
Becca baru saja memarkirkan mobil di depan rumah. Kala itu juga Jonas langsung turun dari mobil dengan bantingan pintu yang mengggelegar. Becca hampir saja jantungan dibuatnya. Atensinya langsung tertuju pada Jack dan Charlie yang tampak sedang mengemasi barang.
'Ada apa ini? apa Jack akan pindah?' batin Becca sembari keluar dari mobil. Dia lalu berderap menghampiri Jack.
"Kau mau kemana?" tanya Becca dengan dahi berkerut.
"Becca!" Jack mengalihkan perhatiannya ke arah Becca. Tatapannya terlihat sendu kala menyaksikan kehadiran gadis di depannya. "Aku akan pergi..." lirihnya memberitahu.
Becca terdiam seribu bahasa. Dia mencoba mencerna baik-baik perkataan Jack. Tidak ada angin, tidak ada hujan, bagaimana bisa lelaki itu mendadak pergi begitu saja? apalagi sekarang Becca sedang ditimpa masalah baru.
"Apa aku salah dengar?" Becca memastikan. Raut wajahnya mulai masam.
"Becca, kepergian ini memang sudah terncana sejak awal. Aku tidak pernah berniat akan tinggal menetap di sini," jelas Jack pelan.
Becca mengeratkan rahangnya. Entah kenapa perasaan marah lebih mendominasi dibanding rada sedihnya. Dia merasa dikhianati Jack. Padahal Becca selalu yakin kalau dirinya dapat mempercayai lelaki tersebut.
Akibat saking terpakunya memikirkan tentang kepergian Jack, Becca sampai tidak sadar dengan kehadiran Mike yang semakin mendekat dari belakang.
"Lalu... kau akan pergi meninggalkanku begitu saja?" timpal Becca, menatap Jack dengan nanar.
"Becca, kau bukan satu-satunya gadis yang pernah diperlakukan Jack begini!" celetuk Mike yang segera memposisikan diri berada di samping Becca. Dia melipat tangan di depan dada, sedikit memberikan senyuman tipis.
Jack membisu, tidak merespon sama sekali ucapan Mike. Hal itu menyebabkan apa yang diberitahukan Mike kepada Becca seolah benar adanya. Sehingga Becca yang sudah merasa kesal dari awal, berbalik dan beranjak pergi dari lingkungan rumah Jack. Langkah kaki gadis tersebut menghentak keras ke tanah, sebab dia masih belum bisa mengontrol amarahnya. Suasana hatinya benar-benar bertambah buruk.
Bruk!
Becca menghempaskan tubuhnya ke kasur. Mengacak-acak rambutnya frustasi. Tangisnya pecah seketika.
'David baru saja menghilang, dan kini Jack juga akan pergi? ada apa dengan semua orang? kenapa mereka gemar sekali membuatku merasa sedih!' Becca membatin sambil mengubah posisi menjadi duduk. Dia menatap jendela kamar yang masih tertutup tirai. Perlahan Becca berdiri, dan menyingkap tirai jendela. Bola matanya mengamati Jack yang masih tampak sibuk mengepak barang-barang.
__ADS_1
Hati Becca memang sangat kesal sekarang. Bahkan hampir membuat dadanya terasa sesak. Atensinya tidak teralihkan dari sosok lelaki yang dicintainya.
Beberapa saat berlalu. Hingga Jack akhirnya telah siap pergi. Jack menatap ke arah Becca sejenak. Sedari tadi dia memang sudah tahu kalau Becca terus memandanginya dari dalam kamar.
Karena enggan mengucapkan salam perpisahan, Jack memilih langsung pergi saja. Dia tidak mau melihat air mata Becca, yang mungkin saja dapat memperngaruhinya untuk berubah pikiran. Alhasil lelaki berbadan jangkung itu segera berderap menuju mobil.
Melihat hal tersebut, Becca lekas-lekas berlari dan keluar dari rumah. Meskipun kesal, dia masih tidak rela Jack pergi meninggalkannya.
"JACK!" pekik Becca yang memanggil dari kejauhan. Dia melajukan larinya agar bisa sampai di hadapan Jack lebih cepat.
"Jangan pergi, kumohon!" ujar Becca seraya mengatur nafasnya yang ngos-ngosan akibat berlari. Dia sudah berdiri di hadapan Jack.
"Becca..." lirih Jack dengan mimik wajah sendunya. Apalagi Becca terlihat sudah mengeluarkan cairan bening dari matanya.
Charlie baru saja keluar dari rumah. Pemilik asli rumah yang sempat disewa Jack itu kebingungan, menyaksikan adanya suasana aneh dari Jack dan Becca. Mike yang menyadarinya, bergegas membawa Charlie menjauh, dan mencoba mengalihkan perhatian lelaki tua tersebut.
Jack menggerakkan kakinya pelan. Menghampiri Becca yang telah tenggelam dengan tangisan.
"Maafkan aku Becca. Aku bukanlah lelaki baik untukmu, itulah yang kutahu..." Jack memegangi pundak Becca lembut.
"Ka-kau akan pergi kemana?" tanya Becca sembari menghapus air mata yang ada dipipi.
Lagi-lagi Jack menghening. Seolah dia memang merahasiakan tempat tujuan yang selanjutnya.
"Im sorry, Becca..." ungkap Jack, kemudian berdalih menuju mobilnya. Sebelum dia sempat membuka pintu mobil, suara Becca mendadak membuat langkahnya terhenti.
"David menghilang, Jack!" kata Becca, yang sontak menyebabkan Jack membulatkan mata tak percaya. Sepertinya dia masih belum mengetahui sama sekali kabar mengenai menghilangnya David.
"Apa kau bilang?" tanya Jack, memastikan. "Bagaimana bisa? kapan?" dia menimpali pertanyaan bertubi-tubi.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Dia sudah menghilang semenjak kemarin. Terakhir kali dia terlihat sedang mengendarai mobil menuju jalan Eden Street," terang Becca yang sudah tenang dari rengekannya. Gadis tersebut kini hanya berusaha mengendalikan sedikit cairan yang memenuhi lubang hidungnya.
Jack tampak berpikir. Hal itu dapat terlihat dari bola matanya yang digerakkan kesana kemari, seolah tengah memutuskan sesuatu dikepalanya. Hingga pada akhirnya dia memanggil Mike untuk diajak bicara. Keduanya saling berinteraksi dengan serius. Sedangkan Becca hanya bisa menyaksikan dari kejauhan.
Tidak lama kemudian, Jack menghampiri Becca dan menanyakan tentang keterkaitan polisi terhadap pencarian David.
"Mereka sedang berusaha, Jack. Katanya akan segera memberitahukanku mengenai perkembangannya!" jelas Becca, yang langsung direspon Jack dengan anggukan kepala.
"Oke, aku harap David bisa ditemukan secepatnya!" ucap Jack sambil menepuk pelan salah satu bahu Becca. Lalu berpamitan untuk pergi.
Becca yang menyadari sikapnya, terperangah. "Jack! kau tetap pergi?!" tukasnya menatap tak percaya.
"Ya, good bye, Becca..." balas Jack, yang sudah berada di dalam mobil, dan duduk di depan kemudi. Dia lantas menjalankan mobilnya masuk ke jalanan beraspal.
Becca mematung di tempat. Matanya mengerjap beberapa kali, karena masih merasa tidak percaya dengan apa yang sudah diterimanya. Bagaimana Jack bisa pergi segampang itu? bahkan tanpa tangisan dan kesedihan diwajahnya.
Kemunculan Jonas yang baru saja keluar dari rumah sontak menyadarkan Becca. Dia membuang jauh segala kecamuk tentang Jack dipikirkannya. Sebab kini ada hal yang lebih penting untuk di urusnya. Yaitu menemukan David dan menenangkan kepanikan yang sedang dialami Jonas. Adik lelakinya tersebut terlihat mengambil sepeda seraya memakai tas ransel yang menempel dipunggung.
"Jonas, kau mau kemana?!" panggil Becca. Langkah kakinya dipercepat agar bisa mengejar Jonas. Adiknya itu sudah menginjak pedal sepeda dan berjalan tambah jauh.
Becca berlari secepat mungkin. Tekadnya bulat untuk melakukan pengejaran. Hingga usahanya pun membuahkan hasil. Satu tangannya mampu meraih tas ransel yang sedang dikenakan Jonas. Adik lelakinya tersebut akhirnya terpaksa berhenti.
"Apa yang kau lakukan!" geram Jonas dengan kening yang mengernyit sebal.
"Kau mau kemana?!" timpal Becca dengan nada penuh penekanan. Dia sudah kesusahan sekarang, dan kelakukan kekanak-kanakan Jonas benar-benar membuatnya semakin kerepotan.
"Aku akan mencari David sendiri. Kau pergi saja sana dengan pacar tetanggamu itu!" ketus Jonas.
"Kita bisa mencarinya bersama-sama. Jangan melakukan hal bodoh!"
__ADS_1
"Di keluarga kita, kaulah satu-satunya orang yang bodoh, dan selalu membuat masalah!!" Jonas tak mau kalah. Ucapannya berhasil membuat Becca tertohok. Alhasil gadis itu membiarkan Jonas beranjak meninggalkannya.