
Jack dan Becca saling bertukar pandang. Membiarkan waktu seolah berhenti. Jack terdiam seribu bahasa. Sepertinya dia lagi-lagi merasa enggan untuk memberikan penjelasan.
"Aku--"
"Sudahlah, aku telah menemukan jawabannya. Matamu tidak bisa berbohong!" Becca sengaja memotong ucapan Jack, karena dia merasa begitu yakin.
Tring...
Dering telepon mendadak berbunyi. Menyebabkan pembicaraan Becca dan Jack seketika terhenti. Jack bergegas bangkit dari tempat duduknya, dan segera mengangkat telepon. Dia berdiri membelakangi Becca dan fokus berinteraksi dengan seseorang yang menghubunginya.
Becca menghela nafas. Dia berpikir mustahil untuk mendapatkan penjelasan dari mulut Jack sendiri. Lelaki berbadan jangkung itu keras kepala, dan pasti tidak akan mau mengatakan yang sebenarnya. Alhasil Becca segera berdiri, berniat hendak melihat-lihat rumah Jack. Rasa penasarannya terlalu menggebu. Apalagi setelah dirinya sadar kalau hatinya sudah jatuh hati kepada Jack.
'Kemungkinan besar, dia menyembunyikan segalanya di lantai dua,' batin Becca sembari melangkah pelan menaiki anak tangga. Kepalanya sesekali menoleh ke arah Jack, untuk memastikan lelaki tersebut masih sibuk dengan telepon.
Becca mengedarkan pandangannya ke beberapa titik ruangan. Berharap dapat menemukan sesuatu tentang jati diri Jack. Namun dia tidak kunjung menemukan sesuatu hal penting. Bahkan di ruang kerja Jack sekali pun.
Sekarang hanya tinggal kamar Jack yang masih belum diperiksa. Becca sebenarnya merasa tidak yakin bisa mendapatkan sesuatu di sana. Sebab dia juga sudah sekian kali pergi ke sana, akan tetapi tidak ada satu pun hal yang menarik perhatiannya.
Becca menggerakkan kakinya dengan malas. Dia telah masuk ke kamar Jack. Jujur saja, bayangan ketika dirinya dan Jack bermesraan langsung terlintas dalam kepala. Gadis tersebut hanya mampu menggeleng tegas untuk menyadarkan diri.
Selanjutnya Becca melangkah lebih dalam dan memperhatikan setiap sudut kamar Jack. Hingga akhirnya dia iseng untuk membuka lemari.
Di kamar Jack ada dua lemari besar yang tersedia. Sama-sama berwarna putih tulang, namun memiliki ukiran kayu yang berbeda. Lemari pertama yang dibuka Becca, hanya penuh dengan pakaian. Tetapi saat dia membuka lemari kedua, mata Becca langsung membulat sempurna, karena keadaan lemari itu kosong melompong. Tidak ada satu pun pakaian di dalamnya.
__ADS_1
"Aneh!" gumam Becca, lalu meraba-raba ke dalam lemari. Becca kembali melebarkan mata saat dirinya menemukan sebuah pegangan di bagian dalam lemari, tepatnya di ujung kanan. Dia sangat yakin kalau apa yang dipegangnya itu adalah sesuatu seperti gagang pintu. Tidak! itu benar-benar sebuah gagang pintu.
Jackpot untuk Becca, karena dia telah menemukan ruang rahasia milik Jack. Tanpa pikir panjang dia segera membuka pintu ruangan tersebut. Kemudian menutup pintu lemarinya kembali.
Becca disambut dengan penampakan banyaknya pakaian milik Jack. Selain itu, juga terdapat beberapa aksesoris-aksesoris lelaki sebagai pelengkap. Seperti jam tangan, dompet dan sepatu. Merek pakaian yang dimiliki Jack bukan main, karena semua barang-barang miliknya berasal dari merek ternama.
"Apa Jack orang kaya yang menyamar?" ucap Becca, berbicara kepada dirinya sendiri. Pipinya tiba-tiba menjadi merah merona. Mengira kalau Jack adalah seorang lelaki kaya raya bak pangeran yang telah jatuh cinta kepadanya.
Becca terus berjalan ke dalam, dan perasaan girangnya pudar begitu saja, tatkala dirinya menyaksikan banyak senjata tersusun rapi di hadapannya. Benar, penutup tur dadakannya itu sangat mengagetkan. Anggapan Becca perihal Jack adalah orang kaya yang menyamar, seketika berubah.
Selain banyak senjata, di sana juga terdapat sebuah komputer beserta mejanya. Becca berpikir kalau di tempat dirinya sekarang berada, adalah ruang kerja Jack yang sebenarnya.
Becca lantas duduk di depan komputer. Dia mencoba mencari tahu segalanya melalui mesin canggih yang sekarang ada di depannya.
Di sisi lain, Jack baru saja menutup teleponnya. Dia menunjukkan raut wajah cemberut. Karena polisi yang tadi mengajaknya bicara di telepon, benar-benar membuatnya kesal.
"Becca, aku harus--" Jack menjeda ucapannya saat tidak melihat Becca di sofa. Dahinya sontak mengukir kerutan. Dia mengedarkan penglihatannya ke segala arah. Namun keberadaan Becca tetaplah tidak ditemukan.
'Apa dia pergi?' benak Jack bertanya-tanya. Dia juga tidak lupa mengamati ke arah rumah Becca.
"Becca?" panggil Jack seraya menatap ke arah tangga. "Mungkin dia sudah pergi..." Jack menganggap Becca telah pergi dari rumahnya. Lelaki tersebut lantas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia sama sekali tidak curiga dengan menghilangnya Becca secara mendadak. Baginya, jika gadis itu bisa datang tiba-tiba, maka dia mungkin saja bisa pergi dengan cara yang sama.
Setelah sekitar lima menit membersihkan badan, Jack keluar dari kamar mandi, sambil mengenakan handuk di bagian pinggangnya. Dia berjalan menuju ruang ganti, atau lebih tepatnya ruang rahasia yang selama ini dia sembunyikan dengan baik. Atau begitulah yang dia kira sampai sekarang.
__ADS_1
Becca tersentak kaget, ketika mendengar suara pintu terbuka. Jantungnya mendadak berdegub sangat kencang. Karena dia baru menemukan sesuatu yang mengejutkan setelah menelusuri komputer. Benar, dia sekarang tahu siapa Jack yang sebenarnya. Perasaannya terhadap lelaki tersebut sontak meragu, sebab Jack adalah seseorang yang bisa dibilang berbahaya.
Becca lantas mengambil salah satu senjata yang ada di dekatnya. Dia melakukannya untuk melindungi dirinya sendiri, kalau-kalau Jack mendadak mencoba menyakitinya.
"Becca! apa yang kau lakukan?!!" ujar Jack dengan mata yang terbelalak. Dia berhasil memergoki Becca. Jack mencoba mendekat, namun terhenti, karena Becca sudah menodongkan senjata ke arahnya.
"Aku sudah tahu semuanya! kau seorang kriminal!" ucap Becca. Matanya mulai berembun, karena hati dan otaknya sedang bertengkar hebat.
"Tenanglah Becca..." Jack mengangkat kedua tangannya sambil melirik ke layar komputer. Di sana dia dapat melihat e-mail miliknya, yang berisi berupa perintah mengenai tugasnya.
Setelah memastikan, Jack kembali mengalihkan bola matanya ke arah Becca. Dia berusaha meyakinkan gadis yang kepercayaannya telah goyah itu.
"Becca, aku memang seorang buronan. Tetapi itu dahulu... tidak sekarang! percayalah kepadaku. Bukankah kau ingin mendengarkan penjelasannya?" tutur Jack masih dalam keadaan tangan yang di angkat ke atas.
Becca terdiam sejenak. Dia memanglah butuh penjelasan. Alhasil dia lebih memilih pendapat hatinya dan mengabaikan segala logika di otaknya. Ucapan Jack berhasil meluluhkan Becca, hingga gadis itu pun berhenti menodongkan senjata.
"Oke, aku akan memakai baju terlebih dahulu. Kau bisa menunggu di luar." Jack memberikan saran.
"Tidak! aku akan tetap di sini. Kau ganti baju saja, lagi pula, semua pakaiannya ada di belakangmu!" balas Becca, menolak mentah-mentah. Dia sepertinya masih belum bisa mempercayai Jack. Buktinya Becca sekarang berdiri di depan jejeran senjata, takut kalau Jack akan mengambil salah satu benda tersebut untuk menyerangnya.
"Baiklah!" Jack terpaksa menyetujui Becca. Dia segera melepaskan handuknya tanpa aba-aba.
Becca yang melihat sontak berbalik badan. Wajahnya berubah menjadi merah padam.
__ADS_1