
David mengalami koma. Becca sedang terduduk lesu sendirian di ruang tunggu. Dia rasanya tidak sanggup lagi menghadapi masalah yang menimpanya. Semuanya benar-benar hancur sekarang.
Beberapa saat kemudian suara langkah kaki terdengar mendekat. Becca perlahan menatap pemilik sumber suara tersebut. Ternyata dia adalah Ben.
Ben langsung membawa Becca masuk ke pelukannya. Saat itulah Jack yang datang terlambat harus mengurungkan niatnya.
Apa yang dilihat Jack seperti deja vu. Dia merasa pernah mengalami kejadian serupa sebelumnya, dan dirinya tidak salah. Jack memang pernah melihat momen yang sama ketika mendiang Tara meninggal. Itu terjadi sekitar beberapa minggu lalu.
Untuk yang kedua kalinya juga, Jack menyerah. Dia membatalkan pertemuannya dengan Becca. Mungkin menurutnya ini bukan saat yang tepat. Lagi pula jika dirinya memang berniat ingin mengucapkan salam perpisahan, maka hanya akan menambah kesedihan bagi Becca.
Jadi Jack pergi begitu saja. Kembali ke bandara untuk menaiki pesawat menuju Selandia Baru.
Hari berganti hari. Bulan telah melewati banyak musim. Semua berlalu dengan cepat. Namun tidak untuk Becca, yang selalu merasa kalau waktu berjalan sangat lambat. Hal itu dirasakannya karena dia mengalami kehidupan yang sulit.
Satu tahun kemudian...
Kini Becca hidup sendirian menjaga David yang masih koma. Dia melakukannya sambil bekerja di sebuah kantor swasta yang ada di Louisiana.
Sedangkan Jonas yang sudah berada di tahun terakhir masa sekolahnya, sedang disibukkan dengan belajarnya. Dia masih memiliki hubungan renggang dengan Becca. Seringkali berdebat ketika kebetulan bertemu.
Apalagi Anna yang merupakan satu-satunya sahabat Jonas, juga mendadak pergi meninggalkannya. Kepergian gadis itu terjadi, setelah insiden kecelakaan yang menimpa David.
Kini Becca sedang menghabiskan waktu dengan Ben di taman. Mereka berjalan berbarengan menyusuri jalanan.
"Kau yakin akan baik-baik saja jika aku pergi?" tanya Ben seraya melirik ke arah Becca.
Becca tersenyum tipis dan menoleh ke arah Ben. "Tentu saja. Kau pikir aku anak kecil? lagi pula ini adalah peluang besar untukmu. Sekali lagi selamat ya, akhirnya cita-citamu tercapai. Aku senang apa yang terjadi pada David, sama sekali tidak mempengaruhi mimpi kecilmu itu," balasnya.
Setelah harus melalui tiga bulan menganggur, Ben akhirnya mampu mewujudkan mimpinya. Dia memanfaatkan waktu senggangnya dengan baik. Ben akhirnya lulus di akademi kepolisian. Sekarang lelaki tersebut harus bersiap untuk melakukan pelatihan yang akan dilakukan selama beberapa bulan.
__ADS_1
"Aku janji, setelah pelatihan dan resmi menjadi polisi, aku akan menemuimu," ujar Ben.
Becca hanya terkekeh, dan menepuk pelan pundak Ben. Sebenarnya hatinya merasa berat kala menerima kenyataan Ben akan pergi. Tetapi kali ini dia tidak akan egois. Karena sahabat lelakinya tersebut juga pantas mendapatkan kebahagiaan. Becca tidak ingin terus menjadi beban untuk Ben.
***
Di suatu hari yang cerah, Becca melangkahkan kakinya masuk ke sebuah cafe. Raut wajahnya tampak lesu dan pucat. Gadis itu tidak sakit, dia hanya malas memoleh lipstik dibibirnya. Toh buat apa dirinya melakukannya, jika selalu merasa kalau kehidupannya sudah hancur. Lelaki misterius yang dicintainya pun kabur meninggalkannya. Tanpa kabar, apalagi salam perpisahan.
"Pesan satu kopi dan juga burger," ujar Becca kepada salah satu pelayan yang berjaga di cafe. Dia hanya perlu menunggu sekitar tiga menit untuk menunggu pesanannya disuguhkan. Selanjutnya Becca berjalan keluar cafe, dan berpikir akan memakan hidangannya di rumah sakit.
Becca melangkah dengan gontai. Seakan tengah membawa beban yang berat dikakinya. Tatapannya kosong mengarah ke depan. Pergerakannya harus terhenti ketika menyaksikan sosok tidak asing di depannya. Yaitu lelaki berbadan jangkung yang sedang mengenakan pakaian serba hitam.
Deg!
Jantung Becca berdegub kencang ketika melihat Jack ada di hadapannya. Matanya pun membuncah hebat, seakan hendak keluar dari tempatnya. Dia tidak tahu harus bagaimana merespon penampakan Jack, setelah satu tahun berlalu. Mungkin marah adalah hal yang tepat untuk dilakukan kepada lelaki itu.
Plak!
"Kenapa kau muncul lagi!" geram Becca sembari mengeratkan rahangnya. Matanya mulai berembun dan perlahan meneteskan cairan bening.
"Becca..." panggil Jack pelan. Dia menatap Becca yang terlihat sudah menutupi wajah dengan kedua tangan.
"Becca, maafkan aku..." lirih Jack. Dia perlahan membawa Becca masuk ke pelukannya. Namun Becca menolak mentah-mentah, dan langsung mendorongnya untuk menjauh. Gadis itu langsung menghentikan tangisannya.
"Enyahlah kau, Jack!" tegas Becca dengan dahi yang berkerut. Dia melingus pergi begitu saja meninggalkan Jack.
Sekali lagi langkah Becca reflek terhenti, akibat Jack memegangi lengannya dengan erat.
"Bisakah kita membicarakannya baik-baik?" ucap Jack dengan tatapan penuh harap. Membuat Becca berpikir dan membisu sejenak.
__ADS_1
Karena merasa tidak enak, Becca akhirnya tidak punya pilihan lain selain bicara dengan Jack. Sekarang mereka sudah duduk di cafe bersama. Tempat yang sama, dimana Becca tadi memesan kopi dan burger.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Jack lembut.
Becca menatap malas dan menjawab, "Menurutmu? apa aku tampak baik bagimu?"
Jack sontak menundukkan kepala, lalu menghela nafas. "Becca, sebelumnya aku mau meminta maaf atas kepergianku yang tiba-tiba. Tetapi selama setahun belakangan ini, yang aku pikirkan hanya dirimu..." Jack menjeda ucapannya untuk sesaat. "Dan sekarang, aku sudah yakin kalau diriku kali ini akan membawamu pergi bersamaku," sambungnya menatap dalam ke manik hazel milik Becca.
"Maukah kau memaafkanku, dan ikut denganku?" ucap Jack lagi, masih dengan tatapan yang sama.
Becca mendengus kasar. "Jack, pertama aku ingin memberitahumu bahwa akan sulit bagiku untuk memaafkanmu. Karena setelah kepergianmu, aku sepenuhnya telah menganggapmu sebagai orang asing. Aku tidak peduli lagi dengan perasaan cinta yang pernah kurasakan terhadapmu. Kedua, tidak mungkin aku ikut denganmu, bila memaafkanmu pun aku masih tidak bisa!" balasnya dengan panjang lebar.
"Jadi, aku rasa hubungan kita harus berakhir di sini. Kembalilah sibuk dengan pekerjaan rahasiamu itu... aku pikir inilah yang terbaik untuk kita," ujar Becca sambil bangkit dari tempat duduknya. Kemudian meninggalkan Jack seorang diri.
Jack berusaha mengejar, akan tetapi keputusan Becca sudah bulat. Lelaki berbadan jangkung tersebut kini hanya mampu menyaksikan punggung Becca yang kian menjauh.
'Satu tahun yang lalu aku telah membuang kesempatanku untuk bahagia. Seharusnya aku ada disisimu ketika kau rapuh. Tetapi malah terus membiarkanmu berada dalam pelukan lelaki lain. Aku mencintaimu, Becca. Aku harap kau mau memaafkanku.' batin Jack. Masih mematung di tempat yang sama. Atensinya tidak teralihkan dari sosok Becca.
'Sejak awal kau adalah lelaki misterius, dan label itu masih sama hingga sekarang. Banyaknya rahasia yang kau simpan, hanya akan membuat suatu hubungan akan memburuk. Aku masih mencintaimu, Jack. Tetapi aku tidak bisa pergi semudah itu ikut denganmu. Aku harus terus berada disisi David dan Jonas. Itulah yang terpenting sekarang,' Becca ikut bergumam dalam hati. Pergerakan kakinya terus maju. Air matanya beberapakali sudah berhasil menetes dipipinya. Perpisahan tak terduga itu menjadi akhir ceritanya dengan Jack.
...~TAMAT~...
Hai guys, akhirnya novel ini sudah tamat. Ngomong-ngomong aku nggak maksain ini tamat kok. Alur ceritanya memang aku susun dari awal dengan akhir begini. Aku juga berniat bikin novel ini dengan bab yang nggak banyak. Mohon maaf kalau nggak sesuai ekspektasi kalian ya 🙏
Terima kasih untuk pembaca yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca novel ini. Padahal novel ini masih jauh dari sempurna. Dengan typo yang bertebaran, alur ceritanya kurang, dan lain-lain.
Sekali lagi makasih dan maaf ya 🤧😁
Salam cinta, dari author Elkuna ♡
__ADS_1