Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 43 - Beautiful Mistake


__ADS_3

Becca perlahan membuka mata. Dia juga tidak lupa untuk mengerjapkannya beberapa kali. Badannya terasa sangat pegal. Dia menghela nafasnya sekali. Kemudian menggeliat sejenak. Jantungnya seketika berdegub kencang saat baru menyadari dirinya sedang tidak berada di kamarnya.


Dari bau cologne yang khas, sangat jelas kalau Becca sekarang berada di kamar Jack. Dia langsung merubah posisi menjadi duduk, dan memperhatikan pakaian minim yang sekarang dikenakannya.


Jack tampak duduk di ujung kasur. Bertelanjang dada, dan hanya mengenakan celana pendek. Mata Becca seketika membelalak. Kepalanya segera mengingat kejadian tadi malam. Tepatnya ketika dirinya dan Jack terbawa suasana. Dari mulai ciuman di bibir, kemudian berlanjut menjadi sentuhan yang lebih intim dari itu. Hingga pada akhirnya dia dan Jack melakukannya.


Becca menenggak salivanya. Dia merasa sebuah kesalahan telah terjadi. Hal yang sama kemungkinan dirasakan Jack. Apalagi mereka jelas melakukannya bukan karena mabuk, dan dalam keadaan yang sadar.


Setelah melewati malam bersama. Becca sekarang sepenuhnya menyadari bahwa perasaannya terhadap Jack adalah cinta. Tetapi bagaimana semuanya bisa terjadi sangat cepat? Becca sebenarnya merasa sedikit takut. Sebab sejak pertama kali bertemu, dia belum mengetahui siapa Jack yang sebenarnya.


"Jack?" panggil Becca, yang sontak membuat Jack langsung menoleh ke arahnya. Raut wajahnya tampak sendu, dengan tatapan seakan ia telah melakukan kesalahan besar.


"Sejak kapan kau bangun?" tanya Jack.


"Baru saja..." lirih Becca yang tak kuasa membalas tatapan Jack. Tangan kanannya mengaitkan rambutnya yang berantakan ke daun telinga. Sedangkan tangan yang satunya memegang erat selimut ke depan dadanya.


"Becca, aku--"


Suara bel membuat ucapan Jack terjeda. Dia segera berjalan menuju lemari, lalu mengambil dua buah pakaian. Satu untuknya, dan satu lagi untuk Becca.


"JACK!" pekikan lelaki dari luar rumah terdengar nyaring. Dari suara bariton dan ketegasannya, jelas dia adalah David. Membuat Jack dan Becca kelabakan, dan bergegas mengenakan pakaian lengkap mereka.


"Jack, bagaimana? aku rasa David akan marah besar jika berhasil menemukanku di sini," ungkap Becca yang sudah bersiap pergi. Dia sudah mengenakan pakaian yang diberikan Jack. Gumpalan gaun yang dipakainya tadi malam sudah berada dalam genggamannya.


"Oke, untuk sekarang kau lebih baik bersembunyi. Saat keadaan sepi, kau bisa pergi lewat pintu belakang!" ujar Jack menenangkan. Becca pun mengangguk dan membiarkan Jack berjalan untuk membuka pintu depan.


Ceklek!


Jack membuka pintu, dan langsung disambut dengan wajah cemberut David. Lelaki paruh baya tersebut langsung melemparkan pertanyaan, "Dimana Becca?!"


Jack berusaha menunjukkan ekspresi tenang dan berkata, "Bukankah dia sudah pulang?"


"Apa?!" David tampak terkejut. Bola matanya sedikit di arahkan ke bawah. Hingga akhirnya dia menemukan sesuatu yang menarik di belakang Jack. Yaitu sepasang sepatu high heels berwarna merah muda. Namun dia tidak tahu kalau sepatu itu adalah milik putrinya. Meskipun begitu, David tetaplah mencurigai Jack. Alhasil dia sekarang melakukan tatapan menyelidik, kemudian mencengkeram kerah baju yang dikenakan Jack. Mata David menyalang penuh amarah. Apalagi ia dapat mencium aroma parfum yang menurutnya tidak asing.

__ADS_1


"Katakan yang sebenarnya Jack?" timpal David.


"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya Tuan Green," sahut Jack yang ikut meninggikan nada suaranya.


"Lalu... kenapa aku mencium parfum putriku di badanmu?" David semakin mengeratkan cengkeramannya.


Mata Jack membulat sempurna. Dia sudah tidak bisa membantah dengan bukti jelas yang dikatakan oleh David. Satu pukulan tinju langsung menghantam wajahnya. Jack pun oleng dan reflek melangkah mundur. Hingga David memiliki kesempatan masuk ke dalam rumah.


Becca yang mendengar keributan itu, bergegas keluar dari pintu belakang. Dia berlari menuju rumahnya sambil memeluk erat gumpalan gaun pestanya.


Sambil mengatur deru nafasnya, Becca sudah masuk ke rumahnya sendiri. Dia merasa lega, karena David tidak berhasil memergokinya. Sebelah tangannya memegangi bagian dada yang bergerak naik turun.


"Kau dari mana saja?!" tanya Jonas, yang tentu menyebabkan Becca tersentak kaget.


"Aku bermalam di rumah Tara." Becca menjawab seraya melajukan langkahnya menaiki tangga.


"Benarkah? tapi kenapa aku melihatmu keluar dari pintu belakang rumah Jack?" tukas Jonas dengan senyuman miring, yang jelas diniatkan untuk menggoda kakak perempuannya. Sebenarnya sedari tadi dia mengamati rumah Jack. Terutama saat David mendatangi rumah itu. Dan tanpa sengaja, dia memergoki Becca keluar dari pintu belakang.


"Jangan beritahu hal ini pada David!" tegas Becca. Jari telunjuknya menyentuh dada Jonas seakan tengah memberikan ancaman.


"Tidak akan. Jika kau mau mengabulkan permintaanku," ucap Jonas angkuh. Tangannya melipat di depan dada. Dia merasa percaya diri, karena berhasil mengetahui rahasia penting Becca.


"Jangan macam-macam!" balas Becca dengan keadaan mata yang melotot.


"Ya sudah, kalau begitu aku akan memberitahu David." Jonas bersikeras.


Becca memutar bola mata kesal. Dia tidak punya pilihan lain selain menyetujui keinginan Jonas. Selanjutnya, ia pun berjalan memasuki kamar dan segera membersihkan badan terlebih dahulu.


Becca sekarang berdiri di depan cermin, dengan setelan handuk kimononya. Dia tengah mengeringkan rambut panjangnya yang basah. Mendadak pikirannya teringat momen kebersamaanya dengan Jack. Pipinya perlahan bersemu merah. Hingga akhirnya sebuah senyuman perlahan terukir diwajahnya.


'Benar, aku harus membuat perjanjian dengan Tara, sebelum David mendatanginya lebih dulu!' batin Becca. Berderap keluar dari kamar mandi, kemudian meraih ponselnya yang masih terhubung dengan listrik. Dia sekarang menyalakan ponselnya, dan langsung menghubungi Tara melalui panggilan telepon.


"Becca! apa kau tahu berapa kali aku mencoba menghubungimu?!" timpal Tara dari seberang telepon.

__ADS_1


"I'm so sorry Tara, tetapi setalah kau meneleponku semalam, ponselku kehabisan baterai seperti biasa," terang Becca seraya mendudukkan diri ke atas kasur.


"Okay..." Tara berusaha memahami. "Umm... apa kebersamaanmu dengan Jack tadi malam berjalan lancar?" tanya-nya mengubah topik pembicaraan.


"Apa? bagaimana kau tahu?" Becca terheran.


"Aku dan Ben tadi malam sempat mencarimu. Kami menunggu di dalam mobil. Dan tanpa sengaja, kami melihatmu berciuman dengan Jack. Darn it! kalian terlihat... umm... saling jatuh cinta."


Becca mendengus kasar. Wajahnya seketika memerah padam, karena merasa tertangkap basah dan salah tingkah. Dia tidak tahu cara memberikan penjelasan yang tepat kepada Tara.


"Becca?! apakah kau akan terus diam sampai kue yang sedang kumasak matang?" ucapan Tara sontak menyadarkan Becca.


"Ya, sepertinya memang benar aku sudah menyukai Jack. Tetapi aku tidak tahu, rasanya tidak mungkin aku bisa menjalin hubungan dengannya," Becca berterus terang.


"Why not?!"


"Karena... dia tida berniat memiliki hubungan serius dengan siapapun..." lirih Becca sendu.


"Sial, kau membuatku penasaran. Aku tidak bisa mendengar semua ceritanya dari telepon. Kalau begitu nanti saat tengah hari, aku akan ke rumahmu, oke?" balas Tara, yang terdengar sedang bergesak-gesak. Ada suara-suara berisik berdentang di sekelilingnya.


"Baiklah. Tetapi berjanjilah kepadaku, kalau David bertanya kepadamu dimana aku tadi malam, tolong jawab aku sedang bermalam di rumahmu, okay?"


"Uuughh... ada apa ini? sepertinya hubunganmu berjalan baik dengan Jack," goda Tara.


"Sudahlah, pokoknya aku akan menceritakan semuanya saat kau ke sini nanti!" sahut Becca, kemudian segera mematikan telepon.


Sementara itu, David telah menyisir seluruh bagian rumah Jack. Dia tidak berhasil menemukan petunjuk kehadiran Becca. Padahal firasatnya sangat yakin, kalau putrinya itu berada di rumah Jack.


"Apa kau sudah puas mencari, Tuan Green?" tanya Jack yang sedari tadi duduk di kursi dekat meja makan. Dia merasa sangat lega, Becca dapat keluar dari rumah tepat waktu.


David membisu. Dia tampak menggelengkan kepala kecewa. Kakinya berderap menghampiri Jack.


"Mungkin sekarang kau berhasil mengelabuiku, tetapi jika lain kali aku menemukan kebenarannya, maka aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran!" tukas David. Jari telunjuknya beberapa kali di arahkan ke wajah Jack. Selanjutnya ia pun segera berlalu pergi keluar dari rumah.

__ADS_1


__ADS_2