Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 23 - Jack Atau Ben?


__ADS_3

"Apa aku tidak salah dengar?" David mencoba memastikan.


"Aku hanya sayang dengan alat pancing yang sudah kau beli." Becca mencoba mencari alasan.


"Kau benar juga, tidak ada salahnya. Lagi pula David, anggaplah ini sebagai permintaan maaf kami mengenai apa yang telah terjadi kemarin," ujar Jonas yang sepertinya sangat paham dengan maksud kakaknya.


David tidak kuasa untuk menahan kesenangannya, mulutnya pun perlahan mengukir senyuman. Dia pun menyetujui usulan kedua anaknya. Lelaki paruh baya itu pun memutuskan mencari lokasi pemancingan terdekat.


Setelah menemukan area pemancingan yang tepat, David menghentikan mobilnya. Dia berniat menyewa sebuah kapal pancing.


"Kau berniat memancing ikan ke laut?" tanya Jonas.


"Kau pikir kemana? jelas-jelas genangan air yang ada di hadapan kita adalah laut. Dasar!" timpal Becca sembari berjalan mengekori David.


"Maksudku, kita kan bisa memancing di pinggiran saja." Jonas mengulurkan kedua tangan heran.


"Kau sendiri saja sana!" sahut Becca tak peduli. Dia semakin berjalan terus menjauh. Jonas akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang, lalu terpaksa mengikuti Becca.


Kapal berlayar dengan pelan mengarungi lautan. Seorang kapten yang lihai mengemudi, ikut menemani kegiatan memancing keluarga Green. Langit tampak cerah seolah menyetujui rencana memancing David yang harusnya dilakukan sejak kemarin.


Becca berjalan menuju haluan kapal yang berada di depan. Dia membiarkan hembusan angin menerpanya. Membuat rambut panjangnya beterbangan secara se-arah. Becca menatap air laut yang terlihat begitu bening. Cipratan-cipratan air yang tercipta dari kapal menghipnotisnya.


"Aku tidak tahu apa yang membuatmu berubah..." David mendadak sudah berada di sebelah Becca. Nampaknya dia memang sengaja menyusul Becca menuju haluan kapal.


"Jangan terlalu sentimental, David." Becca tersenyum tipis masih dalam keadaan terpaku menatap air laut. David terdengar terkekeh sambil memasukkan kedua tangan ke saku celananya.


"Ngomong-ngomong, bolehkah aku bertanya?" Becca akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah David.


"Apa?"


"Dari mana kau tahu kalau aku dan Jonas ada di taman bermain?"


"Oh itu... Jack yang meneleponku, dia katanya sedang mengurus sesuatu yang mendesak, makanya dia tidak bisa mengantarmu pulang," tutur David seraya melayangkan pantat ke sebuah kayu berbentuk balok.


"Oh begitu..." Becca menundukkan wajahnya. Dia yang tadinya hendak memarahi Jack, akhirnya harus menyimpan perasaan itu jauh-jauh.

__ADS_1


Namun David malah mengartikan ekspresi yang ditunjukkan Becca, sebagai sebuah kekecewaan. "Kenapa kau terlihat kecewa? jangan bilang kau berharap--"


"Tentu saja tidak!" Becca lekas-lekas bersuara sebelum David menyelesaikan kalimatnya.


"Becca sepertinya menyukai Jack!" Jonas yang sedari tadi duduk di bawah naungan menyahut. Sepertinya pembicaraan David dan Becca tadi terdengar jelas dikupingnya.


"Jonas!!" Becca melayangkan pelototan ke arah adiknya.


"Aku pikir kau sedang dekat dengan Ben," celetuk David, yang sontak menyebabkan Becca langsung menoleh kepadanya.


"Ben? kenapa kau berpikir begitu?" Becca menggeleng heran.


"Karena aku bisa melihat dengan jelas, kalau Ben menyukaimu!" ungkap David yakin.


"Aku sependapat denganmu, Ayah!" Jonas tersenyum puas.


"Pffffft! apa-apaan!" Becca malah tergelak sesaat sambil memegangi area jidatnya. Dia sepenuhnya tidak mempercayai apa yang sudah diberitahukan David dan Jonas.


"Kenapa kau tertawa? itu sama sekali tidak lucu," sinis Jonas.


Becca perlahan menghentikan tawanya dan berucap, "Aku dan Ben berteman sejak kecil. Tentu saja kami selalu kelihatan dekat. Ben tidak mungkin menyukaiku!"


"Aku lebih mendukung Jack!" Jonas mengangkat sebelah tangannya.


Becca yang melihat kelakuan ayah dan adik lelakinya hanya terperangah. Bola matanya memutar malas. Dia sengaja menutup mulut karena tidak mau membahas sesuatu yang menurutnya sama sekali tidak penting.


"Tapi David, aku heran kenapa kau memilih Ben. Bukankah kau juga dekat dengan Jack?" tanya Jonas yang sepertinya penasaran dengan alasan David.


"Karena dia sudah mengenal Becca sejak kecil. Aku yakin, dia akan menjadi lelaki yang--"


"Cukup! cukup sudah! aku tidak tahan lagi mendengarkan pembicaraan ini!" Becca menutup kedua telinganya rapat-rapat. Kemudian masuk ke dalam kabin kapal. Melihat gelagat Becca, David dan Jonas hanya saling terkekeh.


Kapten menghentikan kapal dengan pelan. Mereka tiba di lokasi yang katanya dipenuhi dengan banyak ikan. Alhasil David, Becca dan Jonas segera mempersiapkan peralatan pancingnya dan beraksi. Setelah sekian lama, ketiganya dapat menikmati waktu dengan suasana yang lebih harmonis.


"Ayo kita taruhan!" ajak Jonas kepada Becca.

__ADS_1


"Oke, siapa takut! siapa yang kalah harus menuruti keinginan pemenang!" balas Becca menyepakati.


"Baiklah!" Jonas membangun semangatnya. Dia segera mengulur kailnya.


David yang sedari tadi mengamati kelakuan kedua anaknya tersenyum puas. Matanya sedikit berpendar karena merasa terharu dengan apa yang telah terjadi sekarang. Rasanya dia ingin menghentikan waktu untuk sementara. Agar bisa membiarkan kedua buah hatinya dapat terus bersamanya. Tidak menjadi semakin dewasa dan selalu ada di sisinya.


'Sarah, mereka memang sudah dewasa. Tetapi satu hal yang pasti, pertengkaran mereka tidak pernah berubah. Meski Becca sepenuhnya sudah dewasa, dia tetap bisa menjadi teman yang baik untuk Jonas. Becca perempuan yang kuat sepertimu...' batin David, seolah sedang berbicara dengan istrinya sendiri.


Matahari semakin menanjak ke arah barat. Pertanda waktu memancing harus segera berakhir. Jonas tersenyum senang, karena dia mendapatkan lebih banyak ikan dibandingkan Becca. Yang berarti bahwa dialah sang pemenang taruhan.


"Katakan apa keinginanmu!" tukas Becca dengan pose berkacak pinggang, seakan menantang. Dia menatap sinis ke arah Jonas.


"Nanti aku akan katakan saat sudah sampai di rumah, oke?" jawab Jonas dengan senyuman yang tentu saja membuat Becca jengkel. Selanjutnya mereka pun segera melanjutkan perjalanan untuk pulang.


***


Sementara itu, di depan kediaman keluarga Green. Sebuah mobil berhenti dengan pelan. Seorang lelaki segera keluar dari kendaraan beroda empat tersebut. Dia berjalan menuju pintu rumah keluarga Green dan mengetuknya.


Jack yang baru saja keluar dari rumahnya segera bersuara dengan nada tinggi, "Mereka sedang pergi berlibur!" dia menambahkan senyuman. Kemudian melangkah mendekati lelaki yang tidak lain adalah Ben.


"Benarkah? apakah sudah lama?" tanya Ben serius.


"Entahlah, mungkin sebentar lagi akan pulang," balas Jack santai. "Oh iya, kenalkan namaku Jack!" lanjutnya sembari mengulurkan tangan.


"Ben!" sahut Ben yang menyambut uluran tangan Jack.


"Kau temannya Becca tempo hari itu kan?"


"Yes."


"Oh, bolehkah aku bertanya mengenai Becca?" Jack menatap serius. Hingga membuat perasaan Ben agak tidak nyaman. Prasangka-prasangka buruk mulai bermunculan dalam hatinya.


"Tentang?" Ben ikut serius.


"Apa dia memang suka membuat masalah sejak dahulu?"

__ADS_1


"Tidak! kenapa kau menganggapnya seperti itu!" tegas Ben seraya mengerutkan dahi.


"Tenanglah kawan, aku hanya mengkhawatirkannya. Kau sebagai temannya harus menjaganya dengan baik, oke?" ucap Jack sambil menepuk pelan pundak Ben. Namun perlakuannya malah dibalas dengan tatapan tajam oleh Ben.


__ADS_2