
Becca perlahan menjauh, sehingga Ben pun melepaskan pelukannya. Kepalanya tertunduk lesu. Rasa dingin mulai terasa di badannya. Dia sekarang melingkarkan kedua tangan ke tubuhnya sendiri. Tetesan hujan tampak bergulir di wajahnya yang cantik.
"Ayo, kita lebih baik kembali ke mobil!" ajak Ben. Hingga Becca pun menjawab dengan anggukan kepala.
Ben segera membawa Becca kembali pulang. Saat di dalam mobil, keduanya saling terdiam. Apalagi Becca, dia benar-benar tidak tahu harus bicara apa. Baru kali ini, otaknya serasa kosong saat bersama Ben. Sebab dia sekarang merasa enggan untuk membicarakan perihal apapun.
"Becca, aku tidak ingin pernyataanku tadi terus mengganggumu. Jangan terlalu memikirkannya, sungguh... aku tidak mau menjadi bagian bebanmu..." tutur Ben lirih. Matanya terus tertuju ke depan. Mencoba menyetir dengan sangat hati-hati.
"Tidak apa-apa, Ben." Becca menjawab singkat. Dia tidak berani menatap ke arah Ben. Suasana di antara keduanya terasa sangat canggung.
"Becca, apapun yang terjadi, aku harap kau masih mau menerimaku untuk menjadi sahabat," ungkap Ben pelan. Becca lagi-lagi hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Sesampainya di rumah, Becca segera melepaskan sabuk pengamannya. Kemudian mengajak Ben untuk mampir sejenak. Lagi pula, sahabat lelakinya itu juga sedang basah kuyup seperti dirinya.
"Apa David sedang bekerja?" tanya Ben seraya menutup pintu. Dia berjalan mengikuti Becca dari belakang.
"Ya, seperti biasa," sahut Becca. "Oh iya, kau bisa membersihkan badan di kamar mandi bawah!" lanjutnya sembari berjalan menaiki tangga, tepatnya menuju kamar Jonas. Becca berniat meminjamkan Ben baju. Selanjutnya ia pun pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Setelah memakan waktu beberapa menit, Ben keluar dari kamar mandi. Dia segera mengambil baju yang telah disediakan Becca di atas sofa.
"Hai Ben," sapa Jonas yang baru saja muncul. Dia berderap menuju dapur. Ben lantas mengikutinya karena merasa sedikit haus.
"Kau dan Becca kenapa hujan-hujanan? bukankah kalian memakai mobil?" tanya Jonas sambil menyalakan kompor untuk membuat cokelat panas.
"Tadi mobilku sempat mogok. Jadi..." Ben mendengus sejenak dan melanjutkan, "kami agak kesulitan!"
Jonas hanya ber-oh untuk membalas penuturan Ben. Dia kembali menyibukkan diri membuat cokelat panasnya. Jonas juga tidak lupa untuk menawarkannya kepada Ben. Keduanya sekarang duduk bersebelahan sambil menikmati segelas cokelat panasnya masing-masing. Atensi mereka tertuju kepada televisi yang ada di depan.
__ADS_1
"Ben, kau menyukai Becca kan?" tanya Jonas tiba-tiba. Pertanyaannya sontak menyebabkan mata Ben membulat. Dia cukup terkejut.
"Menurutmu?" Ben berusaha tenang.
"Itu sangat jelas bukan?" Jonas merasa yakin. "Becca saja yang bodoh. Dia tidak menyadarinya hingga sekarang," tambahnya dengan gelengan kepala tak percaya.
"Sudahlah, kumohon jangan membicarakannya lagi," balas Ben mencoba rileks.
"Sejak kapan?" Jonas berusaha meneruskan topiknya.
"Entahlah, aku lupa."
"Itu pasti sudah sangat lama, sampai-sampai kau sudah melupakan waktunya. Becca benar-benar bodoh!" komentar Jonas, kemudian melanjutkan dengan menyeruput cokelat panas secara perlahan.
Di sisi lain Becca ternyata berdiri di tangga. Langkah kakinya terhenti kala mendengar pembicaraan Ben dan Jonas. Terpikir dalam benaknya, sebenarnya sudah berapa lama Ben menyukainya? rasa bersalah kembali menghantui. Terbayang banyak kenangan ketika dirinya sendiri benar-benar seperti orang bodoh yang terus bemesraan dengan lelaki lain. Bahkan tanpa memikirkan bagaimana perasaan Ben. Becca tidak habis pikir terhadap pertahanan yang dilakukan Ben hingga saat ini.
Jonas melirik ke arah Ben yang tampak bergumul dengan cokelat panas. Dia merasa ada yang aneh terhadap suasana di antara Becca dan Ben. Tidak seperti biasanya. Kakak perempuannya pun sekarang terlihat terdiam dan menundukkan kepala.
"Apa sesuatu terjadi di antara kalian?" tanya Jonas dengan intonasi suara yang lumayan tinggi. Hingga dapat ditangkap oleh kedua kuping Ben dan Becca.
"Anak ingusan sepertimu tidak usah tahu!" sahut Becca. Dia sangat ingin menyumpal mulut adiknya dengan sesuatu. Setidaknya dengan sepotong roti.
"Kau lebih baik belajar, Jonas!" ujar Ben ikut menimpali Jonas.
"Apa?!" Jonas tak percaya, dirinya malah tertohok. Padahal niatnya memulai pembicaraan, hanya ingin mencairkan suasana.
Suara bel terdengar. Atensi semua orang otomati menuju ke arah pintu. Becca yang kebetulan berdiri segera membukakan pintu.
__ADS_1
"Apa Jonas ada?" tukas Anna dengan senyuman singkatnya.
Mendengar suara Anna, Jonas bergegas bangkit dan menemui. Dia tidak bisa membendung perasaan senangnya.
"Jonas, kau harus ikut aku sebentar!" ucap Anna serius.
"Baiklah!" jawab Jonas sembari merapikan pakaian yang sedang dikenakannya.
"Kau tidak ingin mampir dahulu?" tawar Becca ramah kepada Anna. Namun dia langsung mendapat gelengan kepala, pertanda kalau Anna menolak ajakannya. Alhasil Becca pun membiarkan Anna dan Jonas pergi. Entah kenapa hari itu, dia sama sekali tidak berniat mencegah kepergian Jonas. Dia hanya tidak mau bersikap terlalu protektif seperti David. Mungkin salah satu alasannya, Becca tidak mau disamakan dengan ayahnya.
"Becca, sebaiknya aku juga pulang!" kata Ben yang sudah berada tepat di belakang. Becca pun menoleh dan menganggukkan kepala. Lalu membiarkan Ben beranjak pergi bersamaan dengan mobilnya.
...***...
Lagi-lagi Becca sendirian di rumah. Sudah puluhan kali dirinya mengintip dan memperhatikan rumah Jack. Namun lelaki yang dicari-carinya tak kunjung datang. Gadis itu sekarang melangkah memasuki kamar David, karena berniat mencari kunci mobilnya. Becca merasa kalau David yang menyembunyikan benda tersebut darinya. Apalagi setelah terjadi pertengkaran hebat yang menyebabkan semua kartu kreditnya terancam diblokir.
Becca tengah sibuk mengacak-acak barang yang ada di kamar David. Terutama di laci-laci yang ada di lemari kecil dekat kasur. Dia terus mencari, hingga pada akhirnya menemukan benda yang menarik perhatian. Yaitu puluhan surat yang disimpan David di laci paling bawah. Dahi Becca tentu mengerut heran. Dia segera membuka salah satu surat itu.
'Dear my friens, aku senang kita terus memiliki hubungan yang baik. Apalagi mendengar kabar kesehatanmu dan kedua anakmu. Mengenai betapa sulitnya dirimu mengurus mereka, aku rasa kau harus bisa bersabar. Tetap menjadi dirimu. Aku sarankan, kau lebih baik mengajak mereka liburan sejenak. Dan lupakan pekerjaanmu untuk sementara...'
"Oh, ternyata ide tentang liburan merupakan usul orang ini?" gumam Becca seraya membolak-balikkan surat dalam genggamannya. Mencoba mencari-cari nama pengirimnya. Nihil, Becca tidak mampu menemukan satu nama pun. Hanya ada huruf 'H' sebagai inisial nama yang tertulis di akhir surat.
"H? siapa?" Becca mengarahkan biji matanya ke kanan atas. Berusaha mengingat orang terdekat David yang mempunyai awalan dengan huruf H.
"Harry?" Becca hanya menemukan satu nama. Yiatu seorang lelaki berperawakan berisi, yang tinggal beberapa blok dari rumahnya. Dia segera menggeleng tegas, sebab tidak mungkin orang seperti Harry yang mengirim surat-suratnya kepada David. Apalagi keduanya sama sekali tidak memiliki hubungan yang akrab.
Becca sekarang duduk bersila di lantai. Kemudian mengambil seluruh surat yang ditemukannya. Membuka satu per satu demi mencari jawaban atas rasa penasaran yang kian menggebu.
__ADS_1