Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 56 - Pelukan Tiba-Tiba


__ADS_3

Jack terpaksa bangkit dari tempat duduk. Lalu berderap menuju meja makan untuk mengambil cokelat panas. Lidahnya berdecak kesal ketika dirinya merasa diperlakukan berbeda. Dia sudah enggan kembali bergabung dengan Becca dan Ben. Tetapi memilih duduk di meja makan sendirian. Menghirup cokelat panas bikinan Becca yang terasa manis kala bergumul dimulutnya.


Sedangkan Becca dan Ben masih diam di tempatnya. Duduk bersebelahan sambil menghadap perapian. Salah satu di antara mereka sesekali menatap keluar jendela. Memastikan keadaan salju, yang ternyata masih saja terlihat lebat.


"Bukankah ini pertamakali Louisiana mengalami badai seperti sekarang," celetuk Becca sembari mengeratkan selimut ke badannya sendiri.


Ben mengangguk pelan. Wajahnya masih tampak pucat, dengan badan yang terus menggigil tanpa henti. Dia menatap Becca dengan sudut matanya, "Aku rasa Amerika akhir-akhir ini sering mendapat hukuman. Kebakaran hutan, badai, angin topan, dan banyak lagi. Mungkin karena penghuninya terlalu banyak bersenang-senang, sampai lupa peduli dengan alamnya sendiri."


"Pfffft... Ben is back!" Becca menyenggol Ben dengan salah satu bahunya. Ucapan yang lebih terkesan seperti wejangan, adalah ciri khas Ben sejak dahulu. Dia memiliki pola pikir yang berbeda dibanding orang lain. Nerd begitulah semua orang memberi gelar kepadanya. Yang jelas, senggolan Becca kembali membuat lengkungan senyuman diparasnya.


"Aku pikir bencana alam tidak hanya terjadi di negara kita Ben. Jadi, aku rasa yang sedang mendapatkan hukuman adalah, manusia di bumi ini..." tanpa disangka Becca menyambung topik yang dibicarakan Ben.


"Ya..." lirih Ben yang sepertinya tak mampu berkata-kata lagi. Tubuhnya semakin gemetaran. Becca lantas menyarankannya untuk telentang. Kemudian mengambilkan selimut tambahan. Gadis itu segera melangkahkan kaki ke dapur untuk mencari obat. Di sana dia tentu bertemu dengan Jack yang masih betah duduk menyendiri.


Gelagat Becca ketika mencari obat bak orang yang sedang dikejar-kejar waktu. Panik tetapi ceroboh. Dia bahkan tidak sengaja menjatuhkan beberapa obat ke lantai.


"Come on, Becca. Jangan berlebihan!" tegur Jack dengan kening yang mengernyit.


"Ada apa Jack? kau cemburu?... karena aku lebih memperdulikan Ben sekarang?" tukas Becca sambil mengambil obat-obat yang tergeletak di lantai.


Jack hanya memutar bola mata jengah. Dia tidak bisa membantah atau pun berlagak tenang seperti biasa. Entahlah, kemungkinan Jack sudah lelah berpura-pura. Apalagi di hadapan Becca yang sudah mengetahui banyak tentang jati dirinya.


Drrrt... drrrt...

__ADS_1


Ponsel Jack bergetar, bersamaan dengan beranjaknya Becca dari dapur. Lelaki tersebut langsung mengangkat panggilan yang ternyata dari Mike.


"Kau tahu? hanya kau sekarang yang masih tertinggal di Lousiana!" timpal Mike dari seberang telepon. "I'm on my way right now. Masalah polisi, aku yakin orang-orang kita bisa mengatasinya. Masalahnya adalah... badai salju yang terjadi, membuat pencarian menjadi terkendala." Mike melakukan penjelasan panjang lebar.


"Aku tahu, padahal misi kita tinggal satu langkah lagi. Kita tidak punya jalan lain selain menunggu badai berhenti," sahut Jack seraya menyandarkan punggung ke sandaran kursi.


"Aku tahu. Kau dimana sekarang? masih setia menjadi baby sitter gadis nakal itu?" Mike terdengar terkekeh disela-sela bicaranya.


Jack menggeleng kesal. Apalagi ketika kupingnya dapat mendengar jelas tawa kecil dari Mike. "Kau tahu, aku ingin mengakhiri semuanya lebih cepat. Tetapi Anna..." Jack menjeda untuk menghela nafasnya. "Dia selalu melakukan hal aneh, dan sekarang gadis nakal itu membuatku terjebak di rumah keluarga Green!"


"Maksudmu di rumah Becca?.... hmmm... Aku pikir bukan karena Anna kau ada di sana. Kau pasti ingin menempel dengan Becca kan sebelum benar-benar pergi meninggalkan kota?"


"Tentu tidak!" Jack menegaskan. Tanpa diduga, Becca kembali lagi ke dapur, sambil membawa dua gelas bekas cokelat panas tadi. Bola matanya mengarah kepada Jack. Dia hanya diam dan terus berderap menuju wastafel. Kini dua gelas kotor ditangannya sedang dicuci bersamaan dengan piring kotor lainnya.


"Itulah yang aku pikirkan..." balas Jack sembari menatap Becca yang masih asyik berdiri membelakanginya. Sibuk membilas piring kotor dengan sabun.


"What the..." geram Becca tiba-tiba. Mengharuskan Jack langsung menghentikan sesi bicaranya dengan Mike di telepon.


"Ada apa?" tanya Jack penasaran.


"Airnya mati Jack! padahal beberapa menit yang lalu masih bisa!" sahut Becca. Masih terperangah tak percaya. Apalagi keadaan tangannya masih dipenuhi dengan sabun. Dia beberapa kali memutar kran sebisa mungkin, akan tetapi usahanya hanya berujung sia-sia.


Jack berjalan ke kamar mandi, untuk memastikan aliran air di sana. Ternyata kondisinya sama saja, air di kamar mandi juga ikut mati. Alhasil Jack memberikan tisu kepada Becca, agar tangan gadis tersebut bisa bersih dari bau sabun cucian.

__ADS_1


"Thanks!" imbuh Becca sembari menyambut tisu pemberian Jack.


"Sepertinya aliran air sudah membeku. Kau punya banyak persediaan air minum di kulkas kan?" ujar Jack, kemudian berjalan menuju lemari es yang letaknya tidak jauh dari posisinya.


"Tenang saja, ada banyak!" sahut Becca yang baru saja membuang tisu bekas ke dalam bak sampah. Dia berderap mendekati Jack, karena juga berniat ikut memeriksa kulkasnya sendiri.


"Untunglah... andai ki--"


Dub!


Padamnya listrik sontak membuat ucapan Jack terhenti. Becca reflek memegangi lengan Jack dengan erat. Kepalanya perlahan menghimpit ke dada Jack tanpa sengaja. Kegelapan mendominasi ruangan. Sebab tidak hanya rumah Becca yang mengalami pemadaman listirk. Tetapi rumah-rumah lain yang juga ada di sekeliling.


Jack merasakan adanya kehangatan ketika Becca berada lebih dekat dengannya. Alhasil dia memanfaatkan waktunya untuk membawa Becca masuk ke dalam pelukannya. Itu terjadi secara alami, bukan saja karena cinta, tetapi juga rasa dingin yang sedang membara.


Becca mematung, seakan dirinya memang sengaja membiarkan Jack mendekapnya. Kedua tangannya lantas dilingkarkannya ke badan Jack. Perasaan hangat dan debaran jantung, mulai menjalar dengan sendirinya. Membuat pelukan yang terjadi di antara keduanya semakin erat.


"Becca!" panggil Ben sambil menyorotkan senternya. Munculnya cahaya yang dinyalakan Ben, membuat Becca dan Jack segera memisahkan diri.


Keadaan Ben terlihat memprihatinkan. Meskipun badannya menggigil akibat kedinginan, dia tetap memaksakan diri untuk mencari Becca.


"Ben!" Becca bergegas membawa Ben kembali ke perapian. Di iringi oleh Jack yang juga berusaha ikut membantu. Tetapi usahanya langsung ditolak mentah-mentah oleh Ben.


Beberapa saat kemudian, Jonas dan Anna datang. Mereka turut bergabung karena padamnya listrik. Kini semua orang duduk berjejer menghadap ke perapian. Kecuali Ben, yang tampak merebahkan diri dengan santainya.

__ADS_1


"Apa kita akan mati?..." lirih Jonas cemas dengan keadaan yang menimpanya sekarang.


__ADS_2