Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 53 - Badai Salju


__ADS_3

Becca masuk ke dalam kamar. Dia langsung menutup pintu. Entah kenapa jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Semuanya karena Jack, lelaki yang telah berani memulai hubungan tanpa status dengannya. Sekarang semuanya semakin rumit akibat kehadiran Ben yang hendak bermalam dirumahnya.


Kaki Becca melangkah mendekati jendela. Dia mengamati betapa lebatnya salju yang sedang berjatuhan ke tanah. Hawa dingin perlahan semakin menyusup. Mengharuskan Becca melingkarkan kedua tangan ke tubuhnya sendiri. "Aku harap salju tidak turun secara berlebihan." Becca bergumam sambil berkutat mendongakkan kepala ke arah jendela.


Ceklek!


Seseorang mendadak membuka pintu, hingga membuat Becca seketika tersentak kaget. Dia segera membalikkan badan, lalu melihat kemunculan adik lelakinya.


"Cepat turun, kami menunggumu. Jack dan Ben ingin kau bergabung!" ujar Jonas masih berdiri di depan pintu. Sebelah tangannya tampak betah berpegangan pada gagang pintu.


"Oh my god Jonas, aku baru saja masuk ke dalam kamar, dan bahkan belum mandi. Aku akan bergabung secepatnya. Sana pergi!" Becca bergegas mendorong Jonas keluar dari kamarnya. Kemudian langsung menutup pintu. Dengusan kasar keluar dari hidungnya. Becca melanjutkan kegiatannya untuk mandi.


Di sisi lain, tepatnya di ruang keluarga. Ben baru saja selesai berganti pakaian. Untuk yang kedua kalinya lelaki tersebut harus kembali meminjam baju milik Jonas. Setelahnya dia kembali bergabung duduk di sofa bersama yang lain. Lagi-lagi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap Jack. Lelaki yang dianggap sebagai kompetitornya itu terlihat sibuk memainkan ponsel.


Anna yang tengah duduk santai di sebelah Jack, sibuk menekan remot televisinya. Ibu jarinya berhenti memencet ketika dirinya kebetulan melihat berita mengenai kota Louisiana.


Beritanya memberitahukan mengenai badai salju yang akan melanda seluruh kota Louisiana. Reporter dalam berita itu juga memperingatkan semua orang untuk segera pulang ke rumah, karena jika badai sudah terjadi, maka kemungkinan akan berlangsung lama. Jalanan akan licin dan dipenuhi es, yang tentu menyebabkan jalur transportasi menjadi terhambat.


Jack berhenti memainkan smartphone-nya, saat kupingnya mendengar kabar yang ada di televisi. Dia lantas bangkit dari sofa, dan mengajak Anna untuk segera pulang. Akan tetapi gadis remaja yang di ajaknya tersebut mengelak, dia tidak mau mengikuti saran Jack.


"Ayolah, biarkan aku pergi jauh dari rumah itu. Aku sangat bosan di sana!" Anna memberikan alasan. Dia perlahan berdiri dan bergegas melangkah menaiki anak tangga. Anna berniat menyusul Jonas yang sedari tadi tidak kunjung kembali.


"Kau dan Anna punya hubungan seperti apa? kakak beradik?" tanya Ben, yang pada akhirnya bersuara.


"Dia sepupuku." Jack berusaha menjawab dengan tenang. Kemudian beranjak pergi untuk menyusul Anna. Dahinya tampak berkerut kesal. Jack sudah lelah menjadi bodyguard yang malah terkesan seperti baby sitter.

__ADS_1


Derap langkah Jack terhenti setelah melewati tangga, karena Anna sudah menghilang dari penglihatannya. Tiba-tiba bunyi pintu terbuka sedikit mengagetkannya, pandangannya otomatis dialihkan ke arah sumber suara berada. Jack terkesiap kala melihat Becca. Rambut gadis itu sedikit basah. Dia mengenakan sweater dan celana jeans. Becca terlihat tergesak-gesak keluar dari kamar.


"Ben dimana?" tanya Becca gelagapan. Jack sontak menjawab dengan bahasa tubuhnya. Dia mengarahkan tangannya menunjuk ke arah ruang keluarga berada. Becca melingus begitu saja melewati Jack. Seakan benar-benar dikejar waktu.


"Kau kena--" Jack urung bertanya, ketika Becca sudah berlari menjauh darinya. Bahkan gadis tersebut sudah menghilang dari pandangannya.


Akibat merasa dibuat sangat penasaran, Jack lantas kembali menuruni tangga. Dia ingin tahu mengenai alasan Becca tergesak-gesak menemui Ben. Entah kenapa jantungnya berdegub kencang. Bukan karena melihat Becca, namun lebih terkesan ke arah takut. Jack khawatir Becca punya hubungan lebih serius dengan Ben. Perasaan itu secara alami muncul dalam dirinya.


Sementara Becca sudah berhadapan dengan Ben, Jack sengaja bersembunyi dibalik tembok. Membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengarkan.


"Ben, akan ada badai salju. Kau lebih baik pulang sekarang. Jika tidak, kemungkinan kau akan terjebak di sini bersamaku!" ungkap Becca, menunjukkan mimik wajah panik. Tangannya reflek memegang salah satu lengan Ben.


"Aku sudah tahu," respon Ben biasa saja.


"Lalu?" Becca mengulurkan kedua tangan heran. Sebab dia bingung Ben belum beranjak pergi juga dari rumahnya.


Tring... Tring...


Dering telepon mendadak berbunyi. Ucapan Ben seketika terjeda. Becca otomatis bergegas mengangkat panggilan telepon.


"Halo? dengan kediaman keluarga Green." Becca menjawab dengan kalimat sapaan wajibnya sebagai salah satu bagian keluarga Green.


"Becca, ini aku David!" ternyata orang yang menelepon adalah ayahnya sendiri. Dari nada bicaranya, suara David terdengar bergetar dan lebih nyaring dari biasanya. Terdapat juga bunyi desau angin yang nampaknya menjadi salah satu alasan David meninggikan nada suaranya.


"Ada apa? kau baik-baik saja?" tanya Becca, mendadak cemas.

__ADS_1


"Aku terjebak. Salju sudah menutupi jalur lalu lintas. Aku kemungkinan tidak bisa pulang!" sahut David yang sebenarnya sedang didera perasaan khawatir. Dia takut kedua anaknya tidak bisa menjaga diri di rumah. Apalagi David tidak tahu sampai kapan badai salju akan berhenti.


Becca yang telah mendengar fakta dari David, langsung mengalihkan penglihatannya ke arah jendela. Benar saja, salju terlihat lebih lebat dari pada beberapa saat yang lalu. Kepala Becca sekarang otomatis di arahkan kepada Ben. Pupus sudah harapannya yang sedari tadi berusaha membawa sahabatnya itu kembali pulang.


Jack keluar dari persembunyiannya. Kemudian berjalan ke depan jendela. Dia memperhatikan kaca jendela yang perlahan membeku. Karbon dioksida yang dikeluarkan dari hidungnya terlihat jelas, akibat rasa dingin yang kian merundung.


"Oh my godness David, tetapi kamu baik-baik saja kan? kau terjebak dimana?" Becca semakin mencemaskan David.


"Im fine Becca, tenang saja, aku berada di kantor kepolisian. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Justru keadaan kalianlah yang membuatku cemas," ujar David yang dilanjutkan dengan helaan nafas kasar.


"Benarkah? tetapi kenapa aku bisa mendengar suara angin dengan jelas darimu?"


"Oh, aku sedang berada di pos jaga bersama Wilden," sahut David, membuat sang putri merasa lebih lega.


"Aku baik-baik saja. Lagi pula kebetulan sekali, aku dan Jonas tidak hanya berduaan. Ada Ben, Jack dan An--"


"Apa?! Jack?" David merasa geram kala nama yang tidak ingin didengarnya terucap dari mulut sang putri.


"Ada apa David? kenapa kau mendadak membencinya?" timpal Becca, perasaan khawatir yang sempat tercipta perlahan pudar.


"Becca, Jack salah satu anak buah Aaron. Aku baru mengetahuinya baru-baru ini," jelas David singkat.


"Memangnya kenapa?" Becca bertanya lagi sembari melirik Jack. Akan tetapi dia segera menggerakkan bola matanya ke arah lain, ketika Jack tiba-tiba menoleh kepadanya. Lelaki berbadan jangkung tersebut seolah tahu dirinya sedang dibicarakan.


"Anak buahku sedang mengumpulkan petunjuk mengenai bisnis narkotika yang ada di Louisiana. Dan bukti yang sudah kami temukan mengarah kepada Aaron. Aku juga mengetahui hubungan Jack dan Aaron setelah melakukan pemantauan rahasia." David menerangkan panjang lebar.

__ADS_1


Jantung Becca berdetak laju. Dia kembali menatap Jack yang hanya berdiri sekitar tujuh langkah darinya. Mengetahui perihal narkotika, Becca seketika teringat dengan kematian mendiang Tara. Karena obat-obatan terlarang itulah yang telah membuat Tara harus dibunuh. Sebab para perampok tersebut melakukannya akibat tidak punya uang untuk membeli obat-obatan terlarang.


__ADS_2