menciut. Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Terlintas dalam pikirannya untuk menyatakan cinta dengan sungguh-sungguh. Namun rasanya sangat sulit untuk mengucapkan dan menjelaskannya. Apalagi Becca seringkali menganggap ungkapan cintanya hanya sebuah lelucon.


"Kau akan pergi juga kan?" Becca menatap Ben penuh tanya.


"Emm... aku tidak tahu." Ben menjawab sambil membuang muka dari Becca.


"Ben, cepat!" seorang lelaki tiba-tiba memanggil Ben. Sepertinya lelaki tersebut adalah rekan kerja Ben di perusahaan.


"Aku harus pergi sekarang!" ujar Ben gelagapan. Kemudian melingus pergi begitu saja. Tanpa senyuman dan kalimat penuh keakraban seperti biasa. Ben sepenuhnya merasa sakit hati dengan pilihan akhir Becca.


...***...


Becca sudah selesai memilih gaunnya. Dia memutuskan membeli gaun berwarna merah muda. Dia merasa warna itu cocok untuk dipakai saat acara reuni nanti.


Selanjutnya Becca membeli peralatan make up. Jujur saja, dia tidak ahli dengan benda-benda tersebut. Tetapi Becca akan berusaha sebisa mungkin. Setidaknya di zaman sekarang, internet dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan yang dapat membantu.


Malam sudah menyapa. Becca baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Telinganya mendadak mendengar suara ganjil dari mobil cadillac milik Jack. Alhasil Becca pun mengamati mobil itu dengan serius. Ia bisa menyaksikan bagian bagasi mobil Jack tampak bergerak-gerak, seolah ada seseorang di dalamnya.

__ADS_1


Becca melangkahkan kakinya dengan pelan. Rasa penasaran dan curiga kembali muncul dalam benaknya.


__ADS_2