Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 25 - Lupakan Richy!


__ADS_3

Ben dan Becca sempat saling terdiam untuk sejenak. Mereka sama-sama disibukkan dengan ponsel yang ada di dalam genggaman masing-masing. Tetapi jujur saja, sedari tadi pikiran Ben merasa terus diganggu dengan pembicaraan Jack dan Becca mengenai cafe. Pada akhirnya ia pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Bolehkah aku bertanya, mengenai apa yang kau lakukan dengan Jack saat di cafe?" Ben menatap serius ke arah Becca.


"Seperti yang kubilang, hanya minum kopi. Kami hanya kebetulan bertemu." Becca mencoba menjawab setenang mungkin. Dia memejamkan mata sejenak, terlintas dalam pikirannya untuk menceritakan apa yang telah terjadi di taman bermain.


"Hai guys!" suara seorang perempuan berhasil menarik perhatian Becca dan Ben. Penglihatan mereka disambut dengan penampakan Tara yang sudah berdiri di depan pintu.


"Tara!" Becca melebarkan mata penuh semangat.


"Kau datang dengan siapa?" tanya Ben. Namun pertanyaannya sama sekali tidak digubris oleh Tara. Gadis berbadan berisi tersebut tampak bergegas ikut duduk bergabung ke kasur. Raut wajahnya sangat bersemangat. Membuat Becca dan Ben menatapnya dengan dahi yang berkerut.


"Ada Jack di bawah, dan aku tadi sempat saling bicara dengannya. Oh my god, senyumannya benar-benar manis!" Tara bercerita sambil menangkup wajahnya sendiri.


"Bukankah senyumannya lebih ke arah mengerikan?" Ben memiliki pendapatnya sendiri. Ia menatap Becca melalui ujung matanya, berharap gadis itu setuju dengan pendapatnya. Namun Becca terlihat terdiam seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


"Becca?" Ben mencoba memanggil.


"Becca! kau tidak apa-apa?" Tara yang baru saja menyadari sahabatnya asyik termenung, ikut berusaha menyadarkan.


Becca pun langsung tersadar. Sebenarnya sedari tadi ia hanya menimbang keputusan, untuk menceritakan apa yang sudah dilaluinya saat berlibur ke Gran Isle. Serta mengenai kebohongan yang dilakukannya bersama Jack. "Sorry..." ucapnya gelagapan.


"Are you okay?" tanya Tara.


"Aku baik-baik saja..." Becca mengangguk pelan tanpa membalas tatapan Ben dan Tara yang terpaku menatapnya.


"Kau yakin? sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu?" timpal Tara yang tentu sudah sangat memahami tingkah aneh Becca.


"Tidak ada!" Becca memutuskan untuk menyimpan ceritanya sendirian. Namun kedua sahabatnya masih menatap serius kepadanya, seakan tidak percaya dengan ucapannya.


"Aku benar-benar tidak apa-apa!" Becca menegaskan.

__ADS_1


"Aku tidak yakin..." respon Ben tidak percaya.


"Ceritakan saja Becca, apa yang kau sembunyikan dari kami?" Tara mendesak.


"Sudah kubilang tidak ada!" Becca berikeras.


"Kau sama sekali tidak seru. Padahal kedatanganku ke sini ingin bersenang-senang." Tara menampakkan mimik wajah kecewa. "Ayo Ben, lebih baik kita pulang saja. Mungkin Becca sudah tidak menganggap kita sebagai sahabat," lanjutnya yang sekarang berbicara kepada Ben.


"Kau benar!" Ben mengikuti Tara yang sudah berdiri dan hendak berjalan menuju pintu.


"Aku bertemu dengan Richy saat di Grand Isle!" Becca akhirnya mengungkapkan apa yang sedari tadi yang mau dibicarakannya. Tara sontak langsung berbalik dan kembali melayangkan pantatnya ke atas kasur Becca.


Berbeda dengan Ben, yang terlihat sama sekali tidak bersemangat ketika nama Richy disebut oleh Becca. Perasaannya mungkin sedang terjatuh ke dasar yang terdalam. Sebab sekarang dirinya tahu, Becca masih belum melupakan Richy. Tetapi sebagai teman yang baik, dia memilih untuk duduk dan mendengarkan cerita Becca.


"Apa yang terjadi?" tanya Tara, memasang kupingnya baik-baik.


Becca pun menceritakan semuanya dari awal. Dia juga memberitahu mengenai kebohongan yang dilakukannya bersama Jack. Akan tetapi, Becca merahasiakan insiden ciumannya dengan Jack rapat-rapat.


"Tunggu, tunggu! kenapa kau harus berpura-pura berpacaran dengan Jack?" Ben menyela cerita Becca.


"Kau gila, tapi juga jenius. Richy pasti merasa kalah, karena kau sekarang memiliki pacar yang lebih tampan darinya," ujar Tara seraya melipat kedua tangan di depan dada.


"Tidak... dia sama sekali tidak peduli..." Becca menghela nafasnya. Jelas dia menunjukkan perasaan kecewa melalui bahasa tubuhnya.


"Cukup Becca!" Tara meninggikan nada suaranya. "Aku tidak peduli dengan kebohongan yang kau buat bersama Jack. Yang jelas kesimpulannya sekarang adalah, kalau kau masih belum melupakan Richy, itulah bagian paling menyedihkan!" tambahnya sembari melirik ke arah Ben yang mendadak membisu.


Becca perlahan menundukkan kepala sambil memainkan jari-jemarinya tanpa alasan. Dia tidak mampu menyela kesimpulan yang diucapkan Tara. Sebab memang adanya kalau dirinya masih belum melupakan Richy.


"Bukankah kau sudah putus dengannya bertahun-tahun yang lalu? jadi selama kuliah, kau tidak pernah berpacaran lagi karena Richy?" Tara kembali menimpali. Dia tidak percaya Becca masih belum bisa melupakan mantannya.


"Aku sudah mencoba. Bahkan aku melakukan segala cara untuk melupakannya. Tetapi saat aku bertemu lagi dengannya, perasaanku selalu saja kembali!" jelas Becca tanpa menatap ke arah kedua sahabatnya. Dia juga merasa frustasi dengan perasaan yang dimilikinya terhadap Richy. Namun apalah daya, hati seorang manusia sangatlah sulit untuk dikendalikan. Apalagi mengenai perihal jatuh cinta.

__ADS_1


"I'm so sorry Becca..." Tara memeluk Becca karena bermaksud menenangkan. "Aku harap kau bisa secepatnya melupakan Richy, dan menemukan lelaki yang lebih baik," tambahnya sambil menatap ke arah Ben. Seakan memberikan sinyal untuk lelaki itu.


Ben pun membulatkan mata dan memperagakan mulutnya tanpa suara. Dia jelas mengucapkan kata 'Apa?' dari mulutnya. Namun Tara hanya menggerakkan bola matanya ke arah Becca. Dia sebenarnya bermaksud mendesak Ben agar segera beraksi. Atau lebih tepatnya, merebut hati Becca secepatnya.


"Mungkin Ben bisa membantumu!" kata Tara sembari melepaskan pelukannya.


Becca yang mendengar sontak menatap bingung. Sedangkan Ben reflek membelalakkan mata, pipinya sedikit memerah.


"Maksudmu?" tanya Becca tidak mengerti.


"Ben, ayo cepat katakan!" Tara menatap serius ke arah Ben. Alhasil sahabat lelakinya tersebut menegakkan badannya.


"A-a-aku..." Ben terdengar masih meragu. Sebelah tangannya menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


"Come on, Ben!" desak Tara yang tidak sabaran.


"Aku akan membuatmu jatuh cinta, Becca!" ucap Ben dengan nada cepat. Dia membuang nafas lega setelah mampu mengucapkannya. Namun ekspresi Becca hanya tampak datar.


"Kau kenapa tidak terkejut?" Tara menatap Becca heran.


"Tentu saja tidak. Sudah banyak orang yang mencoba menjodohkanku dengan beberapa lelaki, dan Ben! sangatlah sulit mencari lelaki yang cocok denganku. Lebih baik tidak usah, lagi pula ada banyak kegiatan menyenangkan yang akan membuatku lupa dengan Richy!" ujar Becca, yang sepertinya memahami ucapan Ben dengan pemikiran yang berbeda. Dia mengira Ben akan menjodohkannya dengan lelaki lain.


"Bukan begitu Becca, tapi--"


"Ya sudah, mungkin itu lebih baik untukmu, Becca!" Ben sengaja memotong kalimat yang hendak di ucapkan Tara.


"Whatever!" gumam Tara seraya memutar bola mata malas. Setidaknya dia sudah berusaha sebisa mungkin membantu Ben.


Setelah puas saling bercerita, tak terasa hari semakin sore. Mengharuskan Ben dan Tara untuk kembali pulang. Keduanya sekarang berada di dalam mobil yang sama. Sebab Charlie yang tadinya mengantar Tara, sudah pergi lebih dahulu.


"Kau benar-benar bodoh Ben. Kau itu sebenarnya memiliki banyak kesempatan, kenapa tidak kau ungkapkan saja!" kata Tara sambil menggeleng tak percaya.

__ADS_1


"Sudahlah Tara, lagi pula Becca masih mencintai Richy. Aku ingin mengambil hatinya secara perlahan," balas Ben pelan.


"Huhh! aku tidak mau ikut campur lagi mulai sekarang!" Tara mengangkat kedua tangannya, pertanda dirinya sudah menyerah.


__ADS_2