Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 9 - Berenang Bersama


__ADS_3

"A-aku..." Ben ingin mengungkapkan isi hatinya. Namun masih tak kuasa. "Aku ingin bercebur!" ucapnya sembari gelagapan untuk berdiri. Dia kembali menyimpan perasaan cintanya rapat-rapat. Lelaki tersebut malah bergegas melepaskan kaos bajunya.


"Apakah perlu diberitahu dengan wajah seserius itu?" Becca menggeleng heran. "Ben, apa kau tidak dingin? ini masih lumayan pagi!" tambahnya sambil menggidikkan bahu.


"Ayo! temani aku berenang!" ajak Ben yang sudah siap menceburkan diri dengan celana pendek hitamnya.


"Gila! aku baru saja mandi tadi!" bantah Becca yang tentu saja menolak ajakan Ben.


"Ayolah Becca, tidak seru berenang sendirian. Jangan bilang kau malu?" tukas Ben dengan tatapan menyelidik.


"Cih! siapa bilang. Aku hanya kedinginan!" bantah Becca. Dia sekarang bangkit dan berdiri, karena ingin menjauh dari air. Namun posisinya itu semakin membuat Ben lebih mudah untuk mengajaknya bercebur bersama. Atau lebih tepatnya memaksa Becca untuk menceburkan diri.


"Becca! awas!" tanpa basa basi, Ben pun mendorong Becca ke air danau. Becca yang tak mampu mempertahankan keseimbangannya sontak langsung terjatuh ke dalam air.


Byur!


Setelahnya, Ben pun segera ikut menceburkan dirinya ke danau.


"Aaaaargghh!!!" Becca menggeram kesal. Dia bergegas menghampiri Ben karena ingin melakukan pembalasan.


Ben yang melihat tentu lekas-lekas berenang menjauhi Becca.


"Awas kau Ben! aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah!" geram Becca, dia masih berusaha menghampiri keberadaan Ben. Sedangkan Ben tampak tertawa kegirangan, karena menikmati momen tersebut. Meskipun dirinya tahu betul, Becca akan memperlakukannya dengan bar-bar jika sudah berhasil menangkapnya.


Dor!


Ben tiba-tiba mendengar suara tembakan pistol dari kejauhan. Suaranya memang tidak begitu nyaring, tetapi dapat terdengar jelas di telinga Ben. Dia pun reflek berhenti berenang karena ingin mengedarkan pandangannya. Mungkin saja ada orang mencurigakan yang akan ditemuinya.


"Kena kau!" ucap Becca yang berhasil meraih keberadaan Ben. Dia langsung menarik helaian rambut Ben sekuat tenaga.


"Aa-aa-aaaaa! Becca!" Ben mengerang kesakitan sambil meringiskan wajahnya. Akibat saking kesalnya, Becca menggigit kepala Ben. Hal itu sontak menyebabkan Ben kembali berteriak kesakitan.


Entah kenapa, setelah melampiaskan semua kekesalannya kepada Ben, Becca merasa lega. Dia tergelak untuk sesaat.

__ADS_1


"Puas kau!" timpal Ben, yang sudah berhasil lepas dari cengkeraman tangan Becca. Tangannya segera mengacak-acak puncak kepala sahabatnya itu.


Becca hanya terdiam, kemudian menengadahkan kepalanya ke atas. Dia menjadikan air seolah menjadi sandaran kepalanya. Becca sekarang menatap birunya langit dengan beberapa awan yang sedikit berarak.


Ben ikut membisu, sebenarnya dia ingin menanyakan perihal suara tembakan yang tadi di dengarnya. Namun di urungkan karena sepertinya Becca tidak mendengar bunyi tersebut. Alhasil Ben sekarang mengikuti tindakan sahabatnya. Dia juga menatap ke arah langit yang sama dengan Becca.


"Kau benar Ben, datang ke sini membuat perasaanku sedikit lebih baik..." ungkap Becca lirih.


"Apa kau ingat? saat kecil dulu kita sering datang ke sini untuk bermain." Ben mengingat kenangan masa kecilnya bersama Becca.


Teringat jelas dalam kepala Ben mengenai bagaimana akrabnya dirinya dengan Becca. Ben awalnya hanya lelaki lemah yang tidak berani. Waktu kecil dia sering mendapatkan rundungan dari beberapa anak lain yang lebih kuat darinya. Namun semuanya berubah, ketika Becca datang. Kehadiran gadis itu tidak hanya menyelamatkannya dari bullyan, tetapi juga membuat Ben berubah lebih berani. Dia belajar dari sikap Becca yang seakan tidak kenal takut. Ia sangat mengagumi sahabatnya tersebut, hingga lama-kelamaan perasaan kagumnya berubah menjadi cinta.


"Iya, kita juga sering memancing ke sini bersama ibuku," ucap Becca.


"Benar, ibumu memang sama uniknya denganmu. Dia mungkin satu-satunya wanita yang gemar memancing ikan di kota ini," sahut Ben seraya tertawa kecil.


"Aku merindukannya..." lirih Becca. Ben yang mendengar mengubah posisinya menjadi tegak kembali. Dia menatap Becca dengan nanar.


Becca masih tetap diposisinya, menatap langit nan cerah.


"Dia tidak pernah peduli kepadaku Ben!" jelas Becca singkat.


"Kau tidak akan pernah tahu, jika kau tidak berusaha bicara baik-baik dengannya!" Ben mencoba meyakinkan sahabatnya.


Becca yang mendengar malah berenang menjauhinya. Dia ingin lekas-lekas naik ke atas, karena dinginnya air danau mulai membuat seluruh badannya merinding. Ben pun tidak punya pilihan lain selain mengekorinya, dia ikut keluar dari air dan segera mengenakan pakaiannya lagi.


"Kau curang Ben! pakaianmu masih kering, coba lihat aku!" protes Becca yang merasa iri dengan baju kering milik Ben. Sedangkan bajunya sendiri, seluruhnya basah hingga ke bagian dalamnya.


"Kau mau mengenakan pakaianku?" tawar Ben sembari lekas-lekas mencabut bajunya lagi dari badannya.


"Ish tidak usah!" tolak Becca sambil memeluk tubuhnya sendiri.


"Aku akan mengenakan celana yang kering, sedangkan kau akan pakai yang ini, adil kan?" Ben menyodorkan baju kaos atasannya.

__ADS_1


"Ya sudah!" Becca mengambil baju Ben. Kemudian melepaskan baju atasannya tanpa aba-aba.


Ben yang tidak sengaja melihat sontak membulatkan mata. Dia langsung mengalihkan pandangannya. "Becca! kenapa tidak bilang-bilang kalau mau lepas baju!" protesnya.


"Apaan sih Ben! aku tidak akan melepaskan bra-ku kok. Jangan sok polos, aku saja tadi diam melihatmu hampir telanjang. Dasar!" gerutu Becca yang sudah berhasil mengenakan baju milik Ben ke badannya.


'Becca, benar-benar hanya menganggapku sebagai sahabat.' Perasaan Ben mendadak tertusuk, ketika menyaksikan tingkah Becca terhadapnya yang terkesan terlalu nyaman.


"Ben! apa benar kau masih sepolos ini? aku bahkan tidak pernah mendengar kabar kedekatanmu dengan gadis mana pun!" Becca menangkup wajah Ben karena hendak berbicara serius.


"A-apa pedulimu!" Ben lekas-lekas menjauhkan tangan Becca dari wajahnya. Matanya meliar kemana-mana akibat merasa salah tingkah.


"Dasar aneh! kau selalu gelagapan jika aku menanyakan perihal itu. Padahal alasanku menanyakannya karena peduli kepadamu." Becca mencemberutkan wajahnya.


"Aku bisa mengurus diriku sendiri!" balas Ben tegas.


"Ya sudah, nih!" Becca menyodorkan bajunya yang basah kepada Ben.


"Kau menyuruhku memakainya?"


"Kau mau menyusuri jalanan dengan memajang kedua putingmu itu?!" tukas Becca, yang berhasil menyebabkan wajah Ben seketika memerah. Lelaki tersebut langsung memegangi bagian tubuh yang disebutkan Becca tadi. Alhasil Ben pun segera mengenakan baju basah milik Becca, yang tentu saja kekecilan dan terasa ketat saat dipakai.


"Pffft!" Becca berusaha menahan tawa.


"Tidak lucu!" Ben menggertakkan gigi kesal.


"Terima kasih Ben, setidaknya kau sudah berhasil menghiburku!" Becca merangkul pundak Ben sambil merekahkan senyuman.


Dorrr!!


Tiba-tiba terdengar lagi suara tembakan senjata api. Dan kali ini Becca berhasil mendengarnya. Dia dan Ben begitu dibuat kaget dengan bunyi tembakan yang lumayan nyaring itu.


"Terdengar lagi!" ungkap Ben.

__ADS_1


"Lagi?" Becca mengernyitkan kening.


"Tadi aku juga sempat mendengar suara yang sama, tetapi tidak senyaring yang barusan!" jelas Ben yakin. Keduanya sama-sama tengah mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat.


__ADS_2