
Jack menghentikan mobil dengan pelan. Kemudian segera menoleh ke arah Becca. Dia dapat menyaksikan gadis itu tengah meremas-remas jari-jemarinya tanpa alasan. Tatapan Becca hanya tertuju pada kerumunan orang yang ada di sekitaran gedung acara.
"Apa kau gugup?" tanya Jack.
"Sedikit. Rasanya aku ingin kembali pulang saja," jawab Becca meragu.
"Kalau itu keinginanmu, aku tidak keberatan untuk membawamu kembali pulang!" sahut Jack bermaksud menggoda. Namun Becca malah merespon dengan kernyitan dikeningnya.
"Come on Jack, aku hanya mengucapkan kalimat perumpamaan. Lagi pula aku sudah banyak mengorbankan uang untuk datang ke acara ini." Becca menuturkan.
"Sebelum itu, kau yakin akan tetap mengenakan sepatumu?" Jack mengalihkan sorot matanya ke sepatu kets yang dikenakan Becca.
"Masalah sepatu, tentu aku yakin seratus persen!"
"Apa alasannya?"
"Aku memakainya karena tidak ingin kesulitan saat menari di lantai dansa," ungkap Becca dengan raut wajah yang terkesan polos. Membuat Jack tak kuasa untuk merekahkan senyuman.
"Ayo kita pergi!" ujar Becca, lalu segera keluar dari mobil. Jack pun mengikuti, dan memposisikan diri berjalan di sebelah Becca.
"Tunggu!" Jack menyuruh Becca berhenti. "Aku rasa kita harus bergandengan tangan, agar hubungan kita terkesan meyakinkan," lanjutnya seraya membuka lebar telapak tangannya. Becca lantas mengangguk dan setuju. Tangannya perlahan ditautkan erat dengan jari-jemari Jack.
Semua pasang mata langsung tertuju pada Becca dan Jack. Bagaimana tidak? untuk yang pertama kalinya selama beberapa tahun, baru sekarang Becca muncul di acara reuni. Apalagi dengan keberadaan Jack di sampingnya.
Dari kejauhan terlihat Tara melambaikan tangannya. Gadis tersebut sudah lebih dahulu datang bersama pacarnya.
"O.M.G, kau sangat berbeda malam ini Becca!" Tara menggelengkan kepala kagum beberapa kali. Selanjutnya sorot matanya beralih menatap Jack.
__ADS_1
"Kau juga terlihat luar biasa, Jack!" komentar Tara.
"Seharusnya kau lihat dulu betapa mengagumkannya dirimu, Tara!" balas Jack, hingga membuat Tara langsung tersipu malu. Sedangkan Becca yang mendengar hanya bisa tergelak, karena merasa ekspresi Tara begitu lucu.
"Hai Becca!" Emily datang untuk menyapa. Dia terlihat menggandeng kekasihnya dengan mesra.
"Hai Em," balas Becca malas.
"Kalian sangat serasi. Mungkin bisa menjadi kandidat pemenang raja dan ratu prom malam ini," kata Emily yang sama sekali tidak tulus. Sebenarnya dia hanya berlagak rendah hati. Sebab sudah tiga tahun berturut-turut, dia menerima penghargaan sebagai ratu dan raja prom reuni bersama pasangannya.
"Kami sama sekali tidak tertarik dengan hal seperti itu, iyakan Jack?" Becca menatap Jack penuh harap.
"Tepat sekali," jawab Jack yang sepenuhnya mengerti dengan kode yang diberikan Becca.
"Kalian sepertinya sudah berbaikan. Sebab terakhir kali aku melihat di super market, kalian terlihat saling tidak peduli," timpal Emily seraya melakukan tatapan menyelidik.
"Tunggu, tunggu, memangnya kau siapa? aku bahkan tidak mengingat namamu." Emily membalas tak acuh, kemudian beranjak pergi untuk berkumpul dengan teman-temannya.
"Shi*t!" umpat Tara kesal.
Tepat di depan pintu, Ben menatap Becca dari kejauhan. Dia tampak mengenakan setelan jas hitam yang lengkap dengan tuxedo. Dasi kupu-kupu terpaut rapi di kerah bajunya. Langkahnya segera digerakkan ke arah Becca. Raut wajahnya tampak sangat bertekad. Namun jalannya terhenti ketika menyaksikan Becca tersenyum lebar bersama Jack dan Tara.
"Becca, ayo kita menari, musik sudah diputar!" ajak Tara sambil menarik tangan Becca.
"Tunggu!" Becca menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Jack. "Ayo Jack, ikutlah!" ujarnya dengan senyuman lebarnya.
Jack menjawab dengan gelengan tegas. Pertanda dirinya sama sekali tidak ingin menggerakkan badan untuk menari. Bahkan dia mencoba beranjak pergi keluar ruangan. Akan tetapi Becca menarik paksa tangannya untuk ikut. Kaki Jack otomatis mengikuti langkah Becca. Entah kenapa dia tidak mampu untuk menolak. Alhasil dia sekarang terpaksa berdiri di lantai dansa.
__ADS_1
Jack mematung di tempat. Menyebabkan Becca tertawa geli, karena lelaki itu tampak sangat kaku dan tidak berekspresi. Becca juga tidak ingin memaksa Jack menari. Sebenarnya dia juga merasa tidak apa-apa jika Jack memilih pergi. Namun sepertinya lelaki berbadan jangkung tersebut tidak berniat meninggalkan lantai dansa.
Jack terpaku menatap Becca menari. Tarian gadis itu sangat bagus, tidak terlihat seperti orang amatir. Becca menggerakkan badan sesuai irama. Musik yang terdengar pun adalah lagu yang bertempo cepat dan penuh semangat.
"Kau benar, sepatu itu sangat membuatmu lihai menari," kata Jack sambil memajukan bibir bawahnya.
"Benarkan?" Becca merespon dengan senyuman lebar. Dia merasa bahagia dan terbawa suasana. Becca mulai menari mengitari Jack. Rambut panjangnya sesekali memberikan sedikit sentuhan ke wajah Jack. Terasa harum dan begitu lembut. Keterpakuan Jack berubah menjadi binar penuh kagum. Dia sepenuhnya telah terpesona dengan sosok Becca.
Awalnya Jack memang menganggap Becca sebagai gadis pembuat masalah. Tetapi setelah mengenal lebih jauh, yang dilihat Jack dari Becca hanyalah ketulusan dan kerapuhan. Gadis itu berbohong, karena perasaannya sangat tulus. Gadis tersebut membuat masalah, karena dia sangat rapuh.
Tanpa diduga Jack memegangi lengan Becca. Hingga mengharuskan Becca menghentikan tariannya. Jack menatap manik hazel Becca dengan binar penuh arti.
Di sisi lain tepatnya di kursi paling kanan. Ben duduk sendirian sambil terus memperhatikan Becca tertawa bersama Jack. Dia merasakan deja vu, karena di prom terakhir kali Ben juga melihat kejadian yang sama. Namun bedanya dahulu Becca menari bersama Richy. Suara beberapa perempuan yang mangajak Ben menari diabaikannya bagai angin lalu.
Ben tahu, seharusnya dia tidak pernah datang ke prom reuni. Akan tetapi rasa penasarannya sangat menggebu. Dia ingin melihat reaksi Becca saat bersama Jack. Ben tidak pernah menyangka, ternyata Becca menunjukkan reaksi yang sama seperti beberapa tahun lalu.
"Aku kan sudah bilang, kau sebenarnya punya banyak kesempatan." Tara tiba-tiba duduk di samping Ben. Dia memegangi segelas sirup dengan rasa stroberi.
"Aku hanya seorang pecundang..." lirih Ben menunduk malu.
"Shi*t! kau masih punya kesempatan Ben. Selalu! asal kau berani menjelaskan perasaanmu yang sebenarnya. Aku memang menyukai Jack, tetapi bukan berarti aku tidak mendukungmu!" Tara mencoba memberikan semangat.
"Aku tidak tahu. Aku mencintai Becca, dan aku senang melihatnya bahagia seperti sekarang." Ben kembali memandangi Becca dari jauh.
Tara merasa terharu dengan ucapan Ben. Dia berharap Becca dapat mendengar langsung kalimat Ben tadi. Mata Tara perlahan berembun, dia langsung memeluk Ben dari samping, sebagai bentuk empatinya.
"Kau juga pantas bahagia Ben, pikirkanlah tentang itu..." lirih Tara yang sudah kehabisan kalimat nasehat untuk sahabat lelakinya.
__ADS_1