
Becca sudah tertidur pulas. Akan tetapi tidak untuk Jack. Akibat ceritanya sendiri dia berkecamuk dalam masa lalunya. Perlahan dialihkan pandangannya ke wajah gadis cantik di sebelahnya. Senyuman tipisnya mengembang, kala menyaksikan paras gadis berambut cokelat tersebut. Dia terus memandangi Becca hingga tidak terasa ikut tertidur.
Lelapnya Jack tidak berlangsung lama. Dia hanya mampu tertidur selama tiga jam. Matanya kini sudah terbuka lebar tepat di jam enam pagi. Ada yang menarik atensinya kala itu. Yaitu salju yang ada di luar tidak terdengar berdesir lagi. Apakah badainya telah berhenti?
"Mmmm..." Becca mendadak bergumam. Matanya masih terpejam rapat. Gadis tersebut membuka mata dengan pelan. Wajah tampan Jack yang tengah berpura-pura tertidur menyambut penglihatannya.
Kali ini Becca yang tersenyum tipis. Badannya sekarang sudah baikan, bahkan terasa lebih hangat. Dia menggeser kepalanya agar mampu menatap Jack lebih dekat. Kedua tangan yang mengatup dijadikan bantalan pipinya.
'Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan penderitaan yang diceritakannya,' batin Becca, terpana dengan paras rupawan seorang Jack.
Deg!
Jantung Becca langsung berdegub kencang, ketika Jack terbangun. Mata gadis itu sontak terbelalak. Akan tetapi, dia dan Jack malah saling terpaku satu sama lain.
"A-aku--" ucapan Becca terhenti, saat Jack mencium bibirnya secara tiba-tiba. Salah satu tangan lelaki itu memegangi tengkuknya lumayan erat. Hingga ciuman yang diberikan Jack dapat dilakukan dengan intens.
Becca mulai memegangi kerah baju Jack. Sampai akhirnya Jack mengubah posisinya di atas badan Becca secara alami. Jantung keduanya semakin berpacu lebih cepat. Kupu-kupu pun serasa beterbangan di perut mereka. Nafas bahkan ikut-ikutan tak bisa di atur dengan baik, dan menimbulkan suara yang dapat terdengar jelas ditelinga.
Ceklek!
"Becca! badai telah--" Jonas mendadak membuka pintu. Hal tersebut membuat Becca dan Jack memisahkan diri secepatnya.
"So-sorry... aku tidak tahu," ucap Jonas canggung. Kemudian lekas-lekas melarikan diri. Sedangkan Becca hanya mengusap kasar wajahnya.
"Sepertinya Jonas tadi berusaha memberitahu kita kalau badai sudah berhenti," celetuk Jack sembari berdiri, lalu mebcoba berjalan keluar. Namun niatnya terhenti kala Becca memanggil namanya.
"Aku ingat kau pernah bilang padaku, bahwa kau tidak tertarik memiliki kekasih ataupun seorang istri. Tetapi jika perempuan itu adalah aku, apakah aku mempunyai kesempatan?" ungkap Becca dengan binaran penuh arti dimatanya.
"Becca, aku ingin--"
__ADS_1
"Becca!" suara panggilan Ben berhasil memotong perkataan Jack. Becca lantas mengalihkan pandangannya ke arah Ben yang semakin berjalan mendekatinya.
Jack terpaksa berlalu pergi, karena Ben selalu saja menatapnya dengan tatapan sinis. Becca hanya menghela nafas panjang, semua ucapan Ben bahkan terdengar bagai angin lalu ditelinganya.
Anna membuka pintu depan. Gumpalan salju yang tinggi di halaman menyambutnya. Namun kali ini tidak ada angin atau salju yang lebat. Melainkan pancaran sinar matahari yang cerah.
Jack menyarankan Anna untuk menunggu di rumahnya saja. Karena dirinya merasa tidak mau membuat Becca kerepotan. Apalagi Ben juga pasti belum bisa pulang, akibat gumpalan es di jalanan yang belum dibersihkan.
...***...
Setelah memakan hampir tujuh jam, jalanan akhirnya dibersihkan dari gumpalan es oleh petugas kebersihan. Ben maupun Anna sudah kembali pulang ke rumahnya. Tetapi tidak untuk David, lelaki paruh baya tersebut belum terdengar kabarnya. Padahal siang tadi dia memberitahu Becca lewat telepon bahwa dirinya sedang dalam perjalanan pulang.
"Apa dia tidak mengangkat juga?" tanya Jonas sembari duduk di depan Becca.
"Belum! menurutmu apa David mengerjai kita?" balas Becca dengan dahi yang berkerut dalam. Dia kembali menghubungi David untuk yang ke dua puluh kalinya. Namun tetap saja, ayahnya itu tidak kunjung mengangkat panggilannya.
"Hallo? dengan kantor kepolisian pusat Lousiana." Suara lelaki menjawab dari seberang telepon. Dia tidak lain adalah Wilden, rekan kerja David.
"Hallo... ini aku Rebecca Green. Putri dari David Green, aku hanya ingin bertanya, apakah ayahku masih ada di kantor?" ujar Becca. Berharap dirinya segera mendapatkan kabar pasti dari sang ayah.
"Oh, David? dia sudah pulang siang tadi. Apa dia belum kembali?" sahut Wilden, berbalik tanya.
"Belum, apa David mengatakan akan pergi ke suatu tempat terlebih dahulu sebelum pulang?"
"Aku tidak tahu. Aku rasa tidak ada. David malah terlihat ingin cepat-cepat pulang ke rumah, karena mengkhawatirkan kalian."
"Emm.. okay, terima kasih..." balas Becca, dengan perasaan kecewa.
"Dengar, aku rasa dia mungkin sedang terjebak macet. Karena jalan baru saja dibuka, kemungkinan banyaknya mobil yang mengendara." Wilden nampaknya mencoba menenangkan Becca. "Lagi pula ini baru beberapa jam. Aku yakin dia baik-baik saja," tambahnya lagi.
__ADS_1
"Ya, aku harap begitu..." respon Becca, kemudian segera menutup sambungan telepon.
"Bagaimana?" Jonas segera menimpali. Becca lantas menjawabnya dengan gelengan kepala ber-ekspresi sendu.
"Tetapi, aku yakin dia baik-baik saja. Jangan berlebihan, Jonas!" tukas Becca, berusaha berpikir positif.
Jonas membisu, dan menatap kosong figura yang berisi gambar ayahnya. Sebab tidak biasanya ayahnya itu pulang terlambat. Jika David berkata akan pulang, maka beberapa menit kemudian dia pasti akan tiba di rumah.
Meskipun sibuk bekerja, tetapi jika masalah pulang, David selalu berusaha kembali secepat mungkin. Bahkan Becca tahu itu.
Satu hari telah lewat. Kabar tentang David belum juga terdengar. Sekarang Becca dan Jonas semakin dibuat cemas. Keduanya sekarang sudah berada di kantor polisi dimana David bekerja.
Kini Becca dan Jonas duduk bersebelahan di sebuah bangku. Menatap rekan-rekan kerja David yang sepertinya sedang kebingungan. Nampaknya mereka juga tidak tahu dimana keberadaan David. Mereka hanya berhasil menemukan rekaman CCTV, mengenai mobil David yang melaju menuju jalan Eden Street.
"Becca, kami sedang berusaha untuk mencari David. Nanti kami akan beritahu lagi perkembangannya kepadamu," tutur Wilden memberitahu.
"Jadi, dia dinyatakan menghilang?" tanya Becca dengan mimik wajah khawatirnya. Hal yang sama juga dilakukan Jonas.
Wilden mengangguk pelan, dan mengucapkan maaf sebagai tanda empatinya.
Kini Becca terdiam seribu bahasa. Hatinya terasa berkecamuk. Tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dirasakan. Tetapi satu hal yang sangat di inginkannya sekarang, yaitu melihat wajah David di depan mata.
"David... a-aku, bahkan tidak pernah memanggilnya dengan sebutan Ayah..." Jonas mulai merengek histeris. Pergelangan tangannya tampak mencoba menutupi kedua matanya.
"Jonas..." Becca memegangi pundak Jonas dengan pelan, akan tetapi langsung mendapat tepisan.
"Ini semua gara-gara kau, Becca!" sembur Jonas seraya bangkit dari tempat duduk. Semua pasang mata sontak tertuju kepadanya. "Kau selalu membuatnya marah! kenapa kau terus mengajaknya bertengkar di rumah!" bentaknya, kemudian beranjak pergi meninggalkan Becca.
"Jonas!" panggil Becca. Wajahnya mulai menampakkan garis-garis kesedihan. Matanya perlahan mulai berembun. Gadis itu menangis sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
__ADS_1