Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 34 - Melupakan Richy?


__ADS_3

Jack dan Becca masih terpaku dalam hitungan detik. Meskipun singkat, waktu seolah berhenti untuk sejenak. Saat itulah suara dering ponsel Jack membuyarkan keterpakuan keduanya.


"Aku harus mengangkat teleponku dulu," ujar Jack seraya merogoh saku celananya. Sedangkan Becca hanya bisa tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuk tanpa alasan.


Jack beranjak pergi keluar ruangan demi privasi pembicaraannya. Becca sekarang sendirian di lantai dansa. Dia melangkah menuju tempat minuman. Di sana Becca tidak sengaja bertemu Richy.


"Hei," sapa Richy enggan.


Becca pun membalas dengan senyuman dan berkata, "Aku ingin kau membayar kesalahanmu."


Richy mengerutkan dahi heran. Dia mencoba mencari jawaban dari kepalanya. Hingga akhirnya ia teringat dengan foto Becca yang telah disebarkannya.


"Mengenai foto itu? aku benar-benar minta maaf..." ujar Richy menyesal. "Tapi bukankah tidak apa-apa? kau dan Jack saling mencintai kan?" sambungnya yakin.


"Tapi tetap saja itu melanggar privasi." Becca menimpali.


Richy memutar bola mata jengah dan membalas, "Jadi, apa maumu?"


"Penjelasan, hanya itu." Becca menyahut datar.


"Tentang?"


Becca mendekatkan mulut ke telinga Richy dan berbisik, "Alasan kau memutuskan hubungan denganku."


Richy merasa tidak percaya, Becca mencoba kembali mengungkit masa lalu yang tak seharusnya dibicarakan. Dia lantas hanya mengucapkan alasan sederhana.


"Aku tidak mencintaimu lagi. Saat itu aku jatuh cinta dengan gadis lain," ungkap Richy datar. Dia bicara tanpa menatap ke arah Becca. "Tunggu, apa perlu aku meminta maaf kepadamu ratusan kali?" timpalnya geram. Sebab Richy benar-benar malas membicarakan masa lalunya bersama Becca.


"No..." lirih Becca ciut sambil meminum sirupnya. Untuk yang pertama kalinya, hatinya terasa datar. Tidak ada rasa sesak dan juga marah. Becca bahkan mengedipkan kelopak matanya beberapa kali.


"Oke, aku harus pergi," ucap Richy yang segera melingus pergi meninggalkan Becca.


'Kenapa sekarang perasaanku biasa saja?' benak Becca bertanya-tanya. Dia berpikir perasaan sukanya terhadap Richy sudah sedikit berkurang.


"Becca!" Ben mendadak muncul dari belakang. Menyebabkan Becca otomatis berbalik menatapnya.

__ADS_1


"Kau datang? sejak kapan?" pupil mata Becca membesar. Dia merasa senang melihat kehadiran Ben yang memilih datang ke pesta.


"Beberapa menit yang lalu, mungkin..." balas Ben lirih.


"Aku tidak menyangka, setelah sekian lama akhirnya kau mau datang ke sebuah pesta!" Becca menepuk pundak Ben pelan. Dia memang merasa senang menyaksikan kehadiran sahabat lelakinya itu. Becca juga tidak lupa mencarikan pasangan untuk Ben. Pandangannya mengedar kemana-mana demi mencari gadis yang tepat.


"Cepat katakan kepadaku Ben, apa gadis yang kau sukai ada di sini?" tanya Becca seraya menyandarkan pantatnya ke meja.


"Ya." Jack melirik ke arah Becca. Pertanda dia tengah menatap gadis yang sekarang disukainya. Becca terus berceloteh membicarakan perihal gadis lain. Sedangkan Ben sendiri, sama sekali tidak peduli dengan gadis yang dibicarakan Becca.


"Sekarang katakan kepadaku, yang mana orangnya?" Becca bertanya seraya mengangkat kedua alisnya. Mata belo-nya bertambah bulat saat ia melakukan ekspresi itu.


Ben tersenyum dan mendekatkan mulut ke telinga Becca dan berbisik, "Nanti kau akan tahu suatu hari."


Becca yang mendengar sontak menggertakkan gigi kesal. Apalagi kala melihat Ben tergelak mentertawakannya. Becca pun mengakhiri pembicaraan tersebut dengan gelengan serta senyuman tipis.


Dari kejauhan terlihat seorang gadis berambut pirang berjalan mendekat. Sorot matanya jelas tertuju ke arah Ben. Hingga Becca pun sangat paham dengan raut wajah yang ditunjukkan gadis tersebut.


"Lihat, namanya Angel kan? sepertinya dia masih belum bisa melupakanmu." Becca berbicara dengan nada berbisik. Kepalanya sedikit mencondong ke arah Ben. "Oh, dia ke sini!" Becca segera kembali menegakkan badannya dan sedikit menjaga jarak dari Ben.


"Nikmati waktumu Ben, aku mau keluar sebentar!" ujar Becca sembari meletakkan gelas ke meja, lalu berderap pergi begitu saja. Ben mencoba mengikuti, namun tangan Angel melingkar erat untuk mencegahnya.


"Hei Ben! apa kabarmu?" tanya Angel dengan senyuman yang merekah. Ben pun terpaksa harus meladeninya sebentar.


...***...


Jack mengangkat telepon dari Mike. Dia mendadak mendapatkan tugas untuk mendatangi sebuah pesta.


"Kau harus mencari pasangan terlebih dahulu agar bisa diterima. Pestanya akan dimulai dua jam lagi!" ujar Mike dari seberang telepon.


"Apa?! kenapa mendadak begini?" tanya Jack.


"Entahlah, benar-benar merepotkan kan? tetapi setidaknya kita menemukan waktu yang pas untuk ke sana!"


"Aku tahu."

__ADS_1


"Oke, aku sarankan carilah seorang gadis yang dapat dibodohi dengan mudah. Ya sudah, sampai bertemu di pesta!" Mike mengakhiri panggilan telepon lebih dahulu.


Jack menyimpan ponselnya kembali ke saku celana. Dia berbalik dan tidak sengaja melihat penampakan Becca. Gadis itu sekarang berdiri sendirian sambil menatap kosong ke depan. Kedua tangannya memeluk tubuh sendiri akibat hawa dingin yang perlahan mengikat. Becca mendudukkan dirinya di tangga yang ada di dekatnya.


"Kau kenapa berada di luar?" sapa Jack seraya berjalan mendekati.


Becca langsung membelalakkan mata saat melihat kehadiran Jack. "Sejak kapan kau disitu?" tanya-nya.


Jack tidak menjawab. Dia hanya memposisikan diri duduk di sebelah Becca. Sebenarnya dia berniat mengajak Becca untuk ikut bersamanya ke pesta. Sebab Jack tidak mempunyai opsi lain selain dari Becca. Gadis tersebut satu-satunya orang yang mudah untuk di ajak sekarang.


"Bolehkah aku minta tolong?" tanya Jack pelan, sengaja mengubah topik pembicaraan Becca.


"Memangnya kau mau apa?" respon Becca.


"Ikut denganku ke pesta."


"Kapan?"


"Malam ini," balas Jack. Becca yang mendengar membulatkan mata. Dia heran dengan waktunya yang terbilang mendesak.


Becca mencoba berpikir sembari menggigit bibir bawahnya. Terlintas dalam bayangannya tentang seberapa banyak Jack telah membantunya. Sejak mencari Jonas, sandiwara di cafe, ditambah kedatangannya sekarang ke prom. Bagi Becca, Jack sudah terlalu banyak membantu.


"Kalau kau tidak mau, aku tidak akan--"


"Baiklah, aku bersedia. Anggap saja ini sebagai balasanku atas apa yang kau lakukan sekarang!" Becca lekas-lekas menyahut sebelum Jack menyelesaikan kalimatnya. Jack pun tersenyum puas. Dia segera mengajak Becca untuk masuk ke dalam ruangan.


"Ayo kita masuk! bukankah kau sudah kedinginan?" ujar Jack yang sudah berdiri.


"Kalau kau sadar aku kedinginan, harusnya kau memberikan jasmu itu kepadaku," tukas Becca masih duduk di tempatnya. Berharap bisa mendapatkan perlakuan romantis seperti di film-film.


"Itulah alasan aku menyuruhmu masuk. Karena aku tidak mau melepaskan jasku!" sahut Jack, kemudian beranjak pergi meninggalkan Becca.


Dengusan nafas kasar Becca keluarkan dari mulut. "Aku masih ingin di sini," ungkapnya masih dalam keadaan memeluk tubuhnya sendiri.


Jack yang mendengar pun hanya mengucapkan kata 'Oke', kemudian benar-benar pergi entah kemana. Dia tidak melangkah memasuki ruang acara, tetapi menuju tempat parkiran.

__ADS_1


Becca sedikit memikirkan perkataan Richy. Namun kali ini, hatinya merasa tidak peduli. Senyuman pun perlahan terukir diwajah Becca. Dia akhirnya bangkit dan berderap memasuki ruang acara. Pandangannya mengedar untuk mencari keberadaan Jack. Akan tetapi dia tidak menemukan lelaki itu dimana-mana.


__ADS_2