Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 47 - She's Gone


__ADS_3

Ben sekarang duduk di kursi panjang yang posisinya tidak jauh dari ruang operasi Tara. Sedangkan Becca duduk di kursi yang ada di seberangnya. Becca tampak menenangkan Ellie. Wanita yang merupakan ibu kandungnya Tara tersebut masih belum bisa menghentikan tangisnya.


Becca tidak bisa mengucapkan kata-kata, karena dia tidak tahu bagaimana cara menenangkan orang yang sedang gelisah. Lagi pula, Becca juga tidak mau mengucapkan kalimat omong kosong seperti berkata kalau 'Semuanya akan baik-baik saja'. Baginya keadaan Tara sekarang sudah jelas sedang tidak baik. Dia takut kalimat seperti itu malah menyebabkan hati Ellie semakin sedih di waktu akan datang. Becca hanya berharap operasi dapat berjalan lancar.


Becca mengelus pundak Ellie dengan lembut. Dia juga sesekali memeluknya dari samping. Wajahnya sama sembabnya seperti wajah Ellie.


Tidak lama kemudian, pintu ruang operasi terlihat terbuka. Muncullah seorang lelaki sedang mengenakan seragam scrub keluar dari ruangan. Lelaki yang tidak lain adalah Dokter itu segera membuka masker penutup hidung dan mulutnya.


Ellie bergegas bangkit dari tempat duduk dan berlari menghampiri Dokter. Hal yang sama juga dilakukan oleh Becca dan Ben. Mereka langsung menanyakan keadaan Tara.


Raut wajah Dokter tampak sendu. Kepalanya bahkan tertunduk lesu. Dia menghela nafas dan berucap, "Sebelumnya aku meminta maaf, karena nyawa pasien tidak bisa diselamatkan. Tubuhnya terlalu banyak mengeluarkan darah. Proses penyempitan pembuluh darah yang di alaminya terjadi begitu cepat. Kami sudah berusaha maksimal untuk membuatnya bertahan."


Mendengar penuturan Dokter, Ellie langsung tidak sadarkan diri. Ben dan Becca pun segera menahan badannya agar tidak terhempas ke lantai. Semua pihak medis, termasuk Dokter yang tadi bicara juga ikut membantu. Mereka segera membawa Ellie ke sebuah ruangan, agar keadaan wanita paruh baya itu dapat tenang dan membaik.


Becca akhirnya tidak kuasa menahan tangisnya lagi. Semburat wajahnya dipenuhi warna kemerahan, dihiasi oleh cairan bening yang terus mengalir. Gadis tersebut terduduk di lantai dalam keadaan bersimpuh. Kedua tangannya menutupi sebagian besar wajahnya sendiri.


Ben bergegas menenangkan Becca. Dia kembali memberikan pelukan hangat. Berharap perlakuannya itu dapat sedikit membuat Becca tenang. Sebenarnya dirinya juga ikut menangis, tetapi caranya lebih tenang dibanding Becca.

__ADS_1


"Tara... dia telah pergi... DIA PERGI BEN!" ucap Becca di sela-sela rintihan tangisnya. Dia memekik nyaring saat mengatakan kalimat akhirnya. Kedua tangannya mencengkeram erat kerah baju Ben. Matanya memancarkan pendar penuh kesedihan.


"She's gone..." lirih Becca. Kepalanya menunduk sendu. Kemudian menumpukan dahinya secara perlahan ke arah Ben. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik sahabat lelakinya tersebut. Rengekannya begitu histeris, bahkan sudah mencapai sesegukan. Membuat Ben merasa tidak tega lagi mendengarnya.


"Becca, tenanglah... aku tahu semuanya tidak bisa membaik secara instan. Tetapi aku janji akan selalu berada di sampingmu..." ujar Ben pelan. Tangannya terus mengelus pundak Becca dengan lembut. Sesekali dia juga mendenguskan hidungnya karena masih tidak mampu menahan kesedihan. Mereka saling menangis dan memeluk cukup lama. Bahkan tidak memperdulikan orang yang lalu lalang melewati mereka. Namun lama kelamaan Ben menyadari kalau keberadaan dirinya dan Becca sangatlah mengganggu orang yang lewat. Sebab keduanya sedang berada tepat di tengah jalan.


"Becca setidaknya kita harus duduk ke kursi. Keberadaan kita menghalangi jalan orang," ucap Ben sambil mencoba membawa Becca untuk bangkit. Becca lantas berdiri dan mengikuti arahan Ben. Keduanya sekarang duduk bersebelahan di kursi panjang. Kembali saling memeluk erat. Melepas segala rasa kesedihan yang sedang didera satu sama lain.


Becca merasa nyaman berada dalam dekapan Ben. Dia sedikit lebih tenang dan hangat. Entah kenapa pikirannya mendadak mengingat nama Jack. Becca sekarang sadar bahwa sedari tadi dirinya tidak menyaksikan kehadiran Jack. Jujur saja, ada rasa kecewa dihatinya. Jika Jack mencintainya, dia tentu akan berada di sisi Becca sekarang. Tetapi apa? lelaki tersebut hanya mengantarkan Becca ke tempat tujuan layaknya seorang sopir.


'Aku tidak mau terlalu memikirkan perihal Jack sekarang. Jika peduli, dia pasti akan datang,' batin Becca yang perlahan melepaskan pelukannya dari Ben. Dia mencoba menenangkan dirinya sendiri.


...༻❀༺...


Hening mendominasi suasana berkabung. Semua pelayat yang datang mengenakan pakaian serba hitam. Satu per satu dari mereka memeluk dan berusaha menenangkan Ellie. Wanita paruh baya itu sekarang sepenuhnya sendirian menjalani kehidupannya. Sebutan single parent sudah tidak berlaku lagi untuknya, karena Tara yang merupakan anak satu-satunya telah pergi selamanya.


Sebuah mobil sedan berwarna hitam tampak berhenti. Di dalam terdapat dua lelaki dan satu orang perempuan. Mereka adalah David, Jonas dan Becca. Ketiganya tengah menunjukkan raut wajah sedih. Apalagi kehadiran Tara sebagai sahabat dekat Becca, sudah dianggap seperti keluarga sendiri.

__ADS_1


"Ayo kita turun," usul David, yang sudah memegangi pegangan pintu mobil.


"Aku masih ingin di sini dahulu..." jawab Becca. Menatap kosong ke arah depan. Dia berusaha menahan cairan bening yang terus memaksa untuk keluar.


"Baiklah, aku dan Jonas pergi lebih dahulu," ucap David yang telah benar-benar membuka pintu mobil. "Ayo Jonas!" ajaknya kepada putranya. Alhasil Jonas pun bergegas mengikuti David. Dia berjalan mengiringi dari belakang.


Setelah David dan Jonas pergi, pada akhirnya Becca dapat menangis dengan leluasa. Dia sebenarnya sudah puluhan kali menangis semenjak mendengar kabar kepergian Tara. Kesedihannya akan mereda sendiri jika merasa lelah. Namun ketika dirinya kembali mengingat kenangannya bersama Tara, rasa sedih dan tangisan kembali dirasakannya.


Becca tidak pernah menyangka, Tara akan pergi secepat ini. Bagaimana bisa gadis sekuat dan sesehat Tara bisa tiba-tiba menghilang ditelan kematian? Rasanya Becca masih tidak rela menerima kepergian sahabat terbaiknya tersebut. Dia berharap bisa memutar balik waktu. Menghabiskan lebih banyak waktu untuk bersama. Ketulusan dan kebaikan Tara tidak pernah dilupakan Becca. Tara adalah sosok gadis paling perhatian, tidak heran dia belum pernah bertengkar hebat dengan Becca hingga sekarang. Tara selalu memahami dan berada di sisi Becca.


Tangis Becca pecah. Dia kembali menangis sejadi-jadinya. Matanya yang sudah sembab sejak kemarin, sebentar lagi akan menjadi bengkak.


Tok! Tok! Tok!


Seseorang mendadak mengetuk kaca mobil, membuat Becca segera berusaha menghentikan rengekannya. Dia lekas-lekas menenangkan diri dan menghapus cairan bening yang berceceran dipipinya. Kemudian langsung menoleh ke sumber suara ketukan tadi. Nampaklah wajah Jack yang terlihat mencoba melihat keadaan di dalam mobil.


Becca bergegas menurunkan kaca mobilnya. Sekarang dia dapat melihat wajah Jack dengan jelas. Keduanya saling terpaku dalam bertukar pandang satu sama lain.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jack cemas. Apalagi ketika dia harus menyaksikan betapa sembabnya wajah Becca sekarang.


__ADS_2