Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 15 - Bertemu Mantan Pacar


__ADS_3

David berusaha mencari peralatan memancing, tetapi dia hanya berhasil menemukan alat pancing yang rusak. Alhasil lelaki paruh baya itu berniat ingin membeli saja ke toko terdekat. Dia kembali masuk ke villa untuk memberitahukan kepergiannya kepada Becca dan Jonas.


"Becca, aku akan pergi membeli peralatan pancing. Jagalah dirimu dan Jonas!" ujar David.


"Kau tidak akan lama kan?" Becca memastikan.


"Entahlah, semoga mini market terdekat ada menjual alat pancing!" jawab David, kemudian bergegas pergi dengan menggunakan mobilnya.


Tak! tak! tak!


"Becca! David kemana?" Jonas turun dari tangga dan langsung bertanya kepada kakaknya.


"Katanya dia mau membeli alat pancing!" balas Becca datar.


"Great!" Jonas kegirangan.


"Kenapa? kamu mau kemana?" timpal Becca yang tidak sengaja menyaksikan selebrasi kecil Jonas.


"Tidak ada, aku hanya senang bisa beristirahat dari semua aturan David." Jonas menjelaskan, lalu kembali berjalan menuju kamarnya.


Setelah merasa cukup mengisi perut, Becca pergi ke gudang. Dia mencari sepeda, karena berniat mau jalan-jalan untuk sejenak. Jujur saja, villa tua kakeknya terasa membosankan, meskipun dia telah melakukan hal paling menyenangkan sekali pun.


"Astaga, sepertinya ban sepedanya sudah lama tidak dipompa!" gumam Becca sembari menggeleng tak percaya. Dia pun mengambil alat pemompa ban yang kebetulan sudah ada di gudang.


Becca mengencangkan ban muka dan belakang. Selanjutnya, ia pun segera mengayuh pedal sepedanya.


"Jonas! aku akan pergi sebentar. Jangan kemana-mana!" Becca memekik lantang sambil terus melajukan sepedanya. Jonas yang mendengar berseringai, dia pun bergegas mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Sekarang Becca menyusuri jalanan dengan sepedanya. Dia mengenakan dress selutut berwarna jingga. Tas selempang kecil melintang di sebelah bahunya. Tidak lupa sebuah topi pantai berwarna putih untuk melindungi puncak kepalanya dari terik matahari.


Becca menyusuri jalanan yang ia tahu. Sesekali pandangannya mengedar ke samping kanan dan kiri. Dia sudah lumayan lama bersepeda. Hingga tak terasa, jarak dirinya dengan villa sudah lumayan jauh.


Awan gelap perlahan muncul. Padahal Becca tadi sangat yakin, kalau cuaca sangat cerah. Dahinya hanya mengerut heran, tetapi itu tidak membuatnya berhenti mengayuh pedal sepeda.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, angin kencang mulai datang, dan berhasil mengibarkan dress selutut yang dikenakan Becca. Dia berhenti sejenak untuk memegangi dressnya. Ketika dirinya terlalu sibuk bergumul dengan dressnya, tanpa diduga topi pantainya terlepas dan terbawa udara.


"No!" Becca menatap topi pantainya yang terbang melayang jauh. Tangannya tak sanggup untuk meraihnya. Dengan hela nafas panjangnya, Becca terpaksa harus merelakan topinya.


"Becca, kau memang sangat sial!" Becca mengutuk dirinya sendiri. Dia memutar balik sepedanya dan berniat menghentikan perjalanan.


Bress!


Hujan deras mendadak turun. Membasahi setiap jengkal tubuh Becca. Alhasil gadis tersebut bergegas berteduh ke sebuah cafe terdekat. Dia sekarang berdiri di teras cafe sambil memeluk badannya sendiri.


Tampaknya terpaan angin belum usai menjahili Becca. Sebab kencangnya angin berhasil membuat bulir-bulir air hujan menghantam wajahnya. Sekarang dia tidak punya pilihan lain selain masuk ke dalam cafe.


Becca berjalan menuju meja kasir. Ia berniat memesan minuman yang dapat menghangatkan badannya.


Setelah menerima minumannya, Becca bergegas mencari tempat untuk duduk. Pandangannya mengedar ke segala penjuru. Hingga atensinya tertuju kepada seorang lelaki yang langsung membuat jantungnya berdetak hebat. Tubuhnya mematung di tempat.


"Becca?" lelaki itu menyadari kehadiran Becca. Dia terlihat melebarkan matanya dan tersenyum tipis.


"Richy..." ucap Becca pelan. Dia melangkahkan kakinya untuk mendekat.


"Aku--"


"Beb, maaf kalau aku terlalu lama!" suara seorang wanita berhasil menjeda ucapan Becca. "Siapa dia?" lanjutnya sambil memperhatikan Becca dari ujung kaki hingga kepala. Tangannya melingkar ke pinggang Richy dengan mesra.


Fokus Becca sontak teralih kepada wanita itu. Dia mencoba mencerna apa yang sedang dilihatnya.


"Dia Becca, teman SMA-ku!" kata Richy seraya mematri senyuman tak berdosa diwajahnya. Becca yang mendengar hanya terperangah. Hatinya terasa sangat sakit. Apalagi kala Richy hanya menyebutnya sebagai seorang teman. Padahal Becca ingat betul kenangan indahnya bersama Richy saat SMA.


"Oh, kenalkan aku Donna, pacarnya Richy!" ucap wanita yang memeluk Richy dengan mesra. Wajahnya tersipu malu ketika menyebut kata pacar. Dia dan Richy bertukar tatapan cinta.


Becca melangkah mundur. Pikirannya kosong karena sakit hatinya berhasil menguasai perasaannya. Hingga tanpa sengaja kakinya tersandung meja yang ada di belakang.


Karena tidak mampu menjaga keseimbangannya, Becca langsung terjatuh ke lantai. Minuman yang ada di genggamannya tumpah begitu saja. Semua pasang mata tertuju kepada Becca.

__ADS_1


Di sisi lain, tepatnya di meja pojok sebelah kanan. Ada seorang lelaki yang sedari tadi memperhatikan Becca. Dialah Jack, yang kebetulan sedang bersama teman misteriusnya. Jack hanya menatap datar. Meskipun ia telah melihat Becca terjatuh ke lantai.


"Apa kau mengenalnya?" tanya teman Jack. Namanya Michael, Jack sendiri sering memanggilnya dengan sebutan Mike.


"Dia tetanggaku." Jack menjawab singkat. Mike yang mendengar lantas berusaha mengamati wajah Becca dengan seksama.


"Bukankah dia gadis mabuk yang memberimu pizza?" tebak Mike yang merasa belum yakin.


"Tepat sekali!" sahut Jack.


"Sorry! i'm so sorry!" Becca lekas-lekas berdiri dengan gelagapan. Dia meliarkan bola matanya kemana-mana. Hingga gadis tersebut baru menyadari akan kehadiran Jack.


"Jack!" panggil Becca dengan suara lantang. Sebelah tangannya terangkat ke atas. Senyuman lebar terukir diwajahnya. Dia berusaha menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.


Jack yang mendengar segera menoleh. Dia menatap Becca penuh tanya. Sedangkan Richy dan kekasihnya reflek menoleh ke arah lelaki yang dipanggil oleh Becca.


"Dia pacarku!" ujar Becca memberitahukan kepada Richy. Kemudian berderap menghampiri Jack.


"Jack berdirilah!" perintah Becca dengan nada pelan. Dia sudah berada di hadapan Jack.


"Untuk apa?" Jack mengernyitkan kening.


"Hurry up! (Cepat!)" desak Becca. Jack menatap Mike untuk sejenak, namun teman berkulit hitamnya itu hanya merespon dengan gidikkan bahu. Jack lantas bangkit dari tempat duduknya. Dia berdiri sekarang.


"Maafkan aku Jack!" ucap Becca, lalu menangkup wajah Jack. Selanjutnya ia pun menempelkan bibirnya tepat ke bibir Jack. Mike yang menyaksikan sontak membulatkan mata. Jack sama terkejutnya dengan Mike. Dia tidak menyangka Becca akan melakukan hal se-ekstrim itu.


Karena masih dirundung perasaan bingung, Jack pun melepaskan tautan bibirnya dari bibir Becca. Dia mendorong Becca sedikit menjauh.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Jack sambil menyalangkan mata.


"Aku hanya ingin balas dendam kepada mantan pacarku. Aku ingin menunjukkan kepadanya bahwa aku baik-baik saja!" jelas Becca dengan tatapan getirnya, seolah telah putus asa.


Jack kembali mengerutkan dahi. Dia memperhatikan penampilan Becca sekarang, dan gadis tersebut tidak terlihat baik-baik saja. Baju yang dikenakannya setengah basah. Rambut Becca bahkan terlihat berantakan.

__ADS_1


'Bagaimana mantan pacarnya bisa menganggap dia baik-baik saja?' batin Jack kala menyaksikan keadaan Becca.


__ADS_2