Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 57 - Cerita Mencekam


__ADS_3

Becca yang mendengar gumaman menakutkan dari sang adik, segera melayangkan pukulan. Wajah James seketika meringis kala dirinya tidak menduga akan mendapat geplakan dikepala.


"Ouch! what's wrong with you?!" tukas James sebal.


"Aku hanya tidak suka dengan asal bicaramu tadi!" jelas Becca singkat. Kemudian memutar bola mata jengah.


"Tidak akan ada yang mati, yang penting semua stok makanan cukup. Jika tidak, mungkin Jack akan membunuh kita semua," ujar Anna sembari melirik ke arah Jack. Lalu mengambil kue kering yang ada di dalam toples. Sebuah choco chip dimasukkan ke mulutnya.


Becca tak kuasa menahan tawa. "Kau benar Anna, Jack memang psikopat!"


"Aku pernah melihat-- Aaaww!! Jack!" Anna tidak bisa melanjutkan ucapannya kala salah satu tangan Jack menjewer kupingnya.


"Kalian seperti kakak beradik. Persis seperti kami," komentar Jonas seraya ikut mengambil choco chip dari toples.


Suasana menyepi untuk sesaat. Hanya ada suara desau angin dan salju yang berasal dari luar rumah. Gumpalan es sudah memenuhi jalanan, dan berhasil membekukan segala genangan air yang ada.


"Aku jadi ingat, musim dingin yang aku lewati saat di New York," celetuk Becca. Membuat semua pasang mata kini tertuju kepadanya.


"Ada apa? kau tidak pernah cerita." Jonas menuntut penjelasan.


Becca lantas mengeratkan selimutnya ke badan. Lalu menatap wajah-wajah yang ada di samping kiri dan kanannya. Ekspresi semua orang terlihat begitu serius.


"Listen..." Becca menarik nafas sebelum bercerita. "Itu terjadi saat liburan natal. Kau ingatkan Jonas, aku tidak pulang ke rumah?" Jari telunjuknya mengarah kepada sang adik. Jonas langsung menjawab dengan anggukan kepala.


"Aku sendirian di asrama. Semua teman-temanku pergi. Ada yang pergi untuk pulang, berpesta dan berkencan di malam natal, sedangkan--"


"Tunggu, tunggu..." Jack menyela cerita Becca. "Kenapa kau memilih tinggal di asrama? apa temanmu tidak mengajakmu berpesta?" tanya-nya, yang seketika membuat paras Becca berubah menjadi cemberut.


"Becca, tidak punya banyak teman Jack. Terutama semenjak dia hobi menyebabkan banyak masalah!" Jonas menyahut pertanyaan yang tidak seharusnya dijawab olehnya.

__ADS_1


"Tidak! itu tidak benar Jack. Aku hanya..." Becca mendadak terdiam. Bola matanya mengarah ke atas, seakan dirinya tengah mencoba mengingat sesuatu. "Aku hanya ingin fokus belajar. Begitulah..." sambungnya dengan nada yang semakin memelan sampai ke akhir kalimat. Menandakan kalau dirinya memang tidak mempunyai teman saat masih kuliah.


"Oke, oke. Sekarang bisakah kita langsung ke intinya? aku sangat penasaran!" ungkap Anna. Melotot kesal ke arah Jack.


Becca akhirnya meneruskan ceritanya. "Saat itu, aku di dalam kamar. Asyik bermain laptop, namun tiba-tiba listrik padam. Persis seperti sekarang. Tetapi anehnya, hanya di gedung asramaku yang mengalaminya. Aku langsung menelepon pihak yang berjaga, dan mereka bilang akan segera melakukan pemeriksaan. Akibat merasa gelap, aku membuka tirai jendela dan saat itulah... aku melihat pantulan seseorang di kaca."


"Apa?!" tanya Jonas seraya mencondongkan kepala ke arah Becca.


"Bukankah itu kau?" tebak Jack yakin. Dia menyilangkan kedua tangan dalam selimut tebalnya.


Becca yang mendengar sontak menatap sebal kepada Jack dan membalas, "Tentu tidak. Maksudku, aku melihat sosok lain selain diriku dipantulan kaca!"


"Apa itu?!" tanya Anna mendesak. Rasa penasaran membuatnya menduga-duga. Cerita Becca yang terkesan horor, mulai menyebabkan jantungnya berdebar-debar.


"Sosok itu terlihat seperti bayangan hitam yang memakai mantel, dan berbadan lebih tinggi dariku. Aku yakin melihatnya dengan jelas!" imbuh Becca, kemudian menggidikkan bahunya.


"Tidak. Ketika ketakutan, aku bukan tipe orang yang penasaran untuk memeriksa. Kalian tahu kan?" terang Becca yang dilanjutkan dengan helaan nafasnya.


"Aku tahu, karena saat kamu merasa takut denganku, kau terus menutup tirai jendela kamarmu!" tukas Jack menatap Becca dengan sudut matanya.


Mata Becca terbelalak. Dia merasa tertangkap basah. Bingung harus memberikan alasan yang tepat. Sehingga lebih memilih mengabaikan komentar menohok dari Jack.


"Mungkin itu hanya mantel yang digantung di belakang pintu." Anna mencoba berpikir positif, mengenai pengalaman horor yang dialami Becca.


"I don't know, yang jelas setelah melihatnya aku langsung menghempaskan tubuh ke kasur dan memasang headset ke telinga. And then, i fell asleep."


Semua orang terdiam kembali. Sekarang suara desiran angin di iringi dengan bunyi dengkuran kecil dari Ben. Sedangkan Jack tampak santai mengutak-atik ponselnya yang hampir kehabisan baterai.


Bip...

__ADS_1


Selang beberapa detik ponsel Jack sudah mati sepenuhnya. Dia perlahan meletakkan ponselnya ke meja. Lalu menatap wajah semua orang di sekelilingnya. Mereka terlihat tegang dan serius.


Jack berseringai dan berucap, "Aku punya cerita lebih menyeramkan dari itu." Ungkapan tersebut seketika membuatnya langsung menjadi pusat perhatian.


"Sebenarnya ini terjadi, ketika aku baru saja pindah ke lingkungan ini," lanjut Jack memasang mimik wajah meyakinkan dan dipenuhi aura keseriusan. Hingga aura tersebut dapat menular kepada semua orang yang mendengarkan kisahnya.


"Apa? di sini?" Anna semakin dibuat tegang. Matanya bahkan tak mengerjap dalam selang beberapa detik.


Jack mengangguk. "Malam itu, ketika aku hendak pergi ke kamar. Aku terbiasa memeriksa kamera pengawas sebelum tidur. Aku mencoba melihat beberapa titik ruangan. Dan saat aku memeriksa kamera yang ada di depan rumah, aku menemukan..." Jack tidak menyebutkan bagian akhir. Malah menggelengkan kepala seolah tidak percaya.


Jack perlahan menyuruh semua orang untuk mendekat dan berkumpul di sekitarnya. Kemudian memberitahu dengan nada pelan, "Aku melihat seorang lelaki sedang membawa pistol..."


"Be-benarkah? apa kau melihat wajahnya?" tanya Jonas yang perlahan merasakan suasana menjadi semakin mencekam.


"Iya." Jack membulatkan mata dan menelisik ekspresi tiga insan yang mengelilinginya. "Dia adalah... David." Jack kemudian tersenyum lebar.


Anna yang merasa dibuat kesal langsung bangkit dan berdiri. Lalu melangkahkan kaki menuju sofa. Di ikuti Jonas yang tidak pernah absen untuk mengekori gadis tersebut kemana saja. Keduanya menunjukkan raut wajah cemberut dan sama-sama merebahkan diri ke sofa. Mereka tentu geram dengan cerita Jack.


Sudah jelas David selalu membawa pistol kemana-mana. Karena lelaki paruh baya itu terbiasa mengenakan seragam sherif. Wajar saja, sebuah pistol tidak akan lupa dipautkan di ikat pinggangnya.


Kini hanya Becca yang masih setia duduk di samping Jack. Dia sama sekali tidak marah dengan kisah abal-abal dari Jack tadi. Kemungkinan juga, gadis tersebut masih belum puas dengan rasa hangat yang dipancarkan perapian. Pandangannya terus tertuju ke arah kobaran api di depannya.


Jack dan Becca saling membisu lumayan lama. Keduanya sama-sama bergumul dengan pikiran masing-masing. Semua orang telah tertidur kecuali mereka berdua.


"Kau ternyata juga bisa bercanda. Meskipun tadi itu tidak lucu." Becca mendadak bersuara. Menyebabkan kepala Jack reflek menoleh ke arahnya.


"Sebenarnya, aku sudah lama tidak melakukannya. Makanya kesannya malah tidak lucu," respon Jack. Mengukir senyuman yang menular kepada Becca.


"Apa semuanya karena aku?" goda Becca sembari mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


__ADS_2