Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 14 - Racauan Becca


__ADS_3

Becca, David dan Jack duduk membentuk lingkaran. Mereka bermain kartu bersama. Jujur, semuanya terasa sangat membosankan bagi Becca. Apalagi dia harus terus-terusan mendapat kekalahan.


David dan Jack terlihat sangat cocok. Mereka sesekali melakukan high five karena berhasil mengalahkan Becca.


Malam semakin larut, hingga David mulai kewalahan. Dia orang yang paling banyak meminum alkohol. Perlahan lelaki paruh baya itu merebahkan diri ke atas sofa panjang.


Sekarang hanya tinggal Jack dan Becca. Keduanya tengah duduk saling berhadapan. Becca sebenarnya mulai diserang rasa mabuk, namun ia masih sanggup untuk berinteraksi dengan Jack.


"Kau sangat mirip dengan David," ucap Jack sembari memainkan air yang ada di dalam gelasnya. Dia terlihat masih segar dan belum mabuk.


Becca menatap malas ke arah Jack dan menjawab, "Tolong, jangan samakan aku dengannya!"


"Kebencianmu itu terlalu kentara, Becca." Jack membalas tatapan Becca. Keduanya saling bertukar pandang untuk sejenak.


"Justru kau yang sangat kentara!" Becca mendekat dan menyentuh dada Jack dengan jari telunjuknya. Pandangannya mulai kabur. Namun ia dapat menyaksikan ekspresi Jack yang tampak sangat serius menatapnya.


"Maksudmu apa Becca?" Jack mendekatkan wajahnya. Jarak di antara keduanya sekarang hanya beberapa senti. Tetapi Becca tak peduli, karena pikirannya tengah dikuasai alkohol yang semakin bereaksi.


"Kau... sangat aneh Jack! siapakah dirimu? katakan yang sebenarnya kepadaku!" Becca mencengkeram kerah baju Jack.


"Kenapa kau sangat tertarik?" sahut Jack tenang.


"Karena, kau terlihat seperti orang yang berbahaya! Jika benar, pergilah dari Kota Louisiana. Dan jangan pernah mengganggu ketenangan kami!" racau Becca seraya mengguncang badan Jack. Kalimat yang diucapkannya mulai tak terkendali. Dia benar-benar mabuk sekarang. Setelahnya gadis tersebut langsung melemah, ia terjatuh ke dalam pelukan Jack tanpa kesengajaan.


"Aneh, hanya kau satu-satunya orang yang curiga kepadaku." Jack mengukir senyuman yang tak dapat di artikan.


"Bolehkah aku bertanya?" Becca bangkit lagi, sekarang ia mempertemukan jidatnya dengan dahi Jack. Gadis itu hendak bicara sambil terus memejamkan mata. Sedangkan Jack hanya terdiam dan terpaku menatap wajah Becca yang sangat dekat dengannya. Bau alkohol yang keluar dari mulut Becca seakan tidak mengganggunya sama sekali.


"Apa aku terlihat menyedihkan? hah? katakan padaku Richy! kenapa kau tega meninggalkanku sendirian? hiks! hiks!" Becca meracau, dia bahkan tidak sengaja memanggil Jack dengan nama mantan pacarnya. Sepertinya bayang-bayang lelaki yang pernah menjadi kekasihnya itu masih belum pudar dari ingatannya.


Jack menghela nafas panjang. "Kau benar-benar sangat menyedihkan..." komentarnya dengan nada pelan, agar Becca tak mampu mendengar.


"Apa kau bilang? bicaralah lebih jelas?!" Becca kembali mengguncang badan Jack.

__ADS_1


"Sudahlah, aku akan membawamu ke kamar!" ucap Jack yang sudah tidak tahan lagi. Dia pun segera mengangkat tubuh Becca, kemudian menggendongnya dengan gaya bridal style.


Jack membawa Becca ke kamar terdekat. Di sana ia meletakkan Becca ke atas kasur.


"Kenapa... hidupku sangat... menyedihkan..." Becca bergumam setengah sadar. Jack hanya bisa menggeleng heran kala melihatnya. Ketika ia hendak beranjak pergi, tangan Becca langsung mencegahnya. Alhasil Jack menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menatap Becca.


"Jangan pergi... Richy..." Becca menggenggam erat lengan Jack. Air matanya mulai berlinang memenuhi area pipinya. Sepertinya Becca mengeluarkan apa yang telah dipendamnya sendirian.


"I feel, so depressed..." ungkap Becca seraya mendenguskan hidungnya.


Jack tertegun dan mematung di tempat. Atensinya hanya tertuju kepada Becca. Namun suara dering ponselnya langsung menyadarkannya. Jack pun langsung melepaskan cengkeraman Becca, kemudian berlalu pergi.


***


Matahari muncul dari ufuk timur, menandakan siang telah tiba. Becca menjadi orang yang terakhir bangun dari tidurnya. David terlihat sudah menyeduh kopinya. Dia melanjutkan aktifitas dengan duduk santai, sambil membaca berita yang ada di tablet-nya.


Tidak lama kemudian, Jonas pun menyusul David. Dia segera membuat sarapannya sendiri. Yaitu paduan sereal dan susu kesukaannya.


"Bangunkan Becca! sepertinya semalam dia mabuk lagi!" ujar David.


"Itu karena aku jarang meminum alkohol. Jadi wajar saja, cepat bangunkan dia!" titah David bersikeras.


"Kau tidak penasaran apa yang dilakukan Jack dan Becca semalaman?" balas Jonas sambil melakukan tatapan menyelidik ke arah ayahnya.


"Tidak." David menjawab singkat. Akhirnya Jonas pun hanya bisa berdecak kesal dan bergegas membangunkan Becca.


David yang sekarang sendirian langsung bangkit dari tempat duduknya. Dia lekas-lekas melangkahkan kakinya menuju resor mewah dimana Jack berada. Perkataan Jonas membuat pikirannya tidak karuan. Lelaki paruh baya itu sekarang berhadapan dengan Jack.


"Aku hanya ingin minta maaf perihal kemarin Malam. Aku lupa diri dan meninggalkanmu begitu saja," tutur David sembari menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Dia berpikir keras untuk berbicara langsung ke intinya.


"Tidak apa-apa Tuan Green," sahut Jack dengan senyuman tipisnya. "Apa kau ingin masuk dahulu?" tawarnya mencoba bersikap ramah.


"Tidak, tidak! aku hanya ingin menanyakan sesuatu kepadamu."

__ADS_1


"Perihal Becca?" terka Jack yakin.


"Bagaimana kau tahu?"


"Aku tahu kau tipe orang tua yang sangat pelindung, David!" kata Jack lalu melanjutkan, "tapi aku pastikan kepadamu, tidak ada yang terjadi di antara aku dan Becca semalam. Semuanya tidak seperti yang kau pikirkan. Putrimu bahkan mabuk persis sepertimu!"


David melebarkan matanya. "Jadi Becca membuatmu kerepotan lagi?..." ujarnya yang menjeda ucapannya sejenak untuk menggeleng. "Aku benar-benar merasa tidak enak, aku sangat--"


"Kau tidak perlu berlebihan Tuan Green, kita adalah tetangga. Sudah seharusnya kita saling memahami!" Jack sengaja memotong kalimat yang hendak diucapkan David.


"Kau benar! sepertinya aku terlalu berlebihan. Ya sudah, silahkan lanjutkan aktifitasmu lagi!" ujar David, kemudian kembali berjalan menuju villa.


"David!" panggilan Jack sontak menghentikan langkah David.


"Aku sarankan, jangan memarahi Becca. Jika kau ingin hubunganmu dengannya kembali membaik!" saran Jack. David pun hanya merespon dengan anggukan kepalanya.


Ketika sudah masuk ke villa, penglihatan David langsung disambut dengan penampakan Becca. Anak sulungnya itu tampak sedang menikmati segelas susunya.


"Kau habis dari mana?" tanya Becca penasaran.


"Mencari udara segar!" jawab David sambil memposisikan diri duduk di samping Jonas yang masih sibuk menikmati semangkuk serealnya.


"Ke rumah Jack?" tebak Becca. Dia sebenarnya berhasil memergoki David dan Jack saling bicara. Sebab tadi Becca kebetulan membuka tirai jendela yang berhadapan tepat ke arah resor mewah Jack.


"Hanya kebetulan." David berkilah. "Jadi, apa kalian punya rencana untuk kegiatan hari ini?" lanjutnya yang sengaja mengubah topik pembicaraan.


"Tidak." Becca menjawab singkat.


"Jonas?" David mengalihkan pandangannya ke arah putranya.


"Ke konser?" sahut Jonas penuh harap.


"Jonas, sudah ku-bilang tidak boleh!" David bersikukuh. Jonas pun hanya bisa mendengus kasar.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita memancing? bukankah kalian sudah lama tidak melakukannya?" David bersemangat. Namun perkataannya sama sekali tidak direspon oleh kedua anaknya.


"Ya sudah, aku akan memeriksa peralatan memancing ke gudang!" David bangkit dari tempat duduknya dan beranjak pergi.


__ADS_2