Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 17 - Menghilangnya Jonas


__ADS_3

Sesampainya di villa, Becca langsung menghempaskan sepedanya. Kemudian berlari menuju kamar. Dia merebahkan dirinya ke kasur. Membenamkan wajahnya ke sebuah bantal. Hatinya terasa sangat sakit. Air matanya mulai berjatuhan. Ia menangis tanpa bersuara.


Becca seakan tak kuasa lagi untuk menjadi tegar. Dia sudah lelah dengan semuanya. Mungkin hanya Ben satu-satunya orang yang selalu peduli kepadanya. Namun Becca tahu betul dirinya tidak bisa terus-terusan bergantung dengan orang yang sama. Itulah alasan dia selalu memendam semua rasa sakitnya sendirian.


Setelah puas menangis, Becca hanya membisu. Menatap kosong ke arah jendela yang berjarak beberapa meter darinya. Desiran suara ombak dan burung laut menemani kesedihannya. Sekarang gadis tersebut berdiri dan berjalan mendekati jendela. Menatap birunya laut Grand Isle yang terkenal akan ketenangannya. Jauh dari keramaian dan mendamaikan.


Becca lumayan agak tenang tatkala dapat menyaksikan keindahan alam.


'Mungkin inilah cara Tuhan menghiburku,' batinnya sembari memejamkan mata sejenak. Kemudian segera keluar dari kamarnya.


Ada satu hal yang tidak Becca sadari saat sampai di villa. Yaitu betapa sepinya suasana. Alhasil dia pun memanggil nama sang adik beberapa kali.


"Jonas!"


Becca bergegas melangkah menuju kamar Jonas. Dia terus saja memanggil. Nihil, tak ada jawaban sama sekali dari adiknya yang berumur enam belas tahun itu.


Ceklek!


Becca membuka kamar Jonas. Matanya langsung membulat tatkala tidak melihat batang hidung adiknya. Meskipun begitu, ia tetap berpikir positif dan terus memanggil namanya. Bahkan Becca sempat mengira Jonas mungkin saja sedang bersembunyi dan mencoba menjahilinya.


"Jonas? jangan main-main denganku. Jangan membuatku terus mendapatkan omelan dari David!" pekik Becca, berharap bisa memiliki teman bicara. Tetapi hanya ada suara angin yang merespon teriakannya.


Becca mulai agak panik. Dia pun mencari Jonas ke seluruh ruangan yang ada di villa. Dari kamar mandi, gudang, bahkan ke dalam lemari sekalipun. Becca juga tidak lupa untuk mencoba menelepon, tetapi dia malah mendapat notifikasi tidak aktif dari sambungannya. Anehnya dia dapat mendengar suara dering telepon dari arah kamar Jonas. Alhasil Becca bergegas untuk menemukan sumber suara tersebut.


Ternyata Jonas meninggalkan ponselnya di atas nakas. Di balik ponsel itu terdapat secarik kertas yang bertuliskan, 'Becca, aku akan pergi ke pusat Grand Isle untuk menonton konser. Kumohon jangan mencariku!'


"Jonaaaas!!" geram Becca seraya mengusap wajahnya sendiri. Selanjutnya dia berjalan keluar villa.


Kala itu Becca kebetulan melihat Jack yang baru saja keluar dari resor mewah. Lelaki tersebut terlihat tergesak-gesak sambil membawa tas besar di genggamannya. Sepertinya dia sudah mengakhiri masa liburannya.


"Jack!" panggil Becca sambil berderap menghampiri.


Jack yang mendengar sontak menoleh. Dia langsung mendengus kasar saat melihat penampakan Becca. Apalagi sekarang gadis tersebut sudah semakin mendekati keberadaan dirinya.

__ADS_1


"Ada apa?" Jack mengernyitkan kening.


"Kau mau kemana?" tanya Becca.


"Ke pusat Grand Isle." Jack menjawab singkat.


"Benarkah? kau yakin?" Becca melebarkan matanya.


"Iya, ada apa? kenapa kau terlihat panik?" Jack mengernyitkan kening.


"Jonas nekat pergi menonton konser, dan dia pergi sendirian. Jika David mengetahuinya, mungkin dia akan membunuhku!" terang Becca dengan perumpamaan yang berlebihan. Jujur saja dia benar-benar panik. Karena untuk pertama kalinya seorang Jonas tidak menuruti perintah David.


"Ngomong-ngomong kau sepertinya juga sedang panik." Becca dapat melihat gelagat Jack yang tengah menunjukkan raut wajah tidak tenangnya.


"Aku harus mengurus hal penting." Jack memberi penjelasan singkat.


"Kalau begitu, kau bisa sekalian membawaku sampai ke pusat Grand Isle kan?" pinta Becca. Dia terpaksa meminta pertolongan Jack karena keadaan mendesak yang menimpanya. "Aku mohon Jack! aku tidak bisa menemukan Jonas dengan menggunakan sepedaku!" tambahnya sembari menunjukkan raut wajah memelas. Becca sudah tidak peduli dengan anggapan dirinya terhadap Jack tempo hari. Yang paling ia inginkan hanyalah menjambak rambut dan mengomeli adik lelakinya. Lagi pula hanya Jack satu-satunya orang yang mampu menolongnya sekarang.


"Memangnya apa kau sudah tahu mau mencarinya kemana?" tanya Jack.


"Apa kau sudah mencoba menghubunginya?" balas Jack.


"Sia-sia, Jonas sengaja meninggalkan ponselnya!" Becca menggeleng seolah putus asa.


Jack terdiam sesaat, seakan tengah menimbang-nimbang keputusan. Sebenarnya dia sudah bertekad tidak akan lagi berurusan dengan Becca. Namun ketika menyaksikan Becca kesulitan mengurus masalahnya sendirian, membuat Jack teringat dengan masa lalunya.


"Baiklah, kau bisa masuk ke mobil!" ujar Jack, yang tentu saja langsung dituruti oleh Becca. Mereka pun segera melakukan perjalanan menuju pusat Grand Isle.


Jack melajukan mobilnya dalam kecepatan yang lumayan tinggi. Becca tampak berpegangan dengan erat, karena begitu mencemaskan kelajuan mobil yang sedang dinaikinya.


"Apa kau terbiasa menyetir seperti ini? kau tidak perlu tergesak-gesak. Ini berbahaya!" Becca melirik ke arah Jack. Mimik wajah lelaki yang ditatapnya terlihat begitu serius dan tegas. Sorot matanya tajam menatap ke depan. Jack benar-benar tidak seperti biasanya.


"Jack?..." Becca memanggil dengan suara pelan. Dia ingin memastikan respon dari lelaki yang sedang menyetir di sampingnya. Namun Jack masih saja terdiam. Entah memang sengaja tidak mengacuhkan Becca atau karena terlalu fokus dengan kemudinya. Alhasil Becca membuang jauh-jauh semua pertanyaannya, dan mengalihkan pandangan ke depan.

__ADS_1


Tanpa diduga seorang anak kecil mendadak menyeberang jalan.


Becca yang sedari awal sudah cemas langsung berteriak, "Jaaack!!!" matanya reflek menutup rapat. Untung saja Jack reflek menginjak remnya. Matanya seketika membulat sempurna. Jantung Jack dan Becca sama-sama berdebar hebat. Mereka merasakan ketakutan yang sama.


Syuutt!


Jack berhasil menghentikan mobil, tanpa melukai anak kecil yang telah menyeberang.


Becca perlahan membuka mata. Dengusan nafasnya sedikit ngos-ngosan. Hingga membuat rambut panjangnya bergerak mengikuti udara yang dikeluarkan dari hidungnya. Selanjutnya dia langsung menatap ke arah Jack dengan wajah cemberut.


"Jack! Apa-apaan itu!" timpal Becca. Kali ini Jack membalas tatapannya.


"Maaf," ujar Jack datar. Kemudian kembali menjalankan mobilnya.


"Lebih baik jalankan pelan-pelan saja. Sebab aku tidak mau menambah masalah lagi!" Becca menyilangkan tangan di depan dada.


Jack mengukir seringai. Nampaknya kata masalah yang disebutkan Becca membuatnya tertarik.


"Kenapa kau tersenyum? apa perkataanku tadi lucu?" tanya Becca yang berhasil memergoki Jack tersenyum miring.


"Tidak." Jack hanya membalas singkat.


"Huhh!" Becca menghela nafas panjang. Bola matanya memutar malas. Sebab Jack sangat membosankan untuk di ajak bicara.


Karena perjalanan ke pusat Grand Isle lumayan panjang, Becca pun menghilangkan kebosanannya dengan cara melihat-lihat mobil yang sekarang dinaikinya. Jujur saja, banyak benda-benda yang berhasil menarik perhatiannya. Salah satunya adalah Becca mengambil pulpen tersebut tanpa izin dari pemilik mobil.


"Aku tidak pernah melihat pulpen seperti ini?" Becca mengerutkan dahi sambil memutar-mutar pulpen yang sekarang ada di tangannya.


"Becca!" Jack yang melihat, segera merebut pulpen dari tangan Becca. Dia tampak menggertakkan gigi kesal. Namun dirinya berusaha sebisa mungkin untuk tidak meledak lagi di depan Becca.


"Hei!" protes Becca dengan keadaan mata yang menyalang tak percaya.


"Jangan sentuh pulpen kesukaanku!" Jack memberikan alasan ambigu.

__ADS_1


"Tapi tidak perlu kasar juga kan?" Becca meringiskan wajahnya.


__ADS_2