Me And The Mysterious Man

Me And The Mysterious Man
Bab 44 - Pernyataan Cinta Di Kala Hujan


__ADS_3

David kembali ke rumah dengan wajah cemberut. Apalagi setelah mendengar kabar dari Jonas kalau Becca telah pulang ke rumah. Ia segera melangkah menuju kamar putrinya.


"Becca, buka pintunya!" ujar David sembari memainkan gagang pintu yang sedang dikunci.


Di dalam kamar, Becca tengah menghilangkan segala bukti tentang Jack. Termasuk menyembunyikan pakaian yang diberikan Jack ke tempat aman. Setelahnya ia pun segera membukakan pintu.


"Kau kemana tadi malam?" timpal David dengan sorot tatapan tajam.


"A-aku bermalam di rumah Tara," jawab Becca enggan. Tak kuasa membalas tatapan ayahnya.


David memegangi pundak Becca, kemudian membuatnya sedikit menyingkir agar ia bisa masuk ke dalam dengan leluasa. David mengamati keadaan kamar putrinya. Dia tengah melakukan pose berkacak pinggang, lalu berbalik badan untuk menengok ekspresi Becca.


"Tadi malam, harusnya kau pulang bersamaku, atau setidaknya beritahu aku sebelum pergi!" ucap David.


"Kau tampak sibuk, aku tidak ingin mengganggumu." Becca berusaha tenang tanpa harus meninggikan nada suaranya.


"Aku tidak tahu kenapa kau selalu terlibat masalah Becca. Berhentilah membuat ulah, apa kau tahu betapa sulitnya aku memikirkan tentang dirimu dan Jonas?! aku hanya ingin--"


"Kau pikir aku sengaja melakukannya?! David, aku kira kau bisa memahamiku setelah kejadian saat liburan. Tetapi, ternyata... kau tidak berubah!" Becca sengaja memotong ucapan David. Emosinya ikut tersulut.


"Oke, aku tidak punya pilihan lain sekarang, selain memblokir semua akses kartu kreditmu. Lebih baik kau cari pekerjaan, agar kau bisa berpikir seperti orang dewasa pada umumnya!" ujar David, kemudian melingus pergi keluar dari kamar.


"Apa?!" Beccca terperangah. Mimik wajahnya tampak gusar. "Aku membencimu, David!" pekiknya nyaring, membiarkan sang ayah pergi meninggalkannya. David terlihat langsung mengendarai mobil dan menghilang dari pandangan.


Lidah Becca berdecak kesal. Dia memang memiliki penghasilan sendiri, akan tetapi semua kartu kredit yang dimilikinya memang atas nama David. Jadi sekarang gadis itu bertekad ingin mempunyai kartu kredit atas namanya sendiri.

__ADS_1


Drrt... drrrt...


Ponsel Becca bergetar. Sebuah pesan dari Tara masuk. Sahabatnya itu memberitahu kalau dirinya akan pergi ke rumah Becca saat malam saja. Dan membatalkan rencana kedatangannya pada tengah hari. Apalagi dengan keadaan cuaca yang kebetulan sedang mendung.


Suara gemuruh petir terdengar dari luar. Awan hitam perlahan berkumpul, pertanda sebentar lagi hujan akan turun. Becca dapat menyaksikan fenomena alam tersebut dari jendelanya. Saat itulah matanya menangkap kemunculan Jack, yang tampak bergesak-gesak mengendarai mobil. Wajah lelaki itu terlihat masam sambil memasang mantelnya yang berwarna kecokelatan.


'Huhh, aku benar-benar frustasi dengan rasa penasaranku. Siapa Jack yang sebenarnya?... tunggu, haruskah aku mengikutinya?' batin Becca, kemudian bergegas mengenakan jaketnya. Dia segera berderap keluar dari rumah.


Becca tersentak kaget saat membuka pintu. Sebab dirinya langsung disambut dengan kedatangan Ben yang sepertinya hendak mengetuk.


"Becca, aku--"


"Ben! kebetulan sekali, ayo ikut aku!" ujar Becca, yang sama sekali tidak memberikan Ben kesempatan untuk bicara. Dia memegangi lengan Ben, dan menyeretnya masuk ke dalam mobil. Becca menyuruh Ben agar segera mengikuti mobil Jack yang semakin menjauh.


"Cepat Ben! nanti kita kehilangan dia!" desak Becca yang tidak mengalihkan pandangannya dari mobil cadillac Jack.


Tetesan air hujan tampak sudah berjatuhan. Lama-kelamaan menjadi semakin deras, dan menyebabkan kaca mobil depan sedikit kabur. Mobil Jack pun mendadak menghilang di antara transportasi beroda empat lainnya.


"Shi*t!" geram Becca seraya mendengus kesal. Ia menghentakkan badan ke sandaran kursi. Sepertinya gadis tersebut sudah menyerah untuk melakukan pengejarannya.


"Sekarang bisakah kau jelaskan kepadaku, tentang alasanmu mengejar Jack?" tanya Ben sembari memarkirkan mobil ke pinggir jalan. Dahi Becca lantas mengerut. Bukan disebabkan pertanyaan Ben, melainkan karena sahabat lelakinya itu mendadak menghentikan mobil.


"Aku hanya penasaran," jawab Becca seadanya, masih menatap heran kepada Ben lalu melanjutkan, "kau kenapa tiba-tiba berhenti?"


Ben terdiam sesaat, demi mengumpulkan semua keberaniannya. Termasuk harus bersiap dengan resiko yang akan ditanggungnya. Helaan nafasnya cukup panjang. Dia yang tadinya sempat mengalihkan pandangannya dari Becca, akhirnya kembali menatap lagi.

__ADS_1


"Becca, aku ingin memberitahumu tentang sesuatu," ujar Ben serius.


"Hmm?" respon Becca membalas tatapan Ben.


"Aku mencintaimu, Becca!" Ben mengungkapkan dengan binar mata yang begitu dalam. Namun Becca terlihat menyunggingkan mulutnya, seolah masih tidak mau percaya. Ben yang sudah lelah selalu mendapatkan respon begitu, lantas memegangi lengan Becca. Kemudian menarik gadis itu untuk mendekatinya. Agar Becca dapat melihat dengan jelas binaran matanya yang penuh arti.


Becca terkesiap. Hanya dengan tatapan dia langsung tertohok. Mulutnya pun mengunci rapat, dan tak kuasa tersenyum lagi. Dari sorot mata Ben, dia sekarang tahu bahwa perasaan lelaki itu untuknya memanglah benar. Apalagi ketika Ben tiba-tiba mendaratkan sebuah ciuman ke bibirnya.


Belum sempat satu detik, Becca langsung mendorong Ben menjauh. Kemudian bergegas keluar dari mobil. Bahkan tidak peduli lagi dengan derasnya hujan yang turun.


Ben yang merasa khawatir, tentu berusaha mengejar Becca. Keduanya sekarang sama-sama membiarkan tetesan hujan membasahi tubuh mereka.


Ben meraih lengan Becca dan berucap, "Aku tahu ini akan terjadi. Aku tahu kau akan kebingungan merespon pernyataanku. Tetapi, bisakah kau dengarkan penjelasanku dahulu?"


Becca menghela nafas sambil memejamkan mata. Dia akhirnya berbalik badan untuk menatap Ben. Ia sebenarnya tidak marah dengan perasaan yang dimiliki Ben, akan tetapi kenyataan tersebut benar-benar membuat Becca canggung dan tidak tahu harus berbuat bagaimana. Apalagi sekarang dirinya tengah terlanjur jatuh cinta kepada Jack.


Derasnya hujan yang sedikit menyamarkan penglihatan, tidak berhasil menghalangi penampakan raut gelisah yang ditunjukkan Ben.


"Aku tidak menuntut kau membalas perasaanku. Tetapi aku hanya lelah terus menjadi orang yang tak terlihat sebagai pria dimatamu. Padahal, aku selalu ada untukmu dibanding pria-pria yang kau cintai... kau tidak tahu, sudah sangat lama aku memendam perasaan ini..." terang Ben panjang lebar. Sesekali dia mengusap wajahnya yang telah dibanjiri air hujan.


Ben menjelaskan dengan perasaan tulus. Membicarakan cinta yang telah lama disimpannya. Bertahun-tahun ia harus mengubur perasaan tersebut. Ben bahkan menjaganya seolah itu adalah kotak pandoranya. Namun pertahanannya seketika goyah, tatkala menyaksikan kebersamaan Becca dengan lelaki lain. Apalagi dengan seorang lelaki yang tidak jelas asal-usulnya seperti Jack.


"A-aku tidak tahu harus bagaimana, Ben. Aku hanya..." Becca tak kuasa melanjutkan ucapannya. Kedua tangannya menangkup wajahnya sendiri. Kemudian isakan tangis mulai terdengar dari dirinya.


"I'm so sorry, Becca..." Ben perlahan membawa Becca masuk ke pelukannya. "Sebenarnya aku sangat membenci diriku sendiri, karena perasaan ini. Tetapi aku benar-benar tidak mampu mengendalikannya..." lanjut Ben sambil mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Becca terdiam seribu bahasa. Dia sangat memahami perasaan Ben. Dia juga tidak berhak marah kepada sahabatnya tersebut. Becca hanya merasa bersalah dan ikut merasakan. Sebab dirinya tahu, betapa sulitnya mengendalikan perasaan. Karena tidak ada orang yang bisa memilih dengan siapa dia akan jatuh cinta. Semuanya akan terjadi begitu saja. Bahkan tanpa rencana sekali pun.


__ADS_2