
Hari yang dijanjikan David telah tiba. Sekarang ia dan kedua anaknya sedang bersiap-siap untuk berangkat.
Becca terlihat mengenakan celana jeans. Dia memakai baju kaos garis-garis putih dan merah muda. Gadis itu melengkapi gayanya dengan jaket berbahan levis, warnanya sendiri senada dengan celana jeansnya. Tidak lupa sebuah topi berwarna biru navy terpaut menutupi puncak kepalanya.
"Oh my god! aku lupa mengisi daya ponselku!" gumam Becca sembari memegangi bagian kepalanya. Bola matanya meliar kemana-mana akibat diserang rasa panik. Di zaman sekarang bagaimana bisa seseorang melakukan perjalanan tanpa smartphone-nya. Apalagi power bank miliknya juga telah lama rusak. Sekarang mungkin ia hanya bisa mengandalkan laptop untuk dijadikan teman dalam perjalanan.
Becca hanya bisa mendengus kasar, kemudian segera menghubungkan ponselnya dengan listrik. Dia memanfaatkan waktu sepuluh menitnya sebelum keberangkatan.
Di sisi lain, tepatnya di kamar yang ada di sebelah kanan bilik Becca. Terdapat Jonas yang baru saja selesai mandi. Lelaki tersebut tengah sibuk menata rambutnya yang setengah basah. Atensinya hanya terfokus pada pantulan cermin dirinya sendiri.
"Come on, guys! kita berangkat sekarang!" David yang sudah lama siap berteriak dari bawah.
"Bisakah kita menunggu dua puluh menit lagi?!" Becca menyahut dengan suara yang tak kalah nyaring. Dia sebenarnya ingin mengisi daya ponselnya sebentar saja.
Berbeda dengan Jonas, yang segera meraih tas ransel dan keluar dari kamarnya. Dia reflek menghentikan langkahnya ketika kebetulan melewati kamar kakaknya.
"Becca, kau--"
"Kita tidak punya waktu!" ucap David yang tiba-tiba mendatangi kamar anak sulungnya. Dia tidak sengaja memotong perkataan putranya. Sekarang ia dan Jonas berdiri di depan pintu kamar Becca. Memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh sang pemilik kamar.
"Ayolah Becca!" desak David dengan dahi yang mengerut.
"Sebentar lagi, ini sangat penting, aku lupa mengisi daya ponselku!" terang Becca seraya menoleh ke arah pintu, untuk menatap lawan bicaranya.
Jonas sudah malas melihat pembicaraan di antara David dan Becca. Dia melangkahkan kaki lebih dahulu keluar dan menunggu di dalam mobil.
"Kau nanti bisa mengisinya lagi saat tiba di villa!" ujar David. Dia bergegas memisahkan ponsel Becca dengan tautan listrik. Kemudian segera berjalan keluar lebih dahulu. Becca yang melihat kelakuan sang ayah hanya bisa memutar bola mata jengah. Akhirnya ia pun terpaksa mengambil tas dan berderap mengikuti David.
Ketika Becca hendak memasuki mobil. Dia lebih memilih kursi belakang, karena merasa tidak nyaman duduk di samping David. Namun pupus sudah harapannya tatakala Jonas lebih dahulu menguasai kursi bagian belakang.
__ADS_1
"Jonas! minggir!" Becca mencoba menyisihkan sang adik sekuat tenaga. Tetapi Jonas tidak ingin kalah dengan cara terus berpegangan tangan ke jok mobil.
"Tidak! aku menguasainya lebih dahulu, kau duduk di depan bersama David!" ujar Jonas sambil merentangkan tangan beserta kakinya agar Becca tidak mampu duduk di dekatnya.
"Ada apa ini? kenapa kalian tidak pernah absen bertengkar?" timpal David yang baru saja selesai mengunci pintu rumah.
"Becca tidak mau duduk di dekatmu, katanya kau--" kalimat Jonas terhenti akibat tangan Becca menutup bagian mulutnya sangat rapat.
"Apa?" David mengernyitkan kening karena bingung dengan penuturan Jonas yang belum selesai.
"Tidak penting. Ayo kita berangkat!" Becca menyahut datar sambil mengukir senyuman yang dipaksakan. Dia mengurungkan niatnya duduk di kursi bagian belakang. David pun menganggukkan kepala dan segera berjalan memasuki mobil.
Becca lagi-lagi terpaksa mengikuti ayahnya. Sebelum itu, ia menyempatkan diri untuk menggetok kepala Jonas.
Dug!
"Aa! Becca, sakit!" protes Jonas seraya memegangi puncak kepalanya. Namun sama sekali tidak digubris oleh Becca, dia hanya memposisikan dirinya duduk di samping David. Lalu melakukan pose menyilangkan tangan di dada, perhatiannya tertuju pada kaca jendela yang ada di bagian kanannya. (Info: di luar negeri, letak setir mobil berada di sebelah kiri).
Sepuluh menit berlalu, hening menyelimuti suasana di dalam mobil. David sebenarnya sudah tiga kali memancing pembicaraan dengan kedua anaknya. Namun omongannya hanya seperti angin lalu di telinga Becca dan Jonas. Mereka merespon David hanya dengan kata 'Ya' dan 'Oh'.
Jonas terlihat senyum-senyum sendiri sambil memainkan jari-jemarinya di layar ponsel. Earphone terpasang di kedua telinganya. Lagu pop-rock terbaru milik Simple Plan menggenangi seluruh atensi dalam kepalanya.
Sedangkan Becca tampak sibuk dengan laptopnya sendiri. Pikirannya hanya tertuju dengan rolet yang ada di layar laptop. Dia sudah berhasil mendapatkan ratusan bitcoin dari game rolet online tersebut. Sekali-kali Becca tergelak akibat merasa terlalu girang karena sudah berhasil mengalahkan beberapa saingannya.
"Sepertinya menyenangkan." David melirik ke arah Becca.
"Ya!" jawab Becca dengan anggukan meyakinkan.
David harus berdecak kesal karena untuk yang sekian kalinya, dirinya tidak berhasil membangun komunikasi kepada kedua anaknya. Sudah dua kali lebih David menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Hanya ia sendirian yang merasakan kecanggungannya. Entah kenapa dia malah berharap ingin lekas-lekas menyelesaikan liburannya.
__ADS_1
Akhirnya, suasana hening menyelimuti cukup lama. David sudah enggan untuk bicara. Dia hanya diam saat mendengar suara tawa cekikikan dari Becca dan Jonas.
"Ayah, bolehkah nanti aku pergi melihat konser?" Jonas mendadak bersuara, dan berhasil membuat kedua alis David terangkat.
"Konser? dimana?" tanya David.
"Di pusat Grand Isle, lumayan jauh sih dengan villa kita, tapi--"
"Tidak! aku mengajak kalian liburan demi meluangkan waktu kebersamaan kita. Jadi, tidak ada yang boleh pergi saat semuanya sudah tiba di villa!" tegas David. "Lagi pula, pusat Grand Isle lumayan jauh dari keberadaan villa kita!" tambahnya dengan wajah cemberut.
"Bukankah alasanmu melakukan liburan ini karena Becca?!"
"Siapa bilang? ini untuk kita bertiga!" David kembali menegaskan. Jonas sontak terdiam dan hanya bisa menghela nafas panjang.
"Ya ampun, baru mau berangkat, entah sudah berapa banyak pertengkaran yang kita alami," sarkas Becca yang masih menyibukkan diri dengan laptopnya.
David yang mendengar sebenarnya tersinggung. Namun ia berusaha menenangkan diri, agar liburan keluarganya dapat berjalan lancar.
Setelah memakan waktu tiga jam lebih, tibalah David, Becca dan Jonas di villa.
"Ugh! sangat memprihatinkan. Kenapa kita tidak menyewa resor mewah di sebelah saja!" keluh Becca kala menyaksikan penampilan villa milik kakeknya yang tampak tua dan lusuh. Anehnya keberadaan villa kakeknya tersebut berada di dekat beberapa resor mewah. Makanya Becca merasa panas saat melihat bangunan nyaman yang berada tidak begitu jauh dari villanya.
"Bagus kan? bukankah di zaman sekarang yang klasik semakin digemari?" ungkap David yang mencoba berpikir positif. Dia merangkul pundak Becca dan Jonas sekaligus. Kemudian segera melangkahkan kaki memasuki villa.
Becca dan Jonas yang mendengar sontak saling bertukar pandang. Mereka sependapat kalau villa peninggalan sang kakek sama sekali tidak menarik. Keduanya sekarang bertugas mengambil barang-barang di dalam bagasi.
Kala itu penglihatan Jonas tertuju ke arah mobil yang berhenti di depan resor mewah. Dia menyipitkan matanya untuk memastikan mobil yang dirasa tidak asing untuknya.
"Becca, bukankah itu mobil Jack?" tanya Jonas sembari menunjukkan jari telunjuknya ke arah sebuah mobil cadillac.
__ADS_1
"Jack?" Becca yang mendengar lantas keheranan. Dia langsung memastikannya dengan memfokuskan seluruh atensinya ke arah mobil yang ditunjuk oleh Jonas. Dan benar saja, Jack terlihat baru keluar dari mobil.
"Shi*t!" Becca merasa tak percaya.