
Becca melangkah mengikuti David. Raut wajahnya sedikit muram. Dia sebenarnya tidak mau meninggalkan Jack, akan tetapi lebih sulit menolak ajakan ayahnya sendiri. Banyak rasa penasaran yang menyelimuti pemikirannya tentang Jack. Namun Becca tetaplah menepis bahwa Jack adalah orang jahat. Semuanya terbukti dari kepedulian lelaki tersebut terhadapnya. Ditambah perasaannya sudah terbawa untuk mengagumi sosok Jack.
"Ayo, biar kakimu di obati dahulu." David membawa Becca ke pihak medis yang kebetulan sudah datang. Telapak kaki Becca yang berdarah segera diobati.
"Kau pokoknya harus jelaskan semuanya. Kenapa kau pergi ke sini dan bukannya ke pesta prom? Lalu kenapa Jack membawamu kabur dari pintu belakang?" timpal David sembari melakukan pose berkacak pinggang. Nadanya terdengar sangat serius.
"Aku tidak tahu, aku hanya mengikuti arahannya!" tegas Becca yang dilanjutkan dengan dengusan kasar.
"Aku sangat bingung! kenapa kau selalu saja berada di tempat yang membuatmu kena masalah?! tempo hari di kampus, dan sekarang apa lagi? di rumah pengusaha Aaron. Becca, harusnya kau berpikir dahulu sebelum memilih untuk melakukan sesuatu!" Omel David dengan nada penuh penekanan. Tangannya beberapa kali menunjuk ke arah sang putri. Dia sepenuhnya bertingkah seperti orang tua pada umumnya.
"Apa?! kenapa kau menyalahkanku? kau pikir aku tahu semua kejadian buruk akan terjadi?!" Becca yang tadinya duduk langsung berdiri, demi membalas tatapan David yang tampak tersulut amarah.
"Kau--"
"David!" panggilan rekan David yang bernama Stevan mendadak datang. Dia memberitahu kalau Becca juga harus ikut ke kantor polisi untuk memberikan penjelasan.
"Sekarang kau tidak punya pilihan lain selain ikut ke kantorku." David mengerutkan dahi kesal. Selanjutnya dia segera melangkah menuju rekan-rekannya berada.
Kaki Becca telah selesai di obati. Sebenarnya lukanya tidak terlalu parah. Hanya goresan kecil yang mengalirkan sedikit darah. Becca sepenuhnya mampu berjalan dengan normal. Pandangannya mengedar ke segala arah demi menemukan kehadiran Jack. Namun indera penglihatannya sama sekali tidak menangkap sosok yang dicari-carinya.
...***...
Jack masih mematung di tempatnya. Membiarkan David dan Becca terus berjalan menjauh. Dia sebenarnya merasa agak bersalah, karena nekat membawa Becca ikut bersamanya. Sebab Jack tidak pernah memperkirakan ada serangan yang akan terjadi. Ponselnya mendadak mengeluarkan suara dering dan membuyarkan segala kekhawatirannya.
"Jack, kau kenapa masih diam di sana? kita tidak seharusnya berurusan dengan polisi terlalu jauh. Jangan bilang kau mencemaskan Becca," Mike menimpali dari seberang telepon.
"Ya, sedikit. Aku akan mengurus masalah ini secepatnya. Kau tidak perlu khawatir!"
__ADS_1
"Apa?! tapi--"
Jack segera mematikan panggilan telepon tanpa mendengarkan terlebih dahulu ucapan Mike. Dia sekarang berjalan menuju halaman depan rumah Aaron. Dari kejauhan Jack dapat menyaksikan Becca dan David tengah sibuk berdebat. Di sebelah kanannya juga tampak Aaron yang sedang mendapatkan beragam pertanyaan dari polisi. Lelaki berambut perak itu melambaikan tangan ke arah Jack.
"Kau memanggilku?" tanya Jack ketika sudah tiba di hadapan Aaron.
"Ya, aku ingin mengatakan kepada polisi, bahwa kaulah yang menolongku," ungkap Aaron sambil menepuk pelan pundak Jack. Dia sangat berterima kasih atas apa yang telah dilakukan Jack. Padahal, Jack punya maksud tersendiri dalam melakukan aksinya.
Meskipun mendapatkan pembelaan dari Aaron, Jack tetaplah harus ikut ke kantor polisi. Setidaknya dia bertindak sebagai saksi yang harus menjelaskan secara detail kejadian penembakan. Apalagi memang Jack-lah yang pertamakali menyadari gerak tersangka sebelum menarik pelatuk pistolnya.
Jack ikut bersama Aaron sebentar masuk ke rumah. Saat itulah Becca tidak mampu menemukan kehadirannya. Namun setelah beberapa saat kemudian, Jack muncul dan bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Satu per satu semua orang pergi menuju kantor polisi. Termasuk Becca dan Jack. Tetapi kali ini keduanya berada di mobil yang berbeda.
"Dugaan awalmu tentang Jack ternyata benar. Sekarang aku juga merasa ada hal yang aneh darinya," ungkap David seraya berkutik dengan alat kemudinya.
"Tetapi dia membiarkan kakimu terluka? apa itu bisa dibilang lelaki yang baik?!"
"Aku bahkan tidak menyadari kakiku terluka. Apalagi Jack, kami terlalu sibuk menyelamatkan diri," jelas Becca tenang. "Lagi pula, lukanya juga tidak terlalu dalam. Kau tidak usah berlebihan!"
"Apa kau bilang? berlebihan?!" David menggeleng kesal sejenak lalu melanjutkan, "orang tua mana yang tidak khawatir saat mengetahui anaknya berada di tempat berbahaya. Bagaimana jika peluru itu mengenaimu?! bagaimana jika pelakunya melakukan hal yang lebih buruk?"
"Tapi yang penting tidak terjadi kan?!" sahut Becca seraya mengulurkan kedua tangan.
"Tetap saja!! mulai besok carilah pekerjaan, agar kau bisa menyibukkan diri seperti orang-orang normal lainnya." David menunjukkan mimik wajah masam penuh akan kekesalan. Tanpa sengaja, dia terus menginjak pedal gas lebih keras. Hingga mobilnya melaju dalam kecepatan tinggi. Namun karena kala itu waktu sudah lewat tengah malam, jalanan tampak sangat sepi.
"Kau menganggapku tidak normal?!" Becca merasa tersinggung dengan ungkapan David. Dia terperangah tak percaya. Perdebatan yang sempat tidak terjadi dalam beberapa hari, akhirnya terjadi lagi.
__ADS_1
"Tepat sekali. Dengan usiamu saat ini, seharusnya kau tidak terlalu bersantai! carilah pekerjaan, atau kalau kau mau lanjutkan kuliahmu!"
"Apa-apaan! aku bisa mengurusnya sendiri. Jangan mendesakku! kau pikir semuanya mudah semudah menjentikkan jari?!"
"Hentikan! kita lanjutkan pembicaraan ini saat kau selesai melakukan persaksian." David mencoba tenang dan mengabaikan segala perkataan putrinya. Dadanya bertempo naik turun akibat berusaha menahan pitamnya.
"Harusnya kau tunjukkan kepedulianmu itu sejak dahulu, bukannya terus menghabiskan waktumu dengan pekerjaan berhargamu itu," ucap Becca tanpa menatap lawan bicaranya. Sedangkan David hanya terdiam, karena tidak berniat membuat perdebatan semakin panjang. Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di kantor polisi.
Becca langsung dipersilahkan untuk menjelaskan apa yang diketahuinya ketika ada di pesta. Dia menghabiskan hampir setengah jam untuk memberikan keterangan. Gadis tersebut sekarang berjalan keluar dari kantor polisi.
Becca tidak berniat sedikit pun menemui David. Kebetulan saat itu dia menyaksikan Jack baru saja masuk ke mobilnya. Tanpa pikir panjang, Becca bergegas mengikuti Jack.
"Becca?" Jack mengerutkan dahi, kala melihat Becca sudah duduk di sebelahnya.
"Kau akan pulang kan? kalau begitu aku ikut denganmu saja!" ujar Becca. Tidak peduli dengan ekspresi bingung yang ditampakkan wajah Jack.
"Apa David tahu?" tanya Jack.
"Ya!" Becca menjawab singkat. Satu kata yang diucapkannya, hanyalah sebuah kebohongan. Dia melakukannya karena sudah lelah berdebat dengan David. Kembali pulang bersama Jack mungkin lebih baik.
Pada akhirnya Jack menjalankan mobilnya. Menuruti keinginan gadis yang terlihat cemberut di sampingnya. Keduanya saling membisu. Membiarkan suara mesin mobil bergema. Sorot lampu-lampu dijalan sesekali memberikan pendar ke dalam mobil.
Mata Becca perlahan berkaca-kaca. Entah apa yang membuat dirinya menjadi terbawa perasaan. Mungkin segala kalimat yang dikatakan David beberapa jam lalu membekas dalam ingatannya.
"Apa kau pernah merasa lelah?..." gumam Becca yang mendenguskan hidungnya sekali. Sepertinya perasaan kalutnya sudah menyebabkan hidung dan matanya sedikit ber-air.
Jack menatap Becca selintas. Dia mencoba mencari kalimat yang pantas untuk merespon ucapan Becca. Lagi-lagi, dirinya kembali mengingat tentang masa lalu. Terlintas dalam benak Jack untuk menceritakan semua masa lalunya pada Becca. Namun Jack tahu dia harus mampu membatasi diri.
__ADS_1