
Jack telah mengenakan pakaian lengkap. Dia menatap Becca yang masih asyik membelakanginya. Terbersit dalam pikirannya untuk pergi begitu saja. Akan tetapi dia sudah tertangkap basah sekarang.
'Mungkin yang terbaik adalah memberitahunya...' batin Jack sembari melangkahkan kakinya untuk mendekat. Dia mencengkeram erat lengan Becca, dan dilanjutkan memutar badan gadis itu.
"Jack!" Becca agak terkejut. Kelopak matanya tampak terbuka lebar. Dia reflek menjaga jaraknya dari Jack. Namun genggaman kuat dari seorang Jack berhasil membuat Becca tidak bergeming.
"Tenanglah Becca, bukankah kau ingin mendengar penjelasanku?" Jack mendekatkan wajahnya. Menatap dalam ke manik hazel milik Becca.
"Ya, ta-tapi kau tidak perlu bersikap berlebihan begini..." ucap Becca tergagap. Tidak kuasa membalas tatapan Jack. Lelaki jangkung di hadapannya mendadak menunjukkan aura yang berbeda. Lebih tegas dan agak sedikit mengancam. Menyebabkan jantung Becca berdetak lebih cepat dari biasanya. Apalagi wangi cologne khas Jack menguar jelas di hidungnya. Entah kapan lelaki itu menyempatkan diri untuk membilas tubuhnya dengan cologne.
"Aku memang buronan, Becca. Tetapi aku sedang terlibat perjanjian dengan salah satu organisasi agen rahasia. Sekarang aku punya tugas penting di kota ini. Aku mohon, jangan pernah mengatakan semua ini kepada siapapun!" Jack berterus terang. Dia berbicara dengan nada pelan. Terus memandangi Becca dengan tatapan serius.
Becca mulai berani mengarahkan bola matanya untuk menatap Jack. Dia menelan salivanya sendiri satu kali.
"Berjanjilah, Becca. Jangan katakan tentang jati diriku kepada siapapun," ucap Jack lagi. Kali ini matanya memancarkan binar penuh harap.
"Oke, aku berjanji," Becca menganggukkan kepala, seraya melepaskan pegangan Jack dengan pelan. "Sekarang aku ingin satu penjelasan lagi, tentang... hubungan kita."
Ungkapan Becca membuat Jack menghentikan tatapan mengancamnya. "Becca, i'm so sorry. Aku tidak pernah menganggap hubungan kita lebih dari apapun. Kejadian di malam setelah pesta, hanyalah kesalahan yang seharusnya tidak aku lakukan, begitulah..." terang Jack yang di akhiri dengan lirih. Dia mengalihkan pandangannya ke bawah. Seolah tidak berani berucap sambil menatap lawan bicaranya.
"Apa? kesalahan?" Becca terperangah. Sebab apa yang diucapkan oleh Jack dari mulut sangat berbeda dengan tatapan yang dilakukannya.
Karena ingin melihat bukti dengan mata dan kepalanya sendiri, Becca pun mendadak memegangi wajah Jack dengan kedua tangannya. "Tatap mataku dan katakan itu memanglah kesalahan!" tegas Becca sambil mengeratkan rahangnya. Dia tampak benar-benar bertekad.
"It's just a mistake," ungkap Jack. Menuruti perintah yang diberikan Becca. Dia mengucapkan kalimat tersebut dengan percaya diri. Sebab dia mencoba terlihat meyakinkan.
__ADS_1
"Kau berbohong!" tukas Becca yakin, karena dia melihat adanya kegetiran dari manik cokelat milik Jack. Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung menautkan bibirnya dengan bibir Jack. Mengubah posisi tangannya melingkar ke pundak lelaki itu.
Jack awalnya berusaha menjauhkan Becca. Namun karena tergoda, dia tentu tidak kuasa menolak sebuah sentuhan yang membuat jantungnya berdebar penuh semangat. Jack bahkan membalas lebih agresif dibanding Becca. Dia perlahan mulai semakin memojokkan Becca ke dinding.
Suara bel mendadak berbunyi. Membuat Becca maupun Jack segera menghentikan kegiatan mereka. Keduanya sekarang tengah mengatur deru nafasnya yang tadinya sempat tidak terkontrol. Mereka mematung di tempat untuk sejenak.
Suara bel yang terus berbunyi seolah mendesak, mengharuskan Jack berjalan menuju pintu keluar. Sebelum itu dia menoleh ke arah Becca dan berkata, "Kau ingin diam di sini selamanya?"
Sarkas yang ditujukan Jack, otomatis membuat Becca bergegas keluar dari ruangan. Dia mengikuti Jack berjalan menuruni tangga. Kemudian memeriksa tamu yang kebetulan sedang berkunjung.
Jack membuka pintu dengan tergesak-gesak. Sehingga kelupaan melihat siapa yang datang melalui kamera pengawas.
Ceklek!
Ketika membuka pintu, Jack langsung disambut dengan penampakan David. Becca yang tidak sempat bersembunyi atau pun lari sontak membeku di tempat. Sekarang dia hanya berharap ayahnya tidak bertindak berlebihan. Tetapi dia tahu, harapannya itu terlalu jauh untuk dapat terwujud.
"David, hentikan! apa yang salah denganmu? ayo kita bicarakan di rumah saja!" pekik Becca sambil mencoba melepaskan cengkeram David dari kerah baju Jack.
"Aku tahu siapa kamu, Jack. Semua orang telah mengetahui jati dirimu sekarang!" ucap David seraya mengeratkan rahangnya. "Jangan pernah berani melibatkan Becca dengan urusanmu!" tambahnya lagi.
"David! hentikan sekarang!" Becca membawa David sekuat tenaga untuk menjauh dari Jack, dan kali ini usahanya berhasil. Meskipun David terus menyalangkan matanya ke arah Jack. Bahkan saat dirinya melangkahkan kaki menuju rumah.
...***...
David dan Becca sudah berada di rumah. Mereka langsung melanjutkan pembicaraan. Terutama David, dia terus mengingatkan Becca untuk tidak berdekatan lagi dengan Jack.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menjauhinya. Tetapi ijinkan aku mencari pekerjaan dan mendapatkan kunci mobilku!" Becca menyodorkan satu tangannya ke arah David. Lalu membuka telapak tangannya lebar-lebar seakan menuntut sang ayah untuk memberikan apa yang di inginkannya.
David mendengus kesal. Dia tidak punya pilihan lain selain setuju. Akhirnya sebuah kunci mobil diserahkannya kepada Becca. Ternyata sedari awal David menyembunyikannya di kantong celana. Tentu Becca tidak bisa menemukannya, meski mencarinya di setiap sudut kecil bagian rumah.
"Jadi, kau membawanya kemana-mana selama ini?" timpal Becca tak percaya.
"Aku melakukannya demi kebaikanmu!" sahut David sembari memberikan kunci mobil kepada Becca.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, David. Aku bukan anak kecil lagi, kau tahu itu kan?" balas Becca. Kemudian memasang tas bahunya, dan berjalan keluar untuk memasuki mobil.
Saat di luar, kebetulan Becca kembali bertemu dengan Jack. Lelaki berbadan jangkung itu juga terlihat hendak memasuki mobilnya. Atensinya tentu langsung tertuju kepada Becca yang melambaikan tangan kepadanya.
Becca terlihat menggerakkan mulutnya. Seakan mengucapkan sebuah kalimat untuk Jack. Hal tersebut lantas mengharuskan Jack menyipitkan mata, agar bisa membaca dengan jelas pergerakan mulut Becca.
'Dasar pembohong. Kau jelas jatuh cinta padaku.' Kira-kira begitulah kalimat yang berhasil dipahami oleh Jack. Selanjutnya Becca pun segera memasuki mobilnya. Sepertinya perkataan Becca merujuk perihal kejadian beberapa saat yang lalu. Tepatnya ketika dirinya dan Jack saling berciuman. Yang mana penyangkalan Jack mengenai perasaannya, sangatlah berbeda dengan tindakannya.
Secara alami Jack tersenyum tipis. Dia merasa lucu saat melihat tingkah Becca. Setidaknya sikap gadis tersebut masih tidak berubah, bahkan setelah kematian sahabat terdekatnya. Dia juga tidak membantah kalau dirinya memang sudah jatuh cinta kepada Becca.
"Hey dude! sedang melamunkan Becca?!" teguran Anna menyadarkan Jack dari lamunan. Dia lantas menoleh ke arah sumber suara. Tampaklah Anna yang baru saja menghentikan sepedanya.
"Apa kau akan terus-terusan berkeliaran?" timpal Jack dengan dahi yang berkerut.
"Kau tahu aku adalah tipe orang yang berjiwa bebas. Aku tidak akan sanggup berada di rumah seharian. Meskipun rumah itu memberikan segala hal yang aku mau!" ungkap Anna sambil mengulurkan kedua tangan.
"Tetapi sekarang Lousiana sedang tidak aman. Ayahmu bisa membunuhku, jika sesuatu yang buruk terjadi kepadamu!" tegas Jack.
__ADS_1
"Aku tahu. Kau tidak perlu mengingatkanku," respon Anna seraya turun dari sepedanya. Kemudian masuk ke dalam mobil Jack.