
"Apa kau sedih karena David?" tanya Jack pelan.
"Mungkin..." lirih Becca, yang merasa malas menjawab lebih lengkap. Dia menghela nafas panjang dan kembali melanjutkan, "Rasanya aku tidak ingin kembali pulang."
Becca sebenarnya sangat paham dengan kekhawatiran David terhadapnya. Akan tetapi baginya, kepedulian tersebut selalu berakhir dengan aturan yang mengekang. Itulah yang membuatnya merasa lelah dalam menghadapi David. Becca ingin beristirahat dari ketegasan sang ayah yang terkadang menyesakkan.
Jack yang mendengar mencoba memahami perasaan Becca. Terlintas dalam benaknya untuk memberikan sedikit hiburan kepada gadis tersebut. "Kalau kau tidak mau pulang, mau pergi kemana?" tanya-nya memastikan.
"Kemana saja. Ke tempat yang membuat pikiranku tenang," jawab Becca sembari menoleh ke arah Jack. Dia punya firasat Jack akan mengamini keinginannya.
Jack tidak merespon ucapan Becca. Dia melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Memasuki jalanan besar nan sepi. Kali ini, Becca sama sekali tidak mempermasalahkan kelajuan mobil yang dikendarai Jack. Bahkan ia sudah membuang jauh-jauh rasa curiganya. Tidak ada rasa takut lagi yang mengganggunya. Becca memilih untuk mempercayai Jack sepenuhnya.
Jack perlahan menjalankan mobilnya ke jalanan yang sedikit menanjak. Hingga ia pun memutuskan berhenti di sebuah tempat yang tinggi. Lokasi tersebut memperlihatkan pemandangan secara jelas kota Lousiana.
"Apa yang kau--" Becca yang tadinya hendak melakukan protes menjeda ucapannya. Matanya menatap pemandangan yang sekarang ada di hadapannya. Tanpa basa-basi, gadis itu pun turun dari mobil dan memastikan penglihatannya tanpa dihalangi oleh kaca mobil.
Angin malam yang berhembus, tak membuat langkah kaki Becca terhenti. Dia terus berjalan hingga ke depan pagar yang melingkar dipinggir jalan. Terpampang nyata keindahan kota Lousiana dari atas. Becca tidak menyangka ternyata pemandangan kota bisa seindah gemerlap bintang-bintang di angkasa.
Ilustrasi pemandangan kota yang dilihat Becca :
"I feel so small... (aku merasa sangat kecil...)" ungkap Becca yang masih terpana dengan pemandangan di depannya. Kedua tangannya perlahan berpegangan pada pagar yang ada di dekatnya. Dia terdiam untuk sejenak. Hingga sebuah kehangatan dari belakang menyebabkan atensinya seketika teralih. Ternyata itu ulah Jack. Dia merelakan jas-nya, agar Becca tidak merasa kedinginan lagi.
"Apa-apaan? apa kau sekarang memilih menjadi lelaki yang romantis?" Becca terkekeh, karena tidak percaya dengan perlakuan manis Jack.
"Tentu saja tidak. Aku hanya tidak nyaman melihat punggungmu itu," balas Jack tenang sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. Matanya menatap ke depan. Menikmati suguhan pemandangan kota Lousiana.
Becca sedikit meringiskan wajah. Lalu ikut mengalihkan pandangannya ke arah yang sama dengan Jack. Dia sekarang sudah memakai jas milik Jack untuk dirinya sendiri. Rasa dingin yang tadi sempat menyiksa, perlahan menjadi lebih hangat.
__ADS_1
"Dari mana kau tahu tempat ini? aku saja yang sejak kecil tinggal di sini, tidak pernah mengetahui ada tempat begini di Lousiana," Becca melirik Jack dengan ujung matanya.
"Baru beberapa hari yang lalu aku mengetahui tempat ini. Anggap saja aku menemukannya karena kebetulan." Jack menjelaskan yang seharusnya.
"Oke..." Becca memutar bola mata dan berusaha memahami keterangan Jack.
"Apa kau sekarang sudah membaik?" Jack beralih menatap Becca.
"Sedikit, mungkin..." lirih Becca seraya menundukkan kepala.
"Becca, aku tahu David mungkin membuatmu merasa lelah. Tetapi, dia melakukannya karena peduli kepadamu," ujar Jack, yang berusaha mengubah pola pikir Becca terhadap David.
"Aku tahu. Sebenarnya aku lelah bukan karena dia. Aku tidak tahu kenapa, tetapi aku merasa hidupku dipenuhi ketidak beruntungan. Kampus, keluarga, percintaan. Semuanya tidak berjalan dengan baik!" Becca mencurahkan segala keluh kesahnya. Jack menjadi orang pertama yang diberitahunya.
"Tapi kau masih punya sahabat yang menyayangimu. Seperti lelaki itu dan Tara?"
"Lelaki itu? maksudmu Ben?"
"Ben?" Becca terperangah sambil tertawa kecil. Dia heran kenapa semua orang terus mengatakan kalau Ben menyukainya. Becca lagi-lagi tidak percaya.
"Kau bodoh jika tidak menyadarinya!" tukas Jack, yang merasa kesal menyaksikan Becca asyik terkekeh.
"Biar kujelaskan alasan kenapa aku tidak percaya Ben menyukaiku. Pertama," Becca mengangkat jari telunjuknya, lalu melanjutkan, "dia sudah beberapa kali mengerjaiku dengan pernyataan cintanya. Kedua," Becca menambahkan jari tengah di sisi jari telunjuknya dan kembali berkata, "Ben berteman denganku sejak kecil. Jadi, dia pernah mendengarkan kentutku, melihatku beringus, bahkan melihat aku berganti pakaian!" Becca mengulurkan kedua tangan sambil menampakkan ekspresi yang sangat meyakinkan. Hingga Jack pun membisu, dan memutuskan untuk mengalah. Bahkan Jack tergelak sejenak kala mendengar penuturan Becca.
"Oke, sekarang aku juga ikut ragu kalau Ben menyukaimu," kata Jack, dengan rekahan senyum yang tak memudar.
"Sekarang giliranku," Becca menatap serius ke arah Jack. "Aku ingin tahu tentang dirimu!" tukasnya masih tak mengalihkan pandangannya.
Jack tersenyum tipis dan membalas, "Aku akan menbiarkanmu berpendapat sesuka hati."
__ADS_1
"Maksudnya?" Becca mengerutkan dahi bingung.
"Kau bisa menganggapku apapun. Seperti agen rahasia, mafia, orang gila atau bahkan vampir. Aku akan menerimanya!" Jack sedikit berjongkok agar penjelasannya dapat segera diterima oleh Becca. Matanya menatap ke dalam manik hazel milik gadis tersebut.
Wajah Becca sontak sedikit memerah, karena Jack mendadak mendekatkan diri ke arahnya. Debaran di jantungnya kembali bergema. Hingga membuat otaknya seketika melupakan apa yang seharusnya ditanyakan.
"Becca?" panggilan Jack mengharuskan Becca memutar kembali otaknya. Mengingat pertanyaan yang dilontarkan Jack beberapa saat sebelumnya.
"A-apa? vampir? kau pikir imajinasiku setinggi itu?" Becca berusaha menunjukkan sikap setenang mungkin.
"Abaikanlah aku Becca, maksudku tentang siapa aku yang sebenarnya," ungkap Jack tiba-tiba menjadi serius.
"Kenapa?" Becca lantas semakin dibuat penasaran.
"Tidak ada. Aku hanya tidak ingin ada yang tahu!" Jack mengangkat bahunya sekali.
"Aneh! bagaimana kau bisa punya pacar kalau memiliki kepribadian tertutup begitu. Aku yakin siapapun gadis itu, dia pasti sangat tersiksa!"
"Aku tidak berniat memiliki pacar, apalagi seorang istri. Jadi, aku sama sekali tidak peduli akan hal itu," terang Jack pelan.
Becca yang mendengar tidak dapat membendung perasaan kecewanya. Dia tidak menyangka Jack merupakan salah satu orang yang tidak percaya dengan pernikahan.
"Lalu ciumanmu saat di pesta tadi, apakah itu cuman hal kecil?" timpal Becca hendak memastikan.
Jack sangat tertohok. Sebab pertanyaan Becca, mendadak membuat jantungnya menggebu hebat. Apalagi terlintas gambaran dalam bayangannya mengenai ciuman yang dilakukannya terhadap Becca. Hatinya tidak bisa membantah bahwa itu adalah kesalahan. Raut wajahnya menunjukkan ketagangan. Jack berusaha bergegas mencari alasan yang tepat. Namun sepertinya kebisuannya telah terlalu lama bagi Becca.
"Jack?" panggil Becca, menuntut jawaban.
"Ya, aku melakukannya, agar kita bisa terlihat seperti pasangan sungguhan. Maksudku agar Aaron tidak mengusir kita dari pesta. Aku yakin semua orang menganggap kita sebagai pasangan sungguhan!" Jack pada akhirnya memberikan alasan. Meskipun dengan berbelit-belit.
__ADS_1
"Oh... okay..." Becca pun mengangguk, mencoba memahami.