Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 13 - Malam Barbeque


__ADS_3

Matahari terlihat semakin turun ke ufuk barat. Pertanda kegelapan akan segera menyapa. Gelombang laut semakin naik. Becca duduk di balkon sendirian. Menatap indahnya jingga yang menghiasi cakrawala. Angin laut terus menerpa rambut panjangnya. Sesekali gadis itu mengaitkan beberapa helai rambut ke daun telinga. Kedua tangannya terlipat santai di atas pagar kayu balkonnya.


David kebetulan menyaksikan kesendirian Becca. Dia pun segera menggerakkan kakinya untuk mendekati putrinya. Sekarang lelaki paruh baya tersebut memposisikan diri di sebelah Becca. Dia memasang gaya yang sama persis seperti Becca.


"Ada apa David?" Becca memulai pembicaraan.


"Aku hanya ingin bicara," sahut David.


"Bicaralah." Becca menyahut datar.


"Aku... benar-benar minta maaf, karena tidak bisa menyelamatkan Sarah tepat waktu." David berterus terang. Sedangkan Becca sengaja tidak bicara, ia ingin mendengar penuturan ayahnya lebih lengkap.


"Aku seharusnya bisa lebih cepat saat itu," sambung David lagi. Kemudian menundukkan kepala dan membisu.


Becca perlahan mengalihkan pandangan ke arah sang ayah dan berucap, "Jadi selama ini kau menganggap aku membencimu karena itu?" Becca menggelengkan kepala. Ucapannya membuat David reflek membalas tatapannya.


David menunjukkan raut wajah seolah kebingungan. Dia tidak mengerti dengan penuturan anak sulungnya tersebut.


Becca sebenarnya belum siap mengungkapkan seluruh kekecewaannya kepada David.


"Sudahlah, lebih baik kita menyiapkan semua bahan kebutuhan untuk barbeque!" ucap Becca seraya bergegas pergi meninggalkan David. Dia tidak berniat terlalu lama bernegoisasi mengenai perasaannya.


Malam telah tiba, David dan Jonas terlihat sudah meletakkan daging ke atas alat pemanggang. Beberapa jagung juga tampak di bakar bersamaan. Sedangkan Becca menyiapkan piring di meja, termasuk bermacam-macam sayuran dan karbohidrat sebagai pelengkap. Ketiganya sekarang berada di taman yang terdapat di samping kanan villa.


Beberapa saat kemudian bel tiba-tiba terdengar. Jonas pun bergegas membukakan pintu. Dia kembali muncul bersama dengan Jack. Becca yang melihat sontak membulatkan mata.


"Jack!" David menyambut kedatangan Jack dengan penuh semangat. "Ayo kemarilah, bantulah aku memanggang dagingnya!" lanjutnya yang disertai rekahan senyuman.


"Hai Becca," sapa Jack sembari tersenyum tipis, lalu berjalan menghampiri David. Becca terpaksa membalas senyumannya meski begitu enggan.


"Kenapa dia bisa datang?" tanya Becca pelan kepada Jonas yang sedang berdiri di seberang meja.


"Ayah mengundangnya tadi sore!" jawab Jonas, dia mencoba menilik ekspresi sang kakak. Hingga rasa curiga pun muncul dalam benaknya. "Kenapa kau sangat paranoid pada Jack? kau menyukainya?" tukasnya. Dia berhasil membuat Becca melayangkan satu pukulan ke kepalanya.

__ADS_1


"Jangan mengada-ngada!" tegas Becca, yang sekarang mengarahkan kepalan tinju ke arah Jonas. Dia bermaksud untuk mengancam.


"Ahaha! setelah melihat kemarahanmu, aku malah semakin yakin kalau kau benar-benar menyukainya!" balas Jonas setelah puas tergelak.


"Jonas!!!" Becca kelepasan. Dia tidak sengaja meninggikan suaranya, sehingga atensi David dan Jack reflek tertuju kepadanya.


"Bisakah kalian berhenti bertengkar! tolong jangan hancurkan malam barbeque kita!" tegur David dengan suara lantang. "Begitulah kebiasaan mereka," ujarnya lagi yang sekarang berbicara kepada Jack.


"Terlihat menyenangkan." Jack merespon.


"Bagimu mungkin tampak menyenangkan, tetapi kau harus tahu betapa melelahkannya menghadapi kelakuan mereka." David menerangkan.


Becca hanya bisa mendengus kasar, setelah mendapat teguran dari sang ayah. Dia mencoba memejamkan mata sejenak, agar perasaannya dapat lebih tenang. Jonas yang kebetulan menyaksikan raut wajah sang kakak berusaha sebisa mungkin menahan tawanya. Lelaki itu selalu ketagihan menggoda Becca.


"Aku setuju kok dengan Jack. Dia orang yang ramah, dan lebih baik dari pada mantan pacarmu dulu!" timpal Jonas sambil mengarahkan bola matanya ke kanan atas. Dia mencoba mengingat nama lelaki yang pernah berpacaran dengan Becca.


"Hentikan!" geram Becca sekali lagi.


Sekarang hidangan telah tersedia di atas meja. Semua orang segera duduk di posisinya masing-masing. Kebetulan kursinya hanya ada empat.


Jonas yang telah menganggap kakaknya menyukai Jack, bergegas memilih tempat duduk di samping David. Dia ingin membiarkan Becca dan Jack duduk berdampingan. Sekarang Becca hanya mampu memarahi sang adik dengan pelototan tajamnya.


"Ayo kita makan!" ucap David. Alhasil Becca dan lainnya pun segera melahap makanannya masing-masing.


"Waaaah! enaknya..." ungkap Jonas, yang terpesona dengan rasa daging sapi yang bergumul dalam mulutnya.


"Kau sepertinya anak yang ceria ya Jonas!" tegur Jack.


"Jika di rumah, tapi kalau di sekolah dia hanya seorang pecundang," Becca menyahut.


Jonas perlahan menundukkan kepala. Semangatnya seakan langsung pudar begitu saja. Dia memang tidak bisa membantah perkataan Becca, yang benar adanya. Garpu dan pisau terlepas dari genggamannya. Sepertinya ucapan kakaknya menyebabkan memori buruk muncul dalam ingatan Jonas.


"Aku mau ke toilet!" Jonas segera bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Becca, kenapa kau bicara seperti itu!" timpal David tak percaya.


"Dia tidak apa-apa, David!" balas Becca yakin.


"Semua orang pasti pernah mengalami hal buruk saat SMA. Aku yakin Jonas bisa melewatinya," ujar Jack yang sepertinya berada di sisi Becca.


"Aku harap begitu." David menjawab sambil menyibukkan diri memotong daging barbeque-nya.


Becca perlahan melirik ke arah Jack yang sedang duduk di sebelahnya. Lagi-lagi dirinya dibuat penasaran terhadap perangai Jack. Lelaki tersebut sudah dua kali membelanya, dan berhasil membuat David kalah telak.


Tanpa diduga Jack mengalihkan pandangannya ke arah Becca. Dia berhasil memergoki Becca melirik ke arahnya.


'Oh my god!' batin Becca, sembari membuang muka gelagapan dari Jack. Wajahnya tiba-tiba memerah akibat merasa malu.


Jack sudah mengangakan mulutnya karena ingin bicara kepada Becca. Namun suara dering ponselnya berhasil mengurungkan niatnya. Jack pun meminta ijin untuk mengangkat panggilan telepon sejenak. Dia pergi ke tempat yang agak jauh dari keberadaan Becca dan David.


"Kau akan melakukan apa, setelah makan malam ini selesai?" tanya Becca, yang tampak sibuk menikmati jagung bakarnya.


"Entahlah, kau punya usul?" David malah berbalik tanya.


"Tidak ada. Aku hanya ingin pergi ke kamar secepatnya!" sahut Becca.


Jonas sudah datang kembali. Dia langsung duduk dan menyantap dagingnya. David dan Becca yang melihat sama-sama terheran, karena Jonas terlihat makan dengan begitu lahap.


"Sudah aku bilang kan, dia tidak apa-apa," ucap Becca seraya menopang dagu dengan sebelah tangannya.


Setelah menyelesaikan makan malam, David mengajak semua orang untuk bermain kartu dan minum bersamanya. Kecuali Jonas, dia diperbolehkan pergi ke kamar. Hal itu dikarenakan usianya masih belum legal untuk meminum alkohol.


"What?!" Becca terperangah. Dia sangat malas menerima ajakan David.


"Jack pasti sibuk, mungkin kita akan lakukan nanti saja!" ujar Becca yang mencoba mencari-cari alasan untuk menolak ajakan ayahnya.


"Tentu tidak. Kebetulan malam ini, waktuku sangat luang. Lagi pula, aku merasa bosan terus sendirian!" kata Jack, yang sontak menyebabkan senyuman David langsung melebar. Namun tidak untuk Becca, dia hanya memasang mimik wajah malasnya.

__ADS_1


__ADS_2