
Becca terperangah dengan ledakan Jack.
"Becca, maaf. Aku tidak bermaksud memarahimu!" Jack lekas-lekas mengambil sekotak pizza yang terjatuh.
"A-aku mengerti kok, betapa menyebalkannya aku tadi. Harusnya aku yang minta maaf!" balas Becca yang mendadak merasa bersalah karena telah berhasil membuat Jack marah.
"Sudahlah, kalau begitu kita berdua sama-sama salah. Kau mau masuk sebentar, mungkin aku butuh teman untuk menghabiskan pizza ini." Jack membuka pintunya lebih lebar. Seolah memberikan sinyal untuk Becca agar segera masuk.
Becca membeku di tempatnya, dia merasa serba salah. Jika pergi dia takut Jack kecewa, dan bila masuk ia merasa belum mempercayai Jack sepenuhnya. Apalagi akhir-akhir ini Becca berhasil memergoki gelagat aneh Jack. Selain itu, lelaki tersebut juga baru saja memarahinya.
"Kau kenapa masih diam? jangan bilang kau takut kepadaku?" timpal Jack sembari sedikit memiringkan kepala heran.
"Bukan begitu, aku--"
"Becca, aku tahu kau memperhatikanku kemarin malam. Jangan berpikiran yang tidak-tidak tentangku. Lihat itu!" Jack menunjukkan tangan ke arah tumpukan barang yang ada di dalam sebuah kotak besar. "Itulah yang aku seret tadi malam!" jelasnya.
"Memperhatikanmu? a-aku hanya kebetulan saja melihatmu." Becca menjelaskan dengan tergagap. "Takut? siapa yang takut?" bantahnya mencoba meyakinkan lelaki di hadapannya.
Jack tersenyum tipis, "Kalau tidak takut, berarti kau tidak akan menolak untuk masuk kan?" ujarnya.
"Tentu." Becca akhirnya terpaksa setuju. Dia segera melangkahkan kakinya masuk ke rumah Jack.
"Aku benar-benar minta maaf mengenai ledakan amarahku tadi, Becca." Jack berjalan mengiringi langkah Becca dari belakang.
"Sudahlah, bahkan jika aku menjadi dirimu, aku pasti akan marah!" sahut Becca seraya membalikkan badan dengan tiba-tiba. Namun tanpa diduga, keberadaan lelaki itu ternyata sangat dekat dengannya. Becca tanpa sengaja menabrak badan bugar seorang Jack. Dia terpaku dengan keadaan mata yang membulat. Wajah tampan Jack hanya berjarak beberapa senti darinya.
Sedangkan ekspresi Jack terlihat datar saja, seolah dirinya merasa sama sekali tidak terganggu dengan jarak dekat Becca terhadapnya.
"Ma-maaf! aku tidak tahu kau tepat berada di belakangku." Becca lekas-lekas menjauhkan posisinya dari Jack.
"Ayo silahkan duduk!" Jack sepertinya tak memperdulikan sama sekali kejadian kecil tadi. Dia hanya tersenyum dan mengarahkan Becca untuk duduk ke sofa. Alhasil Becca pun mengikutinya dan duduk agak berjauhan dengan Jack.
"Kau mau minum apa? soda? wine?" tawar Jack.
Becca membulatkan mata. "Kau punya wine?" tanya-nya.
"Aku akan mengambilkannya." Jack segera beranjak pergi untuk mengambilkan minuman. Dia berjalan ke arah dapur yang jaraknya tidak begitu jauh dengan posisi Becca.
'Omg, aku tidak menyangka bisa berada di sini bersama Jack sekarang. Aku harap dia memang orang yang baik.' Becca mencoba berpikir positif. Dia tampak meremas-remas jari-jemarinya tanpa alasan.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Jack pun muncul. Dia benar-benar membawakan sebotol wine dan dua gelas di tangannya. Senyuman merekah di bibirnya.
"Nah, ayo kita makan pizzanya sama-sama." Jack membuka kotak pizzanya. Dia segera mengambilkan sepotong pizza untuk Becca, dan sepotong untuk dirinya sendiri.
"Thanks!" ucap Becca, ketika sepotong pizza telah sampai di tangan kanannya.
"Apa kesibukanmu sekarang Nona Green?" Jack memulai pembicaraan sambil menuangkan sedikit wine ke dalam dua gelas secara bergantian.
"Aku... menghabiskan waktu dengan menonton film dan bermain game," jawab Becca sembari mengunyah pizzanya dengan pelan.
"Hmmm... maksudmu menganggur?" Jack terkekeh.
"Aku baru menganggur sekitar tiga hari kok. Aku ingin menikmati waktu santaiku lebih dahulu!" Becca agak tersinggung dengan pernyataan Jack. Dahinya terlihat mengukir kerutan.
"Benarkah? memangnya kesibukanmu dahulu apa?"
"Kuliah, tetapi karena ada masalah, aku harus terpaksa berhenti." Becca menundukkan kepala, dia tak mau menceritakan hal yang sebenarnya kepada orang asing.
"Masalah?"
"Maaf Jack, aku tidak ingin membicarakan perihal itu lagi!" ujar Becca, kemudian segera menenggak wine-nya.
Becca memasang wajah mengejek, dengan cara sedikit memajukan bibir bawahnya. "Entahlah! setelah dewasa, aku terus kena sial!" ungkapnya seraya kembali menuangkan wine ke dalam gelasnya. Dia menuang hingga segelas penuh.
"Becca, aku tidak ingin membuatmu mabuk. Nanti David akan memarahiku!" Jack segera merebut gelas dan botol yang ada dalam genggaman Becca.
"Tapi Jack--"
Ding! Dong!
Suara bel terdengar, dan tanpa sengaja memotong perkataan yang hendak diucapkan Becca. Jack pun bergegas membukakan pintu. Becca yang melihat kepergian Jack, memanfaatkan kesempatannya untuk meminum wine yang tadi di tuangnya.
Glek! glek! glek!
Becca meminum segelas penuh. Setelahnya, dia masih belum puas, hingga meminum wine dari botolnya langsung. Kepalanya mulai terasa berat dan menusuk.
"Kita harus membicarakannya sekarang..."
"Aku harus menyuruh gadis itu pergi dahulu..." terdengar suara samar-samar Jack sedang bicara dengan seorang lelaki. Becca mencoba berdiri dan menengok ke arah pintu. Dia ingin melihat siapa yang datang mengunjungi Jack.
__ADS_1
Becca menyipitkan matanya agar mampu melihat dengan jelas. Jujur saja, kepalanya terasa pusing sekali.
Bruk!
Tanpa diduga Becca terjatuh begitu saja ke lantai karena tak sanggup menopang badannya lagi. Setidaknya mabuk membuat gadis tersebut menjadi tidak berdaya.
Tak! tak! tak!
Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Becca bahkan bisa menyaksikan pergerakan kaki yang mendekat itu. Meskipun penglihatannya agak kabur, Becca yakin Jack sedang bersama seorang lelaki berkulit hitam yang tengah mengenakan mantel panjang dan topi fedora.
"Becca..."
"Sepertinya dia sangat mabuk berat. Kau meninggalkannya terlalu lama..."
Becca yang sudah setengah sadar, hanya mendengar samar-samar suara Jack dan teman misteriusnya. Setelahnya ia pun sepenuhnya tidak sadarkan diri.
...***...
Becca membuka mata, kemudian mengerjapkannya beberapa kali. Tangannya reflek memegangi area kepala yang terasa pusing.
Setelah penglihatannya jelas, Becca dapat menyaksikan penampakan David sedang duduk di samping tempat tidurnya.
"Ayah!" pekik Becca yang langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Dia menatap tajam ke arah sang ayah.
David yang melihat, terus menggelengkan kepala. Dia tidak habis pikir kenapa anak sulungnya tersebut selalu saja membuat masalah.
"Apa lagi sih..." tanya Becca malas sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Becca, kenapa kau selalu bersikap tidak tahu malu? Aku benar-benar heran, kenapa kamu selalu saja begini!" tukas David dengan kening yang mengernyit. Namun Becca hanya membisu dan memasang wajah jengkelnya.
"Kenapa kau diam saja?!" timpal David lagi.
"Jack mengajakku makan pizza bersamanya, aku tidak bisa menolak!" Becca akhirnya bersuara untuk melakukan pembelaan.
David memutar bola mata jengah dan berucap, "Lalu, kau menjadi tidak tahu diri dengan meminum satu botol wine miliknya? begitu?"
"Ayah kenapa tidak pernah berpihak kepadaku sekali saja! inilah alasanku semakin membencimu!" balas Becca dengan keadaan mata yang sudah berkaca-kaca. Dia segera beranjak pergi menuju kamar mandi.
David lagi-lagi hanya mampu mendengus kasar, ketika pertengkaran antara dirinya dan Becca kembali terjadi.
__ADS_1