Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 46 - Kabar Tentang Tara


__ADS_3

Becca membaca semua surat misterius yang ditemukannya di laci. Dia dapat menyimpulkan bahwa, surat-surat itu hanyalah berisi segala curhatan dan saling tukar kabar yang dilakukan oleh David kepada pengirimnya. Becca berpikir, kemungkinan orang yang mengirimi surat adalah teman dekat David.


'Mungkin aku nanti harus menanyakannya kepada David,' batin Becca sembari merapikan kembali surat-surat yang telah berhamburan.


Dari kejauhan telinga Becca dapat mendengar suara ponsel yang berdering. Dia lantas berdiri dan berlari untuk mengangkat panggilan telepon.


Becca urung mengangkat panggilannya, karena melihat nama Ben tertera pada notifikasi. Jujur saja, dia ingin menjaga jarak terhadap sahabat lelakinya tersebut. Setidaknya dalam beberapa waktu. Alhasil Becca pun menggeser ikon berbentuk telepon warna merah di layar ponselnya, pertanda dirinya telah memilih untuk tidak bicara.


"I'm sorry Ben..." gumam Becca dengan helaan nafas panjangnya. Dia pun kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Akan tetapi, beberapa saat kemudian ponsel Becca kembali bergetar. Sebuah pesan teks masuk dari Ben.


...'Becca, angkatlah teleponnya. Ini tentang Tara! dia sekarang sedang berada di ruang unit gawat darurat!"...


Mata Becca langsung membulat sempurna. Jantungnya didera deguban kencang. Dia mulai dirundung rasa cemas, karena begitu mengkhawatirkan keadaan Tara. Gadis itu sekarang mengobrak-abrik beberapa sudut rumahnya, karena berusaha mencari kunci mobilnya.


"Come on... kenapa ini terjadi sekarang!" keluh Becca yang masih menyibukkan diri untuk melakukan pencarian.


Ponsel kembali berdering. Kali ini Becca tidak perlu berpikir lama untuk mengangkat panggilan Ben tersebut.


"Ben, bagaimana keadaan Tara?" timpal Becca, langsung ke intinya.


"Dia masih sedang di operasi," jawab Ben dari seberang telepon.


"Apa dia baik-baik saja? apa yang telah terjadi kepadanya?"


"Dia dirampok Becca. Tara memiliki dua luka tusukan di perutnya." Suara Ben terdengar bergetar. Dengusan hidungnya pun sempat terlintas di pendengaran Becca. Pertanda lelaki itu tengah mencoba menahan tangisnya.

__ADS_1


Becca membekap mulutnya sendiri. Wajah yang tadinya panik berubah menjadi rengekan. Beberapa tetes cairan bening akhirnya lolos dari kedua mata Becca. Dia merasa sangat sedih dengan insiden yang menimpa Tara. Padahal beberapa jam lalu, sahabatnya itu terdengar baik-baik saja. Bahkan terkesan ceria seperti biasanya.


"Ka-katakan kepadaku, kalau dia akan baik-baik saja..." tanya Becca yang dihiasi dengan sedikit isakan tangisnya.


"A-a-aku tidak tahu, Becca... aku harap begitu..." sahut Ben lirih. "Kau akan ke sini kan?"


"Iya, tentu saja. Tetapi aku belum bisa menemukan kunci mobilku." Becca mengedarkan pandangannya ke sekitar. Masih berusaha mencari benda kecil yang berfungsi untuk menyalakan mobilnya. Sesekali tangannya mengusap air mata yang sudah menetes dipipi.


"Kalau begitu, aku akan menjem--"


"Tidak, tidak perlu Ben. Aku akan ikut Jack saja!" ucap Becca, tidak sengaja memotong kalimat Ben. Dia kebetulan menyaksikan Jack baru saja kembali. Hal itu bisa dilihatnya melalui jendela. Jack tampak sudah memarkirkan mobil di halaman rumahnya.


Becca langsung mematikan telepon. Kemudian bergegas keluar dari rumah dan menghampiri Jack. Dia menceritakan semuanya kepada lelaki berperawakan jangkung tersebut.


Jack terpaku dan membisu. Seolah dirinya sedang berpikir keras. Sebenarnya dia punya sesuatu hal penting yang harus segera dilakukan. Namun tangisan Becca membuat Jack bimbang.


"Baiklah, cepat masuk ke mobil!" suruh Jack, yang pada akhirnya memutuskan untuk membantu Becca. Keduanya sekarang sama-sama di dalam mobil. Mereka berkendara di saat hari semakin gelap. Pendar jingga bahkan hanya tersisa sedikit di atas langit.


Dalam perjalanan, Becca dan Jack melihat banyak mobil polisi di beberapa tempat. Sepertinya sesuatu telah terjadi di kota Lousiana. Bahkan ada beberapa lokasi yang mengharuskan Jack memelankan mobil, karena saking penuhnya jalanan terhadap insiden yang terjadi.


"Apa yang terjadi?" tanya Becca seraya memperhatikan keluar jendela mobil. Tepatnya ke arah dimana orang-orang sedang berkerumun.


"Sepertinya telah terjadi beberapa insiden perampokan hari ini," sahut Jack sambil terus menyeimbangkan alat kemudinya.


"Benarkah? siang hari maksudmu? itu bodoh, orang jahat macam apa yang melakukannya?!" Becca membulatkan mata tak percaya.

__ADS_1


"Orang-orang yang kecanduan Becca. Yaitu mereka yang sangat menginginkan obat-obatan terlarang, tetapi tidak memiliki cukup uang untuk membelinya." Jack memberikan penjelasan dengan tenang.


Becca terdiam dalam sesaat. Dia baru sadar kalau Jack sepertinya terlalu banyak tahu. Membuat Becca seketika curiga, kalau Jack mempunyai sangkut paut dengan insiden yang telah terjadi. Gadis itu menoleh ke arah Jack. Melakukan tatapan menyelidik.


"Bagaimana kau tahu, Jack? apa kejadian penembakan di pesta itu memiliki keterkaitan? apa kau juga terlibat dengan semua ini?" Becca melayangkan pertanyaan bertubi-tubi. Menuntut jawaban kepada Jack.


"Aku rasa tidak, Becca. Orang yang melakukan penembakan di pesta hanya mempunyai kedok balas dendam. Maksudku, dia memang hanya membidik Aaron untuk dibunuh." Jack menjeda sejenak lalu melanjutkan, "dan mengenai diriku, aku pastikan bahwa aku sama sekali tidak terlibat dengan semua ini..." terang Jack sembari memutar setirnya. Dia sudah memasuki area lingkungan rumah sakit dimana Tara dirawat.


"Kau banyak berhutang penjelasan kepadaku, ingat itu! kau harus jelaskan semuanya saat aku kembali!" respon Becca dengan dahi berkerut. Dia ingin terus bicara serius dengan Jack. Tetapi keadaannya sekarang sangatlah mendesak.


Setelah mobil berhenti, Becca segera bergegas keluar dan berlari menelusuri rumah sakit. Dia sudah tidak sabar untuk mengetahui keadaan Tara.


Jack sempat membeku di mobilnya. Menatap kosong ke arah Becca yang sedang sibuk berlari. Dia berpikir keras. Apalagi sedari tadi dia mendapatkan puluhan panggilan di ponselnya. Jack sengaja membuat ponselnya dalam mode diam. Dia melakukannya karena tidak ingin diganggu. Terutama saat dirinya tengah bersama Becca.


Dengan tarikan nafas yang dalam, Jack akhirnya keluar dari mobil dan mengikuti Becca. Dia juga sengaja meninggalkan ponselnya di mobil. Lelaki itu sudah memasuki rumah sakit dan berjalan menuju ruang unit gawat darurat.


Dari kejauhan, Jack dapat menyaksikan Becca saling berpelukan dengan Ben. Becca tampak membenamkan wajahnya dipundak lelaki yang disebutnya sebagai sahabat tersebut. Keduanya sama-sama saling menangis. Namun tangisan Ben lebih reda dibanding rengekan Becca yang suara raungannya dapat terdengar jelas.


Jack menghentikan langkahnya. Dadanya terasa sedikit sesak, kala melihat sudah ada seorang lelaki yang telah berhasil menenangkan Becca. Hingga membuat gadis itu menjadi lebih kuat untuk menghadapi masalahnya.


'Kau harusnya tahu Jack. Kau bukan lelaki yang pantas untuk berada di sisi Becca...' batin Jack seraya tersenyum tipis. Dia membalikkan badan, kemudian mengurungkan niatnya. Jack berniat ingin kembali lagi ke mobil, dan melanjutkan tugas yang seharusnya dilakukannya sejak tadi.


Jack bisa saja menghampiri Becca, dan menyuruh Ben menyingkir. Tetapi dia memilih untuk tidak melakukannya. Jack hanya merasa tahu diri, kalau kehidupan yang dia miliki sangatlah rumit. Itulah salah satu alasan yang membuatnya tidak menginginkan memiliki hubungan serius dengan seorang perempuan.


Sementara itu, Becca masih betah berada dalam pelukan Ben. Atau memang Ben yang terus membuat Becca terjebak dalam dekapannya. Apalagi saat melihat Jack datang.

__ADS_1


Ben bisa melihat kemunculan Jack dari jauh. Untung saja posisi Becca membelakangi keberadaan Jack. Makanya Ben sengaja memilih mengunci mulutnya rapat-rapat. Dia juga semakin mengeratkan pelukannya. Berharap perlakuannya tersebut mampu membuat Jack ciut dan pergi. Ben melakukannya, dia telah berhasil mengusir Jack dengan begitu mulus.


__ADS_2