Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 54 - Terjebak Bersama


__ADS_3

"Berhati-hatilah dengan Jack!" ucap David dari seberang telepon. Seketika menyadarkan Becca yang tadi sempat melamun memikirkan Tara.


"Okay, kau juga. Jagalah dirimu di sana!" balas Becca sembari menenggak salivanya sekali. Pembicaraannya dengan sang ayah berakhir disitu. Selanjutnya Becca segera menenangkan diri duduk di sofa bersama Ben.


"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Ben yang bisa melihat ekspresi cemas diwajah Becca.


"Salju semakin lebat. Aku rasa badai sudah terjadi dan kau tidak bisa pulang sekarang." Becca menatap Ben dari sudut matanya. Tetapi lelaki yang ditatapnya langsung membuang muka dan fokus ke arah televisi. Sepertinya Ben tahu kalau Becca sudah menyadari kalau dirinya memang sengaja tidak ingin pulang.


Becca beranjak pergi sebentar untuk menyalakan pemanas. Tidak lupa juga, perapian yang sudah lama tidak dipakai berusaha ikut dinyalakan. Sebab rasa dingin semakin bertambah, seiring lebatnya salju yang terus berjatuhan.


"Aku dan Anna lebih baik pulang," kata Jack sembari menggerakkan kaki menuju tangga.


Becca hanya terdiam, dan menoleh ke arah Jack. Dia hanya mampu menyaksikan punggung lelaki itu. Sebenarnya Becca sangat ingin membahas perihal masalah Aaron dengan Jack. Akan tetapi diurungkan, karena Ben masih turut hadir bersamanya.


"Astaga, aku lupa mempersiapkan kayu bakarnya," keluh Becca, reflek menepuk jidatnya sendiri.


"Apa kau kesulitan? sini, biar aku bantu." Ben bangkit dari sofa, dan berjalan mendekati Becca. Dia berdiri di belakang gadis tersebut, sambil sedikit berjongkok dengan memegangi kedua lututnya. Memperhatikan tempat perapian yang masih kosong, tanpa adanya kayu bakar di sana.


"Jadi... dimana David menyimpan kayu bakar?" tanya Ben. Mengerjapkan matanya beberapa kali, bola matanya perlahan di arahkan kepada Becca yang sudah berdiri.


"Aku rasa di gudang..." lirih Becca seraya melihat ke arah jendela. Dia mencoba memastikan keadaan di luar. Tidak ada perubahan sama sekali, salju malah terlihat semakin lebat. Masalahnya gudang yang sering dipakai David akhir-akhir ini, adalah bangunan kecil yang terpisah dari rumahnya. Letaknya sendiri berada di bagian belakang rumah. Jaraknya sekitar sepuluh langkah dari kediamannya.


Becca dan Ben sudah berdiri di depan pintu belakang. Keduanya sudah saling mengenakan mantel tebal. Tidak lupa juga satu buah senter yang terpegang erat di tangan mereka masing-masing.

__ADS_1


"Kau siap?" tanya Becca yang sudah mencengkeram gagang pintu di hadapannya. Ben pun langsung menjawab dengan satu kata ya. Kemudian membiarkan Becca membuka pintunya.


Bressss!


Puluhan butir salju seketika menghantam tubuh Becca dan Ben. Rasa dingin yang menjalar menyebabkan sekujur badan mereka langsung merinding. Rambut keduanya beterbangan akibat dihantam oleh angin yang bersuhu di bawah minus 18 derajat celcius.


Angin salju hampir menyebabkan Becca terjatuh ke belakang. Namun tangan Ben dengan sigap menangkapnya.


"Are you okay?" tanya Ben dengan suara yang ditinggikan. Desiran angin yang sedikit memekakkan telinga membuatnya harus berbicara sedikit lantang dari biasanya.


Becca hanya mengangguk. Atensinya mendadak teralih kepada benda-benda yang berjatuhan di belakangnya. Menyadari hal itu, Becca bergegas mengajak Ben keluar dan menutup pintu. Dia melakukannya agar keadaan rumahnya tidak bertambah berantakan.


"Come on!" ajak Becca. Melangkahkan kakinya lebih dahulu ke atas gundukan salju. Tetapi gadis tersebut malah terjatuh lagi, dan kali ini Ben tidak sempat menyelematkannya. Becca terjatuh karena gundukan salju yang dipijaknya masih belum padat. Sehingga setengah badannya sekarang tenggelam di dalam gundukan salju.


"Becca!" Ben bergegas membantu dari belakang. Tanpa diduga sepasang tangan lain ikut membawa Becca untuk bangkit. Dialah Jack, yang tidak jadi pergi, akibat belum berhasil membujuk Anna pulang. Alhasil mereka semua kembali lagi ke rumah akibat keadaan Becca yang tidak memungkinkan.


Bruk!


Jack lekas-lekas menutup pintu. Kemudian menghembuskan nafas dari mulutnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Becca dan Ben. Mereka mencoba menenangkan diri.


"Aku tidak menyangka badainya akan separah ini..." ungkap Becca sembari membersihkan salju yang bersarang diwajahnya. Pipinya sudah memerah akibat sudah merasakan kedinginan yang berlebih. Sempat berendam didalam salju, tentu menyebabkan badannya sekarang menggigil.


"Biarkan aku saja yang mengambil kayunya!" kata Ben yakin. Tatapan dari manik hitam kelabunya selalu meneduhkan. Membuat siapapun yang melihatnya akan luluh dan percaya kepadanya. Namun seorang Becca tentu malah mengkhawatirkannya. Dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada sahabat satu-satunya itu.

__ADS_1


"Tentu tidak! jangan--"


"Tenang saja, aku akan ikut membantu!" ucapan Jack memotong kalimat Becca. Dia berniat membantu Ben untuk menyeberang ke gudang.


"NO! kita batalkan saja. Tidak perlu memakai kayu bakar. Kita bisa..." Becca mengedarkan pandangannya dengan gelagapan. Mencoba mencari sesuatu yang dapat dijadikan bahan bakar. Hingga tumpukan majalah bekas berhasil menarik perhatiannya. "Itu, kita bisa gunakan majalah bekas!"


"Becca, apa kau bisa mengira berapa lama majalah itu akan bertahan? kau bahkan tidak tahu kapan badai berakhir. Perabotan yang ada di rumahmu juga terlihat modern. Hanya sekitar sepuluh persen menggunakan bahan kayu," Jack memberi alasan panjang lebar.


"Jack benar. Lagi pula, lebih cepat semakin baik. Takutnya nanti gundukan salju akan bertambah tebal!" untuk yang pertama kalinya Ben setuju dengan pendapat Jack.


"Oke, kalau begitu aku juga akan ikut!" Becca bersikeras.


"Setelah yang terjadi kepadamu? Becca, badanmu sekarang sudah gemetaran!" balas Ben, menatap tajam. Jack yang berdiri di hadapannya juga ikut melayangkan tatapan yang sama.


Dua lawan satu. Becca kalah telak, dia terpaksa membiarkan Jack dan Ben pergi ke gudang. Sebelum itu, dia mengambikan mantel lagi untuk dua lelaki itu.


"Tutuplah pintunya setelah kami keluar!" titah Jack yang kemudian segera keluar bersamaan dengan Ben.


Hening seketika menyambut Becca, kala pintu sudah tertutup rapat. Jack dan Ben sudah beranjak pergi. Rambutnya yang sempat tertiup angin dingin tampak kembali tenang. Becca lantas berderap ke depan jendela, dan membuka tirai. Dia memeriksa keadaan dua lelaki tersebut.


Jack terlihat berjalan memimpin. Sedangkan Ben melangkah di belakangnya. Sebenarnya hanya perlu beberapa langkah untuk mencapai gudang. Akan tetapi hembusan angin beserta salju yang lebat membuat jalan mereka melambat. Selain itu, gundukan salju yang mereka pijak semakin menebal. Mereka tidak bisa berdiam lama-lama disatu tempat. Karena jelas gundukan salju tersebut akan menjebak dan mengubur kaki mereka secepat kilat.


Ben mulai menggigil. Dia menggerakkan kaki sambil memeluk badannya sendiri. Sedangkan Jack sudah melangkah jauh darinya. Tidak ingin kalah dengan Jack, Ben memaksakan diri memakai seluruh energinya untuk mengejar.

__ADS_1


Jack sudah tiba di depan gudang. Sebelum membuka pintu, dia menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan Ben. Belum sempat lama berbalik, Ben telah tiba di hadapannya, lalu membuka pintu gudang lebih dahulu.


__ADS_2