
Hari prom reuni telah tiba. Acara itu akan dimulai pada waktu 07.00 pm. Sekarang jam menunjukkan angka 06.15 pm, Becca masih sibuk bergelut dengan rambutnya. Dia sudah menonton tutorial make up puluhan kali demi mendapatkan hasil maksimal.
Tangan Becca bergetar saat memakaikan maskara ke bulu mata lentiknya.
"Argghh! rasanya hampir gila!" keluh Becca berusaha menenangkan diri. Untung saja ia sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun pada bulu matanya.
Becca berniat memakai make up tipis saja agar tampilannya tidak terkesan berlebihan. Yang paling penting baginya adalah tampil percaya diri dan se-alami mungkin.
Drrt... drrt...
Ponsel Becca bergetar. Menandakan sebuah pesan teks masuk.
...'Aku sudah ada di rumahmu. Aku menunggu di bawah, karena David mengajakku berbincang.'...
Begitulah bunyi pesan yang dikirim oleh Jack. Membuat Becca bergegas mengenakan gaunnya. Secara perlahan gaun berwarna merah muda tersebut terpakai ke badannya. Namun mulutnya langsung menganga, karena terkejut menyaksikan bagian belakang gaunnya. Sebab gaun itu menampakkan hampir seluruh bagian punggung Becca.
"Oh my god! ini gara-gara aku membeli tanpa mencobanya terlebih dahulu." Becca mendengus kasar. Tetapi dia tidak punya gaun lagi selain yang sekarang dipakainya. Hal itu dikarenakan Becca bukan tipe gadis yang suka membeli gaun. Dia lebih suka membeli kaos dan celana untuk santai.
"Ah, sudahlah! lagi pula cuman dipakai malam ini saja kan." Becca mencoba berpikir positif. Selanjutnya dia segera mengambil tas dan turun ke bawah.
David dan Jack saling berbincang. Keduanya tengah mendengarkan penuturan Jonas mengenai masalah yang menimpanya di sekolah. Terutama mengenai perkelahiannya baru-baru ini. Jonas hanya mengatakan kalau semuanya hanyalah kesalahpahaman.
"Bagaimana kesalahpahaman bisa membuat wajahmu menjadi babak belur begitu?" timpal David dengan dahi berkerut.
"Sudahlah David, itu adalah hal yang biasa dihadapi anak remaja zaman sekarang" Jack mencoba membela. Hingga menyebabkan Jonas mengukir senyuman tipis.
"Aku tahu, tetapi Jonas tidak pernah begini sebelumnya," balas David seraya menggeleng heran.
"Maaf David, aku tidak akan melakukannya lagi saat kembali ke sekolah nanti," tutur Jonas pelan. Dia sebenarnya mendapatkan hukuman skors selama satu minggu lamanya.
Tak! Tak! Tak!
Terdengar suara langkah kaki dari arah tangga. Ketiga lelaki yang sedang duduk mengitar reflek mengalihkan perhatian ke arah sumber suara. Muncullah Becca dengan tampilan yang berhasil mempesona tiga lelaki di hadapannya. Gaun yang dikenakannya terlihat sangat cocok. Bahkan Jonas yang seringkali mengejek Becca, mengakui kecantikan sang kakak kali ini.
__ADS_1
Ilustrasi penampilan Becca :
Becca sebenarnya agak canggung dengan keadaannya sekarang. Dia menyibukkan jari-jemarinya tanpa alasan, akibat merasa salah tingkah.
"Apa terlihat buruk?" tanya Becca enggan.
"Wah! apa suasana hatimu sudah membaik? kau tampak luar biasa, Becca!" puji David yang reflek bangkit dari tempat duduknya.
"Begitukah?" Becca mengukir senyuman malu. Wajahnya semakin merona.
Ketika semua orang terpaku menatap Becca, Jonas malah memanfaatkan kesempatan itu untuk menilik raut wajah Jack. Jelas seorang Jack juga ikut terpesona menyaksikan penampilan Becca. Tatapan matanya tak teralihkan sedikit pun semenjak kemunculan Becca. Lelaki tersebut seolah terhipnotis.
"Jack , tolong jaga kakakku baik-baik!" kata Jonas sedikit mendekatkan mulut ke telinga Jack.
"Sure!" sahut Jack sembari menatap sekilas ke arah Jonas.
"Ayo Jack!" ajak Becca yang telah sepenuhnya siap.
"Jagalah Becca, aku percaya kepadamu..." ujar David, berbisik ke telinga Jack.
"Tentu, Tuan Green!" jawab Jack percaya diri. Kemudian segera pergi bersama Becca keluar dari rumah.
"Kau terlihat berbeda!" ucap Jack kala sudah berdiri di luar rumah bersama Becca. Dia mengakui kecantikan gadis bergaun merah muda di sampingnya. Matanya menilik penampilan Becca dari ujung kaki hingga kepala. Namun dahinya mengerut bingung ketika menyaksikan bagian kaki Becca.
"Apa-apaan itu, sepatumu menghancurkan penampilanmu!" tukas Jack sembari menunjuk sepatu kets Becca. Dia satu-satunya orang yang sadar akan hal itu.
"Ini strategiku Jack." balas Becca, lalu mencoba memperhatikan penampilan Jack. Sepertinya dia berniat untuk melakukan pembalasan. Namun bukannya mendapatkan kesalahan pada penampilan Jack, Becca malah terpaku. Dia merasa Jack lebih bergaya dari biasanya.
"Kau, sepertinya berusaha keras dengan penampilanmu sekarang," Becca mengomentari. Hingga membuat Jack lantas mengusap tengkuk tanpa alasan. Entah kenapa Jack seakan tertangkap basah oleh Becca.
"Terserah." Jack mencoba tidak peduli, kemudian membukakan pintu mobil untuk Becca. Keduanya reflek saling melirik satu sama lain. Mereka saling merasakan sedikit getaran yang berbeda.
__ADS_1
Becca membulatkan mata ketika menyadari getaran yang terjadi dihatinya. Dia berusaha tenang, dan mencoba berpikir positif.
Mobil telah memasuki jalan raya. Becca dan Jack sama-sama sibuk dengan kegiatan yang berbeda. Becca tampak asyik memainkan ponselnya. Sedangkan Jack sibuk fokus mengendarai mobilnya dengan tenang.
"Oh, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu," celetuk Becca seraya menoleh ke arah Jack.
"Apa?" Jack menatap Becca secara sekilas.
"Tara melihatmu dan Richy saling bicara di cafe tempo hari. Bolehkah aku tahu apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Becca penasaran.
Jack mendengus kasar. Dia pun menceritakan apa adanya. Namun melewatkan bagian Richy yang mengatakan kalau Becca adalah gadis menyedihkan. Jack tahu, hal itu akan menyakiti hati Becca. Jadi ia hanya menceritakan mengenai alasan Richy menyebarkan foto kejadian di cafe.
"Jadi, alasan Richy menyebarkan foto itu, cuman karena dia merasa bahagia melihatku sudah punya pacar?" Becca menggeleng tak percaya. "Tidak masuk akal!" tambahnya.
"Masuk akal bagiku. Mungkin dia benar-benar ingin dirimu bahagia," sahut Jack.
"Jika dia ingin aku bahagia, harusnya dia tidak pernah pergi meninggalkanku..."
"Tidak ada yang abadi Becca, alam memang bekerja seperti itu." Jack mengucapkan kalimat yang sangat mengena dihati. Hingga Becca tidak mampu berkata-kata lagi. Matanya bahkan terlihat berpendar, karena mengingat orang-orang terdekatnya yang telah pergi.
Becca mencoba mengerjapkan mata beberapa kali, agar air matanya tidak perlu keluar. Sebab dirinya tidak ingin make up yang dipakainya menjadi sia-sia, hanya karena sedikit tangisan.
...-----...
[Epilog Spesial Bab 32]
Jack berdiri di depan cermin dengan celana jeans dan jaket kulit hitam. Dia merasa gayanya itu terkesan tidak sesuai dengan acara prom. Alhasil Jack pun kembali mencari pakaian lain di lemarinya.
Sudah lima kali lebih, Jack bergonta-ganti pakaian. Akan tetapi dia belum juga menemukan pakaian yang cocok. Jack hanya berdecak kesal saat tidak puas dengan pilihannya sendiri. Hingga tibalah dia dengan setelan jas hitam tanpa dasi. Akhirnya senyuman tipis terukir diwajahnya. Pertanda Jack telah menemukan pakaian yang tepat.
Ilustrasi penampilan Jack :
__ADS_1
'Tunggu, kenapa aku tiba-tiba bersemangat?' batin Jack sambil melayangkan pantatnya ke kasur. Dia memangku dagu dengan tangannya sendiri. 'Apa yang terjadi denganku?' tambahnya seraya mengalihkan pandangan keluar jendela. Tepatnya ke arah kamar Becca berada.