
Satu hari berlalu setelah liburan. Seperti biasa, Becca menikmati aktifitasnya sendirian di rumah. Memainkan kembali beberapa game agar menghilangkan kebosanan. Tetapi karena sudah terlalu sering, Becca mulai merasa bosan. Padahal waktu masih menunjukkan jam 10.30 siang.
"Memang, kalau aku terus berdiam diri begini mungkin lama-kelamaan bisa gila..." gumam Becca sembari memangku dagu dengan tangannya sendiri. Bola matanya menatap malas ke layar laptop.
Bruk!
Suara hempasan pintu depan berhasil mengagetkan Becca. Ia pun bergegas berlari ke bawah untuk memeriksa. Tampaklah Jonas dengan wajah babak belur. Hingga mengharuskan Becca melebarkan matanya.
"Wajahmu kenapa?" tanya Becca yang sepenuhnya cemas terhadap keadaan sang adik.
"Dia dipukuli oleh Tom dan gengnya!" seorang gadis menyahut pertanyaan yang harusnya dijawab oleh Jonas. Dialah Anna, gadis yang menemani Jonas saat di taman bermain.
"Kau...?!" Becca menatap penuh tanya.
"Anna!"
"Bec--"
"Aku tahu. Jonas sering menceritakan tentang dirimu kepadaku." Anna sengaja memotong ucapan Becca. Dia berbicara dengan wajah datarnya.
"Okay..." Becca mencoba memahami. Jujur saja ia terheran ketika menyaksikan gelagat Anna. Kesan pertama yang ditunjukkannya adalah keangkuhan. Raut wajahnya pun sama sekali tidak ramah. Namun Becca membuang jauh-jauh penilaiannya, sebab dirinya belum sepenuhnya mengenal Anna. Selanjutnya ia pun mencoba mengobati memar yang ada diwajah Jonas. Mereka sedang berada di kamar Jonas sekarang. Termasuk Anna.
"Apa yang terjadi? Jonas melakukan kesalahan apa sehingga dipukuli begini?" tanya Becca sembari memberikan sentuhan es batu yang dibungkus dengan kain pada wajah Jonas.
"Karena menjadi pahlawan mungkin..." Anna mengangkat bahunya sekali.
"Maksudmu, dia menolongmu?" Becca menatap ke arah Anna selintas.
"Aku sebenarnya bisa mengatasi orang-orang yang menggangguku. Tetapi Jonas selalu saja ikut campur dengan urusanku." Sekarang Anna melakukan pose menyilangkan tangan di dada.
"Diamlah Anna..." titah Jonas dengan nada lirih.
Becca tersenyum mengejek. "Apa kalian berpacaran?" tanya-nya seraya menatap Jonas dan Anna secara bergantian.
Jonas tampak sudah mengangakan mulut karena ingin menjawab. Namun Anna lebih dahulu bersuara dan berucap, "Tidak! kami hanya berteman!"
__ADS_1
Jonas yang mendengar terlihat sangat terkejut dengan penuturan Anna. Dan Becca sangat memahami ekspresi yang ditunjukkan adiknya tersebut. Namun ia berusaha menyimpan pemahamannya sendiri, karena tidak ingin ikut campur urusan percintaan adiknya.
"Anna, terima kasih sudah menjadi teman untuk Jonas. Aku tahu dia tidak pandai mencari teman saat--"
"Becca! hentikan!" Jonas lekas-lekas memotong ucapan Becca. Matanya melayangkan tatapan tajam.
"Kakakmu benar! kenapa kau membantahnya?" tukas Anna sembari melayangkan pantatnya ke kasur. Sepertinya dia sudah lelah berdiri.
Jonas hanya terdiam dan menundukkan kepala. Perasaan menjadi pecundang muncul lagi dalam dirinya. Dia memang tidak bisa menampik pernyataan Becca terhadapnya.
"Apa kau mau minum sesuatu?" Becca menatap ke arah Anna.
"Soda?" jawab Anna meragu. Namun ia berharap bisa mendapatkan yang di inginkannya. Becca mengangguk pelan, lalu segera berderap menuju dapur. Tepatnya menuju lemari es dimana kumpulan minuman soda berada. Becca melebarkan mata saat melihat keadaan kulkasnya kosong melompong. Sayur-sayuran dan buah-buahan bahkan terlihat sudah layu. Untung saja masih ada beberapa kaleng soda yang tersisa.
"Aku akan pulang sekarang saja. Sepertinya Jonas butuh istirahat!" Anna mendadak muncul. Dia tampak memasukkan kedua tangan ke saku celananya.
"Terus bagaimana dengan soda-nya?" Becca bergegas mengambil sekaleng soda, lalu menyodorkannya kepada Anna.
"Thanks!" Anna menyambut soda pemberian Becca. Kemudian mencoba berbalik badan karena hendak berjalan menuju pintu keluar.
"Jonas tidak dihukum pihak sekolah kan karena masalah ini?" tanya Becca.
"Mungkin dia akan diberikan sanksi. Tetapi tidak seberat yang didapatkan oleh Tom dan teman-temannya!" balas Anna yang tampak meyakinkan. Alhasil Becca mengangguk pelan karena mempercayai perkataannya. Selanjutnya Anna pun benar-benar berlalu pergi.
Ceklek!
Becca membuka pintu kamar Jonas dengan pelan. Ia menemukan Jonas terlihat menunjukkan semburat sendu. Lebam yang ada pada wajahnya, membuat keadannya semakin menyedihkan. Becca sebenarnya sangat tahu betul bagaimana adik lelakinya. Seperti yang pernah dia bilang, kalau Jonas hanya akan ceria saat berada di rumah. Mungkin alasannya, karena Jonas merasa rumah adalah satu-satunya lokasi ternyamannya. Tempat dimana ia merasa lebih dihargai dan merasa menang.
Jonas memang anak yang rajin dan pintar. Dia melakukannya karena sangat menyayangi keluarganya. Sehingga karena saking terlalu fokus belajar, Jonas lupa bagaimana harus bersosisalisasi. Sejak pertama kali sekolah, Jonas tidak pernah memiliki teman akrab. Dia sebenarnya sudah berusaha berbaur semaksimal mungkin. Namun pembawaan seorang Jonas yang selalu kaku dan membosankan, membuat kebanyakan orang-orang di sekelilingnya tidak betah berteman dengannya.
Memang Jonas pernah sekali memiliki teman akrab seorang lelaki. Tetapi pada kenyataannya lelaki itu hanya memanfaatkan Jonas, demi mendapatkan nilai yang sempurna di sekolah.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Becca sambil memposisikan diri duduk di ujung kasur. Tepat di samping Jonas berada.
"Menurutmu?" Jonas meminta pendapat Becca.
__ADS_1
"Aku rasa tidak. Ekspresi wajahmu memberitahuku segalanya."
"Anna bilang, aku orang yang membosankan dan menyebalkan." Jonas tiba-tiba berterus terang.
"Bagaimana mungkin dia bilang begitu? aku rasa dia belum mengenal dirimu sepenuhnya!"
"Tidak usah membelaku." Jonas mendengus kasar. "Pergilah! aku ingin sendiri!" lanjutnya tanpa menatap ke arah sang kakak.
"Apa kau menginginkan sesuatu? tiba-tiba aku ingin pergi ke super market. Kulkas kita terlihat memprihatinkan!" tawar Becca yang di akhiri dengan keluhan terhadap lemari esnya.
"Tidak ada." Jonas menjawab tak acuh. Dia memalingkan wajah dari Becca.
"Ya sudah, beristirahatlah!" Becca bangkit dari kasur dan berjalan keluar kamar. Selanjutnya ia segera mengambil kunci mobil dan melangkah memasuki garasi.
"Hey cantik! sudah lama tidak bertemu." Becca menyapa mobil pemberian mendiang sang ibu. Mobil tersebut tampak sudah berdebu, karena belum digunakan Becca semenjak awal kedatangannya. Tanpa basa basi, Becca pun masuk ke dalam mobil.
Drrrt... drrrt...
Ponsel Becca tiba-tiba bergetar. Sebelah tangannya reflek mengambil benda yang bergetar itu. Dia melihat ada pesan masuk dari Tara. Matanya langsung membola ketika melihat sebuah foto. Sebab foto ketika Becca sedang mencium Jack terpampang nyata di layar ponselnya.
...'Apa kau melakukannya karena Richy? kau gila Becca!'...
Tara mengumpat melalui pesan teksnya. Tidak lama kemudian sahabat perempuan Becca itu melakukan panggilan telepon.
"Tara! dari mana kau mendapatkan foto itu?!" Becca masih membelalakkan mata karena merasa saking terkejutnya.
"Apa kau tidak melihat grup SMA di aplikasi smartphone-mu? kau sedang ramai diperbincangkan! parahnya, Richy-lah yang pertamakali mengirim foto itu!" balas Tara dari seberang telepon.
"Oh my god!" geram Becca.
"Semua orang memberikan ucapan selamat kepadamu, Becca. Mereka benar-benar menganggapmu berpacaran dengan Jack," tutur Tara yang sebenarnya sangat mencemaskan keadaan sahabatnya.
"Aku benar-benar tidak mengerti Richy melakukan semua ini," respon Becca dengan dahi yang berkerut kesal.
"Sudahlah Becca, abaikan saja. Lagi pula kau--"
__ADS_1
Becca lekas-lekas mematikan panggilan telepon. Hingga ia tidak dapat mendengar kalimat lengkap yang diucapkan Tara. Becca mencoba menenangkan pikirannya untuk sejenak.